Bab 1 — Hari Yang Biasa
Hari Senin, tanggal 8 Januari 2018, jam 6:30…
“Buk, aku berangkat dulu.”
“Eh, udah mau pergi aja nih?”
“Iya buk, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, hati-hati di jalan ya.”
“Banyak geng-geng gak jelas sekarang ini.”
“Oke buk!”
Ucapku, sembari memegang gagang pintu, ku menoleh ke belakang, melihat wajah ibuku yang tersenyum secerah sinar matahari pada pagi itu, harapan besar terukir jelas di wajahnya.
Ya… aku memang selalu masuk ke dalam peringkat 2 besar di kelasku dan peringkat 20 besar di sekolahku, walaupun ibuku bilang usahaku sudah lebih dari cukup dan hanya perlu mempertahankan itu, tapi rasanya… seperti ada yang kurang.
Setelah itu, aku pun keluar dari rumah, sinar matahari yang baru saja terbit menyinari ku terasa sejuk dan hangat. Aku pun menguatkan niat untuk terus maju dan meraih peringkat pertama di sekolahku, setidaknya peringkat 1 di kelas.
Itulah yang aku pikirkan hingga saat ini, dan itu belum berubah sama sekali, aku sudah membulatkan tekad.
Dalam perjalanan ke sekolah, aku berpapasan dengan dua orang temanku yang satu kelas dengan ku, Rumi dan Angga.
“Eh, Arul! kebetulan banget nih, mau ikut jalan bareng ama kita?”
“Wah, bakalan seru nih kalau Arul ikutan juga, ya kan, Angga?”
“Haha, apaan sih, yaudah, gua ikutan juga.”
“Wokeh, kalau gitu, yok kita lanjut lagi sampai ke sekolah! wahaha.”
Setelah itu, kami bertiga pun melanjutkan perjalanan kami menuju ke sekolah.
Kami melewati jalan yang sering dilewati oleh murid-murid yang ada di sekolahku, karena jalan itu adalah jalan yang paling singkat dan juga paling sunyi. Tidak hanya itu, jalanan ini juga menyimpan banyak sekali kenanganku, Rumi, dan juga Angga. Di sinilah, kami bertiga bertemu satu sama lain untuk pertama kalinya.
Waktu itu, kami masih duduk di bangku SMP tahun pertama, kebetulan jalan untuk menuju SMP lama kami satu arah dengan jalan menuju ke SMA kami sekarang. Tiba-tiba…
“Ga, apa kabar temen lu yang kecelakaan maren?” Ujar Rumi.
“Yang mana dulu nih? Ada tiga orang temen gua yang kecelakaan maren masalahnya… Beda-beda lokasi ama waktunya lagi.”
“Yang itu lohh!! Yang ada Ita ita di namanya itu!”
“Ohhh, Prita? Kata kakaknya maren, udah baikan sih kakinya.”
“Nah iya, itu. Alhamdulillah kalau udah baikan, soalnya maren kan gue liat-liat vidionya kenceng banget nabraknya.”
Obrolan kami pun berlanjut, dan hingga akhirnya kami tiba di sekolah kami, SMA Edelweiss, kami terhenti sejenak di depan gerbang, mengapa? Karena sedang terjadi pertengkaran antar kelas, sehingga semua orang menonton kejadian tersebut, ada yang melihat dari jauh, dan ada juga yang dari dekat.
Suara langkah kaki murid-murid yang berdesakan untuk menonton terdengar seperti suara kaki kuda yang sedang berlari dengan kencang, menendang tanah untuk mendapatkan kecepatan maksimal. Debu di depan gerbang sekolah berterbangan, bercampur dengan teriakan murid-murid yang penasaran. Kerusuhan itu seketika hilang, karena guru BK dan Wakil kepsek datang bak malaikat tak bersayap.
Suasana seketika hening, Angin pagi meniup pelan, membawa sisa bisik-bisik yang belum sempat reda, mengubah suasana tersebut menjadi terasa seperti suasana di pinggir pantai mati, sunyi tetapi masih terdapat suara ombak yang saling bertabrakan.
“Ri! Fahri! Minggir dikit, kami mau lewat.”
“Oh, yaudah, lewat aja Angga.”
Seperti biasa, ekspresinya Fahri sulit sekali dibaca, tetapi ada sedikit gambaran ekspresi penasaran di wajahnya kali ini.
“Ok, thanks. Yok ges, jalan lagi.”
Aku dan Rumi pun saling bertukar pandangan pada saat itu, antara heran, terkejut, dan juga kagum, karena, Fahri ini adalah orang yang dikenal dengan omongannya yang sedikit kasar dan hanya berlandaskan logika—juga mendapatkan julukan ‘Rivka versi laki-laki’, bisa dijinakkan omongannya oleh si Angga.
