PROLOGUE
PROLOGUE
Suara ban bergesekan dengan jalan terdengar dari waktu ke waktu. Lampu depan mobil berkelebat, meskipun hari sudah larut malam. Sesosok tubuh rapuh dan terluka berjalan di sepanjang jembatan di atas sungai, lalu perlahan-lahan jatuh ke tanah.
Tubuhnya gemetar karena kedinginan yang menusuk tulang, mencengkeram dadanya saat hujan deras mengguyur dengan liar, seolah mengejek dan memperkuat rasa sakit di dalam dirinya.
Matanya yang kusam terus meneteskan air mata jernih, bahkan saat hujan menghapusnya. Bibirnya yang cantik terkatup rapat, berusaha menahan kelemahannya, memaksanya masuk jauh ke dalam hatinya—tetapi itu malah terlepas dan menjadi kerentanannya sendiri.
Wanita yang selalu tampak kuat dan dingin di mata orang lain itu tak tahan lagi. Ia memeluk lututnya dan menangis sekali lagi, karena hatinya yang kecil tak sanggup lagi menanggung luka yang terus membara di dalam.
Tak lama kemudian, lampu-lampu yang berkedip itu tampak terhalang oleh sesuatu. Hujan yang mengguyur tubuhnya mulai mereda, meskipun suara-suara di sekitarnya masih terdengar jelas. Yang terasa aneh adalah suara yang familiar—penuh kekhawatiran—mendengarnya. Dan bersamaan dengan itu datanglah kehangatan yang selama ini ia dambakan.
“Aku akan melindungimu, Nona Kung-Nang.”
Ketika wajah tanpa cela itu terangkat dan berkedip cepat, dia melihat seseorang berdiri di sana, memegang payung untuk melindunginya dari hujan, mengulurkan tangan seolah ingin menariknya pergi dari rasa sakit dan penghinaan yang telah dideritanya.
“Ikutlah denganku… Aku berjanji akan selalu berada di sisimu. Ke mana pun kamu pergi bersamaku, aku akan tetap bersamamu. Kapan pun kamu terluka, aku akan ikut merasakan sakitmu. Aku akan menjadi temanmu. Tolong jangan lagi menanggung semuanya sendirian.”
Pada saat itu, wanita yang tampak dingin di luar tetapi sangat rapuh di dalam melakukan sesuatu yang tidak pernah ia duga bisa ia lakukan. Kelemahan di matanya berubah menjadi kekuatan yang selalu ia tunjukkan kepada dunia.
Dia mengulurkan tangan ke orang itu, berdiri, dan merangkul tubuh orang itu, yang sudah basah kuyup karena hujan.
Rasanya seperti terjebak dalam badai dahsyat di tengah laut yang dalam, tubuhnya hampir terkoyak—namun ada sebuah perahu kecil yang berhenti untuk membawanya pergi, meskipun perahu itu sendiri tidak memiliki kekuatan yang besar. Dan dia tidak lagi takut, bahkan jika mereka harus tenggelam bersama.
‘Meskipun dunia yang kulihat akan menjadi kelabu dan tidak indah...’
‘Tapi bagiku...’
‘Kamu Selalu Menjadi Cinta yang Indah.’