Not One Night

Summary

Choi San seorang pemuda hypersex yang kehilangan gairahnya setelah bercinta dengan teman adiknya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Genre:
Drama / Erotica
Author:
Gomie Art
Status:
Ongoing
Chapters:
1
Rating:
n/a
Age Rating:
18+

BAG.01

Malam ini ditemani cahaya temaram aku terus mengarahkan pandanganku pada laptopku yang menampilkan video dua orang pria tengah mencumbu satu sama lain. Pria dengan tubuh besar dalam video itu mendominasi permainan membuat pria manis dibawahnya terlihat sangat menikmati.


Perlahan tapi pasti tubuhku mulai memanas saat kedua pria dalam video itu saling melucuti pakaian masing-masing. Bagian celanaku menyempit ketika kamera menyorot pada kejantanan pria bertubuh besar yang panjang, dan cukup besar. Fantasy ku mulai liar dengan membayangkan kejantanan itu mengisi lubangku.

"Oh Shit!" Umpat ku pelan.

Buru-buru aku beranjak dari tempat dudukku untuk mengambil ponselku diatas tempat tidur, tanpa ada jeda jari-jari lincahku mulai bergerak diatas papan ketik mengetikkan beberapa digit nomor yang sudah sangat aku hafal di luar kepala. Ketika aku akan menekan tombol panggilan otakku langsung memutar memori beberapa hari lalu dimana orang yang aku cintai memutuskan ku karena gosip miring yang telah menyeret namaku. Segera aku jatuhkan ponselku diatas kasur kembali.

"Sialan, sepertinya aku harus solo.." Gumamku pelan sembari mengacak rambutku.

Ting Tong!
Bel rumahku berbunyi, dan refleks mataku langsung mengarah kejam dinding dikamarku. Masih pukul 19:30 dan ini memang jam pulang sekolah adikku jika ada pelajaran tambahan. Sembari menahan rasa tak nyaman dibalik celana aku pun beranjak keluar dari kamar untuk membukakan pintu.

Pintu rumah terbuka dan seperti biasanya kutemukan adikku Choi Jongho dengan seragam sekolahnya yang lusuh, dan wajah lelah ya berdiri didepan pintu seperti tak ada semangat hidup lagi. Tapi kali ini dia tak sendiri ada temannya yang penampilannya sangat amat mencerminkan murid teladan alias kutu buku, tubuhnya tinggi, wajahnya sangat innocent, dan sial mataku terlalu jeli hingga aku bisa melihat jiplakan dicelananya.

"Hyung, jaga matamu.." celetuk Jongho menyadarkanku dari kegiatan brengsekku, "Mingi, ayo masuk.." buru-buru Jongho menarik temannya untuk masuk.

———

Kini aku tengah memasak ramen untuk makan malam Jongho dan temannya yang bernama Mingi, mereka berdua sekarang terlihat lebih segar setelah mandi. Sembari menunggu aku selesai memasak terdengar Mingi dan Jongho tengah membicarakan masalah pelajaran mereka dan tugas yang akan mereka kerjakan bersama setelah makan.

"Hyung, sudah matang belum? Lama sekali!" Tanya Jongho setengah protes.

"Iya, ini tinggal menuangkan dalam mangkuk" jawabku santai.

Dua mangkuk ramen dengan porsi besar telah siap, aku pun membawanya kemeja makan dimana Jongho dan Mingi sudah menunggu. Tanpa sengaja pandangan ku bertemu dengan Mingi, dan aku pun tersenyum agar tak tercipta kecanggungan. Tapi respon Mingi malah diluar dugaan, aku sempat melihat semburat merah di pipinya sebelum ia menundukkan wajahnya menghindari pandanganku.

"Terima kasih Hyung.." ucap Mingi Sopan dan lembut.

"Selamat makan!" Teriak Jongho yang sepertinya sudah benar-benar kelaparan.

"Makannya hati-hati Jongho.." kataku sedikit khawatir melihat cara makannya yang seperti monster berbeda dari Mingi yang makan dengan wajah tertunduk.

"Hyung, aku minta uang dong untuk beli camilan. Malam ini aku akan mengerjakan tugas ku bersama Mingi.." pinta Jongho dengan mulutnya yang penuh.

"Berapa?"

"Seikhlas Hyung saja, yang penting jangan pelit-pelit" jawabnya cepat.