Sesampainya kami di kelas… Ya, lagi dan lagi, Rivka dipalak oleh anak-anak berandalan untuk melihat PR-nya dia, tetapi Rivka hanya tetap diam dan tidak berkutik walaupun sudah digertak oleh mereka.
Akhirnya, Rumi turun tangan untuk mengusir mereka menjauh dari Rivka, Rivka hanya bisa tersenyum berterima kasih kepada si Rumi yang sudah berkali-kali menolonginya.
“Terimakasih, Rumi.”
“Ka, coba deh lu belajar caranya untuk nolak, kalau bisa pukul aja.”
“…Aku akan coba, terimakasih.”
“Nah, gitu dong!”
Suasana kelas lagi dan lagi dipenuhi oleh bisik-bisik murid yang benci atau lebih tepatnya iri dengan bakat alami Rivka.
“Eh, Rul, katanya mau bikin kelompok belajar untuk persiapan ujian-ujian kedepan? Jangan cuma wacana aja dongs, hadehh.”
“Oh iya, kelupaan banget gua masalah itu, sori lah.”
“Halahh, kelupaan atau memang kagak niat, wkwkwkwk.”
“Sumpah, kelupaan beneran gua, nanti gua coba ingetin Rumi.”
“Iya juga sih Rul, kan awalnya ini memang rencananya si Rumi.”
“Yaudah, nanti kita ajak si Rumi untuk makan siang di kantin aja, gimana?”
“Serah lu deh, gue ikut-ikut aja pokoknya.”
“Siap bos! wkwkwkwkwk.”
Tidak lama setelah itu, bel masuk berbunyi, menggema ke setiap lorong kelas. Murid-murid di kelas pun berlarian kembali ke tempat duduk mereka masing-masing bagaikan petir yang menyambar penangkal.
“Pagi anak-anak, sekarang ibu langsung aja absen, ya.”
“BAIK BU!”
“Oh ya, karena ibu lagi ada kerjaan di ruang BK, jadinya kalian tolong buka buku halaman 78 dan silahkan bentuk kelompok 4 orang, paham semua?”
“PAHAM BU!”
Setelah itu, aku pun kebingungan akan membentuk kelompok bersama siapa, dunia seakan-akan ikut berputar. Hingga akhirnya…
“Rul, kita bentuk kelompok aja, gue, elu, ama Rumi, gimana?”
“Oh, boleh tuh!”
Disaat aku ingin menghela nafas lega, Angga melempar pertanyaan lagi.
“Okeh, tapi… sisa satu orang lagi, siapa kira-kira?”
“Waduh, iya juga ya, siapa ya kira-kira?”
“Gimana kalau kita ajak si Rivka? Kan lumayan kita bisa digendong, hahaha.”
“Bukan lumayan lagi itu, malahan udah lebih dari cukup!”
“Kalau gitu, Rul, bisa tolong panggil si Rivka kesini ngak?”
“Siap, dimengerti!”
Tiba-tiba, alangkah terkejutnya kami melihat Rivka datang dengan sendirinya sebelum sempat aku panggil. Kami bertiga saling bertukar pandang, antara bingung bercampur lega akan kejadian tersebut.
“Maaf menganggu, tapi, kenapa kalian membahas sesuatu tentang saya?”
“Ah… Iya, kami baru mau ngajakin kamu untuk gabung dengan kelompok kami.”
“Oh, baiklah, saya akan bergabung, lagi pula saya juga tidak tahu ingin bergabung dengan siapa.”
Setelah itu, Rumi langsung menggeser kursinya sedikit, memberikan ruang untuk Rivka meletakkan kursinya.
“Eh, bawa aja kursi lu sini, Ka.”
“Baik.”
Kemudian, kami pun memulai mengerjakan tugas kelompok yang diberikan sebelumnya.
Kelas pada waktu itu dipenuhi oleh berbagai ekspresi dan tawa, terdapat beberapa orang yang hanya berkeliaran tidak ikut bekerja bagaikan burung-burung kecil yang berpindah hinggap tanpa tahu harus bersarang di mana.
Dan terdapat juga murid-murid yang serius mengerjakan tugas tersebut bagaikan lilin yang tetap menyala meski angin berembus kencang di sekitarnya.
Teriakan, candaan, dan obrolan sana-sini terdengar seperti angin liar yang membawa setiap suara ke tempat yang tak terduga.
BRUK! —Terdengar suara tumpukan buku yang jatuh. Dalam sekejap, semua tatapan menuju pada sumber keributan itu.
“Ups, jatuh deh ‘kitab sucinya’ si ratu MTK.” Faiz tertawa pelan, seolah itu hal paling lucu pagi itu.
“Cukup, Faiz. Nggak lucu, cari candaan lain.” Potong Rumi.
