FORGET

All Rights Reserved ©

Summary

Sebuah cerita yang di dasarkan oleh kecurigaan tapi juga ketertarikan. Tak bisa pergi dan membunuh orang yang memangsa ternaknya, melainkan hanya bisa diam dan memberikannya makan setiap malam. Awalnya karena penasaran, lalu berubah menjadi ketergantungan lalu ketertarikan aneh yang semakin dalam. Tapi sebenarnya siapa, yang kini mengurung siapa?

Genre
Fantasy
Author
Liyya
Status
Ongoing
Chapters
3
Rating
n/a
Age Rating
16+

Chapter 1

Langit malam di dataran barat tak menawarkan secercah bintang. Awan hitam menggantung berat, menggulung kelam bagaikan kain kafan yang menebar peringatan. Angin menyisir rerumputan kering yang berdesis pilu, membawa aroma besi tua dan tanah basah yang akrab dan di baliknya, terselip samar-samar bau darah yang membuat hati Caleb berdesir. Ia menggenggam erat gagang senapan lamanya, kayunya sudah licin oleh peluh dan tahun. Tangan kirinya menggandeng kuat tali tiga anjing pelacaknya, Rex, Boone, dan Daisy, yang terus gelisah, moncong mereka berkedut-kedut menyaring setiap partikel ancaman di udara yang dingin.

Sudah lima ekor domba hilang dalam seminggu terakhir, lenyap tanpa suara dari kandang yang terkunci. Dua kuda pekerja terbaiknya ditemukan tiga hari lalu, hanya tersisa kerangka yang bersih mengkilap, seolah dagingnya dihisap hingga ke sumsum oleh sesuatu yang sangat efisien atau sangat lapar. Caleb tahu ini bukan serigala biasa. Sesuatu yang lebih cerdas, lebih menyeramkan, tengah berburu di tanah keluarganya yang luas itu.

Kaki-kakinya yang lelah berhenti di sebuah lapangan kecil yang terlindungi oleh semak belukar dan sebarisan pohon juniper tua yang bengkok. Kelelahan menyeret tulangnya. "Cukup untuk malam ini," gumamnya pada anjing-anjingnya, atau lebih pada dirinya sendiri. Ia mematahkan beberapa dahan kering dan dengan korek api, ia menyalakan api unggun kecil. Nyala jingga muda pun lahir, menari-nari di wajahnya yang berkulit kasar dan dihiasi bayangan-bayangan dalam. Kehangatan itu lemah, tetapi lebih baik daripada kegelapan yang menindih.

"Tenang," bisiknya lagi, saat Boone menggeram rendah, tubuhnya kaku. Caleb membelai kepala anjing herder itu, merasakan otot lehernya yang tegang. Sentuhan itu untuk menenangkan dirinya sendiri.

Ketenangan itu pecah dalam sekejap.

Geraman berubah menjadi gonggongan melengking, penuh teror dan amarah. Tali di tangannya mendadak menjadi tajam, menyayat kulit sebelum terlepas. Ketiga bayangan berbulu itu melesat bagaikan anak panah, menerjang ke dalam dinding gelap semak-semak tanpa ragu. Caleb bangkit serentak, senapan terkokang dan hati berdebar kencang di kerongkongannya.

"Ho! HEY! Kembali!" teriaknya, suaranya kasar oleh kekhawatiran dan kemarahan. Ia menyusul dengan langkah berat, menerobos semak duri yang mencakar jaketnya.

Adegan yang menyambutnya bukanlah pertarungan dengan binatang buas. Jantungnya, yang sudah bersiap untuk berburu, justru tercekat oleh kebingungan yang dalam.

Di sebuah lapangan kecil yang terbuka, di bawah sinar bulan pucat yang baru saja menembus awan, anjing-anjingnya mengerumuni seorang pemuda. Rex menggigit lengan, Boone mencakar punggung, Daisy menggeram dekat kaki. Sosok itu tergeletak, terpojok, tangan dan kakinya sudah berlumuran garis-garis merah. Namun, yang membuat nafas Caleb tersangkut adalah keheningannya. Pemuda itu tidak berteriak, tidak melawan. Dia hanya terbaring, matanya terbuka lebar menatap langit. Tatapannya... kosong. Hampa. Seperti lukisan pemandangan yang indah namun tak bernyawa. Kulitnya yang digigit seolah bukan miliknya, tidak ada keluhan kesakitan, hanya penerimaan yang mengerikan.

