Sign of Love

Summary

Cinta adalah cinta. Kendati tanpa kata pun, dia tetap cinta. Cinta mampu tertampak tidak harus melulu atas kata-kata. Kerjapan mata, gerakan bibir, telinga berubah warna, yakni pula beberapa dari banyaknya tanda-tanda cinta. Lantaran, cinta tidak sesempit itu, dia merata dalam bumantara. #RaconteurxMinYoon and #MYS_StoryTelling

Genre:
Romance / Drama
Author:
Nowy
Status:
Ongoing
Chapters:
6
Rating:
n/a
Age Rating:
18+

Prolog

DI dalam, ruangan itu penuh asap rokok dari cerutu yang menyala. Lampu-lampu kristal menggantung di langit-langit tinggi, berwarna emas redup, membuat pencahayaan yang ambigu. Meja-meja bulat tersebar ke seluruh ruangan, dilapisi oleh satin yang menjuntai sampai ke kaki meja. Sekitar lima puluh tamu undangan yang hadir berserta dengan jas dan gaun mewah mereka, mulai menempati meja-meja yang sudah tersedia. Memindai seisi ruangan yang disulap menjadi negeri dongeng, para tamu menempati masing-masing meja bulat yang pada bagian tengahnya terdapat papan nomor. Tampak menikmanti jamuan, kian terdengar dentingan gelas kaca dari waktu ke waktu berbaur dalam suara tawa.

“Aku sedang tidak bermimpi kan,” kata pria itu. Dia memelototi pria lain yang sedang berjalan menghampiri. Dari raut pria yang sedang berjalan itu, terdapat keengganan, tapi langkah kakinya berpijak kukuh menegaskan kehadirannya yang kuat dan tak terbantahkan. “Alex!”

Merasa namanya dipanggil, pria itu menoleh. Dia mengenakan pakaian mewah seperti para tamu lainnya. Warna keseluruhan putih untuk kemeja berkerah tinggi, rompi, serta dasi kupu-kupunya. Sedangkan setelan tuksedo-nya berwarna hijau gelap dengan aksen emas di pinggir kerah, juga kancing-kancing di pergelangan. Warna emas sendiri menyamai surai yang ditarik seluruhnya ke belakang, sehingga jelas menampakan dahi menawan dari pria itu. Kontur-kontur wajah terlihat nyata. Alis tebal, hidung terpahat apik, bibir penuh yang mengundang, terbingkai rahang yang tegas. Ketika pria itu berjalan, seseorang yang sedang menyesap wine paling manis di dunia pun akan memalingkan wajah untuk meliriknya. Tidak kuasa menahan kerupawanan yang begitu murni, semurni bola mata biru laut yang menatap tanpa setitik emosi.

“Alex, kau datang ke pelelangan malam ini, kalau aku belum mati saat ini, lalu apa?” Sontak pelukan lebar dibalas dengan lengosan malas membuat pria bertubuh tinggi itu berpura-pura cemberut. “Aw! Kasarnya. Kalau ke sini bukan untuk bersenang-senang, lebih baik kau pulang saja!”

Alex masih memasang wajah datar, menggunakan ujung tongkat berkepala serigala perak yang digenggamnya, untuk menekan bahu lawan bicaranya. “Terlalu dekat.”

Diperlakukan seperti serangga berbau menyengat, pria jangkung itu menaik-turunkan alisnya jenaka. “Untuk kabur mencari Juliet-mu?” Dia tertawa lebar akan perkataannya sendiri, dia lalu berlari sambil merangkul pria yang tidak kalah tinggi darinya, “Aku bercanda teman! Ayo ikut ke mejaku, di sana. Yap! Yap! Dari sini berbelok ke timur.” Celotehnya tanpa henti.

Kedua pria itu berjalan acuh tanpa menaruh perhatian kepada tatapan-tatapan penuh minat yang dilayangkan dari para nona-nona muda yang hadir. Tidak peduli seberapa tinggi nan indah sanggul mereka, seberapa halus bahu sampai punggung mereka yang terpapar dari celah gaun, dan dari berapa banyak dan mengkilau batu berlian yang para nona itu kenakan. Alex dan Zayden terus berjalan sampai mereka sampai ke meja berpapan nomor tujuh.

Posisi meja pada ruangan manandai sebagai mana penting kuasa yang dimiliki. Papan nomor tujuh, itu berada di tengah-tengah sedikit agak kiri dari ruangan. Tidak terlalu depan dan tentunya tidak mungkin terletak di belakang. Arah pandangnya lurus langsung tertuju ke arah panggung, tanpa ada meja lagi yang dapat menghalangi penglihatan ke depan. Zayden menyamankan duduknya, dari mata bulat besarnya yang menyala-nyala senang, dia terlihat puas dengan posisi mejanya saat ini. Setidaknya, lebam tongkat golf ayahnya yang membiru di betis dapat terbayarkan.