Aku ambil posisi duduk didepan Jongho lalu aku keluarkan beberapa lembar uang dari saku celana, dan dengan santainya aku meletakkannya langsung didepan Jongho. Kening adikku tampak berkerut ketika melihat jum'lah uang yang aku berikan.

"Wah, banyaknya" kata Jongho sembari meraih uang tersebut, "Apa saja yang harus kubeli dan berapa lama aku harus keluar?" Tanya Jongho seperti memahami maksudku.

"Persediaan camilan seminggu untuk mengisi kulkas, mungkin dua sampai empat jam" jawabku tanpa sedikit pun ragu.

"Siap!" Jawab Jongho sembari memasukkan uangnya kedalam saku celana, "Mingi, nanti kau dirumah saja dengan San hyung ya."

"I-iya Jongho..." Jawab Mingi diikuti anggukkan kecil.

Jongho sangat tau bagaimana sikapku, dan ini bukan pertama kalinya juga adikku itu menjual temannya padaku untuk melayani kegilaanku. Sudah empat orang teman Jongho yang pernah tidur denganku, dan Mingi sepertinya akan jadi yang kelima. Aku memang pada dasarnya brengsek, tapi brengsekku ini hanya keluar ketika aku sedang Single.

———

"Aku berangkat!"

"Hati-hati dijalan!"

Sekarang aku hanya berdua dirumah bersama Mingi. Sebenarnya aku tak begitu yakin bisa menggoda anak yang tampaknya masih polos itu. Tapi fantasi liarku sudah bergerak jauh jika aku berhasil mendapatkan first timenya. Teman-teman Jongho yang sudah pernah tidur bersamaku rata-rata sudah berpengalaman.

Kaki jenjangku melangkah menuju tengah dimana Mingi kini tengah duduk. Terlihat sekali dari cara duduknya yang sangat tegak ia masih sungkan untuk bersikap biasa saja disini. Oke, aku tak boleh gegabah sepertinya.

"Mingi.." sapaku sembari duduk disampingnya.

"O-oh Hyung.." lirihnya sembari menundukkan wajahnya.

Dia sangat pemalu dan ini akan menjadi tantangan terbesarku untuk menggodanya. Aku tak bisa buru-buru kalau begini, harus main halus. Jika aku gegabah yang ada dia malah kabur bisa rugi aku.

"Hei, sejak tadi menunduk terus jika melihat Hyung, apa Hyung jelek sekali?" Tanyaku berbasa-basi.

"T-tidak Hyung, S-San Hyung tidak jelek. Malah menurutku sangat manis dan cantik" jawabnya sedikit tergagap.

Tak bisa dipungkiri aku cukup terkejut mendengar jawaban Mingi. Ia seperti memberiku peluang untuk membawanya semakin jauh. Tanpa ragu aku pun menggeser posisiku lebih dekat kearahnya.

"Benarkah? Kalau Hyung manis lalu kenapa Mingi tak mau menatap Hyung?" Tanyaku sembari meletakkan tangannya diatas paha kanannya.

"A-aku a-aku ha-hanya—"

"Hanya apa Mingi? jawab saja jangan ragu" Pintaku lembut dan tanganku mulai mengusap pahanya.

"H-ha-hanya takut Hyung akan merasa tak nyaman melihat wajah jelekku.." jawabnya dengan nada rendah.

"Hei, kenapa berpikir seperti itu?" Tanyaku sedikit penasaran.

"Banyak yang bilang disekolah aku ini mengganggu pemandangan. Wajahku tak enak dipandang" jawabnya semakin tertunduk.

"Benarkah? Mana Hyung coba lihat.." pintaku sembari menarik dagunya agar menatapku.

Wajah Mingi semakin memerah saat pandangan kami bertemu. Demi apa pun dia sangatlah cute, ingin sekali rasanya aku menerkamnya sekarang juga. Sepertinya tidur dengan pemuda polos akan menjadi pengalaman tak terlupakan untukku nantinya.

Sebenarnya wajah Mingi tak jelek, hanya terdapat beberapa flek hitam yang aku yakin disebabkan sengatan sinar matahari. Justru dimataku itu sangatlah seksi, dan juga benar-benar mencerminkan seorang pria. Sialan hanya memandang wajahnya saja celanaku sudah kembali menyempit.

"Kau tampan Mingi, tidak jelek sama sekali. Apa lagi jika..." Aku melepas kaca mata tebalnya dan meletakkannya dimeja "tanpa kacamata.."

