Write a Review

Please, Take Care Of Me!

Summary

Cerita tentang seorang siswa SMA, yang bekerja di tempat penitipan anak demi membiayai ibunya yang sakit keras. Sampai seorang anak di tempatnya bekerja tak mau lepas darinya, membuat bingung ayah dari anak itu sendiri yang seorang single parent. Ayah dari sang anak menawarkan gaji yang besar, jika Yoongi mau menjadi pengasuh pribadi anaknya. Akankah masa muda anak itu berlangsung normal selayaknya anak seusianya yang lain? Ataukah ia menemukan roller coaster baru di hidupnya? 𝗙𝗿𝗶𝗲𝗻𝗱𝗹𝘆 𝗥𝗲𝗺𝗶𝗻𝗱𝗲𝗿. •BxB. •MinYoon AU : TopJim BotYoon. •Age Gap. •ChildKook. •Fiksi : Cerita rekaan. •And many more. Dll.

Genre:
Romance / Drama
Author:
Nowy
Status:
Complete
Chapters:
18
Rating:
5.0 1 review
Age Rating:
18+

Chapter 11

SATU kerjapan, dua kerjapan. Alis berkerut dengan kepala dimiringkan. Tubuh yang kerap kali membuat iri pria seusianya mulai bergerak-gerak gelisah. Sedangkan anak laki-laki dengan balutan sweater baby blue kebesaran, masih menatapnya tanpa ampun.

Jimin menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal sampai memerah, "Apa tadi kamu bilang? Kamu mau makan apa?"

Yoongi mendesah kecewa. Bahunya turun dan pandangannya menatap lantai. Lagi-lagi Jimin tidak mendengarkan omongannya.

Pria yang lebih tua melangkah ke arah dapur. Bunyi berisik yang sangat mengganggu pendengaran mulai terdengar, ntah apa yang dia lakukan di sana. Ketika Yoongi sampai di dapur, dia bisa melihat Jimin yang sedang kebingungan sendiri dengan peralatan dapur.

Jimin menghentikan kegiatannya, ketika dia merasakan tarikan dari kaos belakangnya. "Jimin.. aku serius,” kata Yoongi di balik punggungnya.

Menghela napas berat, Jimin akhirnya mengalah. Dia berbalik dan langsung menyudutkan tubuh Yoongi sampai mengharuskan anak itu berhalan mundur bersentuhan dengan pinggir meja. Mata Yoongi beregerak gelisah, lagi-lagi dia terkurung dengan Jimin di hadapannya.

Jimin mengacak surainya dengan frustasi, "Jelaskan padaku, kenapa tiba-tiba sekali?" Tanyanya.

Namun yang lebih muda justru menundukan kepala. Menghindar sebisa mungkin dari tatapan majikannya yang meminta penjelasan. Kebingungan dengan alasan apa yang mampu membuatnya terlepas dari pekerjaan yang menyiksa perasaannya ini.

"Err.. itu.. aku.." Yoongi kesulitan mencari alasan dan Jimin yang gemas dengan tidak sabar mengangkat tubuh yang lebih kecil darinya untuk duduk di meja.

Yoongi terkejut, matanya seketika membulat. Sekarang wajahnya sudah sejajar dengan Jimin, dan pria itu menatapnya dalam. "Kalau kamu berhenti, bagaimana dengan Gukkie?" Tanya Jimin.

'Bagaimana denganku..' Sambungnya membatin.

Napas Yoongi seakan tidak ingin keluar, tertahan begitu saja. Jimin hampir membuatnya jantungan hanya dengan tatapan dan nada bicaranya yang begitu menuntut.

Yoongi berkedip. Melarikan tatapannya ke manapun, asal jangan bertemu dengan Jimin.

"Apa karena aku tidak membangunkanmu semalam?” Tangan Jimin bergerak menyelipkan surai Yoongi yang sudah melewati telinga, ke belakang telinga anak itu, "Aku janji akan menuruti semua maumu. Asal jangan berhenti, ya?" Bujuknya memelas.

Yoongi menggigit bibir bawahnya sampai memerah. Untuk melepas Jungkook saja sudah sulit, kenapa juga Jimin jadi bersikap berlipat-lipat manis seperti ini. Memohon agar Yoongi tidak berhenti. Apa susahnya mencari pengasuh baru?

Jimin masih memperhatikan wajah Yoongi. Anak itu terlihat sedang berpikir keras, bahkan lebih keras dari yang biasanya dia lihat saat Yoongi sedang mengerjakan pr.

Jimin hapal betul Yoongi sering menggigit ujung pensil mekaniknya, tapi karena tidak ada pensil sekarang, anak itu beralih menggigiti bibir bawahnya sendiri.

