Customize readability
Aa

Ramen & Cinta Lama

Summary

Sinopsis Yu Jin (29) adalah seorang manajer proyek ambisius dengan hidup yang tertata rapi seperti kemeja putihnya yang selalu sempurna. Ia percaya, cinta hanya akan menghambat karier dan kesuksesan. Namun, hidupnya yang terencana mendadak berantakan ketika ia bertemu kembali dengan Min Jun (30), mantan kekasihnya yang ia putuskan tujuh tahun lalu karena dianggap terlalu 'santai' dan tidak punya ambisi. Anehnya, kini Min Jun adalah seorang koki tampan yang karismatik dan pemilik kedai ramen sederhana yang sukses di seberang kantornya. Aroma ramen Min Jun yang menggoda tak hanya mengganggu fokus Yu Jin saat bekerja, tetapi juga membangkitkan kenangan masa lalu yang ia coba lupakan. Saat perusahaan Yu Jin berniat membeli kedai ramen Min Jun untuk ekspansi, Yu Jin terperangkap di antara dua pilihan: memperjuangkan karier impiannya atau membantu pria yang masih dicintainya. Di tengah "perang" antara kesibukan kantor dan pesona kedai ramen, keduanya harus berhadapan dengan kesalahpahaman masa lalu dan menyadari bahwa api asmara di antara mereka tak pernah padam. Akankah Yu Jin melepaskan segalanya demi cinta atau memilih jalan yang sudah ia rencanakan?

Genre
Romance
Author
MF
Status
1yr ago
Chapters
1
Rating
n/a
Age Rating
18+

Bab 1 Aroma dari Seberang Jalan

Udara Seoul di akhir musim gugur terasa dingin dan tajam, menusuk hingga ke tulang. Tapi tidak ada yang lebih tajam dari sorot mata Yu Jin (29) saat ia meninjau desain interior untuk proyek terbaru di tabletnya. Ia mengenakan blus sutra berwarna gading, blazer hitam yang terbuat dari bahan terbaik, dan rok pensil yang jatuh sempurna di atas lututnya. Rambutnya diikat ekor kuda yang ketat, tanpa ada satu helai pun yang berani keluar dari tempatnya. Bagi Yu Jin, hidup adalah tentang presisi, efisiensi, dan kesempurnaan. Ia adalah salah satu manajer proyek termuda dan paling menjanjikan di firma desain Luxuria.

Ponselnya berdering, menampilkan nama bosnya. "Ya, Pak Direktur?" suaranya profesional. "Ya, saya sudah mengirimkan layout terbaru. Saya akan segera menuju lokasi untuk memastikan semuanya sesuai rencana." Ia menutup telepon, menghela napas, dan menatap ke luar jendela kantornya di lantai 10. Pemandangan kota yang sibuk, dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, memberikan kepuasan tersendiri. Namun, di antara semua beton dan kaca itu, ada satu hal yang mengusik ketenangannya—sebuah kedai ramen kecil dengan fasad kayu yang sederhana dan lentera merah yang tampak mencolok.

Kedai itu baru dibuka seminggu yang lalu. Yu Jin tidak memedulikannya. Ia hanya melihatnya sebagai hambatan visual yang aneh. Hingga hari ini, saat ia buru-buru menyeberangi jalan, pikirannya dipenuhi dengan deadline dan kritik dari atasannya. Ia tidak melihat trotoar yang tidak rata, kakinya tersandung, dan ia jatuh. Tas kulitnya terlepas dari bahu, dan isi tasnya, termasuk dokumen penting untuk rapat, berhamburan di atas aspal.

"Ya Tuhan!" umpatnya, wajahnya memerah karena malu dan marah. Ia segera bangkit dan mulai mengumpulkan dokumennya, tak peduli dengan luka di telapak tangannya.

"Kau tidak apa-apa?" sebuah suara lembut terdengar dari belakangnya.

