Priyayi Jawa

All Rights Reserved ©

Summary

Cerita ini adalah tentang hal-hal yang pernah hilang untuk kemudian ditemukan lagi. Juga tentang hal-hal yang pergi dan tak pernah kembali.

Genre:
Romance / Drama
Author:
ayudiaaa
Status:
Ongoing
Chapters:
3
Rating:
n/a
Age Rating:
16+

Prolog

Berlin di bulan Oktober dan cuaca yang stabil bukanlah dua hal yang cocok untuk diletakkan pada kalimat yang sama. Langit cerah tanpa awan di siang hari bisa berubah menjadi petir yang berkilat-kilat dan hujan yang tumpah ruah hanya dalam setengah jam. Memilih pakaian yang bisa mengakomodasi keduanya sebelum pergi adalah suatu drama rutin wajib tersendiri.

Maka ketika Emile terlambat bangun pada hari Rabu pagi dan memutuskan untuk memakai pakaian apapun yang pertama kali dilihatnya, dia tahu bahwa dia telah memutuskan untuk sengsara dengan cara yang paling disengaja.

Benar saja. Tiga stasiun sebelum pemberhentiannya, awan gelap sudah bergulung-gulung di langit, mengeluarkan gemuruh dan kilat yang diikuti dengan rintik-rintik hujan. Emile merogoh tas ransel birunya, mencari payung lipat yang baru dibelinya kemarin.

Ah, Scheiß . Kemarin kan dikeluarin bareng belanjaan lain, rutuknya setelah beberapa menit mengaduk-aduk isi tasnya.

Apa boleh buat. Kalau hari ini harus basah-basahan juga ya sudahlah. Toh hari ini juga hanya ada satu jam pelajaran karena ada persiapan acara sekolah, batinnya.

Kalau bukan karena harus mengumpulkan esai sejarah, Emile pasti lebih memilih untuk bergumul dalam selimut sambil bermain game sampai subuh daripada hujan-hujanan begini.

"Zoologischer Garten. Übergang zur U-Bahnlinie 2 und 9 und zum Regionalverkehr. Ausstieg rechts,” stasiun tujuannya akhirnya diumumkan juga.

Kereta perlahan mulai melambat dan sinyal pintu akan dibuka sudah mulai berkelip-kelip ketika ponselnya berdering.

Papa

Emile mengernyitkan dahinya. Tumben sekali ada telepon dari bapaknya. Terakhir kali nama itu tertera di layar ponselnya sepertinya lebaran tahun lalu. Itupun karena ponsel Mama mendadak mati di tengah-tengah percakapan.

“Halo, Pa?” sapa Emile ragu.

“Emile, gimana kabar kamu? Lagi dimana sekarang?” suara di seberang sana buru-buru menyahut.

“Di S-Bahn mau ke sekolah,” jawabnya bingung. Biasanya nama tengah anaknya saja tidak ingat, tapi pagi ini bertanya kabar? Baru dapat wangsit apa Bapaknya tadi malam?

“Oh,” suara di ujung telepon itu terdiam sebentar. “Jangan masuk sekolah hari ini. Kamu pergi ke bandara aja sekarang. Nggak usah pulang ke rumah dulu. Mama juga sudah berangkat dan sebentar lagi sampai di bandara,” lanjutnya.

“Bandara? Ngapain ke bandara?” Alisnya mengerut menagih penjelasan.

“Pokoknya ke Bandara saja sekarang. Nanti kalau sudah sampai sana langsung cari Mama. Ngerti ya? Oh iya, jangan lupa matikan hp mu setelah ini,” sahut bapaknya, yang kemudian langsung memutus telepon.

Emile sebetulnya tidak suka mengikuti perintah bapaknya, tapi kalau itu berarti ia bisa terbebas dari mendengarkan detail sejarah yang tidak diminatinya, pergi ke bandara bukanlah pilihan yang buruk.