"Kalau begitu mari kita buat perjanjian,” kata Yoongi memecah keheningan yang cukup panjang.

Jimin tersenyum. Dia lega setengah mati. Akhirnya dia bisa bernapas dengan normal sekarang. Jimin mengangguk-angguk, "Baik-baik, aku setuju!" Serunya.

Yoongi dapat melihat Jimin kembali ceria, senyuman lucu pria dua puluh tahunan itu pun tercipta lagi. Dia mendorong dada bidang Jimin yang mengukungnya, membuatnya menjauh sedikit agar dia juga bisa sedikit bernapas. Tolong, Yoongi tidak ingin mati muda!

"Pertama, aku boleh pulang tepat setelah Gukkie tertidur."

Jimin terlihat tidak senang, namun dia pada akhirnya mengangguk, "Baik, tapi tetap diantar denganku."

Yoongi merengut tidak suka, tapi tak apalah. "Kedua, aku hanya mengurus keperluan Gukkie. Tidak denganmu. Oke untuk sarapan pagi, tapi tidak dengan yang lain."

Bibir Jimin terbuka untuk memprotes, namun buru-buru Yoongi menyelaknya, “Tidak lagi membangunkanmu di pagi hari, menyiapkan baju, serta memasangkan dasi. Demi Tuhan Jimin, kamu lebih ahli dengan itu dibanding denganku!"

Jimin hanya bisa terdiam, meski raut wajahnya sangat-sangat menyedihkan dan tampak tak terima.

"Keti—"

"Kenapa banyak sekali!" Protesnya.

"Baiklah, ini yang terakhir!" Kesal Yoongi. Dia mengatur napasnya, "Tidak ada kontak fisik,” katanya dengan tegas.

"Tidak dengan mengelus rambut, memainkan jari, mengangkatku seperti tadi. Aku bukan kucing! Oiya, berhenti memanggilku kucing kecil!" Ambeknya.

Wajahnya sehabis bangun tidur semakin terlihat menawan. Dari matanya yang membengkak, pipinya semakin bulat, hidungnya yang memerah di ujung serta bibir merah mudanya yang cemberut dengan tidak senang. Jimin menggigit pipi bagian dalamnya, menahan tawa. Yoongi memang tidak pernah bisa gagal membuatnya gemas. Sedang merajukpun terlihat lucu di matanya.

"Baik, aku setuju."

Yoongi mengerjap. Dia kira, akan susah membuat Jimin setuju dengan semua perjanjian itu. Ternyata semudah ini.

"Jadi, mana stempelnya?" Tanya Jimin.

Alis Yoongi menyatu, "Stempel apa?"

Jimin terkekeh, dia melipat kedua tangannya di depan dada, "Ituloh stempel yang biasanya digunakan pada saat perjanjian, biar sah."

Yoongi menepuk dahinya. Benar juga apa yang dibilang dengan Jimin. Bahkan perjanjiannya tadi tidak tertulis. Dia benar-benar merutuki kebodohannya.

"Aku punya stempel, harus ku gunakan di mana?" Pertanyaan Jimin memutus pikiran Yoongi.

"Di mana ya? Kita bahkan tidak menulis perjanjiannya tadi."

Jimin melihat kaki Yoongi yang tergantung, mengayun gelisah. Masih dengan sweater baby blue kebesaran milik Jimin, rambut acak-acakan sehabis bangun tidur dan mata yang sayu. Anak itu terlihat benar-benar imut, bahkan tanpa dia harus berusaha.

"Ah! Aku tahu di mana.." Jimin menyeringai.

Yoongi menaikan kedua alisnya, "Di man—"

Chup.

Dan satu kecupan mendarat di pipi Yoongi, tepat di sudut bibir mungilnya yang semakin memerah karna dari tadi digigiti olehnya. Jika dia bergerak sedikit saja, sudah pasti bibir Jimin akan mendarat tepat di bibirnya.

Jimin tidak bertindak dengan tergesa-gesa ketika dia mengecup mesra sudut bibir yang selalu menggodanya itu. Kalau bisa, dia ingin bergerak dan meraup bibir Yoongi. Tapi menyadari bahwa tubuh mematung Yoongi serta napasnya yang tertahan, Jimin mengurungkan niatnya. Meski sangat berat hati, dia menarik bibirnya.

"Aku sudah menaruh stempelku. Sekarang perjanjian itu sah,” kata Jimin sambil berlalu meninggalkan dapur dan juga Yoongi di belakangnya, yang mulai mengap-mengap kehabisan udara.

Park Jimin. Pria berumur 28 tahun, dengan karir mapan dan wajah tampa . Nomer satu di antara sepuluh pria paling diminati di Korea Selatan.

