Prolog
🌹 Darah Dewa di Malam Merah🌹
.
.
.
Angin musim gugur berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan harum dedaunan yang mulai membusuk. Di langit malam, bulan merah menggantung seperti mata raksasa yang mengawasi dunia dari balik kabut kelabu. Setiap kali bulan itu muncul, manusia menundukkan kepala dengan rasa takut, sebab mereka percaya itulah malam ketika dunia roh dapat menembus batas manusia.
Namun bagi sang Dewa Rubah Ekor Sembilan, malam merah adalah saat ia paling rapuh.
Di kaki gunung Tsukumori, seorang pemuda pendeta dengan jubah putih berjalan perlahan, membawa lampu minyak dan mangkuk persembahan. Langkahnya lembut, tidak pernah tergesa, seakan ia takut mengganggu keheningan. Namanya Itsuki — manusia dengan hati bersih yang selalu menjadi tempat pelarian doa banyak orang.
Pohon-pohon merunduk ketika ia lewat, seolah mereka mengenali keberadaannya. Cahaya lampu minyak menari lembut di wajahnya yang damai, membuat sosoknya tampak seperti roh suci yang turun ke tanah.
Di puncak gunung itu, bersemayam sang dewa agung—Kurohane, Rubah Ekor Sembilan dengan bulu seputih salju dan mata keemasan yang menembus kegelapan. Namun kali ini, ia tidak tampil sebagai dewa. Ia menunggu dalam wujud manusia dengan jubah hitam dan rambut sebahu, bersandar pada batu suci yang telah dilapisi lumut berusia ratusan tahun.
Kurohane menghela napas pelan, merasakan hawa manusia semakin dekat. Setiap kali Itsuki datang, jantungnya—yang seharusnya tak berdegup seperti manusia—bergetar halus.
“Kenapa kau selalu datang sendirian, Itsuki?” gumamnya lirih, senyum kecil muncul di sudut bibirnya. “Sudah kubilang, doa orang desa tidak harus dibawa olehmu setiap malam.”
Pemuda itu muncul di antara pepohonan, cahaya lampu minyak menyoroti wajah lembutnya. Ketika melihat sosok pria berjubah hitam itu, mata Itsuki membulat.
“Ah, kau di sini lagi,” ucapnya dengan nada lega. “Aku pikir malam ini kau tidak akan muncul.”
Kurohane hanya tersenyum, sebuah senyuman yang mengandung ribuan rahasia yang tak boleh diungkapkan pada manusia.
“Aku muncul ketika kau memanggilku,” sahutnya. “Dan hari ini, kau memanggilku lebih keras dari biasanya.”
Itsuki tergelak pelan. “Aku hanya… merasa ada yang mengawasiku.”
Kurohane menundukkan kepala sedikit. Tentu saja ada. Lautan roh selalu mengikuti pemuda ini tanpa ia sadari. Jiwanya terlalu terang—terlalu bersih. Mungkin karena itu Kurohane jatuh cinta padanya. Cinta yang terlarang. Cinta yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang dewa.
“Bulan merah terlalu terang,” bisik Kurohane. “Itu membuat roh-roh gelisah. Tidak ada yang bisa melukaimu selama aku di sini.”
Itsuki memandangnya dengan lembut, tatapan yang untuk sesaat membuat tubuh Kurohane hangat, sekaligus terluka.
“Kau selalu mengawasiku seperti malaikat,” kata Itsuki. “Aku kadang bertanya-tanya… siapa sebenarnya dirimu?”
Seketika, Kurohane terdiam.
Ia ingin membuka kedoknya. Ia ingin mengatakan bahwa ia adalah dewa yang dipuja oleh seluruh desa, yang sejak dahulu memerhatikan Itsuki, menjaga langkah kakinya, bahkan mengetahui setiap luka kecil di hati pemuda itu.
Namun jika ia mengaku… cinta ini akan menjadi dosa yang tak terampuni.
“Aku hanya seorang pengembara,” jawabnya pelan. “Yang kebetulan tidak bisa berpaling darimu.”
Itsuki menunduk, wajahnya memerah oleh kata-kata itu.
Lalu, di tengah keheningan yang mengikat mereka, angin berhembus keras. Kabut tebal naik dari dasar gunung, dan suara gemerisik terdengar di balik pepohonan. Kurohane merasakan hawa gelap mulai berkumpul.
