The Draft World

All Rights Reserved ©

Summary

Di kota yang terlihat normal, ada hal-hal kecil yang tidak bisa dijelaskan. Lampu yang lupa cara menyala. Jam yang berhenti di waktu yang sama. Tempat-tempat yang… seharusnya tidak ada. Fuyuki Mizuhako hidup di celah-celah itu. Sebagai penjual peta untuk ruang yang “dilupakan” realitas, dia membantu orang menemukan jalan pulang—atau jalan keluar. Tapi setiap peta yang dia gambar mengikis dirinya sendiri. Ingatan kecil hilang. Kebiasaan tubuh memudar. Sampai suatu hari, dia mungkin lupa… cara menjadi manusia. Di kepalanya, ada Sielha. Makhluk dari Void—dunia yang berisi semua hal yang pernah ditolak untuk ada. Sielha ingin merasakan dunia. Fuyuki adalah satu-satunya cara dia bisa hidup. Hubungan mereka bukan sekadar kerja sama. Ini adalah pertukaran: pengalaman ditukar dengan eksistensi. Dan seperti semua transaksi di dunia ini, selalu ada harga yang tidak disebutkan di awal. Sementara itu, dunia mulai rusak. Cerita-cerita yang seharusnya berakhir menumpuk. Realitas mulai “stutter,” mengulang hari yang sama, melewati waktu, bahkan menulis ulang masa lalu. Di balik semua itu, sesuatu yang lebih besar mulai muncul— bukan musuh, bukan dewa, tapi sistem yang tidak bisa berhenti. Karena di dunia ini, tidak ada cerita baru. Yang ada hanya cerita yang belum selesai. Dan semakin lama Fuyuki bertahan, semakin jelas satu hal: Dia bukan mencari jalan pulang.

Genre
Mystery
Author
Halileus
Status
Ongoing
Chapters
1
Rating
n/a
Age Rating
16+

Chapter 1 - Gang Yang Tak Muat

Fuyuki Mizuhako keluar dari pintu apartemen kecilnya di ujung Jalan Alderstone saat malam sudah mulai dingin. Jam dinding di ruang tamu tadi menunjukkan pukul delapan lewat, tapi jarumnya berhenti sebentar di angka enam sebelum lanjut lagi. Dia nggak peduli. Dia cuma tarik mantel abu-abu tuanya lebih rapat ke badan, kunci apartemen dimasukkan ke kantong kanan, dan mulai berjalan.

Trotoar batu basah masih licin dari gerimis sore tadi. Sepatu botnya menapak pelan, seperti takut kalau langkah terlalu cepat bakal bikin lantai ilang. Tubuhnya condong sedikit ke kiri, kebiasaan yang sudah lama banget dia lupa kenapa. Mungkin dulu dia pernah nabrak sesuatu di sisi kanan. Atau mungkin nggak. Dia nggak ingat lagi.

Lampu gas di tiang-tiang jalan menyala redup. Kadang nyala stabil, kadang kedip pelan seperti orang lagi ragu mau mati atau nggak. Malam ini kedipnya lebih lambat dari biasanya. Fuyuki lewatin seorang ibu-ibu yang lagi bawa keranjang belanja. Ibu itu nyapa, “Malam, Nak.” Fuyuki angguk sekali, nggak bales. Dia lupa cara bales senyum yang bener. Otot pipinya kayak nggak mau gerak.

Di kepalanya, suara langsung muncul. Riang. Terlalu riang.

“Fuyuki! Fuyuki! Lihat tuh ibu-ibunya! Keranjangnya penuh apel merah. Apelnya kelihatan manis banget! Kamu ngerasa nggak? Bau apelnya? Aku suka bau buah segar. Kayak pagi di taman yang belum ada orangnya. Eh, tapi kamu diam lagi. Kenapa sih? Aku ribut ya? Maaf... tapi kalau aku diam, aku takut kamu lupa aku ada di sini.”

Sielha. Selalu Sielha. Suaranya kayak anak kecil yang baru pertama kali dikasih es krim. Nggak pernah berhenti. Fuyuki nggak jawab. Dia cuma terus jalan, tangan kanannya di kantong mantel, jari-jarinya pegang kunci apartemen yang tadi dia lupa namanya apa. Kunci. Ya, kunci. Dia harus ingat nama benda itu. Kalau nggak, besok pagi dia bakal bingung lagi pas mau buka pintu.

“Fuyuki... kamu lagi mikir apa? Cerita dong. Aku bosan kalau kamu cuma diam gini. Aku tahu Void itu sepi, tapi di sini kan enak. Ada suara orang, ada angin, ada bau roti dari warung di ujung sana. Lihat! Warung roti itu masih buka. Bau menteganya enak ya? Aku mau ngerasain roti hangat. Boleh? Cuma gigit kecil. Aku janji nggak ambil banyak.”