Foster, merupakan salah satu dari kaum kapitalis biokrat. Mereka bisa mengubah hukum negara semudah membalikan telapak tangan. Kekuasaan yang jatuh dari turun temurun, membuat Tuan Muda Zayden Foster selaku penerus selanjutnya ini, tidak mengenal rasa takut. Beruntung Tuan Foster masih sehat dan cukup gagah untuk menertibkan anak nakalnya ini. Dibanding hukum negara, Zayden lebih takut kepada ayahnya sendiri.

“Alex Armanto?”

Mata biru yang sedang menatap bosan vodka dari balik gelas bening itu mengadah. Ah.. satu lagi biang masalah di hidupnya, “Philip?”

Pria yang berdiri di dekat meja tersenyum lebar, membuat bibirnya membentuk senyum kotak. Surai coklat tuanya berarakan seiring dia mendudukan dirinya dengan sembarangan. “Aku pikir kau tidak tertarik untuk acara ini," kata Philip sambil menegak diva vodka yang telah disediakan.

Zayden tertawa keras dibuatnya, “Biar bagaimanapun Alex itu pria. Mana tahan dia tidak hadir di acara seperti ini.” Mempertemukan pematik ke ujung cerutu, dia mengembuskan kepulan asap yang mengurai di udara.

Philip mengangguk setuju, “Aku saja yang miskin hadir, ya walaupun tidak akan beli bisa sekedar lihat-lihat lah.”

“Aku tidak akan membeli apapun malam ini.”

Baik Philip maupun Zayden saling bertukar pandang sebelum pada akhirnya tertawa kencang, “Mau bertaruh? Apa tuan muda kita ini benar-benar tidak akan membeli siapapun malam ini?” Ajak Zayden, di pinggir bibirnya masih terdapat cerutu yang tinggal setengah.

Philip melonjak kesenangan dari tempat duduknya, “Kalau aku menang, bayarkan aku ketika aku ingin membeli sesuatu malam ini oke?” Jawabnya antusias. Selama ini dia selalu keluar dari pelelangan dengan tangan kosong. Sempat beberapa malam dia memenangi lelang tapi pada akhirnya pasti ada yang menawarkan lelang dengan harga yang jauh lebih tinggi yang dia tidak mungkin bisa sanggupi lagi. Apapun yang terjadi, dia harus membuat Alex membeli hasil lelang malam ini dan menguras isi kantung Zayden sampai koin terakhir. Meski dia pun tahu, uang Zayden tidak mungkin habis hanya dalam semalam berada di pelelangan.

Mata biru Alex dapat setenang langit, namun bukan berarti itu tidak dapat mendingin seperti bongkahan es. "Menjadikan aku barang taruhan bukankah seperti nyawa kalian juga dipertaruhkan?" Zayden dan Philip memang selalu bertingkah bodoh dan kekanakan, terlebih-lebih lagi Philip.

Beruntungnya yang tidak kenal rasa takut hanya Zayden, itu tidak berlaku bagi Philip yang sekarang sudah mengeluarkan keringat dingin. Philip bahkan tidak dapat menelan salivanya ketika mata biru Alex masih menatapnya dengan datar. Sampai pria bangsawan itu teralihkan pada pembawa acara yang mulai memasuki panggung. Tepukan tangan yang meriah serta seruan semangat terdengar bersahut-sahutan. Membuatnya mau tidak mau melepaskan anak beruang yang menggigil ketakutan.

Mengamati reaksi para tamu lelang, Alex merasa ada yang berbeda dari lelang malam ini, suasananya terasa begitu aneh dibanding acara-acara lelang yang pernah dia hadiri sebelumnya. Acara lelang seperti ini tentunya sudah sering dia jumpai dan para pesertanya tidak ada yang pernah kelewat semangat seperti sekarang, yang bahkan hanya karena pembawa acara memasuki panggung.

“Hei, Jay.” Panggil Alex menyikut lengan Zayden, raut wajah antusias temannya juga tidak luput dari pandangan, membuatnya semakin bertanya-tanya, “Barang apa yang dilelang malam ini?” Sambungnya.

Zayden langsung mengalihkan tatapan yang semula terpaku pada panggung ke arah Alex, “Apa maksudmu dengan barang?”

Alis tebal Alex mengerut tak mengerti, “Malam ini barang apa yang dilelang—” perkataannya terputus karena ruangan menjadi dua kali lipat sangat ramai dengan teriakan.

Alex menoleh untuk mengamati keseluruhan. Di dalam ruangan, para tamu undangan yang semula duduk tenang, elegan, beretika, kini mulai satu persatu berdiri tanpa memedulikan penampilan mereka lagi. Philip yang berada di sebelahnya juga mulai bersemangat ikut menyoraki seseorang yang masuk ke panggung.

