Chasing Love (SAMPLE)

Summary

Chasing Love by Peony

Status
Complete
Chapters
21
Rating
n/a
Age Rating
18+

Introduction

“Aku juga tidak bisa hidup tanpamu. Sungguh.”

Bayangan saudara kembarnya muncul dalam mimpinya. Sathanan bisa membayangkan dirinya berdiri di atas atap di suatu tempat. Atap itu luas, membentang sejauh mata memandang, dan begitu tinggi sehingga ia merasa seperti melayang di udara.

Versi dirinya yang lain berdiri tidak jauh dari situ, seolah-olah ia sedang menatap dirinya di cermin, berhadapan dengan seseorang yang tampak persis seperti dirinya.

Sathanan mendapati dirinya terperangkap dalam mimpi ini. Bayangan itu membuatnya merasa sesak di dadanya, dipenuhi rasa takut kehilangan sesuatu yang berharga, menyebabkan tangan dan kakinya menjadi dingin.

“Tidak, kumohon, datanglah padaku,”

Katanya, sambil mengulurkan tangan, mencoba meraih versi dirinya yang lain. Namun, orang itu hanya tersenyum padanya, lalu berbalik dan pergi. Sathanan mencoba mengejarnya, tetapi sosok itu seolah semakin menjauh, sekeras apa pun ia berusaha.

Di kamar tidur, didekorasi secara sederhana namun memancarkan kehangatan, cahaya oranye lembut dari lampu samping tempat tidur menyebar, lembut di mata.

Namun, sosok yang terbaring di tempat tidur tampak gelisah, raut wajahnya yang tegas dan cantik berkilauan dengan butiran keringat, meskipun suhu ruangan cukup dingin untuk membuat tubuh menggigil. Sementara itu, pemilik kamar itu tenggelam dalam mimpi yang tidak ingin ia alami. Mimpi itu pun bergeser.

Ia merasa seperti sedang berjalan di jalan setapak berkerikil di taman yang luas di malam hari. Suasananya sunyi, dingin menusuk tulang, dan kabut tebal menyelimutinya, membuatnya sulit melihat apa pun selain jarak dekat.

“Sao, ke sini.”

Suara seorang perempuan yang memanggil namanya membuat rasa tak nyaman dan berat di hatinya lenyap seketika saat mendengar nada lembut dan manis itu. Suara itu seakan tidak jauh, tetapi seberapa pun ia mencari, ia tidak menemukan pemiliknya.

“Siapa itu? Apakah itu Ploy?”

Dia bertanya-tanya, mengira itu mungkin seorang junior di kantor, karena hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu.

“Sao, di sini.”

Suara yang familiar dalam ingatannya itu datang dari belakangnya, semakin dekat. Wanita itu segera berbalik dan melihat bahwa orang yang berjalan menembus kabut itu ternyata bukan juniornya.

Seorang wanita jangkung bergaun rumah sakit, tampak seperti orang Thailand. Sathanan merasa belum pernah bertemu wanita ini sebelumnya, tetapi ada rasa keakraban yang aneh, membuatnya merasa aman tanpa rasa waspada.

“Apa itu? Dan apa itu?”

Tanyanya, sambil menunduk melihat apa yang dibawa wanita itu. Sesuatu yang membuatnya bingung—boneka, atau sesuatu yang lain?

“Bayi kita,” jawab wanita itu.

“Apa!?”

Wanita itu tersentak kaget, dan pada saat itu, dia melupakan semua mimpi sebelumnya.

“Kenapa kamu kelihatan bingung sekali? Ayo lihat bayi kita. Lucu, kan? Ini anak kecil kita, dan ini bayi perempuan kedua kita, putri kita.”

Orang yang satunya berjalan menembus asap dan kabut, semakin dekat, hingga akhirnya, jelaslah bahwa yang dipegangnya adalah sepasang gadis kembar yang terbungkus kain putih. Tubuh mereka merah seperti baru lahir.

Anak malang dalam gendongannya mendongak dan tersenyum. Senyumnya persis seperti senyum ibunya. Pemandangan itu terasa surealis, namun tanpa sadar membuatnya tersenyum.

Wanita muda itu mengulurkan tangan untuk menggendong bayi kecil itu, tetapi...

“Apakah ini anak kita? Tidak mungkin.”

“....”

“Tunggu... jangan, jangan! Keluar! Jangan bawa mereka masuk!”

Sathanan mundur perlahan, merasa cemas melihat bayi berwajah merah di gendongan wanita itu. Namun, wanita mungil di depannya terus melangkah maju sambil menggendong bayi itu. Pemandangan itu jauh lebih mengerikan daripada mimpi di mana hantu menjilati tengkukmu.