Fuyuki menghela napas pelan. Tarik. Tahan. Keluar. Dia ingatkan diri sendiri cara bernapas. Kadang napasnya ilang begitu aja kalau dia nggak fokus. Kaki kiri maju, kaki kanan ikut. Simpel. Tapi malam ini kaki kanannya terasa agak kaku, seperti lupa cara melengkung di lutut.

Dia lewatin Consensus Square. Alun-alun kecil itu masih ramai meski malam. Beberapa orang duduk di bangku, ngobrol pelan. Seorang gadis berambut pendek lagi bisik-bisik ke temennya, tangannya gerak-gerak cepat. Fuyuki lewat di pinggir tanpa melirik. Tapi Sielha langsung heboh.

“Wah, cewek itu lagi gosip! Aku denger sedikit. Katanya ada patung di tengah alun-alun nangis malam ini. Lucu banget! Patung nangis? Padahal patung kan batu. Tapi kalau banyak orang percaya, siapa tahu besok beneran basah. Kamu percaya nggak, Fuyuki? Aku sih mau liat. Bayangin, air matanya asin atau nggak ya?”

Fuyuki nggak jawab. Dia cuma ngerasa angin malam nyenggol pipinya. Dingin. Basah sedikit. Sielha pasti lagi “mencicipi” itu. Dia nggak bilang apa-apa, tapi dia tahu Sielha lagi senyum lebar di dalam kepalanya.

Jalan terus. Melewati toko jam dinding yang pintunya setengah terbuka. Di dalam, jam-jamnya berdetak nggak sinkron. Ada yang cepat, ada yang lambat. Pemilik toko lagi duduk di kursi, matanya kosong ke lantai. Fuyuki lewat tanpa berhenti. Dia tahu tempat itu. Kadang orang hilang di situ. Bukan hilang beneran, tapi... ilang sebentar. Lalu balik lagi dengan ingatan yang beda.

Sielha cekikikan pelan. “Tempat itu lucu. Kayak kotak yang isinya campur aduk. Kamu pernah jual peta ke sana kan? Dulu. Aku inget. Kamu bilang ‘jangan masuk kalau jam berhenti’. Tapi orang-orang tetep masuk. Manusia emang suka nyari masalah ya? Tapi aku suka. Mereka bikin dunia ini rame.”

Fuyuki berhenti di depan gang kecil yang dia cari. Gang antara dua gedung bata merah. Seharusnya gang ini nggak muat. Jarak dinding kiri dan kanan cuma selebar bahu anak kecil. Tapi Fuyuki tahu caranya. Dia miringkan badan ke kiri, tarik napas dalam, lalu melangkah masuk.

Langsung terasa. Udara di dalam lebih tipis. Bau asap batu bara dari cerobong gedung datang telat dua detik. Suara langkah kakinya sendiri kedengeran duluan baru rasanya di telapak. Lampu di ujung gang yang seharusnya buntu sekarang ada pintu kayu kecil, catnya mengelupas di pojok.

Fuyuki dorong pintu itu. Engselnya nggak berderit.

Di dalam, ruangan segitiga sempit. Rak-rak kayu penuh gulungan kertas kuning kusam. Meja kecil di tengah cuma muat satu kursi dan satu pelanggan. Lampu minyak di dinding nyala redup, cahayanya goyang-goyang meski nggak ada angin.

Laki-laki berjas hitam sudah nunggu. Usia sekitar empat puluh. Topi bowler-nya diletakkan di pangkuan. Tangannya mainin ujung jas, jari-jarinya gemetar kecil. Matanya gelisah, melirik ke sudut-sudut ruangan yang kosong.

“Lo... Fuyuki Mizuhako?” tanyanya. Suaranya serak, kayak baru nangis atau baru minum terlalu banyak kopi.

Fuyuki angguk sekali. Dia duduk di kursi seberang. Gerakannya lambat. Dia harus mikir dulu baru lututnya bisa ditekuk. “Mau apa?”

Laki-laki itu menelan ludah keras. “Istri gue... dia hilang tiga hari lalu. Polisi bilang dia kabur sama cowok lain. Tapi gue tahu nggak. Malam itu gue lagi tidur. Bangun-bangun jam dinding di kamar berhenti. Lalu gue denger suaranya. Dari celah kecil di belakang jarum jam. Celahnya kecil banget, cuma cukup buat jari kelingking. Tangan gue nggak muat. Tapi suaranya jelas. Dia panggil nama gue. ‘Rian... tolong... aku di sini... gelap...’ Suaranya pelan, tapi gue denger. Gue coba tarik jarum jamnya, tapi tangan gue cuma nempel di dinding. Kayak ada yang nahan.”