Baru saja bersikap tidak bertanggung jawab kepada perasaan seorang anak SMA.


***

Jimin pikir, perjanjian yang dilakukan tanpa ada pihak orang ketiga itu tidak sah. Tapi dia seperti mendapat ganjarannya sendiri.

Perjanjian itu benar-benar sah!

Yoongi langsung membereskan barang-barangnya setelah anak itu menaruh Jungkook di kamar. Jimin bahkan tidak lagi dibuatkan kopi olehnya.

Anak itu sekarang lebih tenang. Tidak mencak-mencak marah saat Jimin mulai mengusilinya, dan bersikap sangat cuek. Dia bahkan tidak membahas stempel perjanjian, seperti kecupan itu memang tidak pernah ada pada awalnya.

Jimin kerap kali hanya bisa melihat Jungkook yang bercanda-canda bersama Yoongi tanpa bisa bergabung bersama mereka.

"Yoonie! Sekalang daddy yang jadi montel!" Seru Jungkook dengan tawa cerianya.

Jimin tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia hampir berdiri kalau saja tidak melihat Yoongi tersenyum dan berkata, "Kalau begitu Gukkie main dengan daddy, biar Yoonie akan mengerjakan pr."

Ayah dan anak sama-sama terbengong-bengong melihat Yoongi mulai mengeluarkan buku-bukunya dari tas.

Jungkook melihat ke arah ayah dan Yoonie-nya secara bergantian. Memutuskan pilihan yang paling tepat, dia berlari ke arah Yoongi.

"Tidakk! Gukkie main sama Yoonie saja kalau begitu." Rengeknya.

Malam itu, seorang Park Jimin mendapat penolakan dari pengasuh dan anaknya sendiri.


***

Taehyung memandang aneh ke arah temannya yang berpas-pasan dengannya di depan lift. "Hei Jim! Kau itu pengusaha bukan artis hiphop." Serunya, ketika melihat percampuran warna dasi dan jas Jimin yang tidak senada.

Jimin melihat dasinya, "Ada yang salah? Aku pikir ini cocok."

"Seleramu masih sama saja seperti dulu."

Jimin berjalan melewati Taehyung yang mengekorinya dari belakang. Dia duduk di kursi kerjanya, sedang Taehyung mulai memberikan berkas-berkas yang butuh diperiksa maupun disetujui oleh Jimin .

"Kamu terlihat berantakan akhir-akhir ini, ada apa?" Tanya Taehyung. Dia duduk di sofa yang terletak di tengah ruangan kerja Jimin.

"Tidak ada, hanya pengasuh Gukkie yang sedang mogok kerja,” jawab Jimin santai.

"Mogok kerja? Dia tidak datang begitu? Lalu Gukkie bagaimana?"

Jimin memandang lawan bicaranya, "Datang. Tapi dia hanya mengurus Gukkie."

Taehyung mengernyit tidak mengerti, "Ya memang dia harus mengurus siapa lagi? Kan memang pekerjaannya pengasuh Gukkie ?" Tanyanya bingung.

Jimin mengerjap beberapa saat, seperti baru menyadari sesuatu, "Begitu ya?"

"Begitu ya?!" Pekik Taehyung. "Jadi selama ini dia juga mengurusmu?"

Jimin mengangguk-angguk sambil terkekeh tidak merasa bersalah sama sekali. Taehyung yang melihat itu mendengus remeh.

"Kamu ta—"

"Tidak tahu." Potongnya. Dia berdiri dan menghampiri Jimin di meja kerja.

"Fokus Jimin, aku tidak mau mendengarmu bercerita panjang lebar tentang pengasuh mungil mu itu lagi oke?"

Sejak kejadian di lift tempo lalu, Taehyung memang sudah mengetahui pengasuh baru Jungkook. Meski belum melihatnya secara langsung. Cerita dari Jimin sudah lebih dari cukup untuk mengenal seorang Min Yoongi.

Taehyung mengeluarkan ponselnya dari saku jas. "Kamu tahu tuan Bae?” Jimin terlihat mengingat-ngingat orang yang disebut Taehyung .

"Jika kita memiliki hubungan yang bagus dengannya, itu akan berdampak baik ke perusahaan." Jelas Taehyung lebih lanjut.

"Lalu?"

Taehyung tersenyum dengan misterius, "Dia punya putri yang terkenal dengan sikapnya yang dingin. Putrinya akan ke Seoul besok, kau mau menemaninya berkeliling?"

Jimin langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja, "Gila! Mengurus kucing di rumah yang sedang merajuk saja susah setengah mati."

Taehyung menatapnya dengan bingung, "Maksudmu Yoongi?..." tanyanya, yang mendapat anggukan lesu dari Jimin.