"H-hyung itu tidak mungkin" Mingi kembali menundukkan kepalanya.

Sial, kenapa sikapnya yang seperti ini membuatku semakin tak sabar untuk segera mendapatkan tubuhnya. Sesuatu dibalik celanaku seolah berontak meminta dibebaskan.

"Hei, Hyung ini bersungguh-sungguh. Kau tampan Mingi, apa perlu Hyung beri bukti?" Tanyaku mulai tak sabar.

"B-bukti? Bukti apa Hyung?" Tanya Mingi masih tak berani menatapku.

Tidak perduli lagi dengan rencana awalku yang akan menggodanya perlahan, aku pun beranjak dari posisiku dan mendorong bahu pemuda yang lebih tinggi dariku untuk bersandar disofa lalu aku langsung duduk diatas pangkuannya membuat Mingi tampak kaget dan nyaris mendorongku jika aku tak menahan kedua tangannya.

"Mingi, kau ingin bukti bukan. Dan ini adalah bukti jika apa yang Hyung katakan tadi adalah benar..." Kataku sembari menatap matanya dalam membuat pipi pemuda pemalu ini semakin memerah seperti tomat.

"H-hyung apa maksudnya ini. Jangan seperti ini hy—mmph!"

Sebelum Mingi menyelesaikan kalimatnya aku sudah lebih dulu membungkam bibirnya dengan bibirku. Dengan penuh nafsu kulumat bibir tebal itu. Dapatku rasakan jika ia berusaha melepaskan ciumanku namun tak ku gubris, kedua tanganku berpegangan kuat pada sandaran sofa agar ia tak berhasil melepaskan diri.

"H-hyunghh s-stoph!" Ucap Mingi sembari menggelengkan kepalanya berusaha melepaskan ciumanku.

Tak mau mangsaku lolos aku pun menggesekkan pantatku kearea selangkangan Mingi, sesekali ku tekan untuk mencoba membangunkan penisnya yang tertidur. Otakku semakin liar ketika merasakan penis Mingi sudah terasa mengganjal walau pun belum terbangun, bagaimana jika sudah terbangun lagi.

Usahaku tak sia-sia perlahan tapi pasti kurasakan sesuatu yang keras mulai membesar, perlawanan Mingi mulai melemah dan bahkan kedua tangan besarnya malah melingkar dipinggangku, bibir tebalnya mulai membalas panggutanku. Oh, akhirnya dia terbawa suasana juga.

Aku buka bibirku saat lidah basah Mingi menjilati bibirku, saat itu juga benda tak bertulang itu langsung menyeruak masuk kedalam mulutku. Diabsennya satu persatu gigiku, dijilatnya langit-langit mulutku, dan diajaknya lidahku beradu hingga Saliva entah milik siapa mengalir diujung bibirku.

"Eunghhh~" lenguhku disela ciuman sembari meremas pelan rambut hitam Mingi.

Seolah puas menjelajah mulutku ia kembali mengeluarkan lidahnya dan kembali melumat bibirku. Dihisap dan dikulumnya bibirku yang mulai membengkak tanpa ampun. Oh Gosh! Aku tak menyangka ia bisa jadi Good Kisser seperti ini.

"E-eumhh M-mingihhh.." erangku disela ciuman.

Aku dorong bahu Mingi dan hingga terlepaskan ciuman kami, dengan cepat aku bernafas mengisi pasokan oksigen keparu-paruku lagi membuat dadaku bergerak dengan cepat. Mataku yang sayu bertemu pandang dengan mata Mingi yang ternyata sangat tajam, membuat gairah ku kembali meronta.

"H-hyung, kau sangat terlihat mengagumkan saat seperti ini.." ucap Mingi sembari mengusap bibir bawahku.

"B-begitu pun deng—akhh Mingihh~" belum sempat aku menyelesaikan kalimatku tangan Mingi tiba-tiba saja meremas kedua bongkahan pantatku dan dengan pandangan polosnya ia menatapku.

"Aku sering melihat orang melakukan ini didalam sebuah Video. Sekarang aku pun melakukannya" katanya dengan nada takjub.

"Bagaimana rasanya hm?" Tanyaku sembari mengusap pipinya.

"Mengesankan, Hyung mau kah melakukan lebih jauh denganku?" Tanya Mingi sembari menundukkan wajahnya membuat aku jelas tak bisa menolaknya.