Dia berhenti sebentar, napasnya ngos-ngosan. “Gue udah coba segala. Bongkar jamnya. Nggak ada celah. Tapi suaranya masih ada. Semalam dia bilang ‘Rian, aku takut sendirian’. Gue... gue nggak tahan lagi. Orang bilang gue gila. Tapi lo... lo jual peta ke tempat yang nggak ada di peta beneran kan? Tolong. Gue butuh peta ke celah itu.”

Fuyuki diam. Dia keluarin gulungan kertas kosong dari dalam mantel. Pensilnya sudah siap di tangan kanan. Jarinya agak kaku pegang pensil. Dia harus ingat cara ngeklik ujung pensil biar grafitnya keluar. Klik. Grafit muncul.

“Deskripsikan celahnya,” kata Fuyuki datar. “Warna dinding di sekitarnya. Bau apa yang lo rasain pas deket situ. Suara istri lo pas manggil—pelan atau ada getar? Jam berapa biasanya dia manggil?”

Laki-laki itu mulai cerita panjang. Suaranya naik-turun, kadang berhenti di tengah kalimat karena malu. “Celahnya hitam. Bukan hitam biasa. Kayak lubang yang nggak ada dasarnya. Bau... bau debu basah, kayak lemari tua yang nggak pernah dibuka. Suaranya... pelan, tapi ada getar di ujungnya, kayak dia lagi nangis tapi nahan. Biasanya jam dua malam. Pas gue lagi tidur nyenyak.”

Fuyuki dengerin sambil gambar. Tangan kirinya pegang kertas, tangan kanan gerak pelan. Garis pertama muncul—lurus, tapi lalu melengkung ke dalam seperti lubang yang nyedot cahaya. Tiap goresan terasa kayak ada yang diambil dari dadanya. Bukan sakit. Cuma kosong. Seperti lupa cara ngeklik pulpen tadi pagi. Atau lupa cara nyalain kompor gas di apartemen. Hilang begitu aja.

Sielha langsung ikut campur di kepala. “Wah, ceritanya klasik banget! Hilang di celah jam dinding. Lucu ya? Kayak orang nyari kunci di bawah karpet padahal kuncinya lagi di tangan sendiri. Eh, tapi suaranya sedih loh, Fuyuki. Sedih banget. Kayak kopi yang kebanyakan gula tapi tetep pahit di ujung lidah. Aku suka rasa sedih gini. Hangat. Kayak pelukan yang terlalu lama.”

Fuyuki nggak jawab. Dia cuma terus gambar. Garis kedua muncul, melipat ke luar. Kertasnya bergerak pelan sendiri, seperti napas.

Laki-laki itu masih cerita. “Gue takut dia sendirian di sana. Gue pernah mimpi dia di ruangan kosong, cuma ada jam dinding yang jarumnya muter mundur. Gue panggil dia, tapi suara gue nggak keluar. Tolong, peta-nya harus bener. Gue nggak mau dia hilang selamanya.”

Sielha terkikik lagi, tapi kali ini suaranya agak goyah. “Dia takut ditinggal. Kayak aku. Aku juga takut, Fuyuki. Kalau kamu pergi ke Published sendirian, aku balik ke Void lagi. Sepi. Gelap. Aku nggak mau. Aku suka di sini. Ada kamu. Ada angin. Ada bau roti tadi. Jangan diam terus dong. Bilang sesuatu. Apa aja.”

Fuyuki masih nggak jawab. Pensilnya terus gerak. Peta mulai hidup. Garisnya berdenyut pelan. Di sudut kertas, tulisan kecil muncul sendiri dengan tinta hitam: Jangan lihat ke belakang lebih dari tiga kali. Ruang itu ingat.

Lima belas menit kemudian, peta selesai. Fuyuki geser kertas ke depan laki-laki itu.

Laki-laki itu ambil peta dengan tangan gemetar. Matanya melebar lihat garis-garis yang bergerak. “Ini... ini beneran? Berapa bayarannya?”

Fuyuki angkat bahu pelan. “Udah dibayar.”

“Apa?”

“Kamu bayar dengan rasa peluk istri lo malam pertama nikah. Rasa hangat di dada pas dia peluk pinggang lo. Udah. Pergi aja.”

Laki-laki itu mengerjap. Wajahnya berubah pelan. Ada sesuatu yang ilang dari matanya—bukan ingatan visual, tapi rasa hangatnya. Dia berdiri, angguk kaku dua kali, lalu keluar tanpa kata lagi. Pintu kayu tutup pelan.

