Chapter 0
-Awal dari semua bencana-
Bugh...Bugh...
Suara pukulan dan tendangan menarik perhatian ku. Aku berdiri dengan sebatang rokok di mulut ku dan memasukkan kantong sampah besar ke tempat sampah hijau di penampungan sampah yang terletak di samping tempat ku bekerja. Dari sudut mata, aku melihat sekelompok pria yang berjumlah lima atau enam orang sedang mengeroyok seorang pria yang tergeletak di bawah kaki mereka.
Aku mengencangkan tali pada kantong sampah sebelum mengalihkan kembali perhatian ku pada mereka dan menghisap rokok di mulut ku lalu melepaskan asapnya untuk mengembalikan pikiran ku. Hal seperti ini sudah sering ku lihat sampai aku mulai terbiasa. Gang di samping bar ini memang cukup gelap dan sepi. Hanya dilewati oleh para pegawai yang keluar masuk dan untuk membuang sampah atau mengantarkan barang.
“Sial!!! Tenaga mu lumayan juga.” Sebuah suara terdengar dari balik kegelapan. Aku tidak begitu peduli dan hanya fokus melakukan pekerjaan ku untuk membuang sampah dan kembali ke bar setelah mengunci pintu belakang lalu pulang. Ya, itu yang seharusnya aku lakukan. Lagi pula, aku hanyalah seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu setelah jam kuliah ku selesai.
Pada jam selarut ini, para pengunjung sudah tinggal sedikit. Beberapa orang sedang menunggu taksi, ada juga yang sedang mencoba menggoda gadis-gadis untuk mencari pasangan kencan, bahkan ada juga yang sedang berkelahi seperti yang ku lihat saat ini. Aku bukannya tidak berperasaan, tapi aku hanya tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Perkelahian itu sepertinya ada hubungannya dengan ayah salah satu dari mereka. Yang pasti orang yang sedang kelelahan itu, sepertinya sudah mendapatkan banyak pukulan dan tendangan yang cukup parah.
Kalian bisa mengutuk ku karena pasti kalian berpikir kalau aku tidak berperasaan saat melihat gerombolan itu sedang memukulinya tanpa melakukan apapun. Aku hanya masih berpikir, siapa tahu mereka punya alasan yang kuat melakukannya. Mungkin memang orang itu bersalah sehingga orang-orang itu menghajarnya habis-habisan. Misalnya, orang itu mungkin saja seorang pencuri...
“Lepaskan, brengsek!!!”
“Ya... Hei....” Aku menoleh untuk melihat pria yang baru saja terjatuh ke tanah dan berusaha berdiri lagi untuk menghadapi para gangster itu. Aku membuang rokok ku ke lantai dan menginjaknya tanpa memperdulikan pria itu lalu meregangkan tubuh dengan malas beberapa kali, lalu bersiap untuk pulang dan bersantai.
Baru saja aku hendak pergi, langkah ku terhenti ketika salah satu bajingan yang sedang berkelahi itu menarik baju ku secara paksa.
“Tolong...” Suara serak itu terdengar sangat lembut. Dengan satu tangan ke belakang, aku melihat di bagian belakang mantel yang digunakannya memiliki lambang Universitas yang sama dengan ku. Aku mengalihkan pandangan ku pada wajah pria itu dan betapa terkejutnya aku melihat wajah berlumuran yang darah itu dan juga terdapat darah yang keluar dari mulut dan hidungnya. Namun semua luka itu tidak mampu menutupi ketampanan wajah pria yang ku rasa usianya tak jauh berbeda dengan ku.
“Mau kemana kau!” Seorang pria dengan wajah sangar mendekat dan menarik kerah bajunya. Aku menatap orang yang sedang meminta bantuan dan entah apa yang aku pikirkan, tapi dengan cepat aku menolongnya dengan mengangkat dan menarik lengannya ke arah ku.