"Tentu saja mau, sejak tadi Hyung sudah menginginkannya~" jawabku sembari menarik dagunya agar menatapku kembali, "Malam ini Hyung adalah milikmu. Lakukan apa pun yang kau mau" sambungku sembari menatapnya dalam.

Tiba-tiba saja Mingi berdiri sembari menggendong tubuhku ala koala yang membuatku refleks melingkarkan kaki dipinggangnya. Benar-benar tak ku sangka ia memiliki tenaga yang cukup kuat untuk menggendongku.

"Kamar Hyung dimana?" Tanya Mingi to the point.

"Dilantai dua, pintu berwarna coklat.." jawabku sembari mengendusi area leher Mingi.

Tanpa membuang waktu pemuda tinggi ini melangkahkan kakinya menuju tangga yang tak jauh dari tempat kami berada sekarang. Dengan hati-hati ia mulai meniti anak tangga hingga akhirnya kami sampai juga didepan kamarku. Tak ingin membuatnya kesulitan aku pun membuka pintu kamar dan ia langsung membawaku masuk, dengan kaki panjangnya Mingi tak lupa untuk kembali menutup pintu itu.

Dibaringkannya aku diatas tempat tidurku, dan seketika itu pula Mingi kembali menghadapi kecanggungan. Ia tampak bingung harus melakukan apa, benar-benar menggemaskan. Mencoba untuk mencairkan suasana aku langsung beranjak mengambil posis duduk lalu membuka kaosku dengan cepat. Mata Mingi membulat lebar tapi tak ia palingkan, wajahnya kembali memerah dan ia tundukkan kembali.

"Rileks saja Mingi..." Kataku sembari membuang kaosku asal.

Aku turun kembali dan menuntun Mingi untuk duduk. Entah kenapa ia terlihat sangat gugup, apa ini terlalu cepat untuknya ya, aku jadi tidak tega tapi aku pun tidak rela untuk menghentikannya.

"Mingi, biar Hyung yang bergerak duluan. Buat dirimu nyaman disini ya.." pintaku sembari menatapnya lembut.

Mingi hanya mengangguk pelan, dan aku pun segera membuka kemeja kancing kemeja putihnya satu persatu. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa melihat bagian dada bidang Mingi, perut yang dihiasi abs tipis, hingga akhirnya aku bisa menyibak kain tak bernyawa itu.

Glup!
Dengan susah payah aku menelan ludahku sendiri. Dia masih seumuran Jongho yang menempati bangku SMA tapi tubuhnya sudah berbentuk. Apa dia sering olah raga? Tapi wajah polosnya itu sama sekali tak menunjukkan jika ia rutin olah raga membentuk tubuh.

Tanganku yang memang pada dasarnya nakal mulai meraba kulit yang tak terlalu lembut namun tetap nyaman disentuh itu, sungguh libidoku seolah dipermainkan oleh tubuh Mingi. Tak mau menyia-nyiakan waktu aku mendekatkan wajahku keleher Mingi, mengendusnya sebentar lalu mulai mengecupinya dan berlanjut dengan ciuman-ciuman kecil yang membuatnya menjenjangkan leher. Tak seinci pun kubiarkan lehernya lolos dari area jajahan bibirku. Sesekali aku berhenti untuk menghisap beberapa titik dilehernya meninggalkan jejak kemerahan disana. Tangan besar Mingi yang sejak tadi diam mulai memeluk pinggangku lagi, dan aku melanjutkan area jajahanku menuju dada bidangnya. Sama seperti leher aku mengecupi, menciuminya, dan juga meninggalkan beberapa titik disana hingga akhirnya lidahku berhenti diputing kirinya.

Lidah lihaiku mulai menjilati tonjolan coklat itu, dan sesekali menggigitnya membuat siempunya menggeliat pelan. Kurasakan tangan Mingi mulai mengusapi bongkahan pantatku kemudian ia remas membuat konsenku memanjakan tubuhnya sedikit buyar.

"Mingihh~" lenguhku lembut disela kegiatanku mengulum putingnya.

Dalam satu kali tarikan Mingi menarik tubuhku, dia kembali membaringkanku kemudian mengatur posisinya sendiri untuk berada diatasku dan mulai melakukan apa yang aku lakukan tadi padanya. Pemuda yang sangat cepat beradaptasi haha.

