Chapter 1
Buku di dalam buku
Kala menatap kosong ke halaman buku catatannya. Jemarinya memegang pena dengan erat, namun tak ada kata yang muncul di benaknya. Sudah berhari-hari ia mencoba menulis, tapi setiap kali mulai, ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Seolah ada kekuatan lain yang turut mengarahkan setiap kata yang dituliskan. Saat itulah, sebuah pikiran tiba-tiba menyentuh kesadarannya“Apakah aku sedang menulis... ataukah aku yang dituliskan?”
Kala tak bisa mengabaikan perasaan itu lagi. Setiap kata yang ia goreskan seakan berasal dari tempat lain, dunia lain, yang entah bagaimana terkait dengannya. Di dunia itu, ia merasa ada seseorang yang juga sedang menuliskan tentang dirinya.
Sambil menghela napas panjang, Kala menutup matanya. Di balik kelopak matanya, bayangan samar seorang penulis lain muncul seseorang yang sepertinya menuliskan kisah hidupnya. Kala tak bisa melihat wajah penulis itu dengan jelas, tetapi ia tahu bahwa setiap gerakan pena di tangan orang itu mempengaruhi hidupnya.
Kala bertanya-tanya: “Apakah ini semua hanya imajinasiku, ataukah ada yang lebih dari sekadar kata-kata di halaman ini?” Dalam pikirannya, ia menyadari bahwa setiap waktu ia menulis, ia sekaligus menjadi karakter dalam kisah orang lain. Proses ini terasa seperti lingkaran yang tak berujung.
Kala mulai menulis lagi, tetapi kali ini ada kesadaran berbeda. Setiap kalimat yang ia tuliskan terasa lebih hidup, seolah bukan hanya berasal dari dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa dunia yang ia ciptakan di buku catatannya mungkin sama nyatanya dengan dunia tempat ia berada sekarang.
Saat pena di tangannya bergerak, tiba-tiba kata-kata di buku catatannya mulai berubah sendiri. Kalimat-kalimat itu muncul tanpa disadari, seolah berasal dari tempat lain, dari seseorang yang menulis tentang dirinya:
”Kadang, kita menulis untuk mengingat. Tapi kali ini, kau harus menulis untuk melupakan. Ada sesuatu di masa lalu yang membelenggumu, Kala. Sesuatu yang kau pikir harus disimpan, tapi justru itulah yang harus kau lepaskan.“
Kala tertegun. Pesan ini begitu jelas, namun terasa asing. Apa yang harus ia lupakan? Siapa yang harus ia lepaskan? Kata-kata itu tidak datang dari pikirannya sendiri, tetapi dari seseorang yang menuliskan hidupnya.
”Cinta yang pernah ada, kini hanya bayangan samar di balik ingatan. Kau harus berpetualang untuk menemukan jawabannya, tapi bukan untuk mengembalikan cinta itu. Melainkan untuk melepaskannya.“
Kala mengerutkan kening, merasakan berat dari kalimat-kalimat yang terus muncul di hadapannya. Kata-kata ini seperti petunjuk dari dunia lain, dunia yang tahu lebih banyak tentang perasaannya daripada dirinya sendiri. Ada seorang wanita dalam mimpi panjangnya—wajahnya masih samar. Apakah pesan ini tentang dia? Apakah penulis di dunia lain juga pernah merasakan kehilangan yang sama?
”Temukan apa yang harus kau ketahui, Kala, dan dalam prosesnya, kau akan melepaskan apa yang pernah kau sayangi.“
Kata-kata itu memudar perlahan dari halaman buku catatannya, meninggalkan Kala dalam kebingungan. Ia merasakan beban tak kasat mata, seperti ada perasaan cinta yang terpendam di dalam dirinya yang selama ini belum pernah ia sadari. Namun sekarang, ia tahu bahwa petualangan ini bukan untuk mempertahankan, melainkan untuk melupakan.
Matahari terbenam di ufuk barat, langit berubah menjadi semburat jingga keemasan. Di atas jembatan layang, dua insan yang menginjak fase remaja saling bertukar cerita. Kala mengendarai sepeda motornya dengan santai, sementara angin dingin menerpa tubuh mereka.
Brittany, yang duduk di belakangnya, melingkarkan lengannya ke tubuh Kala, mencari kehangatan. “Langitnya indah, ya,” ucapnya, dagunya bertumpu di pundak kanan Kala. Kala menghela napas pelan sebelum menjawab, “Iya, indah... cuma kepala ini pegal juga harus miring terus begini.” Ia tertawa kecil sambil tetap fokus melajukan motornya.