Chapter 1 Suara Desahan
Hari Minggu begitu cerah bagi Veronika Kimberly. Gadis cantik itu hendak pergi bermain ke rumah Zero tanpa memberitahunya terlebih dulu. Ia ingin memberikan kejutan padanya. Tidak perlu menunggu lama, Veronika akhirnya tiba di rumah Zero, kekasihnya itu. Ketika berada di ambang pintu, samar-samar ia mendengar suara seorang wanita yang sedang mendesah.
Veronika mematung di ambang pintu, melihat begitu jelas dua orang yang sekarang sedang melakukan hal tak senonoh di ruang tamu. Mereka sampai lupa untuk menutup pintu rumah.
Veronika dengan santainya melipat kedua tangannya, sampai Zero tak sengaja melihatnya.
"Veronika!" Zero tersentak kaget.
"Hai Zero, kita putus!" tanpa basa-basi lagi Veronika segera pergi ke luar, tidak ingin mendengar jawaban Zero.
Belum sempat keluar dari ambang pintu, Veronika sudah menabrak seorang wanita paruh baya dan ternyata itu adalah ibunya Zero.
"Aduh!" ucap Veronika bersamaan dengan ibu Zero.
"Maaf, Tante, aku tidak melihatnya," Veronika segera meminta maaf. Namun bukan menjawab ucapan Veronika, wanita paruh baya itu malah terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Dia melihat Zero, anaknya, yang sedang bersama dengan seorang gadis yang sangat tidak disukainya sedari dulu. Wanita paruh baya itu semakin terkejut setelah melihat dengan jelas bahwa anaknya sedang berdiri tanpa sehelai benang di tubuh mereka berdua.
Ibu Zero melihat ke arah Veronika setelah menyimpulkan apa yang terjadi. Wanita itu terlihat marah karena Zero bersama wanita lain dan ketahuan oleh pacarnya. Wanita itu langsung masuk untuk memberi pelajaran pada Zero, anak kesayangannya. Dia memukul Zero, lalu beralih ke arah gadis yang ada di samping Zero dengan tasnya, kemudian menjambak rambut gadis itu.
Veronika terkejut dengan aksi wanita paruh baya itu. Dia langsung menutup mulutnya yang terbuka.
Zero melihat Veronika hanya berdiri di ambang pintu, menyaksikan aksi ibunya yang sedang memukul mantan pacarnya. Seketika Zero menarik tangan Veronika masuk ke dalam rumahnya karena ia ingin menjelaskan kejadian ini, meskipun dirinya tidak memakai baju.
"Ahhh... Lepaskan tanganku, Zero," ucap Veronika.
Zero melepaskan tangan Veronika saat ia telah berhasil menariknya lalu menutup pintu rumahnya.
"Sayang, aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kamu lihat," kata Zero.
"Tidak perlu repot-repot kau jelaskan, Zero. Aku sudah melihatnya. Kita akhiri saja hubungan ini, kita putus."
"Tidak bisa, aku tidak mau. Aku mencintaimu, Veronika Amberly."
"Oh... ya... hanya orang bodoh yang akan percaya perkataanmu." Veronika hendak membuka pintu dan segera pergi. Namun Zero menghentikan langkahnya.
"Buka pintunya, Zero." Zero mencoba menghalangi pintunya, membuat Veronika tak bisa keluar.
"Tidak! Aku tidak akan membukanya sampai kamu menarik perkataanmu."
"Kita tetap putus, Zero. Kau jangan seperti ini. Cepat buka pintunya. Kamu yang mencari gara-gara dengan berselingkuh, tapi kamu sendiri yang tidak ingin putus. Apa kamu masih waras?" kata Veronika.
"Aku tidak sengaja melakukan itu. Aku lupa, sayang." Zero memegang tangan Veronika.
"Apa katanya? Melakukan adegan seperti itu karena khilaf?" batin Veronika.
"Kau begitu tega, Zero. Sampai-sampai kamu melupakan aku. Lalu kenapa kamu tidak mau putus! Kita putus mulai sekarang juga." Veronika mendorong tubuh Zero.
Veronika berhasil terlepas dari genggamannya. Namun sayangnya Zero beralih menarik pinggangnya saat Veronika hendak segera keluar.
Zero menempelkan tubuh Veronika ke arah tembok, lalu menekan tubuh Veronika dengan tubuhnya agar lebih dekat dengan dia.
Veronika mendorong tubuh Zero agar bisa menghindar darinya. Tidak jauh dari Veronika, ibu Zero yang sedang mencaci maki wanita yang bersama Zero dengan kata-kata kasar sambil menjambak dan memukul wanita tersebut, seketika menghentikan aksinya setelah melihat Zero memaksa Veronika yang terlihat tertekan.
Wanita paruh baya itu pun menghampiri Zero, menarik telinga anaknya dengan sangat keras.
Veronika melihat ke arah Zero yang sedang meminta ampun pada ibunya agar telinganya dilepaskan.
"Ampun, Bu… Sakit," rintih Zero.
"Berani-beraninya kamu sudah melakukan kesalahan, malah memaksa anak orang untuk terus bersama denganmu. Dasar anak tidak tahu diri. Sekarang kamu minta maaf pada gadis itu, atau kamu pergi dari rumah ini dan bawa wanita murahan ini pergi dari sini. Zero, kau benar-benar membuat ibu marah," teriak wanita paruh baya itu yang bernama Dewi.
Veronika merasa tidak enak atas apa yang terjadi hari ini, sampai-sampai Zero akan diusir oleh ibunya. Veronika memilih untuk pulang.
“Tante, aku pamit pulang. Dan kamu, Zero, sekarang kita sudah tidak ada lagi hubungan apapun. Kita putus! Makasih untuk selama ini sudah menemani aku," kata Veronika sambil pergi dengan senang karena ia tidak perlu repot-repot mencari alasan untuk putus dari Zero. Walaupun Zero selalu menemaninya, akhirnya dia harus meninggalkan hubungan itu.








