ARVIN

All Rights Reserved ©

Summary

Arvin Kevlar Gramantha. Seorang pemuda yang mempunyai kepercaya dirian yang tinggi, juga terkenal posessive dan egois. Ia tidak terlalu datar, malah sangat ceria. Hingga Arvin jatuh cinta pada pandangan pertamanya dengan gadis yang menurutnya misterius. Keduanya di pertemukan dengan tak sengaja saat di kantin. Gadis itu sengaja menyiramkan es teh ke wajah tampannya. "Heh cewek belagu! lo harus tanggung jawab!" "Gampang, ntar gue cuci" "Bukan itu, kalau cuci doang mah gue bisa.. tinggal nyuruh pembantu, kelar kan. Tanggung jawab lo, lo harus jadi babu gue selama yang gue mau" Mata gadis itu terbelalak. "WHAT! ogah! mending gue pergi" Arvin menarik kerah belakang gadis itu sambil tersenyum penuh arti. "Lo gak bisa nolak, kalo lo nolak gue bakal kasih lo hukuman yang nggak akan pernah lo lupain" Gadis itu membalikkan tubuhnya. "Apa" menatap Arvin tanpa rasa takut. Arvin mendekatkan wajahnya pada telinga gadis itu. Membisikan sesuatu yang membuat tubuh menegang. "Ciuman, mungkin" *** Yuhuuu bagi kalian yang pengen tau kelanjutannya..yuk langsung baca dan tambahkan ke perpustakaan kalian ❤️❤️ ⚠️⚠️Cerita ini untuk dibaca!! Bukan untuk di Plagiat!! Jangan lupa vote, and spam komen biar rajin up H A P P Y R E A D I N G❤️

Genre:
Romance
Author:
nxxx_
Status:
Ongoing
Chapters:
1
Rating:
n/a
Age Rating:
16+

1. Rooftop Sekolah

• H A P P Y R E A D I N G •


Di pagi hari, di sebuah rooftop SMA Antartika terdapat tiga orang pemuda tampan. Para pemuda itu melakukan hal yang berbeda-beda. Ada yang sedang chatting dengan para gebetannya, ada yang sedang bermain game, bahkan ada yang duduk santai sambil menyebat putung rokok.

"Caka... kemari, ayo lari-lari.."

Yang di panggil Caka itu menoleh, lalu bangkit dan menghampiri sumber suara. "Sialan, berasa anjing gue di nyanyiin kek gitu," umpat nya sambil memukul kepala sahabatnya.

"Sakit sat!" Lelaki itu mengaduh.

"Ada apa bapak paduka Arvin memanggil panglima Caka yang gagah berani," tanyanya sambil membungkukkan badan, seolah hormat pada raja.

"Gaya lu panglima, di kejar Bu Risma juga ngumpet!" cetus satu sahabatnya lagi, yang sedang asik bermain game. Tapi telinganya ia pasang tajam-tajam.

Caka mendelik tak suka. "Heh Wawan Sariawan! Gue itu ngga ngumpet, cuma memberi perlindungan diri."

"Nyenyenyee~" cibir Awan, menye-menye. Hal itu membuat Caka melayangkan sepatunya ke kepala Awan.

"Bwahahaha mampos lo," tawa Arvin dan Caka menggema di rooftop tersebut.

"Argh, anak ngen—"

"Astaghfirullohaladzim Awan.. kamu berdosa bangettt..inget ya aku gak suka, gelay!" ledek Arvin, yang lagi-lagi membuat tawa.

"OH BAGUS YA, HM.. NGAPAIN KALIAN DISINI!? INI SUDAH MASUK JAM PELAJARAN! KAMU LAGI ARVIN, SUDAH TAU INI AREA SEKOLAH MALAH NGEROKOK! CEPAT TURUN!!" teriak guru yang memergoki mereka.

Sedangkan mereka terkejut, Arvin yang sedang duduk itu pun terjungkal ke belakang dengan tidak estetiknya.

"Ah i..iya pak, ki..kita gak denger bel hehe," gugup Caka, dan masih sempat-sempatnya tertawa.

