ARC 1 “DISORIENTASI”
ARC 1 “DISORIENTASI”
BAB 1 – ICU
Bunyi itu datang lebih dulu daripada cahaya.
Bip... Bip.... Bip............
Teratur. Dingin. Seperti seseorang menghitung sesuatu yang tak boleh salah. Ia tidak tahu siapa yang dihitung.
Kegelapan menekan kelopak matanya dari dalam. Berat. Seolah ada pasir halus menumpuk di balik bola mata. Ketika akhirnya cahaya merembes masuk, dunia tidak terbuka—ia retak.
“Putih”
Langit-langit putih dengan retakan rambut yang membelah catnya tipis-tipis. Lampu fluorescent berpendar lembut. Bau antiseptik menusuk, bersih dengan cara yang hampir kejam.
Bip... Bip.... Bip............
Monitor jantung di sebelahnya berdetak stabil. Garis hijau naik turun di layar kecil.
Ia mencoba menarik napas lebih dalam. Sesuatu menarik balik di dadanya. Nyeri tumpul di sisi kiri perut. Bahu kanan terasa berat, seolah dijahit ke kasur.
Di mana.... ???
Pertanyaan itu muncul, lalu terpecah sebelum selesai. Sebuah bayangan menyambar.
Kayu. Lantai kayu. Gelap. Cairan merah menyebar perlahan mengikuti serat. Ia berkedip keras. Putih lagi. ICU. Suara langkah sepatu karet mendekat.
“Tuan ? Apakah kamu mendengarku ?”, suara perempuan. Stabil. Terlatih.
Ia menoleh pelan. Gerakan kecil saja membuat dunia berputar setengah detik terlalu lama. Seorang perawat berdiri di samping ranjang. Masker biru muda, mata cokelat yang memeriksa tanpa emosi berlebih. Ia membuka mulut. Udara keluar, tapi kata-kata tidak.
“Tuan ?” , tanya perawat itu lagi. Perawat itu sedikit membungkuk.
“Kamu beradi di Rumah Sakit NewYork – Presbyterian, Manhattan. Kamu sudah tidak sadarkan diri selama 18 hari.”
Delapan belas??? Angka itu melayang tanpa makna. Ia mencoba duduk. Rasa sakit meledak tumpul dari perut ke tulang belakang. Mesin berbunyi lebih cepat.
Bip.. Bip.. Bip............
“Tenang.” kata perawat cepat, menahan bahunya dengan tekanan ringan tapi tegas.
“Jangan bergerak terlalu banyak.”
Terlambat. Bayangan lain menyambar. Tangisan. Anak kecil??? Seseorang memohon. Suara logam berputar perlahan di pintu. Ia tersedak udara.
“Air” bisiknya serak.
Perawat menyodorkan sedotan. Air terasa asing di lidahnya, seperti ia baru belajar menelan.
“Bisakah kau menyebutkan namau ?”, pertanyaan itu jatuh seperti benda keras.
Namanya???
Ia menatapnya. Lalu menatap tangan kirinya sendiri yang terpasang infus. Kulit pucat. Garis halus urat nadi. Bukan tangan orang asing. Tapi bukan juga tangan yang ia kenali.
Nama??? Sebuah ruang kosong membuka di kepalanya. Putih. Ia mencoba menggali. Hanya gema.
“Apa?? Nama saya?” suaranya hampir tak terdengar.
Kini dalam bahasa yang terasa lebih dekat, lebih otomatis. Perawat berhenti sepersekian detik.
“Kamu tidak mengingatnya ?”
Ia menatap langit – langit lagi. Retakan tipis di cat putih membentuk garis seperti lingkaran yang hampir terbelah.
Lingkaran!!! Sebuah kilatan lain. Tatoo!!! Hitam pekat. Simbol seperti lingkaran yang dipotong garis tipis di tengahnya. Dua. Identik. Satu di tangan kanan. Satu lagi....leher? Ia mengerjap keras.
Bip.. Bip.. Bip............ “Tuan, tetap bersamaku.”
Nama..... Kosong........
“Tidak,” katanya pelan. “Saya tidak…”
Kata itu menggantung. Tidak ingat. Tidak tahu. Tidak ada. Perawat itu menekan tombol di dinding. Pintu terbuka. Seorang dokter masuk, pria berusia sekitar empat puluh lima dengan jas putih dan tablet di tangan.
“Selamat Pagi,” katanya lembut. “Saya Dr. Weiss.”, nama itu meluncur tanpa bobot.
“Kami senang Anda akhirnya bangun,” lanjutnya.
“Anda mengalami trauma fisik berat dan gegar otak traumatis. Kami menduga ada amnesia retrograde.”
Amnesia!!!
Kata itu seperti diagnosis untuk orang lain. Ia mencoba mengingat sesuatu yang sederhana. Alamat. Tanggal lahir. Wajah ibu. Apa pun. Kosong........
Sebaliknya, lantai kayu lagi? Cairan merah? Sepatu hitam? Berdiri di dalamnya tanpa tergesa. Seseorang terikat. Seseorang berlutut. Ia menutup mata cepat.
JANGAN.....!!!
Tapi potongan itu tidak berhenti. Kilatan putih. Sebuah suara anak kecil berkata,
“Ayah..........”, ia tersentak. Mesin berbunyi lebih cepat lagi.
“Tuan, ambil nafas.” kata Dr. Weiss tegas tapi tenang.
“Fokus pada suaraku. Kamu aman. Kamu ada di Rumah Sakit.”
Aman ??? Kata itu terasa salah.
“Di mana…” Ia menelan ludah.
“Keluarga saya?”
Ruangan menjadi sedikit lebih sunyi. Perawat dan dokter saling pandang sepersekian detik terlalu lama. Jeda itu cukup. Sesuatu di dalam dirinya tahu sebelum kata-kata keluar. Dr. Weiss mendekat sedikit.
“Kita akan berbicara saat kamu sudah lebih kuat.”, jawaban itu bukan jawaban!!!
“Keluarga saya?” ulangnya, lebih keras.
Kilatan lagi. Seorang perempuan. Rambut gelap. Lutut menyentuh lantai. Tangan terikat. Seorang pria berdiri di belakangnya. Tidak marah. Tidak terburu-buru. Hanya prosedur. Suara seperti pintu lemari ditutup pelan. Tubuh jatuh. Ia menjerit tanpa suara. Monitor menjerit menggantikannya.
Bip.. Bip.. Bip............
Perawat menekan sesuatu. Cairan dingin mengalir melalui infus.
“Lihat aku.... ” kata Dr. Weiss. “Lihat aku..... ”
Ia menatap mata dokter itu. Tenang. Profesional. Sedikit terlalu hati-hati.
“Tubuhmu telah mengalami guncangan yang hebat,” lanjutnya. “Otakmulah yang melindungimu.”