“Jijik? Ini anak kita....”

“Tidak! Aku tidak akan pernah mencintai siapa pun. Aku tidak akan pernah mencintaimu. Aku tidak akan pernah menikah, dan aku tidak akan pernah punya anak!”

Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah suara keras dan manis menyela, membuat kedua bayi itu berteriak “Uhwah!” dengan keras, membuat telinganya sakit.

Dan hal itu membuat sang ibu tampak tidak senang, seolah-olah ia kesal karena anaknya menangis, padahal ia hanya tersenyum manis, bagaikan madu.

“Bagaimana mungkin ini bukan milik kita? Ini buktinya. Ini anak kita! Bagaimana mungkin ini bukan milik kita?”

“Tidak! Jika kamu melahirkan mereka, mereka adalah anakmu, bukan anakku.”

“Tidak, mereka berdua juga anakmu! Kamu harus membawa mereka!”

Terkesiap!

Sosok jangkung yang terbaring di tempat tidur membuka matanya, jantungnya berdebar kencang. Ruangan itu begitu sunyi hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang cepat. Perlahan ia mengumpulkan kesadarannya, dan begitu menyadari itu hanya mimpi, ia menghela napas lega.

Dia mengulurkan tangan untuk membelai kucing calico yang meringkuk di sampingnya di tempat tidur, mencoba mengusir rasa takut dan panik yang masih tersisa dari beberapa saat sebelumnya.

Tapi apa sebenarnya mimpi menyeramkan dan menegangkan itu?

Anak kita?

Ruean? Rai? Apa itu seharusnya nama? Ibu macam apa yang menamai anaknya seperti itu? Seolah suasana dalam mimpi itu belum cukup meresahkan, orang-orang di dalamnya juga mengatakan hal-hal yang membuatnya merinding.

“Oh! Mimpi yang gila!”

Wanita muda itu tiba-tiba duduk, memegangi kepalanya dengan frustrasi. Ia melirik jam di samping tempat tidurnya dan melihat sudah lewat pukul sebelas. Ia pasti tertidur beberapa menit saat mengobrol dengan seorang wanita sebelumnya—mungkin kelelahan setelah berolahraga sore, yang menyebabkan mimpi aneh itu.

Sungguh malang mimpinya tentang orang asing—tapi untungnya ia tidak bisa mengingat wajah yang menghantuinya itu. Kalau tidak, mimpi itu pasti sudah menghantuinya untuk waktu yang lama.

Tepat ketika notifikasi pesan masuk, perempuan muda itu mengambil ponselnya untuk memeriksanya. Ternyata pesan itu dari gadis cantik yang mengobrol dengannya sebelumnya tentang kesepakatan penting Jumat malam mereka.

PP2001: Aku akan membawa dokumen pemeriksaan kesehatan terperinci saat kita bertemu.

Itu adalah balasan yang tepat waktu dari pihak lain, jadi wanita itu segera mengetik kembali.

S2S: Dan bagaimana dengan tempatnya, gadis cantik? Di mana kamu nyaman bertemu?

PP2001: Di Hotel Saint Che jam 9 malam tidak masalah. Kita bisa bagi biaya kamarnya.

S2S: Aku yang bayar. Pakailah baju cantik seperti di fotomu, oke? Aku suka.

Sathanan menawarkan diri. Berhubungan seks satu malam dengan seorang wanita di Jumat malam telah menjadi cara untuk melepas lelah. Kali ini, wanita yang ditemuinya tampak seperti wanita muda yang anggun—muda dan bersemangat, tidak seperti wanita-wanita sebelumnya yang seringkali sensual dan lebih dewasa.

Pemilik wajah cantik dan menawan itu bersandar di sandaran kepala tempat tidur, perlahan-lahan menggulir layar ponselnya. Matanya yang tajam menatap foto yang dikirim oleh pihak lain, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.

Ia menampilkan sosok ramping dalam balutan gaun tali spaghetti pendek dan pas badan bermotif bunga kecil—seksi namun manis bak gadis manja. Lekuk tubuhnya memancarkan feminitas yang intens, wajah mudanya berseri-seri, dan kulitnya berkilau bak buah segar.

Ia perlahan menggeser jarinya di layar seolah mengamati gadis di foto itu, tersenyum tipis, menyadari ia mungkin akan menghadapi tantangan. Yang ini jelas permata langka di antara permata-permata lainnya.

Sathanan mulai ragu apakah ia bisa menahan diri. Tapi satu hal yang pasti—seseorang secantik ini pasti akan sulit dihadapi.*


Full Chapter: Telegram: @hoomanfoxy