"Argh! Jimin! Aku bilang fokus kerja dulu kan? Lupakan Yoongi." Kesal Taehyung.

"Lihat ini." Dia menyerahkan ponselnya ke arah Jimin. Dari layar ponselnya menampilkan seorang perempuan cantik berambut panjang sepunggung, perempuan itu terlihat sedang duduk menghadiri acara fashion show, dan dia tidak melihat ke arah kamera, seperti tidak menyadari bahwa dirinya sedang menjadi objek bidikan kamera.

“Jika kamu bisa membuatnya tertawa. Kamu rajanya!" Sambung Taehyung.

Jimin melihat foto yang Taehyung tunjukan dengan seksama, "Seperti berada di paling atas rantai makanan?"

Lontaran pertanyaan yang amat sangat random. Tapi mengingat pertemanan yang mereka bina bertahun-tahun mengharuskan Taehyung untuk mengangguk mantap.

"Jadi aku Simbanya? Dan perusahaan lain adalah zebra, jerapah, kijang dan hewan herbivor lainnya?" Tanya Jimin bersemangat.

Sebenarnya Taehyung ingin sekali memukul kepala atasannya, tentu saja dia tahan. Rencana ini harus berhasil, jadi Taehyung memilih untuk mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.

"Akan aku atur rencananya, kamu tinggal menemaninya saja. Buat dia tertawa, ajak dia ke tempat yang menyenangkan seperti taman bermain misalnya? Moodnya pasti akan bagus." Usul Taehyung.

Jimin menegakan tubuh, tiba-tiba saja pria itu menjadi tertarik dengan topik pembicaraan, "Apa membawa seseorang ke taman bermain akan memperbaiki moodnya?"

"Aku sih tidak pernah melihat orang yang pulang dari sana malah menangis,” jawab Taehyung asal.

"Bagus kalau begitu! Biar aku yang atur, kau buat saja pertemuan dengan putri tuan Bae." Seru Jimin yang tambah bersemangat.

Taehyung yang merasa rencananya berhasil, mengepalkan tangannya ke udara. Senang bisa membujuk temannya. Untung-untung Jimin dan Irene bisa bersama nanti dan perusahaan mereka juga dapat bekerjasama dengan tuan Bae. Sekali mendayung, dua pulau terlewati.

"Baik, untuk masalah nona Irene aku yang mengaturnya, kalau masalah taman bermain kuserahkan padamu!" Taehyung yang kelewat senang, meninggalkan ruangan Jimin begitu saja. Tanpa melihat ke belakang lagi, temannya itu sedang tertawa-tawa bodoh.

"Sepertinya Yoongi akan senang nanti di taman bermain."


To Be Continue



Continue Reading Next Chapter
Further Recommendations

funmilolaabdullahi: My best novel ever.1 and 2

Holly: This novel is really good and the storyline was amazing but they are so much mistake's and I really enjoyed reading your novel ♥️♥️

Kookminista: Es muy buena, me gusto namjoon casi me un infarto pero ameee le hizo gemelos ?? Hermosa

yosmairis77: Me a gustado casi todo lo único que no me convenció fue la masacre de la rata esque wacala se la recomendé a mi mejor amiga y las puntuaciones es porque se la merece

Naani: Waiting for the coming chapters

Daniela: Me gusta mucho el como se desenvuelve está novela soy muy fan de la aurora de hecho la sigo también en tik tok y ufff las novelas q crea son muy impresionante sigue haci autora 😻

minliceth: Muy buen escrito algo mal con el tema de la ortografía se repetían 2 veces el mismo guión del resto todo en orden me encantó la trama y el final estuvo de maravilla mis felicitaciones...

dontknowlove26: I can't believe I am so far in the series all ready there is no way it should be almost done 😞 Great read Thank You!

More Recommendations

sonia: Omg like seriously that's crazy he's not dead but he's alive so sad tho at least they can be a family again I hope the 2 find their mates soon !!

sonia: Still loving the series will definitely tell others about this site and your wonderful books

Dawn : Good plot, characters, excitement, like mc gangs. Not as graphic or bloody. Moral story.

Dana: Super tolle Geschichte, auch super geschrieben. Nur das Ende war Kacke. Hoffe das es noch einen 2. Teil gibt bzw. folgt

dontknowlove26: I LOVE these stories but I don't know if it's me or the story seems like it jumps some maybe I will just have to reread them just to make 😊 Thank You for your story

About Us

Inkitt is the world’s first reader-powered publisher, providing a platform to discover hidden talents and turn them into globally successful authors. Write captivating stories, read enchanting novels, and we’ll publish the books our readers love most on our sister app, GALATEA and other formats.