Yu Jin mendongak. Di depannya berdiri seorang pria dengan celemek koki yang sedikit kotor, tangannya memegang semangkuk ramen yang masih mengepul. Mata pria itu melengkung membentuk senyuman di balik masker yang ia kenakan. Entah mengapa, ada sesuatu yang sangat familiar dari matanya. Mata yang ramah, hidung yang mancung, dan senyuman yang hangat. Jantung Yu Jin berdebar kencang, sebuah sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Aku... aku baik-baik saja," jawab Yu Jin terbata. Ia mengambil kembali dokumen terakhirnya dari tangan pria itu.

Pria itu melepas maskernya, dan Yu Jin merasakan dunia di sekitarnya berhenti. Wajah itu, dengan lesung pipi yang samar dan tawa yang selalu terlihat santai, adalah wajah yang ia lihat di mimpi-mimpinya selama bertahun-tahun. Itu adalah Min Jun (30), pria yang ia tinggalkan tujuh tahun lalu.

Min Jun tersenyum. "Kau masih jatuh di tempat yang sama, ya?" candanya, menunjuk ke titik di mana Yu Jin tersandung. Itu adalah tempat yang sama di mana mereka berciuman untuk pertama kalinya.

Wajah Yu Jin berubah dari merah karena malu menjadi putih pucat. "Aku tidak jatuh! Aku hanya tersandung!" Ia segera bangkit, mengabaikan Min Jun, dan berlari menuju gedung kantornya tanpa menoleh. Di belakangnya, Min Jun hanya bisa tertawa pelan, menatap punggung Yu Jin yang menghilang di pintu kaca.

Sejak hari itu, aroma ramen Min Jun menjadi bagian dari hidup Yu Jin. Aromanya tercium hingga ke kantornya, dan setiap kali ia menciumnya, kenangan masa lalu menyeruak. Saat ia makan siang dengan rekan kerjanya di kafe mewah, ia hanya bisa memikirkan ramen. Saat ia lembur, perutnya bergejolak, seolah menuntut sesuatu yang hanya bisa ditemukan di seberang jalan.

Suatu malam, deadline proyek membuatnya terpaksa bekerja hingga lewat tengah malam. Timnya sudah kelelahan dan kelaparan. "Bagaimana kalau kita pesan jjajangmyeon?" tanya juniornya, Mina.

"Tidak. Aku ingin pasta," jawab Yu Jin tegas, berusaha menyingkirkan bayangan semangkuk ramen yang mengepul dari pikirannya.

Saat mereka menunggu pesanan, pintu kantor tiba-tiba terbuka. Min Jun masuk, membawa sebuah panci besar yang masih mengepul, dan senyum yang tulus. "Aku melihat lampu kantor kalian masih menyala, jadi aku pikir kalian mungkin kelaparan," katanya. "Ini ramen spesial, ekstra pedas, biar kalian semangat lagi."

Yu Jin ingin menolak, tapi ia melihat mata Mina dan rekan-rekan lainnya yang berbinar-binar. Akhirnya ia menghela napas, menyerah. Min Jun menuangkan ramen ke dalam mangkuk untuk semua orang, termasuk Yu Jin.

Ia menyerahkan mangkuk itu, dan pandangan mereka bertemu. "Makanlah, sunbae," bisik Min Jun.

Yu Jin membuang muka, tapi ia mencicipi ramen itu. Kuahnya kaya, mienya kenyal, dan toppingnya sempurna. Itu adalah ramen terenak yang pernah ia makan. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menatap Min Jun yang sedang mengobrol santai dengan timnya. Yu Jin menyadari, di balik celemek koki dan senyum santainya, Min Jun tampak jauh lebih bahagia daripada ia yang selalu mengenakan kemeja putih sempurna. Ia telah menemukan jalan hidupnya, sementara Yu Jin masih mencari-cari. Atau, apakah Yu Jin sudah menemukan jalannya, namun ia terlalu takut untuk mengakuinya?