Melindungi. Dari apa? Bau antiseptik berubah menjadi sesuatu yang lain di hidungnya. Mesiu?
Kayu basah? Darah? Ia muntah ke samping. Perawat sigap memiringkan tubuhnya.
“Okay. Cukup untuk sekarang.” kata Dr. Weiss pelan.
Cairan di infus menghangatkan pembuluh darahnya. Dunia mulai melunak di tepinya. Sebelum gelap kembali, ia melihatnya lagi. Tatoo itu, lingkaran terbelah. Seolah seseorang memotong sesuatu yang utuh menjadi dua bagian sama besar.
Ketika ia bangun lagi, ruangan lebih redup. Sore? Cahaya Manhattan menyusup lewat celah tirai. Garis-garis tipis membelah dinding putih.
Bip...Bip.....
Kali ini lebih lambat. Ada seseorang duduk di kursi di samping ranjang. Seorang wanita. Rambut hitam panjang jatuh ke bahu. Mata cokelat yang lelah. Tangannya saling menggenggam di pangkuan, seolah menahan sesuatu agar tidak pecah. Ia memperhatikannya dengan hati-hati. Seperti mendekati hewan yang baru bangun dari bius.
“Hai,” katanya pelan.
Suaranya bergetar di ujung. Ia menatapnya. Tidak ada wajah yang muncul dari ingatan. Tidak ada nama. Tapi ada sesuatu. Kesedihan yang terasa… dekat.
“Aku…” Wanita itu menarik napas pendek. “Aku Maya.” Nama itu menggema tanpa kaitan.
“Aku adik istrimu.”
Istrimu? Kata itu seperti batu dijatuhkan ke danau beku. Retakan menyebar cepat. Seorang perempuan tertawa di dapur. Cahaya pagi di meja kayu. Anak kecil berlari dengan kaus kaki berbeda warna. Suara cangkir diletakkan terlalu keras. Ia mengerjap. Wajah di depannya kabur.
“Maaf,” katanya akhirnya. “Aku tidak ingat.”
Maya tersenyum. Terlalu cepat. Terlalu rapi.
“Tidak apa-apa,” katanya. “Dokter bilang itu mungkin terjadi.”
“Tolong ingat. Tolong jangan tinggalkan aku.”, gumam Maya.
“Keluargaku?” tanyanya pelan.
Maya membeku sepersekian detik. Bip....... Monitor tetap stabil.
“Kita… akan bicara soal itu nanti,” katanya hati-hati.
Sama seperti dokter. Sama seperti jeda tadi pagi. Ia menatap tangannya sendiri lagi. Kulit. Urat. Bekas jarum. Tidak ada cincin. Atau mungkin dilepas saat operasi. Ia mencoba membayangkan dirinya berdiri di sebuah rumah. Rumah seperti apa? Batu cokelat. Tangga pendek. Pintu hitam dengan gagang logam. Jam digital menunjukkan 02.13. Suara logam diputar pelan. Empat bayangan masuk. Ia tersentak.
Maya berdiri cepat. “Hei. Hei. Pelan.”
“Ada empat,” katanya tiba-tiba. Ia tidak tahu dari mana kalimat itu datang.
“Empat apa?” tanya Maya.
Ia menatap kosong ke dinding. “Empat orang.”, ujarnya.
Kata-kata itu keluar dingin. Pasti. Tidak seperti bagian lain dari pikirannya yang retak.
Maya memucat.
“Empat masuk,” lanjutnya pelan. “Malam.”
Ia melihatnya lagi. Bukan jelas. Tidak lengkap. Hanya siluet bergerak sinkron. Profesional. Bukan marah. Bukan kacau. Terlatih. Ia merasakan sesuatu merambat di dadanya. Bukan hanya takut. Marah. Tipis. Jauh. Tapi ada.
“Ethan.”, nama itu jatuh dari bibir Maya hampir tanpa sadar. Ia membeku.
“Itu namamu,” bisik Maya. “Ethan.”
Ethan. Nama itu terasa seperti mantel lama yang diletakkan di pundaknya. Ukurannya pas, tapi ia tidak ingat pernah memilikinya.
“Ethan,” ulangnya pelan. Bip.... Monitor tetap stabil.
“Ya,” kata Maya. Matanya kini basah. “Ethan Cole.”
Cole. Sebuah gema samar. Queens. Ayah dengan tangan berbau kabel dan solder. Komputer lama menyala di ruang tamu sempit. Seseorang berkata, “Sistem bisa diperbaiki dari dalam.” Potongan itu datang dan pergi seperti kilat jauh. Ia menatap Maya lagi.
“Istriku?” tanyanya.
Maya menutup mata sepersekian detik. Ruangan menjadi lebih kecil. Bau antiseptik terasa lebih tajam. Bip.... Ia tidak perlu jawaban panjang. Ia melihatnya. Lantai kayu. Perempuan berlutut. Seseorang berdiri di belakangnya. Suara seperti dunia berhenti satu detik.
Ia menutup mata. Air mata mengalir tanpa suara. Bukan karena ia ingat segalanya. Tapi karena tubuhnya ingat lebih dulu daripada pikirannya.
“Ethan,” bisik Maya, menggenggam tangannya.
Sentuhan itu hangat. Nyata. Bukan seperti kilatan memori yang rapuh. Ia menggenggam balik, lemah. Di balik kelopak mata, lingkaran itu muncul lagi. Simbol hitam. Terbelah sempurna. Seolah seseorang memutus sesuatu yang seharusnya utuh.
Bip.....Bip.....Bip................
Ia membuka mata perlahan. Langit-langit putih. Retakan tipis. Lingkaran yang hampir sempurna. Ia menatapnya lama. Empat orang. Lingkaran terbelah.
02.13. Kayu, darah. Namanya Ethan. Ia tidak tahu siapa dirinya. Tapi ada satu hal yang terasa lebih solid daripada yang lain. Mereka mengira ia akan mati. Ia tidak tahu bagaimana ia tahu itu.
Ia hanya tahu. Bip.....
Dan di sela-sela kebisingan mesin dan bau antiseptik yang menyesakkan, sebuah kesadaran kecil, dingin, mulai terbentuk di dasar pikirannya. Sesuatu salah. Bukan hanya karena ia lupa. Bukan hanya karena ia selamat. Salah karena ada sesuatu yang sengaja tidak selesai malam itu.
Sebuah pekerjaan yang hampir sempurna. Hampir... Bip.......
Ia menatap Maya.
“Ada tato,” katanya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Maya mengerutkan kening.
“Tato?”, tanya Maya.
“Lingkaran,” bisiknya. “Terbelah.”, lanjutnya.