Mulai dari leher, lalu turun kearea dadaku Mingi memberikan ciumannya lembutnya. Membuat tubuhku tak mampu sedikit pun menolak meski pun itu hanya untuk sekedar menggodanya. Sampailah kini ia pada puting kiriku, lidah basah dan hangatnya mulai menyapu tonjolan berwarna pink kecoklatan ku kemudian ia hisap-hisap kecil seolah putingku dapat mengeluarkan susu. Sementara puting kananku ia manjakan dengan jari lincahnya. Pilin, tarik, cubit, gigit dan hisap putingku mencuat seketika.

"Ah.. kau benar-benar cepat belajar Mingih..." Ucapku sembari menikmati perlakuannya

Mingi beralih pada putingku yang satunya. Seperti bayi yang haus ia langsung meraup dan menghisapnya kuat membuat tubuhku seolah lumpuh, dan hanya mampu menggeliat sensual sembari menekan tengkuknya agar ia memberiku lebih dan lebih.

Tangan pasif Mingi mulai bergerak menuju area selangkanganku, dimulai dari usapan intens pada penisku yang telah menegang dari luar celanaku, berlanjut keremasan yang membuatku tak kuasa menahan desahan nikmatku.

"Ahh.. ssshh..."

Kak bergerak gelisah menahan desiran nikmat disekujur tubuhku, tanpa sengaja lututku justru menggesek gundukkan keras didalam celana Mingi membuat erangan suara beratnya keluar menaikkan hasrat ingin dipuaskan.

"Ghh.. San hyunghh..." Mingi menghentikan kegiatannya dan tampak menikmati gesekan lututku di gundukan penisnya.

Mendapat sela aku pun segera mendorong Mingi dan memutar posisiku menjadi diatasnya. Aku yang sudah setengah mati penasaran langsung menduduki pahanya lalu membuka ikat pinggang, pengait, dan Zipper celananya. Tanpa meminta izin siempunya aku menarik celana Mingi kebawah dan detik itu juga penis tegang, panjang, dan berisi milik Mingi yang dihiasi urat-urat perkasa menyembul keluar berdiri tegak seolah menantangku.

Kujilat bibir bawahku menatap penis tersebut. Shit! Melihatnya saja sudah membuat lubangku berkedut ingin segera diisi olehnya. Kembali kulanjutkan kegiatanku dengan menggenggam batang penis itu, dengan perasaan kagum mulai ku endus penis beraroma maskulin itu, kemudian ku ciumi setiap inci batang tersebut sembari sesakali menjilatinya.

"H-hyung ahh.. apa yang kau lakukan?!" Tanya Mingi terbata-bata.

"Kau cukup nikmati saja dulu Mingi.." jawabku sedapatnya.

Mulai kujilati batang penis berukuran menakjubkan itu, dengan lidah ku mainkan lubang kencingnya membuat tangan Mingi langsung meraih rambutku dan menekan kepalaku. Mengerti maksudnya aku segera mengulum kepala penisnya.

"Eugh.. San hyunghh"

Perlahan aku memasukkan penisnya kedalam mulutku, dan bagian yang tak muat masuk seluruhnya kedalam mulut ku manjakan dengan tangan. Mulai kugerakkan kepala ku naik turun membuat penis itu keluar-masuk dalam mulut hangat dan lembabku, sesekali aku mengisapnya kuat hingga kedua pipiku cekung kedalam.

"Ohoks.. akkh!"

Tanpa aku duga tiba-tiba pinggul Mingi terangkat, tangannya mendorong kepalaku kuat hingga penisnya menyeruak masuk hingga tenggorokanku membuatku nyaris tersedak. Ia memompa mulutku dengan penisnya sangat cepat membuat salivaku menetes melumuri penisnya.

"Ahh Hyung mulutmu nikmat sekali.." racau Mingi.

Plop!
Kupaksa untuk mengeluarkan penis Mingi dari dalam mulutku. Kemudian aku melepas celanaku beserta dalamannya dan kucampakkan begitu saja dilantai. Rasanya benar-benar melegakan dapat membebaskan penisku dari dalam celana itu.

"Mingi, Hyung sudah tidak tahan. Hyung mau dimasuki sekarang" Kataku sembari menggenggam batang keras Mingi.

Ketika mendapat anggukkan dari pemuda tersebut aku pun segera memposisikan pantatku diatas penisnya. Dengan tangan yang terbebas aku membuka belahan pantatku agar aku lebih muda memasukkan penisny kedalam lubangku. Perlahan aku menurunkan pantatku setelah memastikan kepala penis Mingi tepat dibibir lubangku. Sedikit demi sedikit kepala batang penisnya mulai masuk kedalam lubangnya, jujur dengan ukuran yang cukup berisi aku sedikit kesulitan, dan harus menahan sedikit nyeri.