"DAMN IT! TURUN! SEKARANG!" raung Caleb, suaranya menggelegar di keheningan malam. Dengan kekuatan penuh, ia menarik kerah Rex, melemparkannya ke samping, menepis Boone dengan pangkal senapannya, dan mendorong Daisy dengan kakinya. Amarahnya membara, tetapi lebih kepada anjing-anjingnya. "Apa yang kalian pikirkan?! Itu manusia!"

Pemuda itu perlahan-lahan mendorong dirinya untuk duduk. Gerakannya halus, terukur, seperti boneka yang talinya ditarik pelan. Darah mengalir dari lukanya, gelap di bawah cahaya bulan, namun napasnya tenang dan rata.

"Kau... kau gila?" Caleb mendesah, napasnya masih tersengal. Ia mendekat, senapannya masih terarah ke tanah, tetapi jarinya masih di picu untuk menolong. "Apa yang kau lakukan di sini, bersembunyi di tanah orang di tengah malam begini? Hampir saja kau jadi makanan anjing-anjingku!"

Pemuda itu menatapnya, sekarang Caleb bisa melihatnya lebih jelas, mungkin baru awal dua puluhan, wajahnya pucat dan tajam dengan garis rahang yang kuat, mendongak. Untuk pertama kalinya, mata mereka benar-benar bertemu.

Caleb merasa seperti terjatuh.

Mata pemuda itu berwarna abu-abu, tetapi bukan abu-abu langit atau batu. Itu adalah abu-abu lautan es di musim mati, datar, dalam, dan tak berujung. Seperti melihat ke dalam sumur yang gelap, yang diam-diam memanggil, menjanjikan sesuatu yang dingin dan kekal. Ada keindahan di sana, keindahan yang mematikan.

"Berburu," jawab pemuda itu, suaranya lembut dan jernih, mengiris kesunyian.

Caleb mengerutkan kening, mencoba memahami kata sederhana itu dalam konteks kekacauan ini. "Berburu? Berburu apa? Kau yang membunuh domba-dombaku? Kuda-kudaku?"

"Aku lapar." Ucapannya polos, seperti anak kecil mengakui kesalahan kecil. "Tadi aku belum sempat makan malam... Mereka terlalu cepat." Tatapannya, kosong itu, beralih sejenak ke arah ketiga anjing yang sekarang duduk gemetar beberapa langkah di belakang Caleb, menggeram rendah dari dalam tenggorokannya. Hanya sekilas. Lalu kembali ke Caleb.

Anjing-anjing itu bereaksi seketika. Gonggongan mereka menjadi parau, penuh ketakutan murni. Ekor mereka menyelip di antara kaki, bulu tengkuk mereka berdiri semua. Ini bukan lagi kemarahan atau semangat berburu. Ini adalah ketakutan purba, insting yang berteriak bahwa apa yang di depan mereka adalah predator puncak, sesuatu yang salah, sesuatu yang lain.

Caleb, yang seumur hidupnya mempercayai insting anjing-anjingnya lebih dari kata-kata manusia mana pun, merasakan dingin mengalir di tulang punggungnya. Namun, ia memaksanya pergi. Ia berlutut di samping Elric, meletakkan senapannya, dan membuka tas kulit di pinggangnya.

"Sialan," gumannya, suaranya kasar oleh emosi yang campur aduk. "Luka gigitan begini... di tempat kotor... bisa busuk." Ia mengeluarkan botol air dan gulungan perban bersih. Tangannya yang kasar, mulai membersihkan luka di lengan Elric dengan gerakan terampil namun tak sungguh-sungguh lembut. Darah tercuci, mengungkap luka yang dalam namun anehnya tidak mengucur deras.

Elric memperhatikannya, kepala sedikit miring, seperti ilmuwan yang mengamati spesies langka.

"Anjing-anjingmu pintar," gumam Elric tiba-tiba, suaranya nyaris tenggelam oleh desisan angin. "Mereka bisa membedakan antara manusia... dan yang hanya tampak sebagai manusia."

Caleb berhenti sejenak, tangannya menggenggam perban. Ia menoleh, menatap wajah pucat itu. "Apa maksudmu?"