“Bicara baik-baik, Khun.” Kata ku dengan suara lembut. Melihat wajah pria berkumis itu sudah pasti umurnya tidak muda lagi. Apakah mereka membuli dan merampok para mahasiswa yang lebih muda dari mereka? Kalau ku lihat, pria yang sedang ku pegang ini hampir seumuran dengan ku dan dari penampilan serta merk pakaian yang digunakannya, jelas dia anak orang kaya. “Kalau kalian ingin propertinya, ambilah sekarang dan biarkan dia pergi.” Aku menarik lengan pria itu agar dia bersembunyi di belakang ku.
“Kalau kau tidak mau terluka, sebaiknya kau tidak usah ikut campur.” Ancamnya. Aku sedikit ragu sebelum akhirnya bertanya.
“Apa yang sebenarnya kalian inginkan?”
“Sudah ku bilang jangan mengganggu!” Aku terdiam sesaat sebelum berpikir bahwa apa yang dikatakannya benar, ini bukanlah urusan ku. Ditambah lagi, aku memiliki adik laki-laki yang sedang menunggu ku di rumah. Pikiran bawah sadar yang sudah mulai bangun hancur lagi ketika tanggung jawab untuk melindungi adik ku itu melintas di kepala ku. Dan mungkin benar ketika orang mengatakan bahwa aku egois dan tidak peduli pada lingkungan sekitar. Lagipula aku tidak akan mendapatkan apapun dengan terlibat dalam permasalahan ini.
Setelah ku pikir, mungkin memang lebih baik aku menghindari para gangster ini dan membiarkan mereka mendapatkan apa yang mereka mau. Tapi pria tampan itu mencengkram tangan ku dengan kuat.
“Kalau kau membantu aku... aku akan membayar semuanya.” Bisiknya di telinga ku.
Apa menurut mu orang seperti ku bisa dibeli dengan uang?! Yay! Berani sekali dia menawarkan uang untuk memikat ku!
“Berapa...?” Tanya ku.
Ok...Ok.. kalian benar!!! Uang memang bisa membeli ku. Ya, aku tahu! Kalau seperti ini, aku pasti berubah pikiran untuk membantunya.
“Lima puluh ribu, apakah itu cukup?” Jawabnya.
Aku tersenyum puas karena uang itu cukup untuk biaya sekolah adik ku Che.
“Kalau kau bohong, aku akan mengejarmu sampai mati.” Di saat yang sama, aku melihat salah satu gangster itu mengambil tongkat baseball dan mengarahkan pukulannya ke arah kami. Aku mendorong pria tampan itu agar terhindar dari pukulan itu lalu melompat dan menendang tangan yang mengayunkan tongkat itu dengan kekuatan penuh sampai dia terpental ke tanah. Aku tidak akan membiarkan siapapun mendekati pria tampan itu.
Harus kalian tahu, bahwa aku sudah belajar ilmu bela diri sejak lama dan menjadi Juara Judo nasional ketika aku masih SMA.
Ketika aku mulai mengarahkan tendangan kepada mereka, beberapa gangster yang terkena tendangan ku langsung ambruk.
Akhirnya mereka merubah targetnya dari pria tampan itu menjadi diri ku. Mereka membabi buta melayangkan pukulan kepada ku, tapi tepat sebelum pukulan-pukulan itu mengenai wajah ku, aku bisa menahannya tanpa memberi waktu pada mereka untuk menyentuh wajah ku dan dengan mudah aku membalikan keadaan dengan melayangkan pukulan balasan ke arah mereka. Sampai aku mencium bau amis darah, aku tersenyum kecil dengan puas. Tentu saja, itu bukan darah ku.
Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh ku. Aku menghantamkan beberapa pukulan lagi pada para gangster yang keras kepala dan belum mau menyerah meskipun sudah babak belur dan meringis kesakitan, sebelum aku mengambil tas ku yang tergeletak di tanah dan menghampiri pria tampan yang sudah roboh dan menahan perutnya di samping tempat sampah. Dengan setengah berlari, aku mengajaknya untuk meninggalkan tempat itu karena aku tahu para gangster itu tidak akan menyerah semudah itu.
“Kita mau ke mana?” Dia bertanya kepada ku sambil meringis kesakitan dengan tangan yang memegangi perutnya.