Simbol itu menggantung di udara di antara mereka. Dan tanpa ia sadari, tanpa ia pahami sepenuhnya, itulah hal pertama yang benar-benar ia miliki sejak membuka mata. Bukan namanya, bukan masa lalunya, bukan keluarganya. Tapi simbol itu. Lingkaran yang dipotong dua. Seperti hidupnya.
BAB 2 – FRAGMEN WARNA PERTAMA
Monitor jantung itu masih berbunyi.
Bip.....Bip......Bip.......
Suara itu tidak keras. Tidak panik. Stabil. Terlalu stabil. Ia terbangun dengan perasaan bahwa sesuatu seharusnya tidak stabil. Langit-langit putih. Lampu neon lembut. Bau antiseptik yang tipis, seperti logam yang dicuci bersih tapi tak pernah benar-benar hilang. Tangannya berat. Ada selang di pergelangan. Dingin. Ia mengedip pelan. Warna.
Putih. Abu-abu. Hijau muda tirai. Lalu....... Cokelat tua. Lantai kayu. Bukan di sini. Bip..... Ia memejamkan mata lagi. Warna itu tidak hilang. Ia justru semakin tajam. Serat kayu. Goresan kecil di dekat kaki meja. Pantulan cahaya lampu hangat di atasnya. Dan sesuatu yang lebih gelap dari cokelat. Merah..... Ia tersentak. Monitor jantung melonjak cepat.
“Tuan? Tidak apa – apa. Kamu aman.” Suara perempuan. Lembut. Terlatih untuk tidak panik.
Aman? Kata itu menggantung. Aman? Ia menatap langit-langit lagi. Putih. Bukan cokelat. Tidak ada lampu gantung hangat. Tidak ada bayangan yang bergerak. Tapi bau itu, bukan antiseptik. Bau kayu yang lembap, bau besi. Bau.....Darah. Ia menelan ludah. Tenggorokannya kering.
“Air,” katanya pelan.
Perawat mendekat, membantu mengangkat kepalanya sedikit. Gelas plastik menyentuh bibirnya. Airnya dingin. Terlalu bersih, dingin. Lantai itu hangat. Hangat karena....Jangan!!!
Ia menutup mata lagi. Warna datang lebih cepat kali ini. Lampu dapur menyala redup. Bayangan bergerak di dinding. Suara kain bergesek. Tangisan yang ditahan.
“Ayah ?”, suara kecil, tipis, bergetar. Ia tidak melihat wajahnya. Hanya sepasang kaki kecil berdiri di atas lantai kayu. Piyama biru. Motif bintang. Bintang. Astronomi. Langit malam. No.... Nama itu hampir muncul. Hilang. Bip......... Ia tersentak lagi, napas memburu.
“Tuan ........” Perawat berhenti. “Tuan. Coba tarik napas perlahan.”
Ia tidak punya nama. Warna itu pecah seperti kaca. Ia membuka mata. Putih lagi. “Berapa lama saya tidur?” tanyanya.
“Dua minggu sejak operasi terakhir,” jawab suara lain. Ia menoleh pelan. Seorang dokter berdiri di ujung tempat tidur. Rambut pirang pendek. Tatapan tenang yang terlalu tenang.
“Kepala Anda mengalami trauma. Wajar jika ada kilas balik sensorik.”. “Kilas balik?” Ia mengulang, seperti kata itu milik orang lain. “Fragmen memori. Tidak utuh.”
Fragmen? Seperti lantai kayu. Seperti piyama biru. Seperti suara kecil yang memanggilnya sesuatu yang tidak bisa ia ingat. Ia mengangguk pelan, walau sebenarnya tidak mengerti. Dokter itu melanjutkan dengan nada profesional, menjelaskan tentang aktivitas hippocampus, tentang pemulihan bertahap, tentang bagaimana memori sering kembali dalam bentuk visual sebelum naratif. Naratif, ia tidak punya cerita. Hanya warna. Dan suara. Bip......
Setelah dokter pergi, ruangan kembali sunyi. Hanya monitor. Hanya napasnya sendiri. Ia memandang tangan kanannya. Ada bekas jarum. Ada memar samar di sepanjang lengan. Kulitnya terasa bukan miliknya. Tiga peluru. Kata itu muncul entah dari mana. Tiga ???
Ia tidak tahu bagaimana ia tahu. Tapi tubuhnya tahu. Ada rasa berat di sisi kiri abdomen. Tarikan halus di bahu kanan saat ia mencoba menggerakkan jari. Tiga, lantai kayu, merah. “Daddy?”, Suara itu lagi.
Ia memejamkan mata, bukan untuk menghindar, melainkan untuk memaksa. Datang, Tunjukkan. Warna kembali. Kali ini lebih luas. Ruang keluarga. Sofa abu – abu. Meja kopi terbalik. Lampu jatuh pecah. Dan seseorang berdiri. Tinggi, diam, berseragam gelap.
Tidak, bukan seragam. Pakaian taktis. Hitam. Wajahnya tidak terlihat. Hanya tangan kanannya. Ada sesuatu di sana. Tinta. Lingkaran, terbelah. Seperti dua bulan sabit yang saling berhadapan tapi tidak menyentuh. Simetris. Aneh.....
Ia mencoba mendekat “dalam pikirannya” tapi gambarnya kabur. Suara mendadak pecah. Tangisan berubah menjadi jeritan yang tertahan. Ia terbangun dengan napas tercekik. Monitor melonjak lagi.Perawat kembali masuk.
“Tidak apa – apa. Hanya mimpi.” Bukan mimpi. Ia tahu itu bukan mimpi. Itu potongan. Seperti potongan film yang diputar tanpa suara lengkap.
“Lingkaran,” bisiknya.
“Maaf?”, tanya perawat itu.
“Tato.”, bisik Ethan. Kata itu terasa berat. Seperti ia menariknya dari dasar air.
Perawat mengernyit. “Anda melihat sesuatu?”.
Ia menatap kosong ke dinding. Putih. “Lingkaran terbelah.”, ujarnya.
Ia mengangkat tangan gemetar, menggambar di udara. Dua setengah lingkaran. Terpisah tipis. Perawat menuliskan sesuatu di tablet.
“Baik. Kita akan sampaikan ke dokter.”, kata Perawat itu.
Tapi ia tidak peduli pada dokter. Ia peduli pada tangan itu. Tangan kanan. Menggenggam sesuatu. Bukan pistol. Terlalu panjang. Senapan. Siluetnya muncul cepat lalu hilang. Ia memejamkan mata lagi, dan kali ini warna datang dengan suara. Suara logam. Klik....
Seperti sesuatu diputar perlahan. Pintu belakang? Pukul 02.13. Angka itu muncul begitu saja.
Kenapa 02.13? Ia tidak tahu. Tapi ia tahu. Seperti tiga peluru. Seperti lantai kayu. Seperti lingkaran terbelah. Bip......
