INTRO
"Siapa namamu?"
Pertanyaan ini menyerang aku begitu aku duduk di kursi.
Lawan bicaraku adalah seorang senior. Dia tidak datang sendirian melainkan datang bersama seorang teman laki-lakinya yang membawa kamera berukuran besar. Aku kira itu mungkin untuk memotret siswa baru.
"Uh...Namaku Arm."
"Fakultas apa?"
"Teknik."
"Bolehkah aku mengambil fotomu? Aku sedang berpikir untuk mempostingnya di halaman Engineer Cute Boy agar sedikit menghebohkan." Dia berbicara dan tertawa, membuatku merasa malu dan ingin mengayunkan diriku di udara.
"Jadi, haruskah kita melakukannya?"
"Seharusnya begitu. Nong Arm menggemaskan sekali. Aku jamin kau akan dapat banyak like dan share."
Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya, tapi tanpa sengaja aku selesai membetulkan bajuku.
Hoooiiii....
Tidak lama setelah aku jatuh cinta pada diri sendiri, aku membiarkan senior ku mengabadikan sudut kiri dan kanan, dan mengambil beberapa foto lagi sebelum meminta izin untuk pergi dan memotret orang lain.
Saat itu, nama aku dipanggil.
"Antrian berikutnya. Anon Phuwakomol, silahkan memasuki ruang wawancara."
Aku bangkit dari kursiku dan membetulkan seragam SMA-ku yang agak kusut. Aku memegang portofolio erat- erat di satu tangan, menarik napas dalam-dalam dan berjalan ke ruangan tempat dua profesor yang sedang duduk. Mereka berdua terlihat masih muda. Kalau aku menebak, dia mungkin baru saja lulus dari luar negeri dan masih bersemangat.
"Kenapa kau memilih jurusan Teknik?" Pertanyaan pertama datang secara tiba-tiba.
"Aku...ingin mencari pengalaman dengan apa yang kucintai dan ingin mengejar impian masa kecilku, karena itulah arti seluruh hidupku."
"Apa kau menghafal naskahnya?"
"Em..."
kau sangat memahami ku, Professor T.T
Namaku Arm. Nama asliku Anon, lahir pada hari Rabu tengah malam. Lulus dari sekolah khusus laki-laki dengan rata-rata IPK 3,89. Aku tidak ingin belajar Teknik untuk mendapatkan pengalaman dan ini bukanlah impian masa kecil ku. Ketika aku masih kecil, aku ingin menjadi Ultraman. Setelah lulus kelas 12, aku sangat ingin belajar Komunikasi, tapi ayahku tidak setuju.
Pha memberitahuku bahwa aku sama sekali tidak punya bakat di bidang ini, baik itu komunikasi, masyarakat, film atau bahkan televisi. Mengakui bakat itu tidak nyata, tapi aku tetap ingin mencobanya. Ini adalah mimpi!
Pha sama sekali tidak memahami masa muda.
Tapi karena aku anak yang baik, aku harus belajar Teknik untuk menyenangkan ayahku.
Pha adalah seorang insinyur dan Mae adalah seorang perawat. Sejak kelas 10, keluargaku menaruh banyak harapan padaku, memaksaku untuk mengikuti jejak orang tuaku. Uh... Kau mengerti, kan? Aku tidak akan pergi ke sekolah perawat karena aku melihat ibuku sebagai idola. Bukan karena perawat tidak baik, tapi aku tidak bisa merawat orang lain. Aku bahkan belum bisa merawat tubuhku sendiri.
Sampai pada titik ini, aku harus melepaskan semuanya. Aku harus melupakan rasa sakitnya. 4 tahun telah berakhir. Sampai saat itu tiba, pertimbangkan seperti apa hidup ini nantinya.
"Mata pelajaran mana yang paling kau sukai?" Merenungkan masa lalu sejenak, pertanyaan salah satu dosen kembali mengetuk kepalaku.
"Matematika dan Fisika."
"Fisika bagian mana yang kau suka?"
"Listrik." Persis kalimat yang aku latih bersama Pha. Aku belajar Teknik Elektro jadi aku hanya bisa memilih bagian ini.
"Kalau begitu, tolong bantu aku menyelesaikan pertanyaan ini." Seorang dosen mengeluarkan kertas, menggambar dan menulis penjelasan singkat dengan pensil, lalu memberikannya kepada ku.
Mati aku! Pha, selamatkan aku...
