Prologe
Jakarta, 2018.
“Ya ampun ganteng banget sih ini oppa...” Tirza bergumam pelan sambil menghapus air mata yang perlahan mengalir di pipinya. Matanya cukup sembab dan hidungnya berwarna kemerahan. Tapi gadis cantik berambut panjang itu tidak memperdulikan tatapan di sekitarnya. Cuek.
Sambil bibir manyun menahan haru, Tirza beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan menuju ke arah kasir. Dia akan memesan minuman dan kudapan lagi untuk menemaninya maraton nonton drama korea. Sambil masih sedikit terisak, Tirza berdiri mengantri.
Di depannya berdiri seorang pria yang bertubuh tegap dan cukup tinggi. Tirza sempat meliriknya. Rambut pria itu cepak, pendek dan rapi khas tentara.
Jangan-jangan memang tentara?
Tiba-tiba pria itu menoleh. Mungkin karena mendengar Tirza yang sesekali terisak. Tirza mendongak menatap balik ke arah kedua bola mata sang pria.
“...dek, nggak papa?” Suara beratnya terdengar khawatir.
Tirza terkejut dan buru-buru menggeleng dengan cepat. “Nggak papa pak,” jawabnya. Cukup bingung harus memanggil pria itu dengan sebutan apa. Terlihat tidak terlalu tua. Tapi kalau benar seorang tentara, dirinya harus sopan. Maka panggilan ‘pak’ adalah yang paling tepat.
Pria dengan jaket bomber berwarna hijau lumut itu lalu mengangguk kecil. Dan kembali menghadap ke depan. Tirza menghela nafas lega.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Tirza berjalan ke tempatnya duduk. Sebuah meja bundar yang terletak di ujung cafe. Berdampingan dengan sebuah jendela. Tirza tersenyum saat tau bisa melanjutkan kembali menonton drama korea kesayangannya.
Tangannya dengan cepat meraihairpods yang tergeletak di atas laptop miliknya. Tirza terkekeh sendiri, sudah tidak sabar dengan lanjutan ceritanya.
Lalu saat tangannya hendak menyentuh tuts keyboard, pandangan gadis itu menangkap sosok pria-diduga-tentara yang tadi mengantri di depannya. Tirza menarik kembali tangannya dan memandang si tentara dari tempatnya duduk.
Pria dengan jaket bomber itu duduk berdua. Berdasarkan observasi asal-asalan ala Tirza, gadis itu menebak kalau keduanya sama-sama tentara. Potongan rambut cepak khas tentara plus badan yang agak berotot.
Dan disaat itu pula Tirza baru menyadari ada lesung di pipi sang tentara saat tersenyum. Karena tempat ia duduk tidak terlalu jauh dari si tentara, pria berambut cepak itu dengan cepat menyadari tatapan dari Tirza.
Tirza langsung buru-buru mengalihkan pandangannya saat tatapan keduanya beradu singkat.
“Duh,” rutuknya pelan. Berharap tidak membuat masalah dengan sosok tentara, Tirza langsung memusatkan perhatiannya ke layar laptop di hadapannya. Tak butuh waktu lama bagi Tirza untuk kembali larut dalam dunia drama korea.
Gadis itu sesekali mengusap air matanya karena terharu. “Hiks...Oppajangan mati dulu dong...” Tirza terisak. Sudah mulai terlena, terbawa suasana di dalam drama korea yang ditontonnya.
Dari arah sebaliknya, tentara berambut cepak dengan pangkat Lettu itu mengerutkan keningnya melihat tingkah Tirza. Lalu di senggolnya temannya. “Dan,” panggilnya. “Aneh nggak sih liat cewek bisa nangis-nangis sendiri, trus ketawa-ketawa sendiri.”
Sosok bernama Hildan itu mengangkat kedua bahunya. “Cewek kan emang gitu, Ted,” balasnya. “Kalau nggak lagi PMS ya berarti lagi nonton drama korea.”
Teddy kembali mengerutkan keningnya. “Kalau gara-gara PMS sih gue paham ya,” jawabnya. “Tapi kalau beneran gara-gara drama korea?” Teddy mendengus pelan.
Hildan mengiyakan. “Wanita memang begitu, Ted,” tutupnya.
Untuk beberapa saat, Teddy masih memandang ke arah Tirza. Berusaha mempelajari raut wajah gadis itu. Teddy melihatnya menangis, tapi sedetik kemudian gadis itu tersenyum dan manggut-manggut. Aneh sekali sih, batin Teddy dalam hati.
Kalau dilihat dari penampilannya, gadis itu tidak terlihat seperti anak sekolah. Mengenakan polo shirt dan celana panjang, Teddy menebaknya sebagai seorang mahasiswa yang tengah menunggu waktu kelas berikutnya.
Lalu laptop dan tumpukan berkas di atas mejanya memperkuat tebakan Teddy.
Pria itu lalu mendengus. Mahasiswa jaman sekarang lebih suka menghabiskan waktu dengan menonton drama korea. Sudah jelas-jelas paham bahwa semua itu adalah fana, tapi entah kenapa mereka masih menontonnya hingga habis. Dan bahkan menangis.
“Yuk Ted,” ajak Hildan sambil beranjak berdiri.
Teddy mengangguk. Buru-buru menghabiskan minuman miliknya dan ikut berdiri mengikuti HIldan. Sejenak melirik ke arah Tirza yang kini tengah tertawa kecil. Gadis drakor yang aneh, batinnya.
Setelah berhasil menyelesaikan drama korea yang ia tonton, Tirza tersenyum puas. Jari lentiknya meraih airpods di telinganya, lalu melepasnya. “Huaaah...” Tirza meregangkan tubuhnya. Puas sekali hari ini, batinnya.
Tirza mengusap perutnya. Perut kenyang, tenggorokan tidak dahaga, dan hati serta otaknya pun puas dengan asupan drama korea yang ia tonton. Hari libur yang tidak mengecewakan. Sambil bersenandung kecil, Tirza membereskan barang bawaannya. Memasukan laptop ke dalamtotebagmiliknya.
Tirza juga membuang tumpukan tisu yang berserakan karena menghapus air matanya yang bercucuran. Apalagi saat melihat adegan sedih dari layar laptopnya. Huft, hati Tirza ikutan potek. Setelah semuanya rapi, Tirza melangkah keluar dari cafe. Perasaannya bahagia.