Waktu di ruangan ICU berjalan lambat. Terlalu lambat. Setiap detik seperti peregangan karet yang akan putus. Ia mencoba memaksa pikirannya mundur lebih jauh. Sebelum lantai kayu. Sebelum suara. Sebelum lingkaran. Ada sesuatu yang lain. Cahaya biru dari layar laptop. Tabel angka. Baris kode.
Kata “Deviation”. Tidak, itu tidak jelas. Hanya kilatan biru. Ia membuka mata lagi, bingung. Apa hubungannya laptop dengan.....??? Suara langkah di luar ruangan menghentikan pikirannya.
Seseorang berdiri di ambang pintu. Perempuan. Rambut hitam panjang. Mata cokelat yang tampak lelah, tapi tidak runtuh. Ia masuk perlahan, seakan takut membuat suara. Ia berdiri di samping tempat tidur.
“Hi,” katanya pelan.
Maya. Sosok tidak asing dan rasanya sudah lama dia kenal. Tapi juga tidak familiar.
“Hi Maya,” katanya akhirnya.Ia berhenti. Menelan.
Ia merasakan sesuatu bergerak di dadanya, bukan memori, bukan gambar, sesuatu yang lebih dalam. Tekanan.
“Di mana dia?”, tanyanya.
“Kamu berjanji menceritakannya”, imbuhnya.
Hening yang terlalu lama. Maya tidak langsung menjawab. Monitor berbunyi lebih cepat.
Bip........ Bip........ Bip........
“Dia tidak berhasil,” katanya pelan. Kalimat itu sederhana. Tidak dramatis. Tidak detail. Tapi di dalam kepalanya. Warna meledak. Lampu hangat. Seseorang berlutut. Rambut panjang menutupi wajah. Tangan terikat. Ia mencoba bergerak. Tidak bisa. Seseorang memegang bahunya. Suara kecil menangis.
“Tidaaaaaaakkk.....!!!”,”Jangaaaaaan.....!!!”, teriak Ethan.
Gambar berhenti sebelum peluru. Sebelum suara itu. Sebelum.... Ia membuka mata dengan teriakan tertahan. Maya sudah memegang tangannya.
“Tidak apa-apa. Kamu di rumah sakit. Kamu aman sekarang.”, ujar Maya.
Rumah sakit? Putih? Aman? Tapi lantai kayu itu lebih nyata daripada putih ini.
“Anak-anak?” tanyanya, hampir berbisik.
Maya menutup mata sebentar sebelum menjawab.
Ia tidak perlu jawaban. Ia sudah tahu. Karena suara kecil itu tidak datang lagi. Karena tidak ada lagi “Daddy?” dalam warna. Hanya gema kosong. Ia menatap Maya.
“Empat orang.” Ia tidak tahu bagaimana ia tahu.
Tapi angka itu terasa pasti. Seperti 02.13. Seperti tiga peluru.
“Bagaimana kamu tahu? Kamu sudah mengatakannya tadi.” Ia menggeleng. “Aku… melihat.”
“Wajah mereka?”, tanya Maya.“Tidak.”, jawabnya.
Hanya tangan. Hanya lingkaran terbelah. Hanya hitam. Maya duduk di kursi, napasnya tidak stabil seperti sebelumnya.
“Polisi bilang tidak ada saksi.”, kata Maya.
“Aku ada di sana.”, katanya.
Dan itu terasa aneh. Ia ada di sana? Tapi ia tidak ada di sini. Ia mencoba merangkai fragmen. 02.13. Klik logam. Empat bayangan. Lingkaran terbelah. Piyama biru berbintang. Laptop biru. Deviation. Kenapa kata itu muncul? Ia menatap Maya.
“Pekerjaanku apa?”. Pertanyaan itu membuatnya kaku.
“Kamu analis keamanan siber,” jawabnya pelan.
Biru, laptop, tabel. Itu cocok. Tapi tidak menjelaskan lantai kayu. Tidak menjelaskan darah. Tidak menjelaskan kenapa empat orang masuk rumahnya. Ia memejamkan mata lagi. Kali ini ia tidak memaksa. Ia membiarkan warna datang sendiri. Ruang kerja kecil di lantai dua. Layar menampilkan grafik. Satu baris data berkedip merah. Merah. Seperti lantai. Ia memperbesar layar. Nama file. Tidak jelas. Hanya awalan: “D.A.P.M ...........”
Bip............. Suara monitor menariknya kembali. Ia membuka mata. Putih. ICU. Maya masih di sana.
“Kamu sedang mengerjakan sesuatu sebelum .........” katanya pelan, seolah takut melanjutkan. “Sebelum apa?”, tanyanya.
“Sebelum malam itu.”, jawab Maya.
Malam itu? Frasa itu seperti pintu yang setengah terbuka. Ia merasakan sesuatu bergerak lagi di dalam pikirannya. Bukan gambar. Keputusan. Seseorang berdiri di belakangnya saat ia duduk di depan laptop. Ia tidak melihat wajahnya. Hanya pantulan samar di layar. Dan di pantulan itu terlihat “Lingkaran terbelah”. Ia tersentak.
“Kamar belakang,” bisiknya.
“Apa maksudmu Ethan?”
“Mereka masuk dari belakang.”
Bagaimana ia tahu? Klik logam. Pintu belakang. 02.13. Maya menatapnya lama.
“Kamu yakin?”, tanya Maya.
“Tidak, Ya”, jawabnya tidak yakin.
Ia tidak tahu. “Suara,” katanya akhirnya.
“Aku ingat suara.”, imbuhnya.
Ia menatap tangannya sendiri lagi. Tangan yang tidak cukup kuat malam itu. Tangan yang sekarang gemetar. Lingkaran terbelah. Ia menggambar lagi di udara, lebih presisi. Dua setengah lingkaran. Tidak menyentuh.
“Ini,” katanya.
Maya memandang gerakan itu seperti melihat peta.
“Kita cari tahu,” kata Maya pelan.
Kita? Kata itu terasa seperti tali tipis di atas jurang. Ia tidak yakin ingin memegangnya. Tapi ia juga tidak ingin jatuh. Monitor kembali stabil.
Bip.....Bip......Bip.......
Suara itu sekarang tidak hanya milik ruangan ini. Ia menyadari sesuatu. Ritmenya mirip dengan sesuatu yang lain.
Klik...Diam....Klik....Diam...
Seperti langkah. Empat langkah.
Satu.... Dua..... Tiga..... Empat....
Ia menatap langit-langit putih lagi. Putih tidak lagi kosong. Putih adalah jeda. Dan di balik jeda itu, warna menunggu. Lantai kayu. Piyama biru. Lingkaran terbelah. 02.13. Empat. Fragmen pertama sudah datang. Dan ia tahu, tanpa tahu bagaimana, jika itu belum yang paling buruk.
BAB 3 — TERAPI & TATO
Bip..... Bip........