Hanya melihat pertanyaan berbentuk kubah runcing, selangkanganku langsung basah. Ada yang bilang sesi wawancaranya sangat santai, jadi kenapa aku harus duduk dan memecahkan teka-teki ini bersama para dosen?
"Uh... Yah..."
Sialan, ini sulit sekali. Tolong izinkan aku menyampaikannya kepada Einstein.
Apa ini wawancara untuk memasukkan ku kenjurusan ini atau mencegah aku keluar dari ruang wawancara?
"Sulit?" Professor bertanya. Aku kemudian mengangkat wajah dan menatap lurus ke arahnya.
"Krap. Bolehkah aku membawanya pulang untuk mengerjakan pekerjaan rumahku?"
Hanya dengan jawaban itu, tawa menggema di seluruh ruangan.
Ohhhhhhhhhhhhh, apa mereka sesenang itu ketika anak-anak tidak bisa menjawab? Jangan biarkan aku pulang, karena aku akan meminta Pha mengirim surat untuk mengadu kepada dekan karena mereka berani membuat orang sepertiku sedih.
"Tidak perlu. Ini dari pelajaran siswa tahun kedua. Aku hanya mengeluarkannya untuk kau coba. Siapa tahu, mungkin kau akan beruntung."
Kalau bisa, itu pasti gila hiks.
Aku bukan juara pertama di Olimpiade Fisika, Prof.
"Tenang. Sekarang kita tidak akan berbicara banyak lagi tentang belajar. Silakan perkenalkan dirimu kepada kami dan kita lihat kenapa kami harus menerima mu belajar di departemen ini."
"Saat aku masih sekolah, aku mengikuti banyak kegiatan dan bahkan dinominasikan menjadi ketua OSIS." Karena itu, aku segera meletakkan portofolio tersebut di atas meja agar para dosen, dapat mengagumi pencapaian ku.
"Apa kau terpilih?" Suara rendah orang di depan langsung bertanya.
"TIDAK."
"Lalu apa yang kau lakukan?"
"Aku bagian dari tim yang membacakan doa pada penghormatan bendera, membimbing siswa kelas 7 berkeliling sekolah, dan menjadi ketua klub dart sekolah menengah. Hal-hal seperti itu." Kemudian aku mengamati ekspresi para dosen yang memalingkan muka, mungkin mengagumi ku.
Aku membusungkan dadaku dengan bangga.
"Itu tidak ada hubungannya dengan Teknik."
Seseorang bergumam. Aku segera mencoba membela diri.
"Aku sangat suka mengganti bola lampu di rumah. Aku sangat pandai menggantinya."
"Belajar di fakultas lain juga bisa."
"Tapi kalau aku kuliah di sini, aku akan lebih baik dalam berubah. Belum lagi aku juga bisa berkembang dan berguna untuk orang lain." Berpikirlah sebelum berbicara, Arm. Cepat jawab…
"Oke. Aku melihat tekadmu." Professor tersenyum dan terus bertanya. "Lalu, apa arti nama Anon?"
Ya Tuhan. Aku benci kalau semua orang bertanya tentang arti namaku. Dari aku lahir sampai besar, saudara, guru di sekolah, teman dekat, petugas KTP, semua bertanya padaku apa arti nama ini.
Tapi...aku...sangat...lelah...untuk...harus...selalu…menjawabnya...!
Setiap hari, aku ingin kabur dan mengganti namaku jutaan kali, tapi aku takut ayahku akan sedih. Pha ingin aku menjadi kaya, jadi arti namaku adalah...
"Tidak punya hutang."
"Benarkah?" Baiklah, jangan percaya padaku lagi.
"Krap."
"Siapa yang memberikannya padamu? Biksu?"
"Kepala Biara."
"Kalau begitu, Anon… yang tidak punya hutang, selamat datang di Fakultas Teknik."
"Hah? Apa aku lulus?"
"Jika ada eliminasi, aku pikir kau akan menjadi orang pertama yang tersingkir. Tapi bukan itu masalahnya." Itu benar-benar pepatah yang memberi ku lebih banyak motivasi.
"Aku sangat senang tidak ada sistem seperti itu. Sekali lagi terima kasih, Professor."
Mulai sekarang aku akan dinobatkan sebagai mahasiswa jurusan ini, jadi aku harus menunggu sekitar 4 tahun lagi.
Senang bertemu denganmu, Fakultas Teknik (neurologi).
Jangan lupakan satu sama lain. Aku...Anon - yang tidak punya hutang.
.
.
.
.
.
Lanjut ga? Jangan lupa like & comment nya ya….