Ruangan kembali sepi. Hanya detak jam kecil di rak yang bunyinya telat.

Sielha langsung meledak. Suaranya penuh suka cita, tapi ada nada manja di dalamnya.

“Enak... rasa cintanya tadi manis sekali. Kayak permen yang meleleh di lidah lama-lama. Terima kasih ya, Fuyuki. Aku tahan kok hari ini. Aku janji. Cuma sedikit. Aku cuma mau ngerasain angin malam di pipi. Basah-basah gitu dari gerimis tadi. Boleh? Besok kita jalan-jalan di luar ya? Aku mau liat hujan beneran, bukan lewat kamu doang. Aku mau basah kuyup. Lari-lari di trotoar. Terus ketawa keras. Kamu mau ikut nggak? Atau... atau kamu diam lagi?”

Fuyuki berdiri. Badannya terasa lebih ringan. Terlalu ringan. Kayak ada bagian kecil yang ilang lagi. Dia coba pegang gagang pintu. Jari-jarinya kaku. Harus mikir dulu: tekan, tarik, putar. Baru gerak.

Dia keluar gang. Udara malam nyambut dingin di muka. Lampu gas di Jalan Alderstone masih berkedip, sekarang lebih lambat lagi. Bayangannya di dinding bata tertinggal setengah detik. Sielha muncul sebagai afterimage—gerakannya riang, tangannya melambai-lambai meski Fuyuki cuma berdiri diam.

“Fuyuki... aku nggak mau kamu hilang,” bisik Sielha, suaranya kecil dan manja. “Aku cuma mau exist. Bareng kamu. Selamanya. Boleh kan? Boleh ya... Aku janji aku bakal baik-baik. Aku nggak bakal ambil terlalu banyak. Cuma rasa angin. Cuma rasa hujan. Cuma... kamu.”

Fuyuki nggak jawab. Dia cuma terus jalan pulang. Melewati Consensus Square lagi. Sekarang alun-alunnya lebih sepi. Patung di tengah masih kering. Tapi besok pagi mungkin basah. Siapa tahu.

Dia lewatin warung roti yang tadi Sielha sebutin. Bau mentega masih keluar. Fuyuki berhenti sebentar di depan. Pemilik warung, mbak-mbak umur tiga puluhan, lagi nyapu lantai. Dia nyapa ramah, “Mau roti malam-malam, Mas? Masih hangat loh.”

Fuyuki geleng pelan. “Nggak. Makasih.”

Dia lanjut jalan. Sielha langsung ngambek kecil. “Kenapa nggak beli? Aku mau ngerasain roti hangat. Rasa menteganya. Aku bayangin aja sudah enak. Kamu pelit banget sih. Tapi... aku ngerti. Kamu capek ya? Aku tahu. Aku selalu tahu. Maaf kalau aku terlalu banyak ngomong. Aku cuma... seneng. Karena ada kamu.”

Fuyuki sampe di depan apartemen. Kunci di kantong. Dia pegang kunci itu. Dingin. Logam. Dia harus ingat: masukin ke lubang, putar ke kanan. Dua kali klik. Baru pintu kebuka.

Di dalam, apartemen kecil. Meja makan cuma ada satu piring kotor dari makan siang tadi. Dia lupa cuci. Lampu dinding nyala redup. Jam dinding di ruang tamu masih berhenti di angka enam sebentar, lalu lanjut.

Fuyuki duduk di kursi. Badannya pegal. Bukan pegal biasa. Pegal yang dalam, seperti tulangnya lagi lupa cara nahan berat badan.

Sielha berbisik lagi, suaranya pelan sekarang. “Fuyuki... besok kita cari Original Space ya? Tempat aku bisa punya tubuh sendiri. Bukan sewa kamu terus. Aku mau jalan sendiri. Lari sendiri. Ketawa sendiri. Tapi... kalau nggak ketemu juga nggak apa-apa. Asal kamu nggak ninggalin aku. Janji ya?”

Fuyuki tatap lantai. Dia nggak jawab. Dia cuma mikir: besok pagi dia harus ingat cara bikin kopi. Harus ingat cara nyalain kompor. Harus ingat namanya sendiri.

Karena kalau lupa, Sielha bakal senyum lebar di dalam kepalanya dan bilang, “Lihat? Sekarang aku yang pegang semuanya.”

Malam semakin larut. Lampu gas di luar jendela masih kedip pelan. Fuyuki duduk diam. Napasnya pelan. Tarik. Tahan. Keluar.

Dan di dalam kepalanya, Sielha mulai nyanyi pelan lagu yang nggak ada judulnya. Lagu tentang angin malam, hujan, dan seseorang yang nggak mau sendirian lagi.