Bunyi monitor itu lagi.
Bip..... Bip........
Ritmenya stabil. Terlalu stabil. Seolah-olah dunia berusaha meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja. Padahal tidak ada yang baik-baik saja. Cahaya pagi menyelinap melalui tirai tipis ruang ICU di NewYork-Presbyterian Hospital. Manhattan bergerak di luar sana—taksi kuning, orang-orang dengan kopi kertas, keputusan-keputusan kecil yang tidak pernah melibatkan darah di lantai kayu. Ia memandangi tangannya sendiri.
Tangan itu bukan tangan yang ia kenal. Ada selang infus menancap di punggungnya. Kulitnya pucat. Di pergelangan kiri, garis tipis bekas jarum berlapis-lapis. Tangannya gemetar sedikit. Bukan karena dingin. Karena sesuatu di bawah kulitnya mencoba keluar.
“Selamat pagi, Ethan.”, nama itu masih terasa seperti milik orang lain.
Dr. Hannah Weiss berdiri di sisi tempat tidur, tablet digital di tangan. Rambut pirangnya pendek, tersisir rapi. Suaranya tidak pernah naik. Tidak pernah terlalu rendah. Netral. Profesional.
“Apa Anda tahu kenapa Anda di sini?”, ia menatap langit-langit.
Putih. Cat putih. Retakan kecil di sudut ventilasi. Rumahnya juga punya ventilasi. Kayu. Bau kayu. Lantai kayu. Darah. Ia menutup mata cepat.
“Serangan,” katanya akhirnya. Suaranya kering. “Rumah saya diserang.”
“Bagus. Itu progres.” Dr. Weiss menandai sesuatu di tabletnya. “Apa yang Anda ingat tentang penyerang?”
Sunyi..... Bip..... Bip........
Satu kilatan. Bukan wajah. Bukan suara. Lingkaran. Lingkaran terbelah. Hitam. Kulit. Tangan kanan. Ia membuka mata.
“Ada simbol,” katanya pelan. “Di tangan. Lingkaran… terpotong.”
Dr. Weiss tidak langsung menjawab. “Apakah Anda yakin?”
“Tidak.!!!”, jawabnya.
Ia tidak yakin pada apa pun. Tapi simbol itu terasa lebih nyata daripada wajahnya sendiri.
“Saya melihatnya.”, imbuhnya. “Di mana?”, tanya Dr. Weiss.
“Tangan.” Ia menelan ludah. “Dan… leher. Seseorang.”
Dr. Weiss mengangguk perlahan. “Baik. Kita tidak akan memaksakan detail. Ingatan traumatis sering muncul dalam fragmen visual. Tidak kronologis.”
Fragmen. Seperti kaca pecah. Seperti cermin yang dijatuhkan. Ia mencoba mengingat wajah istrinya. Kosong. Ia tahu ia punya istri. Itu fakta. Semua orang mengatakannya begitu. Ada foto di meja samping ranjang. Seorang wanita tersenyum di foto itu. Rambut cokelat lembut. Mata hangat. Ia tahu ia seharusnya merasakan sesuatu. Ia tidak merasakan apa – apa. Itu yang paling menakutkan.
Terapi dimulai setelah makan siang. Ruangan berbeda. Lebih kecil. Dinding abu-abu lembut. Kursi empuk. Tidak ada bunyi monitor. Hanya suara napas. Dan jam dinding. Dr. Weiss duduk di depannya.
“Kita akan melakukan guided recall. Jika Anda merasa kewalahan, beri tahu saya. Kita berhenti.”
Ia mengangguk.
“Pejamkan mata. Bayangkan rumah Anda.”, lanjut si dokter.
Rumah. Brownstone. Tangga batu. Pintu cokelat tua. Pegangan besi. Ia melihatnya. Kabur, tapi ada.
“Masuk,” kata Dr. Weiss lembut. Ia membuka pintu. Bau. Kayu. Sabun cucian. Cat air, istrinya melukis? Warna biru. Anak-anak? Ada suara kecil berlari. Tertawa. Lalu..... Bunyi logam. Pelan. Klik....Klik..... Tubuhnya menegang. Napasnya memburu.
“Apa yang Anda dengar?” tanya Dr. Weiss.
“Pintu belakang.”
“Bagaimana perasaan Anda?”
Dingin. Tidak. Salah. Sebelum dingin. Normal. Lelah. Ia sedang duduk. Laptop. Ya!!! Ia melihat layar. Angka-angka. Grafik. Folder terenkripsi. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tidak karena takut. Karena sesuatu yang ia temukan. Apa? Apa? Apa?
Layar laptop berubah menjadi merah. Tidak. Itu darah. Lantai kayu. Darah mengalir ke celah papan. Ia membuka mata tiba-tiba. Ruangan terapi kembali. Jam dinding. Abu-abu. Tidak ada darah.
“Saya melihat darah,” katanya serak. Dr. Weiss mengangguk.
“Itu wajar. Jangan menilai. Hanya amati.”, ia menggeleng pelan.
“Itu tidak berurutan.”
“Trauma jarang berurutan.”, sanggah sang dokter.
Bip........ Tidak ada monitor di sini. Tapi ia masih mendengarnya.
Bip......Bip.....Bip.....
Maya datang sore itu. Ia membawa kopi yang tidak boleh diminumnya.
“Dokter bilang kau belum boleh kafein,” katanya, mencoba tersenyum.Ia duduk di kursi yang sama seperti kemarin. Selalu kursi itu. Dekat jendela.
“Terapi hari ini?” tanyanya.
“Simbol,” jawabnya.
Maya membeku sepersekian detik. “Simbol?”, tanya maya.
“Tato.”, ujarnya.
Kata itu menggantung di udara. Ia memperhatikan reaksi Maya. Hanya sepersekian detik mata wanita itu berkedip lebih lambat.
“Kau ingat wajah mereka?” tanyanya hati-hati.
Ia menggeleng. “Hanya tato.”, jawabnya.
Maya menatap ke luar jendela. Manhattan bergerak seperti biasa. Seolah tidak ada empat pria yang masuk ke rumah orang dan menghancurkan segalanya.
“Polisi bilang tidak ada motif jelas,” katanya pelan.
Polisi. NYPD. Detektif dengan jas kusut. Pertanyaan-pertanyaan berulang. Empat orang? Apakah Anda melihat kendaraan? Apakah ada musuh? Musuh??? Ia mencoba mencari wajah dalam pikirannya. Tidak ada. Kosong.
“Kau percaya mereka?” tanyanya tiba-tiba.
Maya menoleh. “Polisi?”
“Ya, tentu.”, jawabnya lagi.
Ia tidak tahu kenapa ia bertanya itu. Maya menatapnya lama sebelum menjawab.
“Aku percaya mereka mencoba.”, tegas Maya.
