Om Agam[21+]

All Rights Reserved ©

Summary

Setelah Ayahnya meninggal, Aleta hidup bersama Ibunya, Amela. Keduanya mampu melewati masa duka dan kembali melanjutkan hidup. Segalanya berjalan baik sampai di suatu malam, Aleta secara tak sengaja menemukan Ibunya tengah 'bermain' dengan Pamannya, Om Agam! Lebih buruk lagi, di tengah aksi, Om Agam sempat meliriknya, mengetahui bahwa dirinya telah mengintip mereka! Sejak malam itu, hidup Aleta berubah, dia menjadi bagian dari hubungan gelap ini, dimana ketiganya memiliki rahasia yang sama-sekali tak boleh bocor ke luar.

Genre
Erotica
Author
holyhole
Status
Ongoing
Chapters
1
Rating
n/a
Age Rating
18+

Part 1. Kepergian Ayah

Cuaca tampak mendung, sementara suasana duka menyelimuti sekitar saat mereka berkumpul di area pemakaman. Aleta harus menompang Ibunya di samping, yang menangis, meratapi kepergian suaminya.

Menatap pada peti jenazah yang akan dikebumikan, Aleta tak bisa menahan rasa haru saat air matanya jatuh ke pipi.

Ayahnya, yang selalu peduli dan penuh kasih, kini sudah tiada, meninggalkan dia dan Ibunya.

Tak pernah dalam benaknya, Aleta berpikir akan ditinggal secepat ini. Rasanya baru kemarin mereka berkumpul di meja makan, tertawa bersama.

Kini, ayahnya terbaring di dalam peti, diturunkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Ayahnya meninggal karena kecelakaan saat hendak berangkat kerja. Mobil yang dikendarainya ditabrak oleh truck yang remnya blong.

Setelah dirawat intensif selama tiga hari, dokter menyatakan bahwa ayah tak selamat, pendarahan di otak telah menjadi penyebab kematiannya.

Berita itu membuat Aleta seperti disambar petir, dia merasa dunianya telah runtuh. Namun, ada orang lain yang mungkin lebih terpukul darinya, yakni Ibunya.

Melihat ratapan kesedihannya, Aleta sebagai anak semata wayang, harus menguatkan Ibunya. Dia dengan paksa menekan kesedihannya sendiri untuk bisa menyokong Ibunya, membantunya melewati cobaan ini, meski dia sendiri pun terluka karenanya.

Kini, melihat peti ayahnya dikubur, hilang ditelan bumi, Aleta tak bisa menahan diri saat dia membenamkan wajahnya ke dada Sang Ibu, menangis dalam diam.

Keduanya saling berpelukan, mencurahkan kesedihan pada air mata yang turun, melepas kepergian orang tersayang.

Yang lain menatap keduanya dengan iba. Saudara, paman, bibi, tetangga dan kerabat lain dari dua belah pihak keluarga berkumpul, menghadiri pemakaman.

Seorang wanita dewasa datang menghampiri, memeluk keduanya. “Aku ikut berduka, yang kuat ya kalian.”

Aleta mendongak, melihat Mbak Risa, Bibinya. “M-Makasih Bibi.”

“K-Kamu jangan lemah Ale, kamu pasti bisa lewatin ini.”

Suara lain menyahut, Aleta menoleh, melihat sepupunya, Karina, mencoba memberi dukungan. Namun, melihat wajahnya yang juga penuh air mata, Aleta tersenyum kecil, merasa sedikit terhibur.

Mengangguk ringan, Aleta menjawab. “Iya, Karin, aku akan kuat kok.”

Karina tersenyum mendengarnya, dia melompat untuk memeluknya, dan Aleta memeluk balik.

Bibi Risa membantu menompang Ibunya, membawanya ke mobil. Pemakaman telah selesai, mereka harus segera kembali ke rumah, sebelum turun hujan.

Di tengah pelukan, Aleta merasakan sebuah tangan yang menepuk lembut kepalanya. Mendongak, dia menatap seorang pria dewasa. “Om Agam?”

Pria yang disapa Om Agam itu tersenyum sedih. “Bener kata Karin, kamu harus kuat, mungkin butuh waktu, tapi kita akan selalu ada buat kalian.”

Karina mengangguk mendengar perkataan Ayahnya. “Itu bener, aku akan selalu ada buat kamu dan Bibi Amela.”

Aleta merasa terharu mendengarnya, dia menyeka air matanya, tersenyum. “Makasih Om.”

Agam balas tersenyum, membelai lembut kepala keponakannya. “Iya, kamu nggak usah khawatir soal yang lain, fokus sekolah aja, Om akan bantu penuhi kebutuhan kalian.”

Mata Aleta melebar, dia menunduk, bergumam lemah yang disertai air mata. “M-Makasih Om, m-makasih banget.”

Agam tersenyum. “Ya sudah, ayo pulang, bentar lagi hujan kayaknya.”

Karina menyeret Aleta pergi, ketiganya berjalan menyusul sanak keluarga lain yang sudah duluan, kembali ke rumah duka.

Sebagaimana mestinya orang yang baru kehilangan, hari-hari Aleta dan Ibunya diwarnai kesedihan.

