Eps. 01 Arsip Membara
Ruang Arsip, Lantai 4
Jam 19:17
Hujan deras menggedor kaca jendela sejak sore, membuat gedung kantor terasa lebih sepi dari biasanya. Lift sudah mati setelah jam 18.00, jadi Rina harus naik tangga darurat sampai lantai 4 hanya untuk mengambil dokumen lama yang tiba-tiba diminta klien malam ini.
Dia tahu Mas Andi juga masih di kantor.
Sudah hampir tiga bulan mereka saling menghindar di lorong, di pantry, di rapat bulanan. Tapi malam ini pintu ruang arsip tidak dikunci.
Begitu Rina mendorong pintu, aroma kertas tua bercampur parfum kayu cendana yang terlalu familiar langsung menyergap. Andi berdiri di antara dua rak tinggi, lengan kemeja digulung sampai siku, dasi sudah dilonggarkan. Cahaya lampu emergency kuning pucat membuat garis rahangnya terlihat lebih tajam.
“Kamu tahu aku di sini,” suara Andi rendah, hampir seperti bisik. Bukan pertanyaan.
Rina menutup pintu di belakangnya. Kunci diputar pelan. Klik.
“Aku cuma mau ambil map proyek 2023,” jawabnya, tapi nada bicaranya sudah kehilangan kekuatan. Keduanya tahu itu alasan paling buruk yang pernah diucapkan malam ini.
Andi melangkah mendekat, lambat, seperti predator yang tahu mangsanya tidak akan lari.
“Map-nya ada di rak belakang.” Dia berhenti tepat di depan Rina, jarak mereka tinggal sehelai kertas. “Tapi kamu nggak buru-buru, kan?”
Jantung Rina berdegup kencang sampai terasa di tenggorokan. Dia bisa mencium napas Andi—mint dan sedikit kopi hitam. Tangan Andi naik perlahan, jari telunjuknya menyentuh dagu Rina, mengangkat wajahnya agar bertemu mata.
“Kita bilang terakhir itu yang terakhir,” bisik Rina, tapi matanya sudah menyerah.
“Terakhir selalu bohong,” jawab Andi sambil menunduk.
Ciuman pertama datang kasar, penuh penyesalan yang ditahan terlalu lama. Bibir Andi menekan keras, lidahnya langsung mencari, seolah ingin menghapus tiga bulan jarak itu dalam satu tarikan napas. Rina mengerang pelan ke dalam mulutnya, tangannya mencengkeram kerah kemeja Andi, merobek dua kancing atas tanpa sadar.
Andi mendorong tubuh Rina mundur sampai punggungnya membentur rak besi. Beberapa map tebal jatuh berderit ke lantai. Tidak ada yang peduli.
Tangan Andi menyusup ke balik blazer Rina, menarik kancing blus satu per satu dengan gerakan terlatih. Bra renda hitam terlihat di bawah kain tipis. Jempol Andi mengusap puncak payudara yang sudah mengeras di balik kain, membuat Rina menggigit bibir bawahnya sendiri agar tidak bersuara terlalu keras.
“Mas… pintunya cuma dikunci, kalau ada satpam—”
“Satpam sudah keliling lantai 1–3. Kita punya minimal 40 menit.” Andi menarik bra ke bawah, tidak sabar melepas kaitnya. Mulutnya langsung menangkap puting kiri Rina, mengisap keras sambil lidahnya berputar. Rina menjerit kecil, tangannya mencengkeram rambut Andi, menariknya lebih dalam.
Andi berlutut. Rok pensil Rina didorong naik sampai pinggang. Celana dalam renda hitam sudah basah di bagian tengah. Andi menggesernya ke samping, tidak membukanya. Jari tengah dan telunjuknya langsung masuk, pelan tapi dalam, sambil ibu jarinya menggosok klitoris dengan gerakan melingkar yang terlalu tahu caranya.
“Udah basah banget dari tadi ya…” Andi menatap ke atas, matanya gelap. “Bayangin aku di dalem kamu sejak sore tadi, kan?”
Rina hanya bisa mengangguk, napasnya tersengal. Pinggulnya bergerak sendiri mengikuti irama jari Andi. Ketika Andi menambahkan jari ketiga, Rina hampir menjerit. Andi buru-buru menutup mulut Rina dengan telapak tangan yang lain.
“Sst… pelan. Aku belum mau selesai.”
Andi berdiri, membuka resleting celananya dengan satu tangan. Penisnya sudah keras, ujungnya mengkilap. Dia mengangkat salah satu kaki Rina, menyandarkannya di rak di samping pinggulnya. Posisi itu membuat Rina terbuka lebar.
Andi menggesekkan kepala penisnya di antara bibir vagina Rina, mengoleskan cairan yang sudah melimpah, tapi tidak langsung masuk. Sekali. Dua kali. Sampai Rina memohon dengan suara parau.
“Mas… please… masukin…”
Andi mendorong masuk sekaligus, dalam sekali hentakan. Rina menjerit ke dalam telapak tangan Andi. Rasa penuh, panas, dan sedikit nyeri bercampur jadi satu. Andi berhenti sesaat, membiarkan Rina menyesuaikan, tapi pinggulnya sudah bergerak pelan, menggiling dalam-dalam.
“Masih sempit banget…” desah Andi di leher Rina sambil mulai menggerakkan pinggul lebih cepat. Setiap hentakan membuat rak besi berdenting pelan. Suara kulit bertemu kulit bercampur dengan deru hujan di luar.
Rina mencakar punggung Andi melalui kemeja. Kuku-kukunya meninggalkan garis merah. Andi membalas dengan menggigit bahu Rina, tidak terlalu keras tapi cukup meninggalkan bekas.
“Gue mau keluar di dalem,” bisik Andi, suaranya serak. “Boleh?”
Rina mengangguk cepat, matanya berkaca-kaca. “Iya… keluarin di dalem… aku mau ngerasa kamu…”
Andi mempercepat gerakan. Hentakan menjadi lebih dalam, lebih brutal. Rina mencapai klimaks lebih dulu—tubuhnya menegang, vaginanya berkedut kuat mengelilingi Andi. Dia menjerit ke dalam leher Andi agar suaranya tertahan.
Beberapa detik kemudian Andi mengikuti. Dia mendorong dalam-dalam sekali lagi, melepaskan semuanya di dalam tubuh Rina. Getaran panas itu membuat Rina menggigil lagi.
Mereka terdiam beberapa saat, napas saling bertautan. Andi masih di dalam, pelan-pelan melunak. Akhirnya dia menarik diri, cairan putih mulai menetes pelan dari antara paha Rina.
Andi mengambil tisu dari meja kecil di sudut, membersihkan Rina dengan hati-hati, hampir lembut. Rina membetulkan rok dan blusnya dengan tangan gemetar.
“Kita nggak boleh lagi,” kata Rina pelan, tapi suaranya tidak meyakinkan.
Andi hanya tersenyum tipis sambil membenahi dasi.
“Kita selalu bilang gitu.”
Dia membuka pintu ruang arsip lebih dulu, memastikan lorong kosong. Sebelum pergi, dia menoleh.
“Besok meeting jam 10. Jangan telat.”
Rina hanya mengangguk, masih berdiri di tempat yang sama, merasakan hangat yang perlahan dingin di antara pahanya.
Hujan di luar masih deras.
Tapi di dalam gedung, heningnya terasa jauh lebih berisik.