Itu bukan jawaban yang sama dengan percaya mereka bisa. Ia menyandarkan kepala ke bantal.
“Mereka profesional,” katanya pelan.
Maya menegang. “Apa?”
“Cara mereka masuk.”
Bagaimana ia tahu itu? Ia tidak melihatnya. Tapi ia tahu. Klik pelan. Tidak ada kaca pecah. Tidak ada teriakan. Hanya prosedur.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Maya. Ia tidak menjawab. Karena ia tidak tahu bagaimana ia tahu.
Malam itu ia bermimpi. Tidak lengkap. Tidak logis. Ia berdiri di ruang tamu. Lampu mati. Hanya cahaya kota masuk melalui jendela. Anaknya, Noah? berdiri di tangga. Tidak berbicara. Hanya melihatnya. Lalu lingkaran terbelah itu muncul di dahinya. Bukan tato. Terbakar. Hitam. Anaknya membuka mulut. Tidak ada suara.
Bip...... Bip...... Bip.....
Ia terbangun dengan napas tercekik. Perawat berlari masuk. “Tuan ? Kamu aman. Kamu aman.”
Aman?? Kata itu terdengar seperti lelucon.
Keesokan paginya, terapi lebih agresif. Dr. Weiss meletakkan beberapa foto di meja. Foto keluarga. Wanita itu lagi. Istrinya. Dua anak. Seorang bocah laki-laki dengan teleskop kecil. Seorang gadis kecil memeluk boneka.
“Apa yang Anda rasakan?” tanya Dr. Weiss.
Ia menatap lama. Seharusnya ada sesuatu yang pecah di dadanya. Tidak ada. Hanya rasa bersalah. Kosong.
“Tidak ada,” katanya pelan.
Dr. Weiss tidak terkejut. “Itu mekanisme pertahanan. Otak bisa memutus koneksi emosional untuk melindungi diri.”
Melindungi? Dari apa? Dari mengingat bagaimana mereka mati? Satu kilatan. Istrinya berlutut. Ia tidak melihat detailnya. Hanya postur. Kepala menunduk. Tangan terikat? Suara anaknya menangis. Suara yang terlalu kecil untuk ruangan sebesar itu. Ia menekan pelipisnya.
“Stop,” bisiknya. Dr. Weiss mengangkat tangan. “Baik. Kita berhenti.”
Ia membungkuk, siku di lutut, napas tidak teratur. Bip...... Tidak ada monitor di sini. Tapi bunyi itu tidak pergi.
Sore hari, Detective Alvarez datang. Pria berusia lima puluhan. Rambut memutih di pelipis. Tatapan lelah tapi tajam.
“Mr. Cole.”, sapanya. Nama itu lagi.
“Kami ingin menindaklanjuti pernyataan Anda tentang tato.”
Dr. Weiss duduk di sudut ruangan, mengamati.
“Lingkaran terbelah,” katanya pelan.
Alvarez mengeluarkan sketsa kasar. “Seperti ini?”
Tidak persis. Lebih simetris. Lebih bersih.
“Dua,” katanya. “Kembar.”
Alvarez mengangkat alis. “Dua pelaku memiliki tato identik?”. Ia mengangguk.
“Atau… satu orang dua tato?”
Ia berhenti. Ingatan itu tidak stabil. Ia melihat tangan kanan. Dan leher kanan. Dua lokasi berbeda. Dua pria? Atau satu pria berpindah posisi dalam pikirannya?
“Dua,” katanya akhirnya. Alvarez mencatat.
“Apakah Anda mengenali simbol itu dari pekerjaan Anda?”
Pertanyaan itu membuat ruangan terasa lebih kecil. Pekerjaan. Ia mencoba mengingat. Server. Firewall. Kode. Algoritma. Sesuatu tentang deviasi. Tentang prediksi. Tentang anomali. Ia menatap Alvarez.
“Apa pekerjaan saya?”, tanyanya.
Detektif itu menatapnya balik, terkejut sepersekian detik. “Anda analis keamanan siber untuk kontraktor pertahanan.”
Kata-kata itu terasa asing. Dan terlalu cocok. Keamanan. Pertahanan. Serangan di rumahnya. Profesional. Bukan perampokan. Operasi. Ia menelan ludah.
“Apakah Anda menyelidiki sesuatu sebelum kejadian?” tanya Alvarez pelan.
Dr. Weiss menyela lembut. “Detektif, kita harus berhati-hati dengan tekanan kognitif.”
Alvarez mengangguk, tapi tidak menarik pertanyaannya.
Ia memejamkan mata. Laptop. Folder terenkripsi. Nama file? Hel....??? Suaranya menghilang sebelum selesai. Hel apa?
Bip...... Bip.....Bip....
Ia membuka mata dengan napas terengah.
“Cukup,” kata Dr. Weiss tegas.
Alvarez berdiri. “Baik. Kita lanjutkan nanti.”
Sebelum keluar, detektif itu berhenti di pintu.
“Mr. Cole,” katanya tanpa berbalik.
“Orang-orang seperti itu… tidak acak.”
Ia tidak menjelaskan maksudnya. Ia tidak perlu.
Malam turun lagi di Manhattan. Lampu kota memantul di jendela seperti serpihan kaca. Ia duduk sendirian. Tangannya terangkat perlahan. Ia membayangkan kulit seseorang. Tangan kanan. Lingkaran. Terbelah sempurna. Simetris. Itu bukan tato impulsif. Itu simbol. Organisasi. Unit. Identitas.
Siapa yang menandai diri mereka seperti itu? Bukan perampok. Bukan amatir. Profesional. Kata itu terasa dingin di lidahnya. Profesional. Seperti dirinya? Ia tidak tahu siapa dirinya. Tapi ia tahu satu hal. Orang-orang itu tidak panik. Tidak ada teriakan. Tidak ada kekacauan. Hanya prosedur. Eksekusi!! Kata itu datang tanpa ia undang. Eksekusi!!
Ia menatap pantulan dirinya di kaca. Pria itu tampak kosong. Tapi di balik kekosongan itu ada sesuatu yang mulai terbentuk. Sebuah garis. Tipis, tajam, tujuan. Bip.....
Ia menyadari sesuatu. Bunyi monitor, ritme, stabil. Seperti detak, seperti metronom, seperti hitungan mundur. Jika mereka profesional, maka mereka meninggalkan jejak. Tidak jejak ceroboh. Jejak sistemik. Tato bukan kebetulan. Itu tanda kepemilikan,tanda afiliasi. Ia menyandarkan kepala ke kaca dingin.