Rasa ramen itu, hangat dan familiar, perlahan mulai mencairkan lapisan es yang membungkus hatinya selama bertahun-tahun.

Sejak malam itu, Yu Jin menemukan dirinya memiliki rutinitas baru yang tidak pernah ia duga. Setiap kali lembur, ia akan diam-diam memesan ramen dari kedai Min Jun. Awalnya ia melakukannya karena lapar. Lalu, karena timnya selalu meminta. Dan akhirnya, ia melakukannya karena... ia ingin. Bukan hanya karena ramennya, tapi juga karena Min Jun selalu mengantar sendiri pesanannya, memberikan senyum, dan menyisipkan catatan kecil yang konyol di bawah mangkuk.

"Ramen ini dibuat dengan resep rahasia yang tidak boleh dicicipi oleh musuh. Kecuali kau."

"Jangan lupa makan. Perut kosong tidak akan membuat desainmu lebih baik."

Catatan-catatan itu membuatnya tersenyum sendiri. Sebuah senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya. Rekannya, Mina, memperhatikan perubahan itu. "Yu Jin-ssi, kau terlihat lebih ceria akhir-akhir ini," goda Mina. "Apakah ramen itu punya efek sihir?"

Yu Jin hanya mendengus, berusaha terlihat tidak peduli. "Hanya kebetulan," jawabnya singkat.

Namun, "kebetulan" itu segera berubah menjadi tantangan yang serius.

Suatu pagi yang cerah, Direktur perusahaan memanggil Yu Jin ke ruangannya. "Yu Jin, ada proyek besar yang harus kau tangani," katanya, wajahnya berbinar. "Perusahaan kita akan mengakuisisi lahan di seberang jalan untuk ekspansi. Kita akan membangun kantor pusat baru yang lebih megah."

Jantung Yu Jin berhenti berdetak. Ia sudah tahu maksud direktur. Itu artinya, kedai ramen Min Jun, yang kini menjadi favoritnya, harus digusur.

"Aku ingin kau menjadi negosiatornya," lanjut Direktur. "Kau adalah yang terbaik dalam hal ini. Datanglah dengan tawaran yang tak bisa mereka tolak. Aku yakin, kau bisa melakukannya."

Yu Jin tidak bisa berkata-kata. Ia hanya mengangguk kaku, menerima tumpukan dokumen yang disodorkan Direktur. Selama ini, ia tidak pernah menolak tugas apa pun, tidak peduli seberapa sulitnya. Tapi kali ini, ia merasa tangannya gemetar. Tanggung jawabnya sebagai seorang profesional bertabrakan dengan perasaannya yang rumit terhadap Min Jun.

Sore itu, ia memberanikan diri menemui Min Jun di kedainya. Aroma kaldu ramen yang hangat menyambutnya. Beberapa pelanggan tampak menikmati hidangan mereka. Min Jun yang sedang sibuk meracik ramen mendongak dan tersenyum melihat kedatangan Yu Jin.

"Yu Jin! Datang sendiri? Ada apa? Mau makan atau mau memesan untuk lembur?" tanyanya riang.

Yu Jin duduk di bangku di depan konter. "Min Jun-ah... ada yang harus kubicarakan," suaranya serak. Ia mengeluarkan dokumen yang diberikan Direktur.

Min Jun mengernyitkan dahi. Ia mengambil dokumen itu dan membaca judulnya: "Penawaran Akuisisi Lahan". Senyum di wajahnya memudar. Ia menatap Yu Jin, dan mata mereka bertemu. Yu Jin bisa melihat kekecewaan yang samar di mata Min Jun, yang segera ia tutupi dengan senyum tipis.

"Jadi... ini pekerjaanmu sekarang?" tanya Min Jun, suaranya tenang, tapi Yu Jin bisa mendengar nada getir di sana. "Kau datang untuk menggusur kedai ramenku?"

