Chapter 1
Di Kerajaan Aethel, Sir Kaelan adalah lambang kesetiaan dan kekuatan. Sebagai Ksatria Kepala Raja Valerius, ia dihormati dan disegani di seluruh penjuru negeri. Namun, sedikit yang tahu bahwa motivasi terdalamnya bukanlah untuk kemuliaan atau kekuasaan, melainkan untuk sesuatu yang jauh lebih berharga: adik perempuannya, Solavita.
Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan sihir gelap yang dahsyat menerjang desa tempat mereka tinggal. Kaelan, yang saat itu masih muda, berhasil menyelamatkan nyawanya, tetapi Solavita yang masih kecil terkena dampak radiasi sihirnya. Penyakit itu tidak mematikan, tetapi membuatnya sangat lemah, sensitif terhadap cahaya, dan kulitnya memancarkan cahaya pucat yang samar, seperti bulan di malam hari. Kecantikannya bukanlah hal yang biasa; ia terlihat seperti makhluk dari dongeng, rapuh dan memesona. Takut akan eksploitasi atau ketakutan orang lain, Kaelan menyembunyikannya di sebuah pondok terpencil di dalam hutan, dikelilingi oleh tumbuhan pelindung dan dijaga oleh orang kepercayaannya.
Kaelan menjadi ksatria untuk mendapatkan upaya yang besar demi membiayai pengobatan dan ramuan langka yang dapat meredakan penderitaan Solavita. Setiap keping emas yang diperolehnya dari mengabdi pada raja adalah sebuah harapan untuk kesembuhan sang adik.
Suatu hari, tanpa diduga, Raja Valerius yang sedang berburu tersesat hingga ke pondok persembunyian Solavita. Terpesona oleh kecantikannya yang lain dunia dan aura misterius yang dipancarkan penyakitnya, sang Raja langsung terpikat. Baginya, Solavita adalah permata langka yang harus dimiliki.
Keesokan harinya, di istana, Raja Valerius memanggil Kaelan.
"Kaelan, ksatriaku yang setia. Aku telah menemukan mutiara yang tersembunyi di wilayahku. Solavita, adikmu. Aku berkeinginan menjadikannya selirku. Ia akan hidup dalam kemewahan dan tidak akan kekurangan apa pun," ujar Raja dengan wajah berbinar.
Dunia Kaelan runtuh. Jantungnya berdebar kencang dipenuhi rasa ngeri. Hidup di istana yang penuh intrik dan sorotan adalah mimpi buruk bagi Solavita yang sakit-sakitan. Raja mungkin memberinya kemewahan, tetapi akan mengambil kebebasan dan ketenangannya.
Dengan lutut bergetar tapi suara yang tegas, Kaelan menjawab, "Maafkan hamba, Yang Mulia, tetapi hamba tidak bisa menyetujuinya. Adik hamba sangatlah sakit. Kehidupannya yang tenang dan terisolasi adalah satu-satunya cara ia bertahan."
Wajah Raja berubah merah. "Apakah kau menolak hadiah dari rajamu? Ini adalah kehormatan terbesar bagi keluargamu, Kaelan. Janganlah membuatku memerintahkannya."
Kaelan tahu ia sedang bermain dengan api. Menantang raja bisa berakhir dengan kematiannya, dan tanpa dirinya, Solavita akan benar-benar tak berdaya. Sebuah ide nekat terlintas di pikirannya.
"Yang Mulia, hamba tidak menolak kehormatan itu," katanya, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Hamba hanya mengkhawatirkan keselamatan adik hamba. Jika Yang Mulia benar-benar menginginkannya, hamba mempunyai satu syarat."
Raja mengerutkan kening, penasaran. "Syarat? Beraninya kau memberi syarat kepadaku?"
"Bukan syarat, Yang Mulia, melainkan permohonan terakhir seorang kakak. Izinkan hamba untuk meletakkan jabatan sebagai Ksatria Kepala dan mengabdi hanya kepada satu orang: Solavita. Jadikan hamba ksatria pribadinya, pelindungnya yang khusus. Hamba yang paling memahami keadaannya, dan hamba tidak akan mempercayakan keselamatannya kepada siapapun, bahkan kepada pengawal terbaik Yang Mulia sekalipun. Dengan demikian, hamba dapat memastikan kesehatannya terjaga dan Yang Mulia pun mendapatkan apa yang diinginkan."
Raja Valerius terdiam sejenak. Ia melihat api kesetiaan dan perlindungan membara di mata Kaelan. Ia menyadari bahwa itulah satu-satunya cara untuk mendapatkan Solavita tanpa membuat Kaelan memberontak atau melakukan hal nekat. Seorang ksatria sehebat Kaelan lebih berguna sebagai sekutu daripada musuh.
"Aku setuju," ucap Raja akhirnya. "Kau akan menjadi Ksatria Penjaga Bunga bagi Solavita. Layani dia, dan pastikan ia selalu bahagia dan sehat untukku."
"Sebagai yang Mulia perintahkan," jawab Kaelan sambil menunduk dalam-dalam, hatinya campur aduk antara lega dan cemas.
Esoknya, Solavita dibawa ke istana dengan protokol kerajaan. Ia kebingungan dan ketakutan, hingga ia melihat sosok familiar yang setia di sampingnya, mengenakan armor baru dengan lambang bunga bulan yang merupakan lambang barunya.
"Tenang, Vita," bisik Kaelan lembut, membimbingnya dengan tangan yang sangat pelan. "Kakak ada di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu menjagamu, bahkan di dalam sangkar emas ini."