“Lingkaran terbelah,” bisiknya pada pantulan dirinya. Dua, kembar, simetris. Seperti dua timeline yang belum ia pahami. Hitam dan putih, warna dan gelap, ingatan dan kekosongan. Di suatu tempat di dalam kepalanya, potongan-potongan itu mulai mencari satu sama lain. Belum menyatu. Belum masuk akal. Tapi bergerak. Dan untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata di ICU, ia tidak hanya merasa seperti korban. Ia merasa seperti seseorang yang sedang menghitung. Dan itu jauh lebih berbahaya.
BAB 4 — MAKAM DAN “EMPAT”
Langit di atas Brooklyn berwarna abu-abu tipis, seperti kain kasa yang direntangkan terlalu lama. Angin dari pelabuhan membawa bau asin yang samar. Dingin, tapi tidak menusuk. Dingin yang menempel. Ia berdiri di antara batu-batu nisan di Green – Wood Cemetery, tangan dimasukkan ke saku mantel hitam yang masih terasa asing di tubuhnya.
Mantel itu dibelikan Maya dua hari lalu. Katanya, udara Februari tidak bisa dipercaya. Katanya, ia tidak boleh sakit lagi. Ia tidak merasa sakit. Ia tidak merasa apa pun. Nama di batu itu terukir jelas.
Isabella Cole.
Noah Cole. Lily Cole.
Huruf-hurufnya dalam. Rapi. Permanen. Ia membaca nama-nama itu seperti membaca daftar belanjaan. Tanpa emosi. Tanpa koneksi. Tapi sesuatu bergerak di belakang tengkuknya. Seperti semut – semut kecil yang berbaris.
“Isabella.”. Bau cat minyak. Tangan penuh warna. Tawa lembut di dapur. Tidak utuh.
“Noah.”. Langit-langit kamar gelap. Cahaya bintang plastik menempel. Pertanyaan tentang galaksi. Tidak utuh.
“Lily.”. Pelukan kecil. Rambut harum stroberi. Terlalu cepat hilang. Ia menutup mata.
Hitam. Lalu warna. Lantai kayu. Mengkilap. Ada noda. Merah. Tidak banyak. Lalu banyak. Suara sesuatu jatuh. Logam menyentuh meja. Tangisan teredam. Ia membuka mata lagi. Napasnya lebih cepat. Maya berdiri di sebelahnya, jarak setengah langkah. Tidak menyentuhnya. Tidak lagi. Ia belajar membaca jarak itu.
“Aku pikir kau mungkin ingin sendirian,” katanya pelan. Suaranya stabil. Tapi terlalu stabil. Ia mengangguk. Lalu menggeleng. Ia tidak tahu mana yang benar.
“Aku tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan mereka,” lanjut Maya. “Tapi aku tahu bagaimana rasanya kehilangan kakakku.”
Kata – katanya bergetar di udara “Jangan jatuh. Aku tidak sanggup mengangkatmu lagi.”
Ia menatap batu nisan itu lagi.
“Apa aku menangis waktu pemakaman?” tanyanya.
Maya terdiam beberapa detik. Angin menggerakkan rambut hitamnya. “Tidak.”
Jawaban itu lebih berat daripada jika ia berkata ya.
“Kenapa?”
“Kau masih koma. Kamu tidak hadir.”
Sunyi. Koma? Kata itu seperti lorong panjang tanpa pintu. Ia membayangkan dirinya terbaring, mesin berbunyi pelan. Monitor jantung. Garis hijau naik turun. Stabil, lalu stabil, dan stabil. Kenapa stabil?
Tiga peluru. Tiga? Ia menekan perutnya pelan, tepat di bawah mantel. Bekas luka itu masih keras ketika disentuh. Seperti benjolan kecil yang menyimpan rahasia. Mereka menembakku. Tidak di kepala. Kenapa tidak di kepala? Suara itu datang lagi. Logam diputar. Klik.... Jam 02.13. Angka itu muncul tanpa konteks. Tanpa jam. Tanpa dinding. 02.13!!!
Ia memejamkan mata lagi. Lantai kayu. Tangan terikat. Isabella berlutut. Ia memaksa dirinya membuka mata sebelum warna itu membesar. Ia tidak siap. Belum.
“Apa kau ingat sesuatu?” tanya Maya hati-hati.
Ia menoleh padanya. “Empat.”, jawabnya.
Kata itu keluar sebelum ia sempat memikirkannya.
Maya berkedip. “Empat?”
Ia mengangguk pelan. “Empat orang.”.
Angin berhenti sejenak. Atau mungkin hanya terasa begitu.
“Polisi bilang kemungkinan lebih dari satu,” kata Maya.
Bagaimana ia tahu? Ia tidak melihat wajah. Tidak jelas. Hanya siluet. Satu tinggi besar. Satu lebih ramping. Satu cepat. Satu diam. Ia menutup mata lagi. Lingkaran. Terbelah. Garis tipis di tengahnya. Simetris. Teratur. Profesional. Bukan perampok. Bukan orang panik. Prosedur. Kata itu muncul tanpa ia undang. Prosedur. Ia membuka mata dan menatap Maya.
“Ini bukan perampokan.”, tegasnya pada Maya. Maya tidak langsung menjawab. Ia menunggu. Selalu menunggu.
“Tidak ada yang diambil,” lanjutnya.
“Tidak ada laci dibongkar. Tidak ada kekacauan.”, ujar Ethan yakin.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Maya pelan.
Ia tidak tahu. Ia hanya tahu. Lantai kayu tetap rapi. Meja tidak terbalik. Lampu masih menyala. Eksekusi. Kata itu datang lebih jelas. Ia menelan ludah.
“Mereka datang untuk kami.”, yakinnya.
Tapi untuk siapa? Untuk Isabella? Untuk anak-anak? Atau.... Untukku??? Pikiran itu membuat udara terasa lebih tipis. Maya menghela napas pelan.
“Ethan.... ”, panggil Maya.
Nama itu. Ethan. Ia masih belum sepenuhnya percaya bahwa itu namanya. Tapi ketika Maya mengucapkannya, ada sesuatu yang sedikit bergeser di dalam dadanya.
“Ethan,” ulangnya pelan, seperti menguji bunyi itu.
“Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri,” kata Maya.
“Aku tidak ingat cukup untuk menyalahkan siapa pun,” jawabnya dingin.
Itu tidak sepenuhnya benar. Ia menyalahkan sesuatu. Sistem? Diri sendiri? Kesalahan?
Ia memandang batu nisan Lily. Enam tahun. Ia mencoba membayangkan wajahnya. Tidak jelas. Terlalu terang. Seperti foto yang terlalu lama terkena matahari. Ia merasakan sesuatu di tenggorokannya. Bukan tangis. Bukan tepatnya. Lebih seperti tekanan.
“Kenapa aku masih hidup?” tanyanya tiba-tiba.
Maya menoleh cepat, “Dokter bilang....”, jawab Maya ragu.
“Bukan secara medis.”, lanjutnya.