"CEPAT TURUN!!" Teriak guru itu sambil membawa sapu dan berjalan menghampiri mereka.

"Aaa ampun pak, ADAWWSH!!" pekik Arvin kesakitan, ia melindungi area bokongnya yang menjadi sasaran empuk.

"Pak... Awww i..iya pak iya kita turun," sela Awan, mencoba menghindar. Namun naasnya, kepalanya sudah lebih dulu terkena.

Guru itu menghentikan pukulannya dengan nafas terengah. "Nah bapak capek kan? Mending kita istirahat sebentar disini pak.. ini ada kopi, bapak mau?" Ucap Arvin, menawari dengan sangat sopan.

"Haah, haah.. iya bapak capek, istirahat dulu deh." Pak guru itu kemudian duduk, dan menyandarkan punggungnya di kepala kursi sambil mengipas wajahnya menggunakan tangan.

Arvin menengok kebelakang, mengangkat ibu jarinya. "Aman," Ucapnya tanpa suara.

Kedua temannya mengangguk. Mereka berjalan mundur secara perlahan. Guru itu masih belum menyadarinya karena masih lelah.

Hingga setibanya ditangga, mereka langsung ngacir pergi. "Kabur, kabur buruan!"

Sesaat mereka pergi guru itu tersadar dan memukul keningnya. "Sialan anak-anak itu, lagi lagi mengerjaiku." umpat sang guru, geram.

Guru itu kemudian bangkit. Dengan wajah penuh amarah, "HEI JANGAN LARI KALIAN!!"

"Lari Cak, Wan lariii..." pekik Arvin. Mereka kabur lewat pintu belakang, tentu saja mereka mempunyai kunci cadangannya. Ketiganya masih berlari menuju Warung Tarmijo. Warung langganan mereka tentunya.

"Haduhh..Pak Botak sialan, pantat baby gue bisa-bisa jadi merah nih," umpat Arvin, masih mengelus bokongnya. Fyi, di panggil pak botak karena kepalanya gak ada rambutnya, dan juga gendut. Nama sebenarnya itu Pak Apin.

"Ya elo mendingan Vin.. gue kena kepala njir. Mana gak kira-kira lagi nimpuknya," timpal Awan, tangannya mencomot bakwan goreng disitu. Sedangkan tangan satunya mengusap bagian kepala yang terkena timpukan tadi.

Mendengar keluhan sahabatnya, Caka malah tertawa sendiri membuat mereka menatap cowok itu datar. "Ngapain lo ketawa, Hah!" Ketus Arvin, kesal.

"Hahaha, gue dong... nggak kena," ujarnya dengan penuh bangga.

"Ya pantes lo nggak kena! Orang lo sembunyi di bawah meja, huh!" Tandas Awan, yang ikut kesal. Apa-apaan, si Caka itu enaknya ngumpet. Gak gentle.

"Ya biarin, kan intinya tubuh mulus dan sexy gue aman," ucapnya dengan senyum bangga.

"Bacot lo! Mang, kopi satu" Arvin memanggil penjual untuk membuatkannya kopi.

"Lo ngopi mulu Vin, perasaan tadi udah" ucap Awan, cowok itu masih terus memakan gorengan yang ada di hadapannya.

Arvin menatap cowok itu sedikit malas. "Lo kan tau tadi ada Pak Botak."

"Pala botak pala botak, udah gede gak ada otak~" Caka menyanyi asal. Membuat Arvin yang duduk disampingnya, menoyor kening cowok itu.

"Heleh, coba lo nyanyi depan dia" suruh Arvin.

Caka menatap Arvin, menyengir. "Takut gue hehe" Membuat Awan dan Arvin memutar matanya malas.

***

Seorang gadis berjalan gontai menuju perpustakaan sambil memeluk tumpukan buku. Gadis itu mempunyai mata yang indah, kulitnya berwarna putih. Banyak para pria mengagumi kecantikannya. Tapi gadis itu hanya bersikap masa bodo. Dia itu orangnya agak tertutup, di kelas pun ia tak punya teman. Bukan ia sombong, tapi untuk apa berteman jika hanya suka memanfaatkan.