Roh-roh datang.
Ia berdiri, tubuhnya menegang. “Kita harus turun. Sekarang.”
Itsuki ingin bertanya, namun sebelum sempat mengucapkan apa pun, bayangan besar berwarna hitam pekat melesat dari dalam kegelapan. Bentuknya menyerupai rubah—namun dengan tubuh terpelintir dan wajah terdistorsi oleh kebencian.
“Jangan!” seru Kurohane.
Itsuki terseret ke belakang saat Kurohane membuka tangan kanannya. Cahaya emas menyembur dari telapak tangannya, menerangi hutan dan memantulkan bayangan sosok aslinya—ekor-ekor panjang di belakang tubuhnya yang bergetar hebat.
Dalam satu helaan napas, wujud manusia Kurohane runtuh. Bulunya muncul, tubuhnya membesar, dan sembilan ekor mengembang seperti ombak cahaya di malam gelap.
Itsuki tertegun, terjatuh, dan lampu minyaknya padam.
“K-Kuro…?”
Namun sosok dewa itu tidak menjawab. Ia melompat ke depan, menerjang roh gelap dan mengoyaknya tanpa belas kasihan. Teriakan makhluk itu menggema di langit, lalu lenyap seperti asap.
Ketika semuanya kembali sunyi, hanya ada degup jantung Itsuki yang terdengar.
Rubah putih itu menatapnya dengan mata emas yang dipenuhi rasa takut—bukan takut pada roh, tapi takut pada apa yang ia lakukan di hadapan manusia yang dicintainya.
“Kau… dewa…?” bisik Itsuki tidak percaya.
Kurohane menunduk. “Maafkan aku.”
Itsuki bangkit perlahan, mendekatinya dengan langkah gemetar. Tangan kecilnya menyentuh kepala rubah besar itu. Sentuhan itu lembut, penuh penerimaan yang menusuk lebih dalam dari luka apa pun.
“Aku tidak takut,” katanya. “Kau… tetap kau. Kau yang selalu melindungiku.”
Hati Kurohane berguncang hebat.
Jika saja cinta tidak terlarang.
Jika saja seorang dewa diperbolehkan memiliki hati manusia.
Namun malam itu… ia membiarkan diri tenggelam.
Ia kembali ke wujud manusianya, mendekap Itsuki dengan tangan bergetar. “Aku tidak dapat hidup tanpamu.”
Kalimat itu—yang seharusnya tidak pernah diucapkan seorang dewa—memulai tragedi bagi dunia.
---
Bulan berlalu, tahun berganti.
Kurohane menggunakan kekuatannya untuk memperpanjang umur Itsuki. Semakin lama ia melakukannya, semakin rapuh tubuh dewa itu. Ekor-ekornya mulai kusam. Cahaya emas di matanya memudar. Ketika manusia lain melihatnya melemah, mereka menyadari sesuatu yang fatal:
Dewa mereka perlahan mati.
Ketika para pendeta menemukan Itsuki masih muda padahal seharusnya telah menua, mereka menuduhnya mencuri umur dewa. Mereka menyeretnya, menyiksanya, dan memaksanya menjadi alat untuk memanggil dewa baru.
Itsuki menangis, memanggil nama kekasihnya—namun Kurohane tak mampu muncul. Ia diseret ke dunia kegelapan oleh para roh yang murka.
Ia mati sebagai dewa terkutuk.
Itsuki mati sebagai manusia terhina.
Dan dunia tenggelam dalam dosa yang tak bisa dibersihkan.
Tetapi takdir tidak berhenti di sana.
Seribu tahun kemudian, seekor rubah kecil bermata emas lahir di hutan yang sama. Tidak tahu siapa dirinya. Tidak tahu mengapa dadanya sesak setiap kali ia melihat bulan merah.
Di tempat lain, seorang bayi lahir dengan mata kanan merah—kutukan dari leluhur yang mati tersiksa.
Dan ketika mereka tumbuh besar…
Dua takdir itu kembali saling mendekat.
Takdir seorang dewa yang ingin menebus dosa.
Dan takdir manusia yang mewarisi kutukan.
Namun kali ini, apakah cinta mereka akan menyelamatkan dunia…
atau menghancurkannya lagi?
---
.
.
.
Bersambung....