“Entahlah.” Aku menaiki motor ku, dan memastikan dia naik di belakang ku sambil melingkarkan tangannya di pinggang ku dan memegang pergelangan tangannya dengan kencang. Aku tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah, karena dia belum membayar ku. Aku mengendarai motor ku dengan kencang. Ku lihat para gangster itu mulai mengejar kami, tapi mereka terlambat karena saat berbelok ke jalan utama, aku terus memacu kecepatan motor ku tanpa ampun. Aku yakin, saat ini mereka sedang bergegas ke mobil untuk mengejar kami.
“Terima kasih.” Ucapnya.
“Tidak usah...” Jawab ku dengan lembut. Aku melihat pantulan gang yang mulai menjauh dan sudah tidak terlihat dari kaca spion samping. Dengan menggunakan sepeda motor dan kecepatan yang ku pacu, rasanya akan sulit bagi mereka untuk mengejar.
“Sepertinya mereka tidak mengikuti.” Sosok tinggi di kursi belakang membuang nafas dengan lega.
“Sekali lagi, terima kasih.” Dengan suara yang sangat lemah sambil menyandarkan kepalanya di pundak ku. Aku tahu dia tidak pura-pura dengan keadaannya. Dan untuk menyeimbangkan pegangannya, aku meraih tangannya dan melingkarkannya ke pinggang ku agar dia tidak jatuh. Well, aku takut dia jatuh dari motor karena dia belum membayar ku!
“Pegangan, kalau tidak mau mati.” Lalu dengan segera tangan tebal itu mengencangkan pegangannya dengan erat di pinggang ku.
“Terima kasih.” Ucapnya lagi. Shit, apakah hanya kata itu saja yang bisa dikatakannya? Aku hanya mengangguk dan terus fokus mengendarai motor ku sepanjang jalan.
“Lima ratus ribu...” Jawab ku dengan datar. Aku meliriknya dari kaca spion samping dan melihat pria itu menganggukan kepalanya sambil menahan sakit dan mengatur posisi duduknya.
“Antarkan aku ke rumah. Aku akan memberimu uang.”
Aku menimbangnya sebentar. Aku tidak tahu seberapa yakin aku bisa percaya kepadanya. Bisa saja pria ini adalah pengedar narkoba atau seorang mafia yang akan membunuh ku, alih-alih memberikan ku uang yang dijanjikannya. Bagaimana caranya mendapatkan uang tanpa harus terlibat terlalu jauh dengannya?
“Kau tidak harus terlihat seperti itu. Tenang saja, aku tidak akan menipu atau berencana untuk membunuh mu.” Ucapnya ketika melihat ku yang sedang berpikir keras. Dia menyipitkan matanya, menatap ku melalui kaca spion dan tersenyum pada ku.
“Siapa yang tahu?” Jawab ku jujur.
“Apa aku terlihat seperti seorang kriminal?” Katanya lagi dengan suara yang bergetar dan tertahan karena luka di mulutnya.
“Eh, atau jangan-jangan kau punya hubungan terlarang dengan mereka?”
“Hahaha...” Dia tertawa dengan sedikit tertahan. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk tidak mengantarnya pulang ke rumah. Lalu bagaimana dengan bayarannya? Jadi aku mengatakan kepadanya akan berhenti di pom bensin dan memintanya untuk pulang sendiri dengan taksi dari sana. Tapi sebelumnya aku akan berhenti dulu di Seven Eleven agar dia bisa menarik uangnya di ATM.
“Ponsel ku hilang dan aku tidak membawa dompet.” Ujarnya ketika kami sampai di ATM.
“Hei, Apakah kau menipu ku untuk membantu mu?!! Kalau begitu, aku akan menendang mu di sini sampai mati.” Aku menoleh ke arahnya yang masih duduk di kursi belakang. Lalu dia pura-pura turun dari motor dan membuka jam tangan dipakainya.
“Oh, ini... Kau bisa mengambil ini. Anggap saja untuk mengganti nyawa ku yang hanya berharga lima ratus ribu.”
Aku mengambil jam itu dan menatapnya dengan curiga.
“Bagaimana aku tahu kalau ini asli?”