"Tidak! Aku tidak mau ini. Tapi Direktur... dia memintaku yang melakukannya," jawab Yu Jin, merasa putus asa. "Aku tidak akan membiarkan ini terjadi. Aku akan membantumu mencari solusi."

Min Jun menaruh kembali dokumen itu di atas konter. Ia menghela napas panjang. "Yu Jin-ah," katanya, menatapnya lurus. "Dengar, aku tahu kau hanya menjalankan tugasmu. Tapi kedai ini... ini bukan hanya bangunan. Ini adalah impianku. Ini adalah hasil kerja kerasku selama bertahun-tahun. Aku tidak akan menjualnya."

Penolakan Min Jun terasa seperti tamparan bagi Yu Jin. Di satu sisi, ia merasa lega karena Min Jun tidak menyalahkan dirinya. Di sisi lain, ia merasa tertekan. Apa yang harus ia lakukan? Ia adalah negosiator terbaik, dan ia tidak mungkin pulang dengan tangan kosong.

Malam itu, Yu Jin tidak bisa tidur. Ia memandangi foto-foto Min Jun dan dirinya saat masih mahasiswa, ketika hidup mereka masih sederhana dan penuh tawa. Min Jun yang ambisius dengan mimpinya menjadi koki, dan Yu Jin yang bermimpi menjadi arsitek hebat. Mereka pernah berjanji akan membangun masa depan bersama. Namun, Yu Jin memilih jalan yang berbeda, jalan yang lebih terjamin dan aman. Ia mengorbankan impiannya dan juga cinta mereka.

Kini, nasib mereka kembali terikat oleh sebuah kedai ramen. Yu Jin tahu, ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa membiarkan mimpinya menghancurkan mimpi Min Jun untuk kedua kalinya. Tapi bagaimana caranya?

Let MF know what you thought about this chapter!
Love this

0

Love this

Funny

0

Funny

Spicy

0

Spicy

Suspenseful

1

Suspenseful

Emotional

0

Emotional

Profound

0

Profound

Heartwarming

0

Heartwarming

Shocking

0

Shocking

Good Writing

1

Good Writing

Compelling Plot

0

Compelling Plot

Great Character

0

Great Character

Strong Dialog

0

Strong Dialog

Further Recommendations

PARIS IN THE DARK

Sasha: Love this kind of romantic stories, very good one.

Read Now
Fated to My Ex- Best Friend

Kelley: Love the story line! Ryder needs to getvhiavhead out of his ass tho!

Read Now
Crowned in Blood: Fated to the enemy

Happiness Aghogho: I love this.... so thrilling. Looking forward to the end

Read Now
The zatorian

jo987_123: This is a good story, but it needs a good editor to go through this iteration and fix the mistakes. The pov changes from 1st person to 3rd person, often, and sometimes within one sentence. It needs a liberal sprinkling of punctuation marks throughout, and a decision needs to be made about the char...

Read Now
The Easter Bunny

Mia: Really nice story

Read Now
Rebuilding After Betrayal

Evodia Naah: I love this and honestly I didn’t want it to end🤗Absolutely worth the read!!

Read Now
The Heir's Shadow

Biva: Quite good for a novella. Impressive writing style and we'll edited. Just one thing- Karla keeps referring herself to a stray cat and while at first it makes sense the analogy gets stale after a while.

Read Now
Half-Claimed

Saraa: Hey! I really enjoyed your story. It made me wonder how you actually write. Are you someone who plans everything in advance, or do you discover the story as the chapters unfold?

Read Now
Between the Whistle and the Quiet (Book #1 in The Reapers & Roses Series)

IsadoraTorrez: I enjoy this genre so it caught my eye while searching for books to read. The characters are portrayed so well,with real emotions and problems. I love that the little boy brought Madi and Luca together and in spite of the traumatic event that happened to Madi, this book is a feel-good book filled wi...

Read Now