KUTUKAN ISTRI PERTAMA

All Rights Reserved ©

Summary

seorang saudagar yang terpengaruh janda muda dan menginginkan anak dari nya, dan istri pertama yang di guna"

Status
Complete
Chapters
1
Rating
n/a
Age Rating
18+

END--BAB 17


Setelah penuntasan dendamnya, Dewi kini benar-benar tenang. Namun kehadirannya masih terasa di desa, di rumah baru Lastri, di kebun, dan bahkan di setiap mimpi mereka yang tersisa. Lastri, yang selama ini menjadi sumber kecemburuan dan keserakahan, mulai merasakan tekanan supranatural yang semakin kuat. Bayangan Dewi muncul, aroma melati menyengat memenuhi udara, dan bisikan lembut tapi tegas terdengar menembus dinding dan kabut pegunungan.

Suatu malam, kabut tebal menggulung di pekarangan rumah Lastri. Ia terbangun oleh suara lembut namun tegas yang membekukan seluruh tubuhnya:“Ini… milikku.”

Bayangan putih Dewi berdiri di ujung kamar, menatap Lastri dengan mata penuh kesedihan dan ketegasan. Seluruh udara di ruangan seakan menekan dada Lastri, membuat napasnya tersengal. Ia mencoba berlari ke pintu, namun tangan tak kasat mata menahan langkahnya. Rasa panik dan ketakutan merasuk hingga ke tulang.

Esok paginya, rumah Lastri kosong. Hanya jejak kaki basah di tanah berlumpur dan kelopak melati berserakan di lantai. Tidak ada suara tangisan, tetapi semua yang mengetahui kejadian itu memahami: Dewi telah menuntaskan balas dendamnya, dan Lastri menghadapi akhir yang setimpal—simbolis, horor, namun tidak perlu kekerasan eksplisit.

Brahman, yang menyadari semua ini terjadi karena keserakahan dan ketidakikhlasan Lastri, kini bisa menenangkan hatinya. Ia kembali merawat kebunnya, berinteraksi dengan warga, dan menghormati ingatan Dewi dengan hati damai.

Dewi… kini benar-benar bebas. Setiap kali angin berdesir di antara pohon karet dan cengkeh, aroma melati muncul, menandakan arwahnya telah menemukan ketenangan abadi.


Epilog – Hening di Pegunungan

Beberapa bulan telah berlalu sejak malam penuntasan dendam Dewi. Desa perlahan kembali normal. Suara ayam dan kambing terdengar kembali, kabut pagi bergulung lembut di antara pohon cengkeh dan karet, dan aroma tanah basah memenuhi udara. Warga mulai membuka warung dan beraktivitas seperti biasa, meski kisah Dewi sesekali masih dibisikkan di belakang pintu dan warung kopi—cerita tentang arwah yang menegur keserakahan dan mengajarkan keikhlasan.

Brahman hidup lebih tenang. Ia sering berjalan ke kebun-kebunnya, memeriksa panenan padi, cengkeh, dan karet dengan mata damai. Rumah baru yang dibelinya untuk Lastri tetap berjarak sekitar 500 meter, menjaga jarak namun masih dalam jangkauannya. Ia belajar menyeimbangkan tanggung jawab dan kasih sayang tanpa membiarkan keserakahan menguasai hati.

Dewi hadir dalam setiap desir angin pegunungan. Tiap kali Brahman menatap ke arah kebun, ada rasa hangat yang menyelimuti hatinya. Kadang aroma melati samar menguar, seolah Dewi tersenyum dari jauh, memberi ketenangan.

Suatu sore, Brahman duduk di beranda rumah Dewi yang dulu. Matahari mulai condong ke barat, cahaya keemasan menembus celah-celah pohon karet. Ia membuka buku catatan panenan, menandai jumlah hasil panen hari itu, dan perlahan meniup seruling bambu yang dulu menjadi saksi cinta dan kesedihan mereka. Nada yang keluar lembut, hampir seperti bisikan alam.

Dari kejauhan, bayangan samar seorang perempuan terlihat berdiri di ujung kebun. Rambut panjangnya tertiup angin, pakaian putihnya memantulkan cahaya matahari senja. Senyum tipis menghiasi wajahnya—tenang, damai, dan penuh kasih.

Brahman menunduk, menutup mata sejenak, dan berbisik:“Terima kasih, Dewi… atas semuanya.”

Bayangan itu menunduk, seolah memberi hormat terakhir, lalu perlahan menghilang di antara dedaunan dan sinar senja.

Hening.Hanya desau angin yang menembus perbukitan, membawa aroma melati yang menenangkan, dan seorang pria yang kini mengerti arti kesetiaan, cinta, dan keikhlasan. Segala dendam, keserakahan, dan kecemburuan telah berakhir—digantikan oleh damai abadi.

Di desa itu, legenda Dewi tetap hidup. Bukan sebagai arwah yang menakutkan, tetapi sebagai pengingat: cinta yang tulus, kesabaran, dan keikhlasan akan selalu menang, bahkan melampaui maut.