Dari Waktu yang Terlupa

All Rights Reserved ©

Summary

Kumpulan cerita dan puisi yang ada di antologi ini saya tulis beberapa tahun yang lalu. Cukup lama bahkan. Sebagian besar hanya dibagi ke teman-teman terdekat. Atas dorongan beberapa teman dan orang-orang dekat, saya putuskan untuk kumpulkan dalam satu antologi. Semoga cerita dan puisi yang ada dalam kumpulan ini menjadi bacaan yang dinikmati para pembaca. Selamat membaca!

Genre:
Drama / Poetry
Author:
Sastraswara
Status:
Ongoing
Chapters:
12
Rating:
n/a
Age Rating:
13+

Jinantra (1)

Bapak membawaku dalam salah satu pengembaraannya. Sejak aku bisa mengingat dirinya, ia selalu ada dalam perjalanan: Di tanah ini, ke tanah yang lain, ke negeri yang lain. Kakinya terus melangkah, matanya memandang jauh tak berpenjuru, selalu hanyut dalam renungan-renungannya. Pandangannya seringkali tidak tertuju padamu saat ia bicara. Pikirannya berkelana lebih jauh dan lebih cepat daripada raganya. Hingga kini aku belum pernah tahu apa yang ia pikirkan, apa yang ia cari. Seorang Paman pernah bilang sambil tersenyum, “Bapakmu itu mencari kesejatian. Dia tidak akan berhenti sebelum menemukannya.”

Di sebuah kedai kami berhenti, beristirahat dalam diam sementara keramaian ada di sekeliling kami. Saat itu kala senja. Di kedai ini orang-orang berbicara dengan lidah yang asing bagi telingaku. Aku seorang pangeran yang terasing dari negerinya sendiri, dari kerajaan yang tak pernah kutahu pernah berdiri.

Kota ini adalah sebuah persinggahan. Kota kecil yang ramai, di mana pedagang-pedagang mengisi setiap ruang yang mampu menampung mereka. Mereka datang dari banyak penjuru: Para perantau dari negeri utara, penduduk asli tanah ini, para saudagar dari tanah seberang. Semua mengadu peruntungan di sini. Tentu saja, bagaimanapun ini adalah tanah para raja. Tanah yang dijanjikan kemakmurannya oleh para dewa. Kupikir tanah ini juga terkutuk: tanahnya banjir darah yang tumpah setiap perebutan kekuasaan terjadi.

Sebagian dariku tersiksa hadir di sini karena menjadi dia yang terasing. Bagi mereka, penduduk tanah ini, aku mungkin sebuah objek yang menarik sebagai bahan pembicaraan. Lihatlah, pemuda yang kulit dan tulang mukanya mirip dengan kita, namun tak mengerti bahasa yang kita gunakan atau aturan hidup yang kita sepakati! Adalah sebuah siksaan jika kita kehilangan kemampuan untuk menjelaskan diri kita. Belum lagi untuk selalu ada dalam ketidakpastian. Tidak tahu, apakah orang di sekelilingmu memahami maksudmu atau sekedar pura-pura mengerti, lalu membuat tafsir-tafsir mereka sendiri. Tafsir yang seringkali menyesatkan karena bercampur prasangka. Entah mana yang lebih buruk: tidak dimengerti atau disalahpahami. Mereka, penjual dalam kedai atau pengunjung lain, menatapku dengan pandangan yang menyiratkan satu di antara keduanya.

Ini kenyataan hidupku: Tumbuh di negeri asing, berpakaian seperti orang asing, mungkin juga sudah bersikap seperti seorang asing. Aku ada dalam keterasingan –juga pengasingan. Lucu sekali Bapak mendidikku seperti seorang pangeran yang kelak akan jadi raja; seorang putra raja yang kelak akan berbakti pada negara. Di saat yang sama, diajarnya aku senantiasa jadi rakyat yang setia menghamba. Hal yang kontradiktif, sebuah paradoks. Kalau kelak jadi raja, aku tidak tahu siapa yang kupimpin atau apa yang mesti kuperjuangkan. Kalaupun jadi rakyat, aku tidak tahu bagaimana berbaur dan bersikap di tanah ini.

Kedai ini terletak di sebuah kota dekat desa kelahiran Bapak. Di sana masih tinggal ibunya dan adik-adiknya. Di seberang kedai ada pasar malam yang selalu ramai. Pasar malam itu mengelilingi sebuah lapangan yang sangat luas, hanya berupa hamparan rumput hijau dan kuning, gersang di sebagian titiknya. Lalu di tengah-tengah lapangan berdiri sebuah roda raksasa yang menjulang hingga ke langit. Kedua kaki penyangganya tegak kokoh: sebuah monumen yang memaku tanah ini pada tempatnya. Sebuah raksasa besi yang dibangun di tanah ini pada tahun yang silam. Roda itu memuat kabin-kabin berisi kursi. Orang dapat naik ke dalamnya, lalu ikut berputar naik dan turun sambil menikmati pemandangan dari dalam kabin.