Elric mengangkat matanya yang abu-abu dan tak berkedip itu. "Tidak semua yang berjalan dengan dua kaki dan berbicara tetap adalah manusia. Kadang... mereka bisa berubah. Bentuknya tetap, tetapi isinya... mungkin berbeda. Tergantung pada seberapa dalam kelaparannya. Pada apa yang mereka pilih untuk dimakan agar tetap utuh."

Tatapan Caleb mengeras, mencoba menembus kata-kata metaforis yang mengganggu itu. Mencoba mencari kegilaan atau kebohongan di mata itu. Yang ia temukan hanyalah kehampaan yang jujur dan dingin yang membuatnya gemetar. Bukan gemetar ketakutan, tetapi gemetar seperti ketika seseorang berdiri di tepi tebing tinggi dan merasakan tarikan untuk melompat, campuran bahaya dan ketertarikan yang memusingkan.

Caleb menelan ludah, rasa kering di mulutnya tiba-tiba sangat nyata. "Namamu siapa?"

"Elric."

"Elric," Caleb mengulangi, mengikat perban terakhir dengan simpul kuat. "Kau orang aneh."

Senyum tipis muncul di sudut bibir Elric. Senyum itu tidak hangat, tidak dingin. Itu hanya sebuah lekukan pada daging, tidak sampai menyentuh mata lautan es-nya. "Dan kau," balasnya, suaranya seperti guratan kuas halus di atas kanvas keheningan, "terlalu baik untuk hanya menjadi seorang pemburu di padang ini."

Mereka terdiam sesaat. Hanya suara api unggun kecil yang berderak dan desahan angin yang berbisik melalui juniper. Anjing-anjing Caleb sudah diam, tetapi tubuh mereka masih tegang, siap melarikan diri. Caleb menarik napas dalam, aroma darah, tanah, dan sesuatu yang lain seperti udara sebelum badai salju memenuhi paru-parunya.

"Kelaparan macam apa yang kau maksud, Elric?" tanya Caleb akhirnya, suaranya lebih rendah, seolah takut didengar oleh kegelapan itu sendiri.

Elric memandang ke arah kegelapan di luar lingkaran cahaya api, dan untuk pertama kalinya, Caleb melihat sesuatu yang seperti keindahan yang memabukkan di wajahnya, kerinduan yang luas dan mengerikan.

"Kelaparan yang tidak bisa dipuaskan oleh domba atau kuda, Caleb," jawabnya pelan. "Kelaparan akan sesuatu yang... lebih hangat. Lebih terang. Sesuatu yang masih memiliki cahaya di dalamnya."

Caleb mengikuti pandangannya, ke arah rumah peternakannya yang jauh, di mana lampu minyak di jendela kamarnya masih menyala, menandakan kehadiran, kehidupan. Ia merasakan jantungnya berdebar lebih kencang, kali ini dengan naluri perlindungan yang menusuk.

Ia berdiri, mengambil senapannya kembali. Ia memandangi Elric, yang masih duduk di tanah dengan tenang, dibalut perban putih yang sudah mulai kemerahan. Seorang pemuda terluka, atau sesuatu yang datang dengan wujud pemuda terluka.

"Ikutlah," kata Caleb tiba-tiba, keputusannya sendiri mengejutkannya. "Ke pondokku. Ada makanan, dan luka-lukamu butuh dirawat lebih baik." Ucapannya bukanlah undangan, tetapi pernyataan. Sebuah pilihan. Sebuah ujian.

Elric menatapnya lama, dan di kedalaman mata abu-abu itu, seolah ada sesuatu yang berputar perlahan, seperti es yang retak. Akhirnya, ia mengangguk, perlahan. "Baik."

Caleb membalikkan badan, menyuruh anjing-anjingnya yang masih ketakutan untuk mendekat. Ia tidak menawarkan tangan untuk membantu Elric berdiri. Saat ia berjalan meninggalkan lapangan itu, kembali menuju api unggunnya yang kini sekarat, ia bisa merasakan kehadiran Elric di belakangnya-sunyi, ringan, dan dingin bagaikan bayangan bulan di salju. Malam ini, ia tidak menemukan monster yang ia cari. Ia membawa pulang sesuatu yang mungkin jauh lebih berbahaya, atau mungkin, sesuatu yang tersesat dan sama kesepiannya dengan dirinya di dataran luas yang gelap ini. Hanya waktu, dan kelaparan, yang akan menjawabnya.