LAJUR TAKDIR [BM]

All Rights Reserved ©

Summary

Di kota Neonvista, sebuah kota setengah maju dengan perpaduan teknologi canggih dan kesenjangan sosial yang mencolok, hidup seorang gadis bernama Lana Veil, 17 tahun, anak perempuan tunggal dari seorang mekanik tua. Sejak kecil, Lana bermimpi menjadi pembalap profesional, terinspirasi oleh mendiang ibunya yang dulunya adalah pembalap legendaris sebelum kecelakaan merenggut nyawanya. Namun, mimpi Lana terasa mustahil. Satu-satunya kendaraan yang ia miliki hanyalah Falcon-X, mobil tua peninggalan ayahnya, yang hampir tidak layak jalan. Di tengah kota yang dipenuhi mobil-mobil bertenaga energi plasma dan pengemudi dengan teknologi AI canggih, Lana dianggap mustahil bersaing. Dengan tekad baja dan bantuan ayahnya yang memahami setiap baut dan mesin Falcon-X, Lana memulai perjalanan menuju arena balapan profesional. Dalam perjalanannya, Lana menghadapi diskriminasi, sabotase, dan tekanan psikologis. Namun, dengan keberanian dan keahlian yang diasah, ia membuktikan bahwa kecepatan sejati tidak hanya ada pada mesin, tetapi juga dalam semangat dan tekad manusia. ~~~ Novel by HanifM12

Status
Ongoing
Chapters
7
Rating
n/a
Age Rating
13+

Bab 1: Jejak Di Atas Aspal


Langit kota Neonvista dipenuhi neon berwarna biru dan ungu. Di kejauhan, menara-menara pencakar langit berdiri angkuh, dikelilingi drone pengantar barang yang sibuk berputar. Jalan-jalan di bagian bawah kota penuh sesak dengan mobil-mobil tua, jauh dari gemerlap kemewahan pusat kota.


Lana duduk di atas kap Falcon-X, menatap kendaraan tua itu dengan campuran cinta dan frustrasi. Warnanya kusam, bercak karat menghiasi bodinya, dan suara mesinnya sering kali lebih mirip geraman monster yang sakit. Namun, mobil itu adalah warisan satu-satunya dari ayahnya, simbol perjuangan keluarganya yang tidak pernah menyerah meski dihimpit kemiskinan.


“Kalau kau ingin masuk ke arena besar itu, Lana, kau harus percaya pada Falcon-X ini,” ujar ayahnya, Derek Veil, sambil mengelap tangannya yang berminyak dengan kain kotor. “Mobil ini pernah jadi juara dua dekade lalu. Dia cuma perlu sedikit cinta, dan kau perlu lebih banyak keberanian.”


Lana menggigit bibirnya. “Balapan sekarang bukan seperti dulu, Ayah. Mobil-mobil mereka punya AI yang memprediksi setiap belokan. Mesin plasma mereka melaju lebih cepat daripada pikiran manusia. Falcon-X ini... dia tidak cukup.”


Derek tertawa kecil, matanya berbinar meskipun kerutan di wajahnya menunjukkan usia. “Yang membuat mobil ini menang dulu bukan mesinnya, Lana. Tapi pengemudinya. Sama seperti kau, ibumu pernah dianggap tidak punya peluang. Tapi dia membuktikan dunia salah.”


Lana terdiam. Ingatan tentang ibunya selalu datang seperti kilatan cahaya—terang, penuh emosi, dan menyakitkan. Tapi itulah yang membakar mimpinya.


Malam itu, Lana memutuskan satu hal: Falcon-X akan menjadi tiketnya menuju arena balapan profesional. Meski itu berarti mengorbankan segalanya.



---

HM12