VANTA BETWEEN HEARTS

All Rights Reserved ©

Summary

dua dunia - satu penuh mesin dan api, satu penuh pisau dan sunyi

Status
Ongoing
Chapters
1
Rating
n/a
Age Rating
18+

CH 01

CHAPTER 1

“When Steel Meets Silence”

Kampus pagi itu tidak pernah benar-benar sunyi.

Suara langkah cepat mahasiswa, roda motor yang melintas di jalur samping fakultas teknik, sampai aroma kopi dari kantin depan gedung kedokteran bercampur jadi satu—seperti kota kecil yang dipaksa hidup dalam satu denyut yang terlalu padat.

Di antara semua itu, Rafe Arkana Wijaya berdiri seperti sesuatu yang tidak cocok ditempatkan di tempat ini.

Jaket tekniknya longgar, sedikit terbuka di bagian leher. Tangan kirinya masih memegang helm hitam yang sudah penuh goresan kecil. Di jari-jarinya ada sisa oli tipis yang tidak ia pedulikan. Ia baru turun dari motor, dan mesin di belakangnya masih mengeluarkan bunyi dingin yang berat, seperti napas binatang yang baru selesai berlari.

Orang-orang sudah hafal satu hal tentang Rafe—

kalau dia datang, udara terasa lebih tegang.

“Dia lagi,” salah satu mahasiswa teknik berbisik.

“Jangan tatap lama-lama. Nanti dia ngajak ribut.”

Rafe tidak peduli.

Matanya hanya satu kali menyapu sekitar, dingin, datar, seperti menilai mana yang layak diperhatikan dan mana yang tidak.

Lalu dia berjalan.

Di sisi lain kampus, gedung kedokteran selalu punya ritme berbeda.

Lebih tenang. Lebih rapi. Lebih… terkendali.

Kael Lavender Nathan berdiri di lorong kaca, tangan kanan memegang tablet, tangan kiri memasukkan pena ke saku kemeja putihnya. Kemejanya rapi, tapi tidak kaku—dua kancing atas sengaja terbuka, memperlihatkan tulang selangka pucat yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang tidak benar-benar hidup di dunia panas ini.

Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.

Tidak senang. Tidak lelah. Tidak bosan.

Hanya… ada.

“Kael,” seorang dosen senior memanggil dari belakang.

Kael menoleh sedikit.

“Iya, Dok.”

“Kasus simulasi bedah tadi. Kamu lagi-lagi terlalu cepat.”

Kael diam sebentar.

“Pasien tidak butuh lama. Mereka butuh tepat.”

Dosen itu terdiam. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena sudah terlalu sering Kael benar.

Dan itu membuatnya sulit untuk ditegur.

Hari itu, kampus mengadakan kolaborasi lintas fakultas.

Teknik Mesin dan Kedokteran.

Satu hal yang jarang terjadi.

Proyek simulasi alat bedah mekanik.

Di aula utama, mahasiswa sudah berkumpul. Beberapa dari teknik membawa blueprint, sementara mahasiswa kedokteran duduk dengan sikap lebih formal, seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak ingin mereka ganggu.

Kael masuk terakhir.

Langkahnya tidak terburu-buru. Tapi semua orang seperti sadar ketika dia masuk—bukan karena suara, tapi karena kehadiran.

Seorang mahasiswa teknik berbisik, “Itu Kael Nathan?”

“Yang katanya bisa bedah model jantung dalam waktu lebih cepat dari robot?”

“Yang dosen bedah aja takut debat sama dia?”

Kael duduk tanpa melihat sekitar.

Tapi di saat itu juga—

suara kursi diseret keras dari sisi lain ruangan.

BRAK.

Semua kepala menoleh.

Rafe masuk.

Dan seperti biasa, dia tidak minta ruang. Dia mengambilnya.

“Telat?” seseorang dari panitia mencoba bicara.

Rafe hanya melirik.

“Gue gak telat. Kalian aja mulai tanpa gue.”

Sunyi.

Kael akhirnya mengangkat pandangan.

Untuk pertama kalinya, matanya bertemu dengan sesuatu yang tidak rapi.

Tatapan itu terjadi hanya beberapa detik.

Tapi cukup.

Rafe melihat Kael seperti melihat sesuatu yang terlalu bersih untuk dunia ini.

Kael melihat Rafe seperti melihat sesuatu yang terlalu berisik untuk diabaikan.

Tidak ada senyum.

Tidak ada sapaan.

Hanya benturan diam.

