Chapter 1: Suara dari Kamar Sebelah
Jam menunjukkan pukul 02.17.
Nathan terbangun tanpa alasan yang jelas.
Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada suara keras. Tidak ada notifikasi dari ponselnya.
Namun sesuatu membuat matanya terbuka.
Kamar itu gelap. Hanya cahaya lampu jalan dari luar yang menembus tirai dan membentuk garis-garis pucat di lantai.
Nathan menatap langit-langit selama beberapa detik.
Lalu ia mendengarnya.
Ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Pelan.
Seolah seseorang mengetuk tembok.
Nathan mengangkat kepalanya.
Apartemen yang ia tinggali hanya memiliki satu unit di sebelah kamarnya, tetapi unit itu sudah kosong selama berbulan-bulan.
Setidaknya begitulah yang dikatakan pemilik gedung.
Tok.
Tok.
Tok.
Tiga ketukan lagi.
Nathan duduk di tepi kasur.
"Tetangga baru?" gumamnya.
Ia mengambil ponsel.
02.18.
Ketukan itu berhenti.
Nathan menghela napas lega dan kembali berbaring.
Lima menit berlalu.
Tok.
Nathan membuka mata.
Kali ini lebih keras.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia bangkit lagi.
"Apa sih..."
Perlahan ia mendekati tembok yang berbatasan langsung dengan unit kosong.
Ia menempelkan telinganya.
Hening.
Sangat hening.
Lalu...
Dari balik tembok terdengar suara laki-laki berbisik.
"...halo?"
Nathan langsung mundur.
Jantungnya berdegup cepat.
Suara itu terdengar sangat dekat.
Seolah orang itu berdiri tepat di balik dinding.
Nathan menelan ludah.
"Siapa?" teriaknya.
Tidak ada jawaban.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian suara itu muncul lagi.
"...akhirnya kau bangun."
Nathan membeku.
Keringat dingin mulai muncul di dahinya.
Ia mengambil senter dan keluar dari kamar.
Lorong apartemen kosong.
Sunyi.
Lampu kuning tua berkedip perlahan.
Unit di sebelah kamarnya berada tepat di depan mata.
Nomor 307.
Sudah lama kosong.
Pintu itu tertutup rapat.
Nathan melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Semakin dekat.
Semakin dingin udara di sekitarnya.
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini masuk akal.
Mungkin ada penghuni baru.
Mungkin suara televisi.
Mungkin seseorang sedang bercanda.
Nathan meraih gagang pintu.
Terkunci.
Ia menghela napas.
"Tuh kan."
Ia hendak berbalik.
Lalu sesuatu menarik perhatiannya.
Debu.
Debu tebal menutupi lantai depan pintu.
Tidak ada jejak kaki.
Sama sekali.
Artinya tidak ada seorang pun yang masuk atau keluar dari unit itu selama berbulan-bulan.
Tubuh Nathan menegang.
Perlahan ia mengangkat pandangan ke arah lubang intip pintu.
Gelap.
Sangat gelap.
Namun sesaat kemudian...
Sebuah mata muncul di balik lubang itu.
Mata manusia.
Terbuka lebar.
Menatap langsung ke arahnya.
Nathan tersentak mundur.
Napasnya tercekat.
Ia hampir terjatuh.
Tetapi saat ia melihat lagi...
Lubang itu kosong.
Gelap.
Tidak ada apa-apa.
Nathan berlari kembali ke kamarnya dan mengunci pintu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Ia duduk di lantai sambil memegang dadanya.
"Mungkin aku kurang tidur."
"Itu cuma halusinasi."
"Itu tidak nyata."
Ia terus mengulang kalimat itu.
Berulang kali.
Sampai akhirnya ia menoleh ke arah cermin di sudut kamar.
Dan di situlah ia menyadari sesuatu yang membuat darahnya terasa dingin.
Di cermin itu, Nathan masih duduk di lantai.
Namun bayangannya tidak sedang melihat ke arah cermin.
Bayangannya sedang menatap ke arah pintu kamar.
Seolah sedang menunggu seseorang masuk.
Dan perlahan...
Bayangan itu tersenyum.