“Kalau begitu, kembalikan!” Dia pura-pura hendak mengambil kembali jamnya, jadi aku berbalik menatapnya. Setelah diperhatikan, jam itu sangat meyakinkan dengan material design dan material yang mewah. Bagaimana mungkin ini palsu? Jadi aku tidak akan mengembalikannya. Meskipun terlihat kotor, tapi kalau ini asli, aku bisa mendapatkan ratusan ribu kalau menjualnya.
“Ok, kau boleh turun. Tapi kalau ini palsu, maka aku akan mengejar dan membunuh mu.”
“Tunggu sebentar, pinjam ponsel mu. Aku ingin menelpon orang rumah”
Ketika dia melihat ku, aku menjadi sedikit paranoid. Bagaimana jika dia mengambil ponsel ku dan melarikan diri? Bukankah itu sangat buruk? Tapi kalau melihat kondisinya, sepertinya aku harus mengenyahkan pikiran semacam itu.
“Ambilah.” Kata ku sambil menyerahkan ponsel ku. Dia menekan nomor dengan cepat. Setelah tersambung, sepertinya dia memang menelpon keluarganya. Ya, aku mendengar dia berbicara mengenai mengirimkan seseorang untuk menjemputnya disini. Aku memperhatikannya dengan hati-hati dan mulai berpikir, haruskah aku membawanya ke rumah sakit dari pada meninggalkannya di sini? Sepertinya dia sulit bernafas dan darah di kepalanya membuat ku sedikit khawatir. Tapi... kalau aku mengatakan akan membawanya ke rumah sakit dengan biaya tambahan tiga puluh ribu, apakah itu mungkin?
“Terima kasih lagi, bahkan meskipun kau melakukannya karena uang.” Katanya sebelum turun dari motor. Aku pura-pura tidak peduli dengan kata-kata yang baru saja diucapkannya. Toh banyak juga orang yang melakukan sesuatu karena mengharapkan suatu imbalan.
“Apa kau kuliah di Universitas XXX?”
“Bagaimana kau tahu...” Tanya ku dengan suara lembut. Aku bertanya bagaimana dia tahu aku kuliah di tempat yang sama dengannya.
“Seragam.” Jawabnya. Barulah ku sadari kalau aku menggunakan seragam universitas yang sekarang sudah berlumuran noda darah dari wajahnya.
“Ah... Iya.”
“Siapa namamu?” Tanyanya, tanpa menggerakan tubuhnya untuk turun dari motor ku. Aku sampai mengerutkan kening, menunjukkan ketidaksukaan ku.
“Untuk apa? Kau akan mencari ku dan menyuruh orang memukuli ku?” Aku mengangkat alis.
“Tidak, aku hanya ingin tahu nama mu. Itu saja.” Tegasnya.
“Lalu kau akan memajang nama ku di dinding untuk membalas budi?” Aku mengatakan apa yang aku pikirkan. Kalau memang begitu, kenapa kau tidak langsung berikan bayaran ku dan pergi. Untuk apa dia tahu nama ku.
“Kalau kau tidak memberikan nama mu, aku tidak akan turun dari motor.” Dia menyandarkan kepalanya di pundakku dengan cepat.
“Kalau kau tidak turun, aku akan menendangmu!” Kata ku dengan suara yang keras tapi ekspresinya terlihat biasa saja dan tidak berubah.
“Kalau begitu, aku akan mengambil jam itu kembali. Kau harus ke rumah ku untuk mendapat uang tunai.” Ancamnya.
Aku diam dan berpikir sejenak sebelum menjawabnya.
“Jom... Namaku Jom.” Dia menatap ku sebentar sebelum akhirnya turun dari motor dengan mudah. Aku melihat ke belakang dan melihat pria itu berjalan dengan sempoyongan dan bertanya-tanya, apa yang pria itu lakukan sampai berurusan dengan gangster itu.
Tapi itu bukan urusan ku, jadi aku mulai menyalakan motor dan memakai helm sebelum melajukan motor ku untuk kembali ke rumah.
***
Gimana? Lanjut kah???? Jangan lupa follow dan vote ya...