“Apa lah, awas aja lu, andai aja kalau lu itu cowok udah gue gebukin lu.” Faiz pun pergi.
Lalu, setelah Faiz menghilang, suara dari angin-angin ribut itu perlahan-lahan meredup, dan pohon beringin yang sempat terguncang kembali berdiri.
Pada saat itu, aku tidak bisa memikirkan hal lain selain tugas yang harus kami kerjakan, aku merasa tidak tertarik sama sekali dengan kejadian tersebut yang sudah seringkali terjadi di kelas kami.
“Ini lagi ini lagi… Bosen ah” Gumamku.
Aku pun membolak-balik kertas bukuku seperti biasa, mencoba mencari jawaban.
Aku terus membolak-balik buku itu, jawaban itu terasa sangat dekat tetapi sangat jauh.
Berbagai suara terdengar dari setiap arah, ada yang menghela nafas, ada yang berhenti menulis, dan ada juga sebagian orang yang pasrah dan tidak melakukan apapun.
Ditengah kesibukan tersebut, detak jam di kelasku semakin lama berdetak semakin keras.
Detak jantungku terus mengikuti irama detak jam tersebut, “Sisa satu soal lagi, sisa satu soal lagi…” gumamku berulang-ulang.
“Jangan sampai dijadikan PR, jangan sampai…”
“Harus diselesaikan sekarang, harus…!”
“Jangan menambah beban ketika pulang, tidak boleh.”
Kalimat-kalimat tersebut diputar terus-menerus tanpa ku ketahui cara menghentikannya.
Selang beberapa menit, aku pun hampir selesai menulis jawaban terakhir, tiba-tiba…
Teng tong… Teng tong… Bel istirahat sekolah menyanyikan syair satu-satunya.
Aku pun berdiri, memeriksa kembali jawaban yang sudah ku tulis dari A sampai Z.
“Bismillah… Semoga 100 lagi.” Ucapku sembari menghela nafas.
“Udah Rul? Sini gue kumpulin.”
“Eh, iya nih, makasih Ga.”
“Santai aja, tegang banget tuh muka, udah kayak abis ngerjain soal OSN aja, wkwkwk.”
Percakapan singkat kami terhenti sampai situ.
Aku pun keluar dari kelas mengikuti arus murid-murid lain yang berdesakan, bagaikan segerombolan ikan-ikan kecil yang berenang pada aliran sungai kecil dari hulu ke hilir.
Lorong-lorong sekolah kembali ramai, dipenuhi dengan candaan, tawa, dan juga suara langkah kaki.
Aku pun terus menelusuri lorong-lorong yang sudah menjadi rute satu-satunya untuk pergi ke kantin.
Semakin lama aku berjalan, semakin terasa pula aroma makanan-makanan yang samar-samar.
Tanpa ku sadari, air liur sudah memenuhi mulutku. Aku pun mempercepat langkahku, hingga akhirnya…
“Oiii! Arul! Tumben banget kita nggak sengaja ketemuan di sini, haha.”
“Lah, Agus? Perasaan maren lu baru masuk rumah sakit deh, cepet amat.”
“Wahh… Bukannya senang temennya cepat sembuh, hadehh…”
“Weittss… Sori lah bro kalo lu tersinggung, gua kagak ada maksud kayak gitu kok.”
“Hahaha, itu dia Arul yang gue kenal. Lagian, gue masuk rumah sakit itu 2 Minggu yang lalu, ya wajar lah udah keluar.”
“Buset, 2 Minggu? Cepet amat waktu gerak.”
“Ya gitu lah… hahahaha. Yowes lah, gue balik ke kelas gue duluan ya.”
“Oke oke, lanjut aja.”
Setelah percakapan singkat tadi, entah mengapa, aku berpikir bahwa belakangan ini waktu terasa sangat cepat bergerak…
Aku menarik nafas, dan mengangkat kakiku berjalan tanpa pikir panjang.
Tidak terasa, aku telah berada tepat di depan pintu masuk kantin.
Tanpa kita perlu melihat langsung isinya, sudah banyak terpampang jelas deretan stall makanan dan minuman, antrean-antrean yang campur aduk, dan tidak ketinggalan juga pemandangan saling dorong-dorongan dari siswa yang dalam antrian.
Aroma makanan mau yang digoreng atau dibakar, ataupun dipanggang, memenuhi langit-langit. Suara piring dan gelas yang saling beradu pun ikut terdengar.
Diiringi dengan syair gitar yang dimainkan oleh anak ekskul musik, suasananya pada waktu itu terasa hangat sekaligus berantakan.
Saat itu, semuanya terasa normal.
Semuanya berada pada posisi masing-masing.
Tidak ada satupun keanehan.
Tidak ada yang berbeda.
Hanya sebuah hari yang biasa yang akan terlupakan…