BAB 1: MENGINAP
Malam itu dalam perjalanan mudik kampung, nasib sedang tidak berpihak padaku. Aku, seorang pria berusia 36 tahun, berdiri di pinggir jalan setelah turun dari travel melakukan perjalanan 5 jam.
.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, dan harapanku untuk lanjut pulang ke kampung halaman menaiki satu mobil bus angkutan umum di terminal. Perjalanan menuju kampung sisa 2 jam lagi, tapi semua pupus karena mobil sambungan yang kutunggu tak kunjung muncul. Penduduk lokal mengatakan bus sudah tidak ada lagi jika sudah jam segini.
.
Lalu aku terpaksa menekan nomor IGAN, sepupuku. Dia seumuranku, 36 tahun, seorang bos jualan di pasar induk memiliki rambut yang sudah mulai botak, meski wajahnya masih cukup tampan.
.
"Halo, IGAN... aku ketinggalan mobil. Ini aku baru turun travel di jalan."
.
Suara hiruk-pikuk pasar terdengar jelas dari seberang telepon. "Waduh, aku lagi jualan ini, Lor. Aku baru pulang jam 5 subuh nanti. Aku nggak bisa jemput. Kamu nginap ke rumah saja, Lor."
.
"Ah, nggak enak Lor," ucapku ragu.
.
"Udah kayak sama orang lain saja! Udah, sana!"
.
"Baiklah," ucapku pasrah.
.
Mendengar itu, IGAN langsung menyuruhku. "Kamu langsung ke rumah saja Lor, ketok saja pintunya. Paling 10 menit naik ojek. Nanti aku beri tahu WULAN," jawab IGAN cepat.
.
"Oke Lor."
.
Aku mematikan telepon dan pergi dengan terburu-buru. Akhirnya mendapatkan ojek. Hanya dalam 10 menit naik ojek, aku sudah sampai di depan kompleks rumah mewah milik IGAN. Aku melangkah ke teras dan mengetuk pintu kayu itu.
.
Tok... tok... tok.
.
Pintu terbuka lebar, dan sosok WULAN muncul dengan wajah ceria. Istri IGAN yang berusia 33-34 tahun itu tampil dengan hijab santun, namun kemeja putih yang ia pakai tampak sangat sesak membungkus tubuhnya yang padat.
.
Ukuran 42D-nya seolah menantang kancing kemeja yang tertarik kencang di area dada. Sebuah kalung emas panjang melingkar di lehernya, menjuntai rendah dan jatuh tepat di lembah dadanya yang membusung.
.
"Eh, Bang! Cepat sekali sampainya!" seru WULAN sambil menyapa dengan suara renyah.
.
"Iya LAN, ojeknya kebut."
.
"Ya udah, ayo masuk!" ucap WULAN.
.
Ia sambil tertawa, lalu tiba-tiba meraih tali tas ranselku. "Sini Bang, masuk! Jangan di luar terus!" ucapnya sambil menarik-narik tas ranselku dengan manja agar aku segera masuk.
.
Gerakannya membuat tubuh berisi itu berguncang halus di balik kemeja kaku, membuat kalungnya berayun liar tepat di depan mataku. Kami pun masuk ke dalam rumah.
.
"Duduk dulu ya Bang, aku ambilkan minum ke dapur," kata WULAN sambil meletakkan tas ranselku di samping sofa.
.
Aku duduk di sofa ruang tamu yang empuk, mencoba mengatur napas. Pemandangan WULAN yang lincah tadi benar-benar meruntuhkan pertahannanku.
.
Di balik celana kainku, pusaka 29 cm milikku sudah berdiri maksimal. Alih-alih menutupi atau membetulkan posisi, aku justru sengaja memancingnya. Aku duduk sedikit menyandar dengan kaki terbuka, membiarkan tonjolan luar biasa itu terlihat sangat jelas menantang di balik celana.
.
Tak lama, WULAN kembali dari dapur membawa segelas air putih hangat. "Ini Bang, diminum dulu..."
.
Langkah WULAN mendadak melambat saat ia mendekati meja di depanku. Pandangannya yang semula tertuju pada gelas, tanpa sengaja jatuh tepat ke arah pinggangku. Gelas di tangannya bergetar sedikit saat ia meletakkannya di atas meja.
.
WULAN terdiam sekitar tiga detik, matanya tak sengaja melihat tonjolanku sejenak, lalu ia mengalihkan pandangan dan mengajakku mengobrol.
.
"E-eh... Abang istirahat saja dulu ya," suaranya berubah menjadi serak dan sedikit bergetar.
.
Dia buru-buru hendak pergi, tapi napasnya mulai memburu, membuat kemeja putihnya yang sesak itu naik-turun dengan cepat. Kalung panjangnya berayun di atas dadanya yang membusung karena gugup. Malam itu, di ruang tamu yang sunyi, suasana akrab tadi sudah berganti menjadi ketegangan fisik yang sangat kental.
.
Setelah meletakkan gelas, WULAN hendak pergi. Tapi aku mulai melancarkan aksi. Menyandarkan punggung ke sofa, lalu mulai memijat-mijat bahu dan leherku sendiri sambil mendesis pelan.
.
"Aduh... pegal sekali badan ini, LAN. Sepertinya efek kelamaan nunggu travel di pinggir jalan tadi," kataku sambil terus memijat dada dan bahuku sendiri, sengaja membuat gerakan yang membuat otot-otot tubuhku menegang.
.
WULAN yang tadinya mau buru-buru pergi, malah tertahan dan menoleh ke arahku. Ia melihat tanganku yang sedang memijat badan sendiri.
.
"I-iya, Bang... perjalanan 5 jam kalau memang capek," jawabnya dengan suara yang semakin serak.
.
Ia berdiri cukup dekat, membuat aroma parfum mawarnya kembali tercium kuat. Karena posisiku duduk dan dia berdiri, kemeja putihnya yang sesak itu berada tepat di depan mataku. Kalung emas panjangnya berayun pelan, sesekali menyentuh kancing kemejanya yang seolah hampir meletus menahan beban 42D di dalamnya.
.
"LAN, boleh minta tolong tidak? Bahu sebelah kanan ini rasanya kaku sekali, tidak sampai tanganku memijatnya," kataku sambil menatap matanya yang sayu.
.
WULAN berpikir sejenak, lalu ia kembali menatapku. Tangannya yang halus tampak meremas ujung kemeja putihnya yang kencang.
.
"E-eh... boleh, Bang."
.
Aku bisa melihat bagaimana kemeja putih itu tertarik sangat kencang di bagian pinggang dan punggungnya yang berisi. Keakraban kami yang biasanya hanya tawa biasa, malam itu mulai bergeser ke arah menegangkan yang sangat berisiko, sementara pusaka 29 cm milikku masih berdiri gagah menantang di balik celana.








