Bab 1
PARADIGMA.
"Apa yang kamu lakukan?" Amira melipat kedua tangannya, menoleh angkuh padaku yang masih berdiri diam di depan gerbang kayu rumah utama keluarga Jagadita.
Hari ini waktunya untuk berkunjung menemui sesepuh keluarga Jagadita, semua orang terdekat memanggil beliau dengan sebutan, Eyang.
Aku berjalan paling belakang setelah Amira dan kakak laki-lakiku, Aswin. Ya, aku adalah anak ketiga dalam keluarga Anggalna. Semua orang tahu jika aku bukanlah anak kandung dari keluarga itu, hanya anak yang dibawa oleh kepala keluarga Anggalna untuk menciptakan sebuah citra baik dalam kalangan sosial berkelas.
"Selamat pagi, Eyang," sapa mereka semua satu per satu dan mencium punggung tangan Eyang.
"Bagaiaman sekolahmu, Laras?" Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan Eyang, hanya diriku yang mendapatkan pertanyaan ramah itu, bukan Amira ataupun Aswin. "Gimana kabar Eyang?"
"Baik, Cah Ayu," katanya yang menggelus lembut kepalaku yang masih bersimpuh di depan Eyang. "Nanti, setelah makan siang, kamu ke ruangan Eyang, ya?"
Netraku melirik sekilas, dimana Amira yang terlihat tak senang dengan permintaan Eyang, "Iya, Eyang."
Aku segera beranjak dan mengambil duduk di sebelah Amira dimana ia kentara sekali tak menyukai permintaan Eyang untuk menemuinya di ruangan pribadi.
"Bagaimana kerjaan kamu, Dan? Anak laki-lakimu sudah mulai membantu bisnismu?" Eyang beralih bertanya pada Papa Danu yang menganggapinya dengan semangat, menceritakan bagaimana hebatnya Aswin dalam membantu menjalankan bisnis tekstil milik keluarga.
Apa yang dikatakan Papa Danu hanyalah bualan belaka, nyatanya Aswin hanyalah anak laki-laki pembuat onar. Apa yang dilakukan Aswin hanyalah menghabiskan uang keluarga untuk bersenang-senang dengan teman wanitanya. Papa Danu yang setiap hari harus membereskan semua urusan menjijikkan Aswin dan Mama Sofia yang selalu menangisi putra semata wayangnya sebagai pembelaan.
"Dan kamu Amira, tahun ini bukannya sudah lulus kuliah?" Amira mengangguk dengan gaya ayunya, mulai menjelaskan rencana kedepannya setelah lulus. "Kalau begitu, coba mencari pengalaman dengan Gani, dia cukup sabar jika membantu."
"Jika Mas Gani tidak keberatan Eyang," ucap Amira yang lemah lembut dibuat-buat.
"Bagaimana, Gan?" Eyang bertanya pada cucu pertama Keluarga Jagadita, Argani Jagadita yang duduk di sebelah kiri Eyang.
"Tidak masalah, Eyang," katanya yang selalu terlihat tenang. Tampilan Mas Argani terlihat seperti umumnya laki-laki yang kalem tanpa terlalu banyak bicara dengan rambut yang dirapi dan kacamata hitam bertengger di atas hidung mancungnya.
"Bagaiaman denganmu, Laras?" Eyang beralih bertanya padaku, anak bungsu keluarga Anggalna. "Kamu rencana mau kuliah kemana?"
Meremas kedua tanganku yang berada di pangkuan, aku mengutarakan keinginan yang sudah lama didiskusikan dengan Papa dan Mama Anggalna, "Laras memutuskan tidak berkuliah, Eyang."
"Kenapa, Cah Ayu?"
Mencoba menyunggingkan senyum, aku menjawab pertanyaan Eyang, "Laras pengen langsung kerja."
"Lanjutkan sekolahmu, baru kerja."
"Maaf, Eyang."
"Bagaimana tanggapan kalian sebagai orangtuanya?" Eyang beralih melempar pertanyaan kepada Papa dan Mama Anggalna.
Papa Danu yang menjawabnya, sedangkan Mama Sofia hanya mengangguk dan menunjukkan ekspresi menyesal, "Laras sudah membicarakan ini dengan kami, Eyang. Sebagai orangtua, kami hanya bisa menghargai keinginan anak kami saja,"
Eyang menatapku sebentar sebelum menghela napas, tak bertanya apapun lagi tentang keputusanku tak melanjutkan berkuliah seperti kedua saudaraku.
"Apa yang bisa dilakukan orangtua jika anak berkeinginan begitu," ujar Eyang yang membuat semua orang terdiam, tak kecuali dengan Papa dan Mama Anggalna.
Dan topik lainpun dibicarakan, tak jauh dari dunia bisnis yang masing-masing keluarga geluti. Dan dalam perbincangan itu, sosok cucu kedua keluarga Jagadita baru saja kembali. Seperti penampilan biasanya, dengan pakaian kasual, kaos putih polos dan celana kain yang terlihat longgar khas tren jaman sekarang.
Jangan pernah lupakan tahi lalat di bawah mata kirinya yang membuat dirinya terlihat berbeda diantara lainnya.
"Kenapa baru datang?" Tante Arni bertanya pada putranya dengan wajah sungkan yang kentara sekali.
Hestamma Jagadita, itu nama cucu kedua dari keluarga Jagadita. Dia mengambil duduk di sebelah Mas Argani, "Maaf. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," katanya.
Eyang menghela napas mendengar permintaan maaf Hestamma. Dan mencoba mengalihkan ketidaknyaman itu dengan kembali melanjutkan topik bisnis yang sempat tertunda.
Disepanjang pembicaraan itu, Hestamma hanya diam saja sembari menyesap tehnya dengan gaya khas laki-laki ningrat, anggun tapi maskulin.
Sepengatahuanku, Hestamma memiliki bisnis sendiri di luar dari bisnis keluarga. Dia memilih menjalankan bisnis pribadi tanpa ada campur tangan keluarga.
"Bagaimana bisnis kamu, Tamma?" Papa Danu mencoba menarik perhatian Hestamma.
"Berjalan lancar, Om," jawabnya singkat tanpa berniat menjelaskan perkembangan atau bagaimana bisnis yang ia jalani berjalan.
"Kalau mau, aku bisa bantuin kamu, Mas Tamma," Amira mengajukan dirinya secara sukarela. Bukan sambutan yang baik, Hestamma dengan terang-terangan menolak.
"Amira lebih baik bantuin Mas Gani di perusahaan," Argani menengahi, tak ingin kakak perempuanku itu sedih berkepanjangan.
"Iya, kamu cari pengalaman aja di tempat kerja Gani," sahut Om Cokro yang tak enak.
"Permisi. Makan siangnya sudah siap, Eyang." Eyang mengangguk dengan pemberitahuan dari pembantunya, segera bangkit dengan tongkat kayu yang selalu menopang tubuh rentan itu.
"Ayo kita makan siang dulu," Tante Arni sudah sigap berdiri di samping Eyang untuk membantunya berjalan menuju ruang makan, dimana semua telah tersaji hidangan makanan rumah khas pedesaan.
"Nanti kita lanjutkan lagi mengobrolnya," kata Eyang yang bersemangat, semua keluarga baik anak dan cucu, juga keluarga dari mendiang sahabatnya datang untuk makan bersama seperti ini, rutinitas yang selalu dilakukan di akhir pekan