Emile menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi S-Bahn. Kalau bukan karena berburu rare item, sudah tentu Emile ogah tidur kurang dari empat jam tadi malam.

Dilihatnya rute perjalanan dengan mata yang setengah terbuka. Bandara masih jauh, masih 20 pemberhentian lagi. Emile menguap, menyalakan iPod lalu mengambil ponsel nya dari dalam tasnya.

1 neue Mitteilung von Max

nh Party heute abend bei Dieter. komm mal mit (malem ini party di rumah Dieter. Dateng ya)

Sebenarnya akhir-akhir ini Emile sedang berada dalam fase berdiam diri di rumah dan bermain game sampai subuh. Melompat dari satu pesta ke pesta yang lain semalaman suntuk tidak terdengar asyik lagi sekarang. Mungkin lain kali lah, batinnya sambil mengetikkan balasan.

Sebelum jarinya sempat menyentuh tombol send, satu notifikasi baru tiba-tiba muncul di layar.

1 neue Mitteilung von Luna

Kommste mit? Ick werde auch da (ntar dateng gak? gue sih dateng)

Jari-jari Emile berhenti mengetik. Matanya menatap nama itu lamat-lamat, sebelum akhirnya ia mengetikkan balasan.

ja vllt aber ka. mal gucken (kayaknya sih iya. ntar liat deh)

Emile lalu mematikan ponselnya. Apapun yang terjadi di bandara nanti, semoga malam ini dia bisa datang.


Hujan sudah mulai reda ketika S-Bahn yang ditumpanginya berhenti. Emile menyeret kakinya keluar dari kereta, sama sekali tidak antusias dengan apapun yang menunggunya di bandara. Terakhir kali ia disuruh ke bandara seperti ini adalah ketika tante nya nekat terbang ke Berlin semata-mata karena bosan dan tanpa tujuan liburan yang jelas.

Tanpa liburan yang jelas pada dasarnya berarti hanya tidur-tiduran di depan televisi di ruang keluarga, menonton film India dari Youtube dengan volume speaker kondangan sambil makan kacang. Belum lagi kebiasaannya menjadikan Emile babunya. Ambil ini, ambil itu, bikinkan ini, bikinkan itu. Padahal makan mie pakai sumpit saja tidak bisa.

Hah. Memang ujian hidup datang dalam berbagai bentuk.

Emile baru saja akan menyalakan lagi ponsel nya ketika Mama melambaikan tangannya dari kejauhan, melompat-lompat kecil agar tidak tenggelam di antara kerumunan raksasa Kaukasia di sekelilingnya.

Ya ampun, semangat banget sih padahal mau jemput Tante doang, batin Emile masam saat melihat alis Mama nya yang polos tanpa tambahan helai-helai pensil alis.

“Udah sampai dari lama, Mam?” tanya Emile sambil mencium tangannya.

“Nggak kok. Ini juga Mama baru pesen kopi sambil nungguin kamu lewat,” Mama melirik jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu melanjutkan, “Yuk jalan sekarang. Sebentar lagi telat.

"Gate berapa?”

"Gate 6, jam 10.08,” Mama mengecek lagi detail penerbangan di ponsel nya.

“10.08? Kita makan dulu aja ya, Mam? Lagian kan masih sejam,” bujuk Emile setelah melirik jam tangannya yang baru menunjukkan pukul sembilan lewat lima.

Tante kan juga bukan ibu negara yang kalau mau dijemput harus camping dari jam tiga pagi biar nggak kalah sama wartawan, batinnya sambil mengekori ibunya.

“Sayang, kita harus ada di ruang tunggu minimal 45 menit sebelum keberangkatan,” ujar Mama sambil mengaduk-ngaduk isi tas nya.

“Keberangkatan? Bukannya harusnya kita nunggu di kedatangan? Tante pasti dijemput dari Ankunft kan?”

