Chapter 1 JAM YANG BERHENTI ANTAR JAM 3 DAN 4
Hujan turun sejak sore.
Di kota Aurelia, malam datang lebih cepat ketika langit tertup awan hitam. Jalan-jalan batu yang biasa nya dipenuhi kreta kuda sekarang mulai sepi lampu gas menyala di sepanjang teroroar, menciptakan lingkaran cahaya kekuningan yang terputus oleh kabut.
Di atas bukit sebuah utara berdiri sebuah bangunan tua.
Blackwood Academy.
Dindingnya terbuat dari batu hitam yang telah dimakan usia. Menara-menara tinggi menjulang melewati kabut, sementara jendela kaca patri di beberapa bagian bangunan memantulkan cahaya lampu dari dalam.
Akademi itu telah berdiri selama ratusan tahun.
Banyak bangsawan mengirim anak mereka ke sana.
Banyak penyihir terkenal pernah belajar di sana.
Dan menurut beberapa catatan tua, ada bagian dari Blackwood Academy yang bahkan lebih tua daripada akademinya sendiri.
Bagian yang tidak pernah dibicarakan para guru.
Bagian yang hanya dikenal oleh para penjaga arsip.
Malam itu, Aldric Veyron berada di sana.
Sendirian.
Langkah kakinya terdengar pelan di lorong lantai tiga.
Tok.
Tok.
Tok.
Aldric membawa sebuah lampu minyak kecil di tangan kirinya. Cahaya redupnya hanya mampu menerangi beberapa langkah di depan.
Di tangan kanannya terdapat sebuah buku tua.
Sampulnya berwarna cokelat gelap dan hampir tidak memiliki tulisan.
Ia baru saja keluar dari ruang arsip.
Sebenarnya, Aldric tidak seharusnya berada di sana malam-malam.
Tetapi ada satu hal yang membuatnya sulit tidur selama beberapa minggu terakhir.
Mimpi.
Mimpi yang sama.
Berulang kali.
Dalam mimpi itu, Aldric berdiri di tengah kota yang tidak pernah ia kenal.
Bangunannya menjulang sangat tinggi.
Jalanannya dipenuhi benda-benda bergerak tanpa kuda.
Cahaya putih memenuhi malam.
Suara-suara aneh terdengar dari kejauhan.
Dan selalu ada satu hal yang muncul sebelum ia terbangun.
Tujuh belas.
Dalam bahasa Elyndria kuno, angka itu disebut—
Sevrael.
Aldric tidak tahu mengapa.
Ia hanya tahu bahwa setiap kali angka itu muncul, ia selalu terbangun dengan perasaan yang sama.
Seolah-olah ada sesuatu yang sedang mencoba mengingatkannya.
Malam ini ia akhirnya memutuskan mencari jawabannya.
Ia membuka buku yang dibawanya.
Halaman-halamannya berisi catatan mengenai sejarah awal Elyndra.
Sebagian besar tulisan sudah sulit dibaca.
Beberapa halaman bahkan sengaja disobek.
Aldric berhenti di sebuah halaman yang membahas peninggalan Era Lama.
Sebagian besar catatan dari masa sebelum Era Pertama telah hilang.
Aldric mengerutkan kening.
"Selalu begitu..."
Ia membalik halaman.
Tidak ada penjelasan lebih lanjut.
Hanya sebuah catatan kecil di bagian bawah halaman.
Sevrael.
Aldric membeku.
Jarinya berhenti di atas kertas.
Angka itu lagi.
Ia menatap tulisan tersebut cukup lama.
"Kenapa tujuh belas?"
Tidak ada jawaban.
Aldric menutup buku.
Kemudian ia mendengar suara.
Tik.
Ia menoleh.
Suara itu berasal dari ujung lorong.
Tik.
Tik.
Aldric mengangkat lampunya.
Di sana berdiri sebuah jam dinding tua.
Jam itu jauh lebih besar daripada jam biasa.
Bingkai kayunya berwarna hitam dan penuh ukiran yang sudah hampir tidak terlihat. Kaca di bagian depannya dipenuhi goresan tipis.
Jam tersebut dikenal oleh para siswa sebagai Jam Bellum.
Menurut cerita yang beredar, jam itu telah berada di Blackwood Academy sejak masa yang sangat lama.
Tidak ada seorang pun yang tahu siapa pembuatnya.
Tidak ada seorang pun yang tahu mengapa jam tersebut masih berfungsi.