Jika senja tiba, maka pedagang-pedagang mengisi pasar malam itu. Lalu mendadak, tanpa kau sadari, lampu-lampu yang melintang simpang-siur di atas lapangan luas itu menyala terang-terang. Kios-kios tiba-tiba beroperasi, lalu berbagai wahana hiburan bergerak dan membuat suara. Ini, kala malam, adalah sebuah kehidupan yang lain. Di sana tidak bersisa peluh kala siang.

Aku terus memandang langit jauh. Langit sore berganti gelap malam dan lampu-lampu membentuk pola-pola tak beraturan. Ada wangi daging yang dibakar dengan saus kecap, juga bawang putih yang digoreng. Terdengar berbagai suara yang semakin ribut: Kendaraan-kendaraan memadati ruas jalan-jalan kecil, bercampur bersama pejalan kaki dan para pedagang.

Bapak menunjuk roda raksasa yang tubuhnya berlumur karat itu. Berkatalah ia, dengan pandangannya yang berkelana ke satu masa: “Lihatlah Jinantra, Nak! Itu roda kehidupan, yang semua pasti pernah naik ke dalamnya. Orang-orang, sepanjang sejarah, seringkali lupa bahwa mereka sebenarnya sedang menumpang Jinantra. Mereka kira akan selamanya duduk nyaman dalam putarannya, terbuai pemandangan indah dari atas sana. Suatu hari, pada akhirnya orang mesti turun, Nak. Turun dari Jinantra, pergi pulang ke rumah.”

Dari kedai ini kulihat ia, Jinantra, menyala merah warnanya. Jinantra yang berputar membawa orang naik dan turun, melihat pemandangan kota dari titik yang sangat tinggi. Sebuah pandangan mata Tuhan. Dari atas sana mungkin orang hanya terlihat seperti semut, dan kita akan kesulitan membedakan manusia satu dengan yang lain. Kita tidak lagi bisa tahu apa pangkat atau apa agama mereka. Sangat mudah bermain dengan hidup semut-semut. Aku bisa menutup jalan mereka dengan tangan, lalu mereka akan memikirkan jalur gerak mereka yang berikutnya. Lalu setelah mereka bersusah payah, aku bisa saja mematikan mereka dengan satu jari. Harga kehidupan bisa demikian berbeda dilihat dari atas sana.

Bapak membuka mulutnya lagi dan bercerita, “Hantu-hantu menghuni lapangan itu. Itu dulu bekas landasan udara. Lapangan yang dibangun lewat darah orang-orang kita, saudara-saudara kita. Mereka yang mengupas hutan dan meratakan bukit. Landasan itu hendak digunakan di masa perang yang lampau atas perintah para tentara dari Timur. Perang keburu selesai sebelum landasan itu digunakan.”

Suara-suara semakin riuh dan aku semakin tenggelam ke dalam lautan bebunyian. Perlahan kudengar Jinantra berderit. Roda-roda gigi raksasanya berputar dan cahaya merahnya memancar ke arah langit, menembus awan-awan. Di puncaknya hantu-hantu bertengger, tak terlihat mata kebanyakan orang. Angin bertiup dan membawa berbagai perbincangan. Bapak berdiri dari tempat duduknya semula, aku ikut berjalan mengikuti di belakangnya. Aku berjalan menembus kawanan orang asing, menembus keterasingan. Jinantra masih berderit di kejauhan sana.

Continue Reading Next Chapter
Further Recommendations

Sara: i loved everything about this story. at the end, i could hardly finish it because of the tears pouring down my face. as i’m writing this, the tears are still flowing like a faucet.

DreamWeaver6000: This is such a great book!! I loved it so much!!❤️❤️

anubisandco13: I can't wait to see what lies ahead for them!

Anhilla: To start, a couple of pointers. Your story has an impressive plot line, the characters are believable and your hero and heroine are engaging and sympathetic. I like where I see the story going, but would like you to consider some constructive pointers. Personally, I use google a lot to look up th...

Jayme: I love it for it is about family and the love in itI would recommend it for my brotherImprove the spelling

luckybean13: A lighthearted book with a free and fun feel overall. A bit of a love triangle going on where you just can’t pick one...I’m excited to see where it all goes.

More Recommendations

Nicole Guevara Lao: The originL story is a must read and if you are like me and can’t get over the Knight family (esp. the kiddos) then continue reading!

Kemzz Mac: It never gets old re-reading this book. I love the characters so much! It’s like I know them personally lol!!!!

scionmama18: L♥️VE it!! As usual NEED WHOLE story!! Want to see Cora knock Elle & other hot to trot big mouthed heifers on their asses!! Lol.

Wayne: I liked Stacey's personality, she was timid yet headstrong but Melanie was just a wimp

Gracie Arzola: I loved it just wish i could read it all thru here and not have to be running into trouble to read it.Thank you so very much and hope to read more interesting stories from you.

About Us

Inkitt is the world’s first reader-powered publisher, providing a platform to discover hidden talents and turn them into globally successful authors. Write captivating stories, read enchanting novels, and we’ll publish the books our readers love most on our sister app, GALATEA and other formats.