“Siapa yang mau jemput Tante?” Mama nya balik bertanya, lalu mengangsurkan buku kecil berwarna hijau kepada Emile. “Kita yang berangkat, sayang. Satu jam lagi kita terbang ke Jakarta.”

“Gak kreatif ah becanda nya, Mam. Ini Emile mandi pagi aja belum, loh. Ini berasanya bukan kayak mau terbang tapi kayak mau nemenin Mama belanja daging,” alis mata Emile berkerut heran.

“Yaudah anggep aja kamu disuruh nemenin Mama belanja daging, tapi belanja nya di pasar Senen,” Mama mengedikkan bahunya.

“Ih, serius, Mam. Berangkat ke Jakarta itu berarti siapin koper dulu, terus simpen baju di koper, terus alat mandi, obat-obatan. Direncanain dulu dari jauh-jauh hari mau ngapain aja, terbang jam berapa, bikin surat izin dulu ke sekolah. Ini bahkan charger Emile aja masih ketinggalan di kamar,” balasnya.

“Emile,” tegur Mama tanpa melambatkan tempo jalannya.

“Iya, iya, tut mir leid. Emile soalnya diajakin main sama temen temen nanti malem,” timpalnya lagi sambil mengeluarkan ponsel dari saku nya. “Ya udah ini Emile chat mereka dulu bilang gak jadi dateng.”

“Emile!”

Emile baru akan memencet tombol power begitu ponselnya ditampik Mama nya, lalu terpental bermeter-meter jauhnya.

“Mam?” Emile melongo, mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rasa-rasanya bisa dihitung jari, berapa kali Mama menggunakan tangannya untuk menampik, memukul, atau memusnahkan barang. Maka ketika Mama membuat ponselnya terpental jauh, Emile tahu ada sesuatu yang tidak seperti biasanya.

Mama berdiri diam menatapnya balik. Napasnya agak terengah dan tatapan matanya nanar. Bahkan bibirnya yang biasanya setidaknya dipulas lipbalm tampak kering pagi ini. Mulutnya terbuka setengah, seperti ingin berkata sesuatu namun tertahan di ujung lidah.

Hanya butuh 10 detik bagi IQ 156 Emile untuk bisa menarik benang merah.

“Oh,” ujar Emile singkat, “Kita sebaiknya nggak terlambat.”

Ia segera memungut ponselnya, lalu berlari ke Gate 6.


Emile tersenyum simpul ketika mengingat lagi masa-masa itu. Dirinya yang dulu hanya belum tahu, bahwa hari itu adalah hari terakhir bagi banyak hal dalam hidupnya.

Continue Reading Next Chapter
Further Recommendations

WLS: This was the type of story that kept me reading. I would recommend reading this. I hope to find more stories that are written this well.

Cristal Bollinger: It's a different twist to the mating scene for sure.

Paraschiv: I liked the book very much, also the characters are very funny, i could not wait to read the next chapter, the book is well writen. Congratulations autor! Thank you!

Tasha Bainbridge: Best story so far in the series. Absolutely LOVED it!! So much happened in a short book, but it flowed really well and easily. Tha k you ♥️

Ashley phosphate : If you are looking to read an amazing book that will have you captivated and wanting to read more? This is it, you found now. Now make your self some honey lemon tea to help relax and enjoy!

More Recommendations

Fay Johnson: This is a very good book, it kept me reading until the end, I loved it your writing is wonderful I can't wait to read another one💞

Chi Mma: It is an interesting novel, the story is engaging and intrigue. I just started the book and find it difficult to drop it.

Cristal Bollinger: keeps getting better and better the more I read

Timothy: I liked everything about this book.the twist turns and romance..I'll recommend this to my wife

About Us

Inkitt is the world’s first reader-powered publisher, providing a platform to discover hidden talents and turn them into globally successful authors. Write captivating stories, read enchanting novels, and we’ll publish the books our readers love most on our sister app, GALATEA and other formats.