"Sssh hyungh sempith.." Desis Mingi sembari mengusap pinggangku lembut dengan kedua tangannya seolah ingin mengalihkan rasa nyeri ku.

Blesh!
Kuberanikan diri untuk menghentakkan pantat ku bawah hingga keseluruhan batang penis Mingi masuk kedalam lubangku. Beruntungnya aku kepala penis pemuda pemalu ini bisa langsung mengenai prostatku.

"Fuckhh..." Erangku nikmat.

Diliputi oleh nafsu yang membuncah aku pun segera menggerakkan tubuhku turun dan naik membuat penis Mingi keluar-masuk dari analku. Kedua tangan besar Mingi yang berada dipinggangku tak tinggal diam, ia membantuku untuk menaik-turunkan tubuhku dengan lebih cepat hingga aku bisa merasakan tumbukkan nikmat penisnya diprostatku tanpa jeda sedikit pun.

"San hyunghh..."

"Ahh Mingiyahh..."

Rektumku semakin mengetat ketika terus diliputi deraan nikmat, untuk melampiaskannya aku hanya bisa mencengkram kedua lengan yang dihiasi dengan urat-urat menonjol. Begitu pun dengan Mingi yang semakin gencar menghentak-hentakkan tubuhku, bahkan aku dibuat tak sadar jika pinggul pemuda itu ikut bergerak menyodok lubang analku dari bawah

"Anghh Mingihhh..."

"San hyunghh Kenapa kau semakin ketat.."

Hujaman Mingi semakin intens membuat penisku yang sama sekali tak disentuh mulai berkedut dengan precum yang sudah mengalir keluar. Rasanya aku akan segera keluar hanyaa dengan sodokkan penisnya saja.

"Sshh ahh fuck mehh.."

PLAK!
Tubuhku tersentak pelan saat tiba-tiba tangan kiri Mingi menampar pipi pantatku cukup kuat. Aku yakin itu meninggalkan jejak kemerahan, tanpa ragu aku menghujamkan pantatku kebawah kuat-kuat hingga batang penis itu kembali tertelan lubangku seutuhnya dan menekan prostatku dengan kuat dan cukup memakan waktu. Rektum ku mengetat mencengkram penis Mingi dan aku pikir ini cukup nyeri untuk pemuda itu karena ia sempat meringis pelan, tubuhku mengejang pelan dan Splash— akhirnya penisku menyemburkan sperma yang langsung mengenai perut berabs tipis milik Mingi.

Entah Mingi mengandalkan instingnya, atau memang ia cepat belajar dalam satu kali dorongan Mingi sudah berhasil membuatku berbaring tanpa melepas penisnya dari lubangku yang sudah licin dengan precumnya. Ditopangkannya kaki kiriku ke bahu kokohnya, dan diusapnya spermaku diperutnya dengan tangan lalu ia memasukkan jari berlumuran cairan putih kental itu kedalam mulutku. Dengan senang hati pula aku mengulum jari-jari panjang itu, sementara dibawah sana Mingi mulai menggerakkan kembali penisnya.

"Eumhh sllrpphh" jilat, kulum, dan sesap kuperlakukan jari panjang itu layaknya lolipop.

"San hyunghh... Kau benar-benar menggoda" puji Mingi tanpa sembari menatapku nyalang syarat akan nafsu.

Sembari mempercepat genjotan penisnya dilubangku pemuda ini menjilati kedua putingku bergantian, lalu beberapa kali ia juga menghisapnya kuat, alhasil penisku yang mulai melemas kini kembali menegang tanpa sentuhan. Sialan anak ini benar-benar bisa memanjakan tubuhku.

"Aahh Mingihhhh yeshh~"

"Fuckhh San hyunghh kau membuatku gila.."

Geraman berat yang keluar dari bibir tebal Mingi bagaikan perangsang ampuh untuk menaikkan gairahku kembali. Semakin lama gerakkan Mingi semakin cepat, dan liar aku tak kuasa menahan deraan nikmat yang diberikan olehnya.

"A-ahh yeshh fuckhh mehh harderhh..."

"Kau menyukainya Hyung?" Bisiknya dengan suara berat.

"Yeshh ahhh please give me morehhh..."