Ia bahkan melewati banyak lelaki yang menatapnya dengan tatapan memuja itu, santai. Para lelaki itu berlomba-lomba mendapatkan hatinya. Banyak yang terang-terangan mengungkapkan perasaannya, juga meminta nomernya. Dan hanya berakhir penolakan. Tapi mereka tak putus asa, selagi janur kuning belum melengkung yang jomblo bebas nikung, ya nggak?

Tok.. tok.. tok..

"Permisi bu," ucap gadis itu sopan, sambil mencopot sepasang sepatunya.

"Eh, Inara? Ada apa nak?" Tanya penjaga pepus itu, dengan senyuman.

Inara balas tersenyum, "Mau mengembalikan buku yang di pinjam sama anak 12 IPA 3"

"Oh, buku itu kan banyak. Kenapa kamu sendirian? Yang lain nggak mau nemenin?"

Inara menggeleng pelan, "Bukan nggak mau bantuin, tapi saya emang maunya sendiri aja. Emm, boleh saya taruh bukunya?"

"Iya silahkan, itu di sebelah buku seni budaya," ucap penjaga itu, menunjuk bagian rak buku kosong di sebelah seni budaya.

Inara mengangguk, juga tersenyum. Ia melangkahkan kakinya, menata buku-buku itu ke tempat semula.

"Saya pamit ke kelas lagi ya Bu," ucap Inara dengan suara lembutnya.

Guru itu mengangguk, "Terima kasih ya Inara."

Inara kembali memakai sepatunya. Setelah itu, ia berjalan kembali menuju kelasnya yang sedang memulai pembelajaran.

Tapi di pertengahan jalan, ada seorang murid lainnya yang sengaja menjulurkan kakinya. Sehingga membuat gadis itu terjatuh.

"Ups, jatuh ya? Makanya kalo jalan liat dong."

Inara menepuk-nepuk rok-nya yang sedikit kotor terkena debu. Kemudian, pandangannya menatap orang tadi, dengan tajam.

"Apa lo liatin gue kayak gitu! Bagus lo hah!?" sentak orang itu, dengan gaya angkuhnya.

Sebenarnya ia ingin menyumpal mulut itu. Tapi itu nantinya akan mengotori tangannya. Inara kembali berbalik badan, berjalan meninggalkan orang itu yang menghentakkan kakinya kesal.

***

Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca novel ini

Btw, novel ini sudah pernah saya Publish di wp. Ini sekuel dari cerita POSESSIVE DEVANO di wp, jika kalian kepo atau ingin tau kisah orang tua Arvin. Silahkan baca, jangan lupa tinggalkan vote(beri suara) and komen

Silahkan follow akun ini, bagi yang belum follow ;)
Continue Reading
Further Recommendations

Daniela Aimée: Yay, sequel!

Jessie: Omgg i literally cannot wait for the next chapterrrr this is so good like whattttt- also, JJhzjzgzrzfgaHuabecdftY DAMN GURL

Donna Layne: I enjoyed reading every chapter

Rusty_Blogger0912: I LOVED IT!!!!!!!! Every bit of it. I read it on Wattpad though. But nonetheless, dear author, you are truly gifted. The way you have weaved the story, you just stole my heart with your words. The story made me laugh, cry, made me feel so many emotions. Thank you for writing this story. Lots of l...

janron: Loved this book, great story line, great ending

Madhavi Sawant: Liked the way its written. Lovely till now.

deanahowell: Needs better editing. Georgia seems very immature sometimes, but she is supposed to be 17. Why not hang out with her own friends instead of hiding in her room when the guys are over?

Kurimah: The writer should continue this beautiful story.lt is just fantastic and ended suddenly

More Recommendations

Brenda Walley: The novel.is great so far. I am rating on what I read so far. The books need to have more chapters before posting. This way it leave sus hanging and we start another book. This book in question would be great as a series. Great Job !

Sarah J: Omg yet another brilliant one. So so so looking forward to reading the next one

About Us

Inkitt is the world’s first reader-powered publisher, providing a platform to discover hidden talents and turn them into globally successful authors. Write captivating stories, read enchanting novels, and we’ll publish the books our readers love most on our sister app, GALATEA and other formats.