Aldric mendekat.
Jarumnya menunjukkan waktu antara tiga dan empat.
Bukan tepat pukul tiga.
Bukan pula tepat pukul empat.
Jarum panjang berhenti pada posisi yang aneh.
Aldric melihatnya beberapa detik.
Kemudian jarum itu bergerak.
Tik.
Tiga lewat empat puluh tujuh.
Aldric menyipitkan mata.
Tik.
Tiga lewat empat puluh delapan.
Ia mendekat.
"Jadi masih berjalan..."
Tik.
Tiga lewat empat puluh sembilan.
Aldric mengulurkan tangan.
Namun sebelum jarinya menyentuh kaca—
Tik.
Jam itu berhenti.
Aldric diam.
Jarumnya tidak bergerak lagi.
Ia menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Lima detik.
Tidak ada apa-apa.
Kemudian matanya tertuju pada bagian bawah jam.
Ada sesuatu yang terukir pada kayu.
Sebuah simbol.
Aldric mengangkat lampunya lebih dekat.
Tulisan itu sangat tua.
Namun anehnya, ia bisa membacanya.
XVII (sevrael)
Aldric menarik napas pelan.
"Ini bukan kebetulan."
Ia menyentuh ukiran itu.
Pada saat yang sama—
dunia seakan berhenti.
Suara hujan menghilang.
Suara angin menghilang.
Bahkan suara napasnya sendiri lenyap.
Aldric berdiri diam.
Kemudian sesuatu muncul di kepalanya.
Bukan ingatan.
Setidaknya, bukan ingatan yang ia kenal.
Ia melihat sebuah kota.
Gedung-gedung tinggi berdiri di antara langit yang gelap.
Cahaya memenuhi jalan.
Benda-benda besar bergerak tanpa ditarik kuda.
Orang-orang berjalan dengan pakaian yang tidak pernah ia lihat di Elyndra.
Semuanya terasa asing.
Namun pada saat yang sama...
terasa sangat dekat.
Aldric ingin bergerak.
Tidak bisa.
Ia ingin berbicara.
Tidak bisa.
Kemudian pandangannya tertarik pada sebuah layar bercahaya di kejauhan.
Di sana hanya terdapat satu angka.
XVII (sevrael)
Suara samar terdengar dari tempat yang tidak dapat ia lihat.
Bukan suara laki-laki.
Bukan suara perempuan.
Hanya bisikan yang sangat jauh.
"...jangan..."
Aldric mencoba mendengarkan.
"...mulai..."
Kemudian semuanya menghilang.
Aldric tersentak.
Ia kembali berada di lorong Blackwood Academy.
Lampu minyak masih berada di tangannya.
Hujan kembali terdengar.
Jam Bellum kembali berdetak.
Tik.
Aldric menatapnya.
Jarum jam bergerak.
Namun tidak kembali ke posisi sebelumnya.
Jam itu tetap menunjukkan waktu di antara tiga dan empat.
Aldric perlahan menurunkan tangannya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Ia tidak tahu apa.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang membuatnya lebih takut daripada penglihatan tadi.
Tulisan pada jam itu menggunakan bahasa yang seharusnya tidak ia mengerti.
Namun ia bisa membacanya dengan jelas.
Sevrael.
Tujuh belas.
Angka yang selama ini terus muncul dalam mimpinya.
Aldric mundur satu langkah.
Kemudian—
"......Aldric?"
Suara seorang gadis terdengar dari ujung lorong.
Aldric menoleh.
Seorang gadis berdiri beberapa meter darinya.
Di tangannya terdapat beberapa buku.
Wajahnya terlihat bingung ketika melihat Aldric berdiri sendirian di depan Jam Bellum.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Aldric tidak langsung menjawab.
Matanya kembali menatap jam tua tersebut.
Jarumnya bergerak perlahan.
Tik.
Tik.
Tik.
Seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun.
Namun di dalam kepala Aldric, satu kata masih terus berputar.
Sevrael.
Dan untuk alasan yang tidak dapat ia jelaskan...
ia merasa angka itu bukan sedang menunjukkan sesuatu.
Angka itu sedang menunggunya.






![The Moon's Weapon : the cursed mate [ MOVING TO GALATEA]](https://cdn-gcs.inkitt.com/vertical_storycovers/ipad_123f31099804e79c6de11657975bcaae.jpg)