Tak lama aku kembali merasakan kedutan dipenismu, ku cengkram bantal yang menjadi penopang kepalaku kuat. Tubuhku sontak menegang dan akhirnya ditengah pompaan penis Mingi aku kembali orgasme, menyemburkan spermaku keperutnya untuk kedua kalinya. Mingi menghentikan gerakkannya seolah ingin memberiku kesempatan untuk menikmati masa puncak. Nafasku yang terengah-engah membuat dadaku naik-turun dengan cepat, mata sayuku memejam, dan bibir terbuka meraup udara dengan rakus.

"Manis..." Lirih Mingi sembari mengusap pipiku dengan lembut

"Kau gila Mingihh.." cibirku kesal sekaligus puas dengan servicenya

"Tapi Hyung menyukainya kan?" Katanya tepat membuatku bungkam

Aku alihkan saja pandanganku kearah lain, tapi seolah tak ingin diabaikan Mingi menarik daguku agar menghadap kembali kearahnya, diraupnya bibir Cherry ku dengan penuh nafsu dan tak sedikit pun aku bisa menolaknya. Tubuhku sudah sepenuhnya dikendalikan olehnya. Pasrah dan hanya bisa membalas ciumannya semampuku sembari merengkuh lehernya.

Setelah cukup lama bibir kamu berpagutan Mingi melepas tautan ciumannya, kemudian menarik penisnya keluar dan memutar tubuhku menjadi tertelungkup. Ditariknya pinggulku hingga posisiku kini menungging didepannya. Tanpa berbasa-basi pemuda kutu buku itu kembali melesakkan penisnya kedalam lubangku dengan hentakkan kuat.

"A-anghhh shit!" Erangku disertai umpatan saat kepala penis pemuda itu mengenai telak prostatku.

"Kau menyukai kan Hyung?" Bisiknya tepat ditelingakj membuat sekujur tubuhku merasakan desiran hangat.

Sembari mulai menggerakkan penisnya dilubangku Mingi menghujani ku dengan kecupan dan juga ciuman dibagian leher, bahu, hingga punggungku. Bisa ku rasakan ia menghisap beberapa titik dan dapat dipastikan akan meninggalkan jejak. Kedua tangan kekarnya memeluk tubuhku, tak tinggal diam jemari tangannya pun mulai meremas dadaku dan memilin kedua tonjolan putingku. Dia berhasil membuat penisku kembali terbangun lagi.

"E-eunghhh~" lenguhku lembut menikmati sentuhannya yang tak terlalu buru-buru itu.

"San hyung aku begitu menyukai tubuhnya ini" bisiknya sembari mengulum daun telingaku.

"H-hyunghh juga Mingiyaahh.." jawabku diiringi desahan pelan.

Gerakan penis Mingi dibawah sana tiba-tiba saja menjadi cepat, dada Mingi yang mulanya menempel di punggungku mulai menjauh. Diremasnya kedua bongkah pantatku dengan kuat dan tamparan tak tertinggal ia daratkan dipantatku.

"A-anghhh fuck mehh harderhh" racauku

"Dengan senang hati Hyung.."

Mingi kembali memeluk pinggangku kemudian menyodokkan penisnya dengan liar membuat tubuhku berkali-kali tersentak kedepan tanpa mendapat kesempatan untuk membalas gerakkannya. Tanganku yang menopang tubuh bagian depan mulai terasa lemas hingga akhirnya aku tak mampu lagi bertahan membuat tubuh bagian depanku terjatuh, dan posisiku semakin menungging. Agar tetap bisa bernafas kumiringkan kepalaku.

"Anghh Mingihhh pelankahhnn sedikithhh..."

Aku meremas kuat bed cover tempat tidurku yang sudah berantakan, sementara didalam lubangku mulai ku rasakan penisnya membengkak dan berkedut. Bukannya memelankan gerakannya Mingi justru menambah tempo sodokannya membuat tempat tidurku ikut berdecit. Benar-benar tenaga pemuda ini seperti tak ada habisnya.

"Hyunghh ada sesuatu yang sepertinya akan kekuarhh" kata Mingi sembari meremas pinggangku.

"Keluarkanhh sajahhh Hyung juga mau keluar..." Jawabku diluar kebiasaan. Aku tak pernah mengizinkan siapa pun termaksud pacarku sendiri keluar didalam tapi untuk Mingi kali ini entah mengapa ingin sekali aku merasakannya.

