Chapter 1
"Aku tidak berubah meski aku hidup di dunia yang sama sekali tidak aku mengerti nantinya, aku hanya akan tetap menjadi diriku sendiri."
— Cherin Wintmore, 1525
Keheningan memenuhi perpustakaan pribadi itu, seolah dinding-dindingnya yang tinggi dengan panel kayu gelap dirancang untuk meredam suara sekecil apapun dari dunia luar. Rumah megah yang lebih mirip dengan istana di jantung kota itu seolah hidup di dunia yang berbeda.
Seorang wanita yang tengah membalik halaman buku yang sedang ia baca menghela nafas ketika ujung jarinya menyentuh halaman. Penampilannya memberikan kesan yang sulit diabaikan. Rambut putih platinanya tergerai panjang melewati bahu, jatuh dalam helaian lurus yang tampak berkilau tertimpa pantulan cahaya. Kulit pucatnya justru semakin menonjolkan wajah tegas dengan rahang yang tajam, tulang pipi tinggi serta hidung aristokrat, sepasang mata dingin menatap setiap baris tulisan dari halaman buku di tangannya dengan ketenangan yang mengintimidasi, seolah seluruh dunia bahkan tidak berani mengusik konsentrasinya.
Meski sedang duduk dengan tenang dia tubuh tinggi proporsionalnya tampak begitu memukau. Bahu tegap serta postur sempurnanya menegaskan kepercayaan diri tanpa perlu dibuat-buat. Gaun tidur sutranya membalut tubuhnya dengan pas, potongan leher rendah membuat tulang selangkanya terlihat indah. Kaki panjangnya menyilang dengan anggun. Sebuah cincin tersemat di telunjuknya, satu-satunya aksesoris yang dia kenakan dan nyaris tidak pernah dia lepaskan selama lebih dari lima ratus tahun. Satu-satunya simbol bahwa dia memegang kendali atas seluruh kekuasaan yang dimilikinya.
Ruangan itu sengaja dibiarkan redup. Rak-rak kayu menjulang tinggi hingga nyaris menyentuh langit-langit, buku-buku tua dengan sampul kulit gelap tertata rapi. Sebagian besar bahkan mungkin tidak pernah ada lagi di dunia ini. Beberapa lukisan kuno tergantung di antara rak, tirai beludru hitam menutup jendela besar hingga cahaya kota hanya mampu menyusul sebagai garis tipis di sela-selanya.
Lilin-lilin merah dibiarkan menyala di beberapa sudut ruangan. Bukan sebagai sumber penerangan, nyala apinya terlalu kecil untuk menerangi ruangan luas itu. Cahaya keemasan bergetar di atas permukaan meja dan lantai kayu menciptakan bayangan panjang yang bergerak perlahan di antara rak buku. Keberadaan lilin itu justru seperti sebuah kebiasaan, bukan sesuatu yang terlalu penting.
Sebuah kebiasaan yang entah sejak kapan dia lakukan dan entah sejak kapan dia terus melakukannya.
Ketenangan itu pecah saat terdengar ketikan dari balik pintu.
Suara ketika itu nyaris terdengar menyebalkan. Wanita itu mengangkat pandangan dari buku yang tengah dibacanya, sepasang mata dinginnya mengarah tepat ke pintu kayu besar di hadapannya.
"Masuk." Suara datar itu terdengar lebih dingin daripada yang dia maksudkan.
Seorang wanita muncul dari balik pintu kemudian melangkah masuk dengan santai, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah karena telah mengganggu ketenangan di ruangan itu. Ia bahkan dengan ringan mendorong pintu tertutup dengan kakinya kemudian berjalan masuk seolah tatapan dingin yang mengarah padanya bukanlah ancaman.
"Kalau kau mengetuk pintu hanya untuk membuyarkan konsentrasiku," katanya dingin, "selamat. Kau berhasil."
Wanita yang baru saja masuk itu tertawa kecil.
Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan nada bicara dingin yang menusuk itu. Wanita itu justru berjalan masuk jauh lebih dalam, matanya menyapu setiap sudut ruangan tanpa minat. Jemarinya menyentuh punggung salah satu buku yang berusia ratusan tahun, kuku panjangnya mengetuk pelan.