Di atas panggung, selain pembawa acara, kini masuk tiga orang tambahan. Dua di antaranya merupakan seorang pria bertubuh tinggi besar dengan otot-otot besar. Satu dari pria itu berjalan di depan menarik rantai, sedangkan satu lagi berjaga di belakang. Seseorang yang terkukung di tengahnya adalah seorang perempuan. Dia tinggi, rambutnya amat panjang hingga nyaris menyentuh paha. Warna rambutnya sehitam arang, jatuh menutupi total keseluruhan wajahnya yang sedang menunduk. Perempuan itu hanya mengenakan kain tipis putih yang menerawang lekuk tubuhnya. Leher, tangan, serta kakinya di rantai. Dan ketika dia ditarik untuk berjalan, bunyi rantainya bergesekan dengan lantai panggung sehingga menimbulkan bunyi 'klang' 'klang' yang nyaring.

Ketika surai kelam itu ditarik kasar, wajahnya luar biasa cantik. Mata perempuan itu berwarna emerald, bulu matanya panjang dan lentik. Bentuk hidung, pipi, dagu, sampai rahang wajahnya sempurna. Membuat teriakan-teriakan yang didominasi oleh teriakan napsu memenuhi ruangan.

Alex tahu semua kaum kapitalis di negaranya adalah manusia-manusia memuakan yang hilang akal. Tapi memperjual belikan manusia seperti ini, benar-benar sudah kelakuan yang tak beradab. Mereka semua berlagak dan ingin diperlakukan seperti bangsawan yang sesungguhnya. Tapi kelakuan mereka sendiri sangat busuk melebihi belatung yang terdapat pada sampah.

Alex mencengkram kepala serigala perak hingga buku jarinya kehilangan darah. “Kenapa ini semua bisa terjadi? Bagaimana dengan keluarganya?” nada bicaranya dan posisi yang bersebelahan, masih cukup kencang untuk didengar Zayden di tengah keramaian orang-orang yang mulai meneriakan nominal angka fantastis.

“Mereka tidak bodoh Alex. Orang-orang yang dijual adalah mereka yang tidak punya keluarga. Mereka sebatang kara, parasit bagi negara kita.” Jelas Zayden yang kini mulai tenang dari pada waktu sebelumnya, sepertinya minatnya akan perempuan di panggung sudah menurun.

Alex menekan amarah yang ingin mendobrak keluar dalam dirinya, “Dari mana mereka mendapatkan korban-korban itu?”

“Hei, pelan-pelan tuan muda. Biar aku jelaskan perlahan.” Zayden membenarkan ujung tuksedo maroon-nya sambil berdeham.“Pertama, kau tahu kan di negara kita tidak ada yang namanya pekerja seks? Pelacur? Seperti halnya di negara lain?”

Setelah mendapat anggukan singkat dari Alex, dia melanjutkan, “Kedua, kau tahu juga kan di negara kita tidak ada pengemis maupun gelandangan, membuat negara kita bersih dan tertib?”

Alex kembali mengangguk, pembawaannya tenang yang bahkan Zayden tidak dapat menduga sebesar apa bola api kemarahan miliknya kali ini setelah melihat perempuan tadi sudah laku terjual dan kini sedang terseret menuruni panggung.

“Tapi tuan muda, dunia tidak berputar semulus itu. Ada kaya? Tentu ada miskin. Ah! Ada lagi.” Zayden menjetikan jarinya.

“Sudah miskin, sebatang kara lalu..” Raut wajah Zayden berubah ketika menyebutkan kata terakhir. Tidak ada lagi raut wajah jenaka menyegarkan dari sang tuan muda.

“Cacat.”

Continue Reading Next Chapter
Further Recommendations

Nathaly : Excelente trama, con un buen toque de humor y con un tema fresco. La recomiendo

sayury: Esto es arte ayuda en las noches de insomnio 😊😊😊

mrsmagoo9847: Very entertaining

glorykengonzi: Perfect book i really loved it soo much enjoyed it alot

Arianna: I absolutely loved it

Jade Corrie: Love this story

dontknowlove26: I can't believe I am so far in the series all ready there is no way it should be almost done 😞 Great read Thank You!

saffiun: Liked the story, easy reading, well written

Blanche: Very good. I turned a boo g eye to the errors as the storyline was very interesting. Love the conclusion.

More Recommendations

sonia: It just keeps getting better I can't wait till we have found everyone and see how big the group is then get to the real action

Yurei : A la mierda me encanta lo fuerte que es esta historia 🔥🔥🔞🔞 y además como lo escribe la autora/o. Todo de la novela me facina,sigue asi

패티: Estuvo fuerte el asunto..🥵Por favor que Baek me pase el PDF del libro para invocar incubos..🤭

Jane: It’s really nice The book is amazing

About Us

Inkitt is the world’s first reader-powered publisher, providing a platform to discover hidden talents and turn them into globally successful authors. Write captivating stories, read enchanting novels, and we’ll publish the books our readers love most on our sister app, GALATEA and other formats.