Banyak barang dan tempat yang menyimpan kenangan semasa ayahnya hidup.

Di ruang tamu, dapur, teras dan berbagai sudut tempat di rumah, Aleta merasa seolah ayahnya masih ada di sana, masih menjadi bagian dari mereka.

Hal itu otomatis akan memantik rasa rindu dan membawa kesedihan pada dia dan Ibunya.

Tapi syukurlah mereka tak sendiri, ada orang lain yang mengisi hari-hari duka mereka.

Karina misalnya, mereka adalah sepupu dan seumuran, mereka bahkan sekolah dan menempati kelas yang sama, duduk berdampingan.

Sepupu yang berisik itu membuat Aleta lebih cepat sembuh. Satu-satunya yang Aleta khawatirkan adalah Ibunya, yang hampir sepanjang hari ada di rumah, sendirian.

Meski terkadang Bibi Risa hadir menemani, dia tak bisa terus ada untuknya.

Jika tak ada hal penting, Aleta akan memilih untuk tetap di rumah, menemani Ibunya. Dia hanya berharap agar Ibunya bisa kembali seperti dulu.

Syukurlah, perlahan namun pasti, Aleta melihat Ibunya tampil lebih baik hari demi hari.

Istilah yang mengatakan waktu adalah obat terbaik ternyata benar! Perlahan kami berdua mulai berdamai dengan kondisi, menerima kenyataan akan kepergian orang yang kami sayangi.

Pada akhirnya, kami kembali melanjutkan hidup, Ibunya kembali sebagai ibu rumah tangga dan Aleta sibuk dengan sekolahnya.

Mereka tak perlu khawatir soal uang, Om Agam telah berdiri untuk menyokong hidup mereka. Setidaknya sampai Aleta lulus kuliah dan mulai bekerja.

Aleta sangat bersyukur, memiliki kerabat yang begitu baik. Dia berjanji akan membalas kebaikan mereka di masa depan.

Waktu berlalu dan kini sudah hampir setahun berlalu sejak kepergian Sang Ayah. Aleta kini sudah kelas tiga SMA, sebentar lagi lulus.

Dia dan sepupunya, Karina, sepakat untuk berkuliah di Universitas yang sama, meski berbeda jurusan.

Hari sudah malam, Aleta kini tengah berada di dalam kamarnya, di atas kasur, menatap layar laptopnya, dengan giat membaca berbagai jurnal.

Dirinya ingin selangkah lebih jauh dari para mahasiswa baru lain nanti, karenanya, dia sudah mulai memperlajari berbagai mata kuliah secara otodidak.

Lelah, Aleta secara tak sadar tertidur, dia kembali membuka mata setelah beberapa jam kemudian.

Laptopnya masih menyala, dia melihat bahwa sekarang sudah pukul 02:15 pagi.

Bangkit, Aleta membuka jendela kamarnya yang berada di lantai dua, melihat bahwa hari memang sudah gelap.

Dia meletakkan laptopnya ke meja belajar, pergi keluar kamar, berniat untuk mengambil minum.

Namun, langkahnya terhenti ketika dia merasa mendengar sebuah suara, tak jelas, tapi dia tampak akrab dengan suara itu.

Berjalan perlahan, suara itu terdengar semakin jelas, sampai Aleta tahu bahwa itu adalah suara Ibunya!

“Mamah?” gumamnya pelan.

Alisnya berkerut saat dia merasa suara itu tampak aneh, seperti ada dua jenis suara yang tumpang tindih. Suara pertama tampak seperti suara gumaman Ibunya, sedangkan yang terakhir terdengar seperti benda tumpul empuk yang bertabrakan.

Aleta melangkah lebih dekat, berjalan perlahan, seolah takut langkahnya akan menghasilkan suara.

Hati Aleta bergetar saat dia menyadari bahwa suara Ibunya bukanlah sebuah gumaman, tapi lebih seperti rintihan!

Aleta menelan ludah sementara keningnya sudah berkeringat dingin, dia memiliki tebakan tertentu tapi segera membuangnya, berpikir bahwa itu adalah hal yang mustahil untuk terjadi.

Perlahan, dia berjalan sampai tangga.

Seketika, jantung Aleta tenggelam sementara matanya terbuka lebar. Dari atas, dia bisa melihat apa yang terjadi di bawah.

Di ruang keluarga, dia atas sofa, dia melihat Ibunya telan****, membungkuk, menungging dengan pantatnya yang mencuat. Di belakangnya, seorang pria tinggi, berbadan tegap, memegang pinggangnya, menabrakkan pinggulnya ke pantat Ibunya!

Tubuh Aleta terasa lemas, dia memegang pegangan tangga, perlahan jatuh ke lantai.

Dia bukan anak polos yang tak tahu apa yang tengah terjadi. Di bawah, Ibunya sedang berhubungan se**!

Aleta dengan paksa menekan rasa gugupnya, dia melihat kepada dua pasangan yang tengah ka***.

Meski lampu ruang keluarga dimatikan, cahaya lampu dari dapur sedikit menerangi area itu.

Memfokuskan pandangan, tubuh Aleta bergetar saat dia mengenal wajah pria yang sekarang sedang menung**** Ibunya, itu adalah pamannya sendiri, Om Agam!