Sunyi lagi. Burung gagak terbang rendah di atas barisan nisan. Sayapnya mengeluarkan suara berat.
“Kadang tidak ada jawaban,” kata Maya.
Ia menggeleng. “Ada prosedur.”, kata itu lagi.
“Mereka profesional. Kalau ingin memastikan, mereka bisa memastikan.”, jawab Maya.
Maya menatapnya lebih lama sekarang. Ada ketakutan kecil di matanya. Bukan pada pembunuh. Pada arah pikiran Ethan.
“Kau baru tiga minggu keluar dari rumah sakit,” katanya pelan.
“Kau masih dalam terapi. Jangan lompat terlalu jauh.”
Ia menatapnya tajam. “Aku tidak melompat. Aku mengingat.”, tegasnya.
Dan ingatan itu seperti kaca pecah. Potongan kecil. Tajam. Tidak membentuk gambar utuh. Ia melihat tangan besar memegang pistol. Tidak gemetar. Tidak terburu-buru. Satu tembakan. Isabella jatuh.
Ia tidak melihat darahnya. Hanya suara tubuh menyentuh lantai. Anak-anak menangis. Ia berteriak. Ia rasa ia berteriak. Lalu sesuatu menghantam kepalanya. Gelap. Lalu tiga dentuman. Tubuhnya tersentak. Panas. Basah. Lalu sunyi. Kenapa tidak di kepala? Ia menekan pelipisnya.
Maya mendekat setengah langkah. “Kita bisa pergi kalau ini terlalu berat.”
“Tidak.”, tolaknya.
Ia ingin berdiri di sini. Ia perlu berdiri di sini. Karena di sinilah garis itu dimulai. Dari batu nisan ke lantai kayu. Dari nama ke angka. Empat!!! Ia berlutut pelan di depan nisan Isabella. Tanah masih terlihat baru. Rumput belum sepenuhnya tumbuh. Ia menyentuh batu itu dengan ujung jarinya. Dingin. Seperti kaca jendela pada dini hari.
“Maaf,” bisiknya. Tapi untuk apa? Untuk selamat? Untuk tidak mengingat? Untuk mungkin.... Untuk sesuatu yang belum ia pahami? Ia berdiri lagi.
Maya akhirnya menyentuh lengannya. Sentuhan ringan. Tidak memaksa. “Kita bisa kembali besok,” katanya.
Ia menggeleng. “Tidak. Kita mulai hari ini.”
Maya menegang sedikit. “Mulai apa?”
Ia menatap ke arah kota. Skyline Manhattan samar di kejauhan, gedung-gedung kaca berdiri seperti bilah-bilah pisau tipis di bawah langit kelabu.
“Mencari mereka.”
Maya menelan. “Tapi Polisi sedang....”
“Polisi menunggu.”, sanggahnya langsung.
Nada suaranya berubah. Lebih dingin. Lebih rata.
“Empat orang masuk ke rumahku. Tidak ada saksi. Tidak ada kamera jelas. Mereka tidak meninggalkan kekacauan. Itu bukan kejahatan acak.”
Maya tidak membantah. Ia tahu itu.
“Kau bahkan belum ingat semuanya,” katanya akhirnya.
“Cukup.”, tegasnya. Ia menatapnya.
Ada sesuatu yang berbeda di matanya sekarang. Bukan hanya kehilangan. Ada garis tipis ketegasan.
“Empat,” ulangnya pelan. “Dan dua simbol.”
Maya menarik napas panjang. “Simbol itu bisa apa saja.”
“Tidak.”, Ia memejamkan mata sejenak.
Lingkaran terbelah. Garis sempurna. Bukan tato jalanan. Bukan impulsif. Identitas. Ia membuka mata.
“Itu tanda.”. Angin kembali bergerak. Lebih kencang.
Maya memandangnya lama. Ia sedang menimbang. Antara membiarkan. Atau menariknya kembali ke terapi, ke ruang aman, ke dokter dengan suara stabil.
“Kau yakin ini bukan hanya fragmen trauma?” tanyanya pelan. Ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak hangat.
“Semua yang kumiliki adalah fragmen.”. Sunyi lagi.
Lalu Maya berkata, hampir berbisik, “Kalau kau pergi ke arah ini… tidak ada jalan kembali.”, “Aku akan ikut. Tapi itu akan mengubah kita.”, imbuh Maya.
Ia menatap batu nisan sekali lagi. Isabella. Noah. Lily. Nama-nama itu tidak menjawab. Tapi angka itu menjawab. Empat. Ia merasakan sesuatu mengeras di dalam dirinya. Bukan kemarahan yang meledak. Bukan tangis yang tumpah. Lebih seperti keputusan yang mengendap. Ia mengeluarkan ponselnya. Layar menyala. Wajahnya terpantul samar. Ia tidak sepenuhnya mengenali pria itu.
“Besok kita kembali ke rumah,” katanya.
Maya menatapnya. “Rumah?”
“TKP. TKP awal kejadian.”
Kata itu terdengar asing di antara mereka.
Maya mengangguk pelan. “Oke.”
Tidak ada drama. Tidak ada janji besar. Mereka berjalan meninggalkan deretan nisan itu. Langkah mereka pelan, berirama sama, tapi tidak bersentuhan. Di gerbang pemakaman, ia menoleh sekali lagi. Langit masih abu-abu. Angin masih membawa bau asin. Ia mendengar suara jauh. Seperti monitor jantung. Bip.... Bip.... Bip.... Stabil.
Ia mengingat sesuatu yang lain. Seseorang berdiri di atasnya. Wajahnya tidak jelas. Tapi suara itu datar.
“Kita selesai.”
Selesai? Tidak terdengar seperti ancaman. Tidak terdengar seperti marah. Hanya pernyataan. Ia berhenti berjalan.
Maya menoleh. “Kenapa?”
Ia tidak langsung menjawab. Karena tiba-tiba ia sadar, mereka yakin ia akan mati. Mereka tidak memastikan. Itu bukan belas kasihan. Itu perhitungan. Dan perhitungan bisa salah. Ia menatap Maya.
“Mereka membuat kesalahan,” katanya pelan.
Maya menahan napas. “Kesalahan apa?”
Ia memandang ke arah Manhattan lagi.
“Mereka membiarkanku hidup.”, imbuhnya.
Kata-kata itu tidak terdengar seperti keluhan. Terdengar seperti fakta. Dan di bawah fakta itu, sesuatu yang lebih gelap mulai tumbuh. Bukan balas dendam yang panas. Balas dendam yang dingin. Terstruktur. Seperti lingkaran terbelah itu. Simetris. Presisi. Empat.
Ia melangkah keluar dari gerbang pemakaman tanpa menoleh lagi. Angin berhembus lebih kencang sekarang. Dan untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata di ruang ICU, ia tidak merasa kosong. Ia merasa..... Berarah..