Gema tulang yang retak
Distrik Cinderion selalu polusi dan debu arang, namun di dalam kedai kecil milik keluarga Eywan, aroma itu selalu kalah oleh kehangatan sup kubis yang mengepul.
Di sana, Gerald kecil tumbuh dengan tawa yang terlalu nyaring untuk ukuran anak jalanan. Ayah-Branm Eywan-selalu pulang dengan celemek kulit yang berlumur noda merah, memikul potongan daging sapi terbaik yang sengaja disisihkan dari dagangannya untuk sang putra.
Sementara di sudut ruangan, di bawah temaram lampu minyak, jemari sang ibu-Mara Eywan yang kapalan tidak pernah berhenti menggerakkan jarum perak, merajut mantel wol tebal yang memastikan kulit Gerald tidak pernah menyentuh dinginnya angin malam.
Di lingkungan di mana anak-anak lain menangis karena lapar, Gerald adalah pengecualian. Ia adalah pemilik senyum paling cerah di seluruh distrik.
Namun, benang takdir terputus tepat di malam ulang tahunnya yang ketujuh.
Lonceng katedral berdentang dua puluh sembilan kali-gema duka yang lambat, berat, dan tanpa kepastian. Raja telah wafat tanpa meninggalkan seorang pun darah daging untuk menduduki tahta yang dingin.
Hanya dalam hitungan minggu, warna-warna cerah di dunia Gerald memudar menjadi abu-abu.
Meja makan mereka berubah pertama kali.
Potongan daging tebal digantikan oleh tulang-tulang sisa yang direbus berulang kali hingga hambar.
Di luar rumah, langkah kaki tegap para penjaga kota dengan rompi lengkap yang beradu menjadi melodi baru yang menakutkan, jam malam diberlakukan, dan setiap sudut jalan kini diawasi oleh mata-mata kerajaan.
Setiap awal bulan, petugas pajak datang dengan wajah dingin, merampas hampir seluruh koin tembaga hasil jerih payah Bramm dan sisa kain rajutan Mara, meninggalkan ruang penyimpanan mereka sekosong perut mereka yang keroncongan. Di pasar, kereta gandum tidak lagi terlihat.
Yang tersisa hanyalah antrean panjang manusia kelaparan yang memperebutkan sisa roti berjamur di bawah bayang-bayang hukum baru yang mencekik.
Bagi Gerald yang baru menginjak usia tujuh tahun, konsep abstrak seperti "inflasi" atau "dekrit kerajaan" tidaklah nyata.
Dunianya yang ringkas hanya dibangun dari aroma lemak sapi yang terbakar di atas perapian dan ketukan ritmis palu kayu lapak ayahnya.
Namun, keruntuhan sebuah era selalu dimulai dari hal-hal kecil yang luput dari pandangan anak-anak.
Perubahan itu merayap masuk ke rumah mereka seperti kabut musim dingin.
Lagu-lagu jenaka yang biasa dinyanyikan Branm Eywan saat mengasah pisau daging lenyap, digantikan oleh kebiasaan baru yang mengerikan: menatap retakan lantai kayu berjam-jam dalam keheningan, dengan punggung yang perlahan membungkuk seolah memikul beban tak kasat mata.
Di sudut lain rumah, Mara tidak lagi menjahit sambil bersenandung.
Setiap malam, bayangannya di balik pintu dapur tampak gemetar, ditemani suara napas yang tertahan dan isakan lirih yang buru-buru ditelan kembali sebelum sempat melewati celah pintu.
Rumah kayu yang dulunya hangat itu, kini perlahan bertransformasi menjadi sebuah peti mati tebal yang memerangkap ketakutan tanpa nama.
Kenyataan yang sesungguhnya menghantam Gerald dan branm saat di suatu pagi yang berkabut di pasar Cinderion.
Suasana pasar yang biasanya dipenuhi tawar-menawar yang bising mendadak beku, menyisakan keheningan yang mencekam.
Langkah kaki yang serempak dan berat terdengar mengepung area tersebut.
Sekelompok polisi berpakaian hitam dengan rompi lengkap dengan berlogo lambang kerajaan di dada nya yang dingin dan mengkilap, berhenti di depan lapak seorang pedagang tua.
Tidak ada surat peringatan.
Tidak ada ruang untuk memohon belas kasihan.
Hanya karena beberapa keping koin tembaga pajak yang gagal diserahkan, sebuah tongkat besi diayunkan tanpa ragu.
Suara hantaman itu-bunyi tulang yang retak dan daging yang koyak-menggema mengerikan di udara pagi.
Ting.
Logam berdenting di atas papan kayu yang retak.
Gerald tersentak, napasnya mencuat pendek dan tajam. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ingatan itu baru saja menghantam tempurung kepalanya dengan palu kayu
Jantungnya menghantam dinding dada, memompa sisa-sisa adrenalin ke jemari yang gemetar hebat.
Butir keringat dingin mengalir dari pelipis, menelusuri garis rahang yang kini menonjol karena usia.
Ia menunduk.
Tangan yang ia gunakan untuk menyeka wajah bukan lagi milik bocah tujuh tahun.
Kulitnya kendur, kasar, dan penuh dengan bekas luka bakar yang menghitam-tangan seorang pria yang dimakan waktu.
Gerald mengerjapkan mata, berusaha mengusir sisa bayangan kedai hangat yang perlahan menguap.
Fokusnya tertuju pada sumber suara di sudut ruangan.
Nox berdiri di sana.
Tubuhnya masih dibalut pakaian yang tampak kebesaran, penuh noda oli yang mengeras seolah menjadi kulit keduanya.
Matanya tidak berkedip, jernih dan tajam, mengamati Gerald dengan presisi yang dingin.
Di lantai, di dekat kaki Nox, sebuah baut berkarat terguling diam.