Mingi menghujamkan penisnya dalam-dalam dan menabrak prostatku dengan kuat, rektumku refleks mencengkram penisnya dengan kuat dan akhirnya SPLASH— prostatku merasakan hangatnya sperma Mingi, bahkan perutku pun rasanya penuh sekali dengan cairan kentalnya. Disaat bersamaan pula penisku menyemburkan sperma untuk ketiga kali dan tubuhku benar-benar lemas seketika, kemudian ambruk begitu saja membuat penis Mingi yang mulai lemas langsung keluar.

Nafasku terengah-engah, pandanganku sedikit berkabut, tenagaku entah hilang kemana. Sementara itu Mingi yang masih berada dibelakangku mengusap area paha dalamku dan melap cairannya yang meleleh keluar tak tertampung oleh lubangku. Tak berselang lama ia memutar tubuhku menjadi terlentang, diusapnya pipiku dan dikecupnya keningku dengan lembut. Sekali pun aku tak pernah mendapat perlakuan seperti ini dari partnerku sebelumnya.

"Maaf, sudah membuat Hyung kelelahan.." katanya sembari menarik tubuhku kedalam dekapannya.

Hangat, nyaman, dan juga menenangkan. Aku tak tau perasaan apa yang tiba-tiba merasuki hatiku ini, sulit sekali aku mengartikannya karena ini untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang rasanya tulus tanpa tujuan dan maksud.

"Hyung, apa Hyung marah padaku?" Tanya Mingi sembari menatapku khawatir.

Aku terkekeh pelan "Sama sekali tidak marah Mingi, terima kasih sudah memuaskan Hyung" kataku sembari mengecup bibirnya.

Ia kembali mendekapmu dalam pelukannya, tangan besarnya mengelus rambutku membuatku semakin nyaman dalam rengkuhan lengan kekarnya. Bahkan dengan kekasihku sendiri tak sekali pun aku merasakan kenyamanan seperti ini.

"Aku yang harusnya berterima kasih. Hyung memberiku pengalaman yang mengesankan" bisiknya lalu membenamkan wajahnya dileherku.

Wajah Mingi pasti memerah lagi, anak ini benar-benar unik. Kenapa aku jadi berharap bisa melakukan ini lagi dengannya, brengsek sekali pikiranku ini haha.


To Be Continue...

Note : Mohon maaf jika terdapat typo atau salah penyebutan nama dalam cerita. Author satu ini memang minta di sleding malas banget buat ngoreksi ulang 😆


Continue Reading
Further Recommendations

dunback: Stunning short story, which weY is on.y the start of a love distaste romance between a King and his forced Queen, a forgotten love affair between 2 Young g sweet lovers that was never what it seamed…. A novel is needed from the morning after the end of chapterv4…. I wonder how long it takes her t...

Pamela: I loved everything with the story especially the way I held you so interested to see how it ended!

ecsanders2213: It was a great book so far until I had to stop n fill this out I just want to continue reading

dlmccoy57: This story should be an inspiration to all who are feeling the same as Ruby and shows how one can be loved like Damion loves her. Awesome story

Naani: Waiting for the coming chapters

Daniela: Me gusta mucho el como se desenvuelve está novela soy muy fan de la aurora de hecho la sigo también en tik tok y ufff las novelas q crea son muy impresionante sigue haci autora 😻

NikiRoe: Excellent plot but would be amazing if an editor got their hands on this.Love the story and absolutely adore the characters. Keep writing.

jpprada85: Me enganche desde el inicio. Super recomendada

minliceth: Muy buen escrito algo mal con el tema de la ortografía se repetían 2 veces el mismo guión del resto todo en orden me encantó la trama y el final estuvo de maravilla mis felicitaciones...

More Recommendations

Nicol Hernandez: Que jimin y jungkook le den su merecido al equipo de fútbol

samitabajajdr: This series is roller coaster of emotions Keeps u glued to them Loved them

Win: Everything is perfect

neacsu: I loved all three books.. An outstanding work...I finished all 3 in 24 hours,i couldn't let my phone down Love love and love💞💞💞💞

amessickrash: Very good story I hope there is more to come talk about a cliffhanger….. lol. ( more pages please)

About Us

Inkitt is the world’s first reader-powered publisher, providing a platform to discover hidden talents and turn them into globally successful authors. Write captivating stories, read enchanting novels, and we’ll publish the books our readers love most on our sister app, GALATEA and other formats.