Ghost House - SAMPLE

Summary

Ghost House by Peony

Genre
Lgbtq
Author
secretfoxy
Status
Complete
Chapters
11
Rating
n/a
Age Rating
18+

Prolog

'Tubuhnya mungkin mati, tetapi jiwanya masih tetap berada di tempat yang sama.’


"Ayah... Ibu... kenapa kamu tidak kembali? Kenapa kamu meninggalkannya di sini?"

Jeritan pilu menggema dari dalam sebuah rumah dua lantai yang asing. Rumah itu berdiri di ujung jalan sepi, dikelilingi halaman yang ditumbuhi semak belukar dan tak terawat. Bahkan rumah di sebelahnya telah lama terbengkalai, konon berhantu setelah majikan mudanya meninggal karena sakit.

‘Khwanjira' atau ‘Rak’, masih menunggu di sini untuk orang-orang yang dicintainya. Meskipun lebih dari sepuluh tahun telah berlalu, ia tidak pernah putus asa untuk bertemu kembali dengan orang tuanya.

Tubuhnya telah lama layu dan tak bernyawa, tetapi tidak seorang pun tahu bahwa jiwanya masih terperangkap, tidak dapat pergi—terikat untuk menunggu apa yang telah dirindukannya di saat-saat terakhir sebelum kematiannya.

Tangisannya… tidak peduli seberapa keras dan menusuk, jika mereka terperangkap di dalam lubang hitam terdalam di alam semesta, tidak seorang pun akan dapat mendengarnya.

Hanya ia sendiri yang bisa merasakan kekosongan itu—kekosongan yang memiliki bentuk, kekosongan yang dipenuhi emosi. Meskipun jiwanya tenggelam ke kedalaman laut yang gelap gulita, perjuangannya untuk berenang kembali ke permukaan tidak pernah berkurang.

"Hei! Hantu wanita Ju-on... roh jahat macam apa yang membiarkan anjing buang air besar di depan rumahnya?!"

Teriakan keras menggema dari jalanan kumuh di luar gerbang, menyentakkan jiwa murungnya dari lamunannya yang tak karuan. Mata Khwanjira yang terkejut melotot panik, mencari sumber suara itu.

Namun, ketika ia menemukannya, jantungnya hampir berhenti berdetak—tatapan dari bawah menatap balik lurus ke arahnya. Dan saat itu, segudang pertanyaan berkecamuk di benaknya.

Dia bisa… melihatku?

“Apa yang terjadi…apakah dia benar-benar bisa melihatku?”

Hantu kecil itu, mengenakan pakaian tua yang compang-camping, menunduk memandang dirinya sendiri, lalu kembali menatap wanita di bawahnya. Hari sudah sangat siang, tetapi karena ini wilayah kekuasaannya, mungkin seseorang dengan kekuatan mistis atau indra keenam bisa melihatnya.

Namun, seperti apa wanita ini? Apakah dia benar-benar melihatnya... atau dia hanya bicara omong kosong pada dirinya sendiri?

"Kamu! Ju-on! Dasar hantu serangga goreng bodoh! Aku akan mencuci sepatuku dan kembali untuk mengutukmu sampai telingamu berdenging! Sebaiknya kamu tunggu aku. Hantu tidak berguna macam apa yang bahkan tidak menjaga rumahnya sendiri? Roh tidak berguna sepertimu seharusnya dimasukkan ke dalam botol sabun cuci piring dan dikocok sampai kamu berderak seperti dadu. Tunggu saja!"

Wanita jangkung dan ramping itu menunjuk langsung ke arahnya dengan wajah yang berubah marah, membuat gadis hantu itu tersentak kaget karena amarahnya yang meledak-ledak.

Lalu wanita itu menghentakkan kakinya ke rumput yang tumbuh liar di depan rumah itu sebelum berlari kencang menyusuri jalan, sambil terus bergumam keras seolah-olah ingin memastikan hantu itu dapat mendengar setiap kata-katanya.

"Dasar wanita gila! Beraninya kamu mengutukku tiba-tiba? Tapi tunggu—bagaimana kamu bisa melihatku? Apa kamu punya indra keenam atau semacamnya?"

Khwanjira menempelkan tangannya ke dada, menatap sosok itu dengan perasaan terkejut sekaligus heran.

Orang gila itu benar-benar bisa melihatnya.

Tatapan mata tajam itu tertuju padanya tanpa berkedip, bahkan sedetik pun. Pikiran itu menggugah sesuatu dalam dirinya, dan senyum tipis kebahagiaan muncul di wajahnya yang pucat. Meski tak bernyawa, harapan masih bersinar terang dalam tatapannya.

Khwanjira telah terlupakan selama lebih dari sepuluh tahun, terlantar di sudut tergelap dunia yang tidak pernah dilihat siapa pun. Namun hari ini... rasanya secercah cahaya akhirnya mencapainya.

Harapan mulai tumbuh kembali. Mungkin janji wanita keras kepala itu untuk "kembali" akan menjadi awal mula—kunci yang dapat membebaskan jiwanya dan memungkinkannya untuk melangkah ke alam yang lebih baik.

Yah… meskipun secercah harapan itu datang terbungkus kutukan, kegilaan, dan kewarasan pemiliknya yang tak stabil.

Sebentar lagi kita pasti akan bertemu lagi... dasar gadis keras kepala dan setengah gila.