Solavita memandang kakaknya, dan meski ketakutan, ia melihat janji yang sama yang selalu ia lihat: perlindungan tanpa syarat. Perjalanan baru mereka pun dimulai. Kaelan kini bukan lagi hanya ksatria yang mengabdi pada raja, tetapi menjadi perisai hidup bagi adiknya, berjaga-jaga di antara kemewahan istana yang menyimpan banyak keinginan dan bahaya, sambil terus berharap dapat menyembuhkannya dan suatu hari nanti membebaskannya kembali.
***
Keputusan Raja Valerius untuk menjadikan Solavita sebagai selir yang dijaga ketat oleh kakaknya sendiri menjadi buah bibir di seluruh istana. Kabar bahwa mereka adalah saudara kandung menyebar seperti api, dibumbui dengan berbagai spekulasi tentang penyakit misterius Solavita dan kesetiaan buta Kaelan.
Banyak yang mengagumi ikatan mereka. Para prajurit muda melihatnya sebagai pengorbanan tertinggi seorang ksatria. Namun, di balik tirai sutra dan dalam lingkaran kekuasaan, banyak pula yang merasa tersaingi. Para bangsawan yang ingin mencuri favorit raja dan para ksatria yang iri dengan posisi khusus Kaelan mulai memandangnya dengan sinis.
Raja, yang masih terpesona oleh Solavita, sering kali mengunjungi paviliunnya yang terpencil. Suatu sore, setelah Raja menghabiskan waktu bersamanya, Kaelan mendekati dengan hormat.
"Yang Mulia," mulanya Kaelan, suaranya rendah namun tegas. "Hamba mohon izin untuk menyampaikan sesuatu yang sangat riskan."
"Katakanlah, Kaelan. Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Raja sambil mengamati pedang barunya.
"Ini tentang Solavita, Yang Mulia. Kondisinya... sangat rapuh. Radiasi sihir yang merasukinya telah melemahkan seluruh unsurnya. Kehamilan... bisa menjadi beban yang terlalu berat bagi tubuhnya. Bisa membahayakan nyawanya." Kaelan memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati, mencampurkan kebenaran dengan sedikit exaggerasi untuk melindungi adiknya. "Hamba, sebagai penjaganya, sangat khawatir. Hamba mohon, demi keselamatannya, Yang Mulia dapat mempertimbangkan untuk... tidak menghamili dia."
Raja Valerius terdiam. Nafsu dan keinginannya untuk memiliki keturunan dari kecantikan yang begitu sempurna bertarung dengan kenyataan yang disampaikan Kaelan. Dia melihat ketulusan dan kekhawatiran mendalam di mata ksatria itu. Kehilangan Solavita karena kehamilan adalah hal terakhir yang diinginkannya.
"Peringatanmu kuterima, Kaelan," ujar Raja akhirnya dengan berat. "Aku setuju. Kesehatan Solavita adalah yang utama."
Kaelan menghela napas lega yang dalam. Itu adalah satu pertempuran yang dimenangkannya.
Raja pun memerintahkan sebuah paviliun kecil yang indah, "Paviliun Bulan Purnama", dibangun di tepi taman kerajaan, agak terpisah dari istana utama. Di sinilah Solavita tinggal, dengan Kaelan dan beberapa pelayan setia yang dipilihnya sendiri. Paviliun itu dikelilingi taman bunga yang tenang dan kolam air jernih, menciptakan suasana yang menenangkan untuknya.
Namun, perlindungan dan perlakuan khusus ini justru menjadi bumerang. Raja memberikan hadiah-hadiah mewah: gaun dari sutra langka, perhiasan yang memancarkan cahaya lembut, dan ramuan-ramuan kesehatan terbaik yang hanya diperuntukkan bagi selir-selir favorit. Perhatiannya yang hampir setiap hari tertuju pada Paviliun Bulan Purnama membuat Selir-Selir lain, yang berjumlah delapan belas orang dan masing-masing telah memberinya anak, menjadi cemburu dan iri hati.
Mereka, yang telah bertahun-tahun berjuang untuk mendapatkan perhatian Raja, kini disaingi oleh pendatang baru yang bahkan tidak pernah menghadiri pesta atau pertemuan kerajaan, dan selalu bersembunyi di balik pengawalan sang kakak.
"Lihatlah itu, dia bahkan tidak bisa menerima tamu. Apa istimewanya?" desis Selir Odora, ibu dari pangeran ketiga, dari balik jendela kamarnya yang menghadap ke paviliun Solavita.
"Dia hanya pura-pura sakit untuk memikat Raja. Dan kakaknya itu... dia seperti anjing penjaga yang galak," tambah Selir Livia dengan nada menghina.
Rasa cemburu mereka mulai berubah menjadi rencana jahat. Mereka mengirim pelayan untuk memata-matai, menyebarkan desas-desus bahwa Solavita menggunakan sihir untuk memikat Raja, dan bahwa Kaelan sebenarnya berambisi merebut takhta melalui adiknya.
Kaelan menyadari semua ini. Matanya yang waspada menangkap setiap pandangan sinis, setiap bisikan yang tiba-tiba terhenti saat ia lewat. Rasa posesifnya, yang berasal dari keinginan murni untuk melindungi, semakin menjadi. Ia tidak mempercayai siapa pun di istana ini, kecuali Solavita dan dirinya sendiri.
Setiap malam, ia berjaga di depan kamar Solavita, pedangnya terhunus, siap menghadapi bahaya apa pun yang mungkin datang dari kegelapan, atau bahkan dari dalam tembok istana yang berkilau ini. Istana telah menjadi sangkar emas yang indah, tetapi bagi Kaelan, itu adalah medan perang baru tempat ia harus terus berjuang untuk melindungi bunga paling berharganya.