LORONG ANTARA DUA DUNIA

All Rights Reserved ©

Summary

sosok seorang anak yang terlahir dengan terpilih dan dia tidak menginginkannya , karna ingin hidup seperti anak lainnya, namun takdir berkata lain

Status
Complete
Chapters
51
Rating
n/a
Age Rating
18+

BAB 1 — KEPULANGAN YANG TAK DIINGINKAN


Angin sore menyapu jalanan tanah yang membelah desa Ngadipuro, membawa debu tipis dan aroma kayu basah. Matahari hampir tenggelam, menjulur di balik sawah seperti bara yang disiram senja. Suasana desa mestinya hangat—anak-anak biasanya berlarian, ibu-ibu ngobrol di teras, para bapak pulang dari ladang sambil menyeret cangkul.

Tapi sore itu… sepi.Terlalu sepi.

Bram — atau Brama Kumbara, begitu nama panjangnya — berjalan perlahan di tepi jalan desa. Jaket lusuhnya penuh debu perjalanan, ransel hitam digendong sebelah, langkahnya mantap tapi matanya terus mengamati sekitar.

Ia sudah bertahun-tahun tak pulang.Dan desa ini… terasa berbeda.

Bukan berubah.Lebih seperti menghindar.

Di kiri jalan, dua ibu yang tadinya sibuk menjemur padi tiba-tiba berhenti bicara begitu melihat Bram. Wajah mereka kaku, mata membelalak samar. Salah satu buru-buru memasukkan tampah ke dalam rumah. Yang satunya menunduk dalam-dalam, seperti takut bertemu tatapan Bram.

Bram hanya menarik napas.Ia sudah menduga reaksi seperti itu.

Langkahnya berlanjut. Di depan warung kecil milik Mbah Sati, terdengar suara beberapa lelaki muda tertawa. Tapi ketika Bram melewati depan warung, suara tawa itu terputus seperti digunting. Para pemuda itu menatapnya… lama… tanpa berkata apa pun.

Bukan tatapan marah.Bukan tatapan benci.Lebih seperti tatapan orang yang mengenali luka lama… tapi takut menyebutnya.

Salah satu dari mereka akhirnya berbisik pada temannya, lirih, seolah takut suaranya terdengar Bram.

“Beneran kuwi Bram…?”(Itu benar Bram…?)

“Opo ora salah delokmu?”(Apa kamu nggak salah lihat?)

“Kok isih urip…”(Kok masih hidup…)

Kalimat terakhir itu mereka kira cukup pelan.Tapi telinga Bram cukup jeli untuk menangkapnya.

Ia tidak menoleh.Namun rahangnya mengeras.

Langkahnya makin cepat.

Semakin dekat ke rumah ibunya, semakin kuat perasaannya bahwa desa ini menyimpan bayangan yang tak pernah padam. Bukan hanya tentang dirinya…

Tapi tentang sesuatu yang dulu terjadi.Sesuatu yang membuat namanya jadi bisikan ketakutan.Sesuatu yang tak pernah benar-benar diceritakan terang-terangan oleh siapa pun.

Rumah ibunya tampak di ujung jalan. Rumah kayu tua dengan halaman kecil dan pohon mangga besar di sampingnya. Cahaya lampu minyak terlihat dari sela-sela dinding papan.

Saat Bram membuka pagar bambu, daun pintu rumah itu terbuka pelan. Seorang perempuan paruh baya berdiri di sana. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya penuh kerut, tapi matanya masih sama — hangat, teduh, seperti dulu.

Ibunya.

Mbah Raras.

Tapi senyumnya tidak langsung muncul.Ia tampak gemetar… antara bahagia dan takut.

“Bram…?” suaranya nyaris patah.

Bram mengangguk pelan.“Ibu…”

Baru saat itulah air mata Mbah Raras pecah. Ia memeluk Bram erat, seolah takut anaknya itu akan hilang lagi kalau dilepas.

Namun di balik pelukan itu, Bram bisa merasakan tubuh ibunya bergetar.Ada rasa takut.Rasa cemas.Rasa seolah sesuatu yang seharusnya tidak kembali… telah kembali bersamanya.

Saat mereka masuk ke rumah, Bram sempat menangkap bayangan seseorang mengintip dari balik pohon mangga. Sosok kecil, kurus, mungkin anak usia belasan. Tapi matanya… matanya menatap Bram seperti menatap makhluk yang tak seharusnya hidup di dunia ini.

Bram memandang balik.Anak itu langsung lari tunggang-langgang.

Dan ketika pintu rumah tertutup, Mbah Raras berkata lirih… suaranya pecah, tak sanggup menatap mata anaknya.

“Bram… kenapa kamu pulang sekarang…?Orang-orang sini… masih… masih belum bisa lupa apa yang dulu terjadi.”

Bram diam.Mengunci semua luka lama di dalam dadanya.

Perlahan, ia menjawab,“Aku pulang bukan untuk masa lalu, Bu. Aku pulang untuk kamu. Hanya itu.”

Tapi entah kenapa, angin yang lewat di sela dinding rumah terasa dingin.Dan malam pertama Bram di rumah itu terasa seperti undangan yang membangunkan bayangan lama yang tak seharusnya bangun.

Sesuatu yang selama ini disembunyikan desa itu dengan ketakutan.Sesuatu yang berkaitan dengan Brama Kumbara.Dengan darahnya.Dengan masa kecilnya.Dengan tragedi yang tak pernah mau mereka sebutkan…