PROLOG — HARI KETIKA LANGIT RETAK
Langit Velto retak.
Bukan kiasan.
Bukan ilusi.
Langit benar-benar pecah seperti kaca raksasa.
Retakan hitam membelah cakrawala dari timur hingga barat. Kilatan cahaya keluar dari celah-celah itu, menyinari dunia yang telah dipenuhi kehancuran.
Lautan mengamuk.
Gunung-gunung berguncang.
Hutan-hutan purba runtuh satu per satu.
Makhluk hidup dari berbagai ras menghentikan aktivitas mereka dan menatap ke langit dengan wajah pucat.
Tidak ada yang mengerti apa yang sedang terjadi.
Namun semua merasakan hal yang sama.
Ketakutan.
Seolah dunia yang mereka kenal sedang berada di ambang kehancuran.
Di Kerajaan Kalye, para prajurit berlutut sambil memanjatkan doa.
Di wilayah para iblis, para jenderal menatap langit dengan ekspresi muram.
Bahkan monster-monster legendaris yang selama ini dianggap sebagai bencana hidup memilih bersembunyi di sarang mereka.
Hari itu...
Seluruh Velto gemetar.
Namun bukan karena retakan di langit.
Melainkan karena sosok yang menyebabkan semua itu.
---
Di tengah hamparan puing yang tak lagi menyerupai kota.
Seorang pria berdiri sendirian.
Pakaiannya compang-camping.
Tubuhnya dipenuhi luka.
Darah mengering di wajah dan lengannya.
Namun matanya tetap tenang.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada kegelisahan.
Seolah kehancuran yang terjadi di sekelilingnya hanyalah pemandangan biasa.
Di hadapannya berdiri puluhan sosok.
Masing-masing memiliki aura yang mampu membuat kerajaan runtuh hanya dengan kehadiran mereka.
Para dewa.
Raja iblis.
Naga kuno.
Penguasa lautan.
Makhluk-makhluk yang namanya hidup dalam legenda selama ribuan tahun.
Biasanya mereka adalah sosok yang ditakuti dunia.
Namun saat ini...
Mereka semua hanya menatap satu orang yang sama.
Pria yang berdiri di atas puing itu.
Angin berembus pelan.
Debu berputar di antara kedua pihak.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berbicara.
Keheningan terasa lebih menyesakkan daripada perang itu sendiri.
Lalu pria tersebut menghela napas panjang.
Ia mengangkat kepalanya dan menatap para penguasa dunia di hadapannya.
Ekspresinya terlihat lelah.
Seolah semua ini hanya membuang waktunya.
"Apa kalian sudah selesai?"
Suara itu tidak keras.
Namun terdengar jelas oleh seluruh makhluk yang hadir.
Sesaat kemudian...
Salah satu dewa tanpa sadar mengambil satu langkah mundur.
Raja iblis mengeratkan genggamannya.
Seekor naga kuno menurunkan kepalanya perlahan.
Pemandangan yang seharusnya mustahil.
Para penguasa dunia.
Takut.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Velto.
Mereka menyadari satu hal.
Yang berdiri di hadapan mereka bukanlah manusia biasa.
Bahkan mungkin...
Bukan sesuatu yang seharusnya ada di dunia ini.
Angin kembali berembus.
Retakan di langit semakin melebar.
Dan tepat sebelum pertempuran terakhir dimulai...
Pria itu tersenyum tipis.
Senyuman kecil yang membuat para dewa merasakan firasat buruk yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Hari itu...
Langit Velto retak.
Dan dunia tidak akan pernah sama lagi.