"Ayolah, Ice. Kau tidak berniat menjadi kutu buku dan mengurung diri dengan buku-buku lapuk di perpustakaan tua ini sepanjang malam, kan?" Sudut bibirnya terangkat nyaris membentuk senyum geli.
Ice yang duduk di sana tidak menjawab. Ia menutup buku yang sejak tadi berada di hadapannya. Suara dari kertas yang saling bergesekan terdengar cukup jelas di tengah kesunyian. Ia membiarkan buku tetap berada di atas meja tanpa berniat mengembalikannya ke rak.
Tangannya terlipat di depan dada. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun meski jelas terganggu dengan kehadiran orang lain di ruangan itu.
"Katakan apa yang kau inginkan dariku, Jessica."
Ice menatap Jessica. Mengamati bagaimana penampilan wanita itu, gaun satin hitamnya memiliki potongan elegan dengan belahan yang menampakkan kaki panjangnya. Bagian atas gaun itu mengikuti lekuk tubuh, garis lehernya rendah menampakkan tulang selangka dan bahunya. Bagian pinggang gaun itu ramping membiarkan bagian bawah jatuh dengan dramatis. Jessica tampak seperti seseorang yang siap berjalan di karpet merah, bukan seseorang yang ingin mengganggu ketenangan Ice membaca buku.
Jessica memutar tubuhnya berjalan mendekati meja kemudian berhenti tepat di hadapan Ice.
"Ikut aku ke jamuan makan malam." ujar Jessica santai.
Senyum menghiasi wajahnya seolah sudah menebak jawaban Ice bahkan sebelum wanita itu membuka mulutnya.
Sementara itu Ice diam beberapa detik.
"Tidak."
Wanita itu meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja kemudian berdiri. Posturnya yang sempurna membuat keberadaannya semakin dominan di tengah ruangan yang remang-remang.
"Kau bahkan tidak bertanya jamuan makan malam apa." Senyum Jessica melebar.
"Aku tidak ingin tahu dan sekalipun aku mengetahuinya jawabanku tetap sama." Ice berjalan menuju lilin-lilin yang masih menyala.
"Kalau begitu anggap saja aku memohon kepadamu untuk menemaniku." Jessica bersandar ke meja.
"Kau bahkan tidak terlihat seperti sedang memohon kepadaku." jawab Ice cepat.
Jessica tertawa mendengar itu.
"Baiklah, kau bisa menganggapku memaksamu untuk ikut."
Ice menghela nafas.
Dia mengenal Jessica dengan baik. Jessica akan menggunakan semua cara yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan dan mendebat Jessica akan membuatnya kehabisan tenaga sebelum benar-benar menang.
"Jika jamuan itu membuatku bosan aku akan pergi tanpa menunggumu." Ice membuka kenop pintu bersiap keluar dari ruangan itu.
"Aku yang akan memastikan bahwa jamuan makan malam ini tidak akan membosankan, kau bisa berterima kasih padaku nanti."
Kalimat itu terdengar sebelum Ice menutup pintu di belakangnya.
Ice berjalan pelan di koridor masih tidak memahami kenapa dia selalu saja mengalah pada Jessica meski tidak benar-benar ingin. Namun memikirkan berdebat dengan wanita keras kepala itu saja sudah membuatnya lelah.
Koridor itu dipenuhi dengan lukisan klasik yang mungkin sekarang dianggap sebagai barang langka, sebagai bahkan mungkin bisa dipajang di museum jika Ice melepaskannya. Namun, lukisan itu dibiarkan menjadi pajangan di sana. Bukan karena dia ingin mengoleksi benda bersejarah atau hal semacamnya. Lukisan itu berarti Ice telah melewati masa-masa itu sendiri, menghabiskan ratusan tahun kehidupan yang hampa.
Siklusa kelahiran dan kematian manusia bukan sesuatu yang istimewa untuknya. Dia sudah melihat ratusan siklus berlalu di depan matanya sementara dirinya sendiri tetap ada di dunia ini, bosan dengan kehidupan namun dia juga tidak bisa begitu saja mati.
Dia hanya sekedar hidup tanpa benar-benar mengetahui apa yang dia inginkan dalam kehidupannya sendiri.