Presentasi dimulai.

Tim teknik menjelaskan alat simulasi bedah berbasis mekanik yang mereka buat—alat bantu yang bisa meningkatkan presisi operasi.

Rafe berdiri di depan papan, menjelaskan tanpa membaca catatan.

Tangannya bergerak saat ia bicara, bukan seperti presentasi akademik, tapi seperti seseorang yang lebih sering membongkar mesin daripada menjelaskan teori.

“Kalau kalian masih pake sistem tekanan manual kayak gini,” Rafe menunjuk diagram, “risikonya tetap ada delay respon.”

Seorang mahasiswa kedokteran mengangkat tangan.

“Itu masih bisa dikompensasi dengan kontrol dokter.”

Rafe menoleh.

“Dokter itu manusia.”

Nada suaranya datar.

“Tangan manusia tetap bisa salah.”

Kael akhirnya berbicara.

Pelan.

Tapi semua orang langsung diam.

“Kalau dokter salah, bukan alatnya yang harus menggantikan,” kata Kael. “Tapi sistemnya yang harus memastikan dia tidak salah dari awal.”

Rafe menatapnya.

Lebih lama.

Lebih tajam.

“Kalau gitu kenapa masih banyak yang mati di meja operasi?”

Kael tidak langsung menjawab.

Dia berdiri.

Dan untuk pertama kalinya, mereka berdiri di ruang yang sama.

“Karena kalian dari teknik selalu berpikir semua bisa diselesaikan dengan kontrol.”

Kael menatap langsung.

“Tapi tubuh manusia bukan mesin.”

Rafe tersenyum kecil.

Bukan senyum hangat.

Lebih seperti ejekan halus.

“Dan kalian dari kedokteran selalu berpikir manusia itu terlalu rapuh untuk diperbaiki.”

Langkah Rafe maju satu.

Kael tidak mundur.

Jarak mereka sekarang terlalu dekat untuk disebut diskusi.

Tapi terlalu jauh untuk disebut perang.

“Gue gak percaya sama teori kalian,” lanjut Rafe.

Kael menatapnya.

“Dan gue gak butuh kepercayaan kamu.”

Hening.

Lalu—

CLACK.

Rafe meletakkan pena di meja dengan keras.

“Bagus.”

Satu kata.

“Berarti kita gak akan ribut soal ini lagi.”

Kael melirik pena itu.

Lalu berkata pelan, “Kecuali kamu masih punya ego untuk membuktikan kamu paling benar.”

Rafe menatapnya lama.

Untuk pertama kalinya hari itu—

ada sesuatu yang tidak datar di wajahnya.

Sedikit tertarik.

Sedikit terganggu.

Sedikit… hidup.

Presentasi selesai.

Tapi tidak ada yang benar-benar selesai.

Karena sejak momen itu, kampus tidak lagi hanya melihat dua mahasiswa.

Mereka melihat dua gravitasi berbeda.

Yang suatu hari—

pasti akan saling menarik… atau saling menghancurkan.

Di luar aula, Kael berjalan sendiri.

Langkahnya tenang.

Tapi di belakangnya, suara motor dinyalakan.

BRRRR—

Rafe keluar dengan kecepatan lambat, berhenti beberapa meter darinya.

Kael tidak menoleh.

“Lo selalu jalan kayak gak peduli dunia?” suara Rafe terdengar dari belakang.

Kael berhenti.

“Dan kamu selalu berkendara seperti ingin kabur dari dunia?”

Sunyi.

Rafe diam sebentar.

Lalu tertawa kecil.

Pertama kalinya hari itu.

“Gue gak kabur.”

Kael akhirnya menoleh sedikit.

Rafe menatapnya langsung.

“Gue cuma gak betah di tempat yang isinya orang pura-pura hidup.”

Kael diam.

Lalu menjawab pelan.

“Dan aku tidak betah di tempat yang terlalu berisik untuk mendengar kebenaran.”

Hening lagi.

Tapi kali ini—

tidak ada yang pergi duluan.

Untuk beberapa detik, dunia di sekitar mereka seperti berhenti.

Hanya ada dua orang.

Dua cara hidup.

Dua luka yang belum disebut nama.

Rafe akhirnya menyalakan motor.

Tapi sebelum pergi, dia melirik Kael sekali lagi.

“Nama lo siapa?”

Kael berhenti.

“…Kael.”

Rafe mengangguk pelan.

“Rafe.”

Motor itu melaju pergi.

Tapi anehnya—

suara mesinnya tidak terasa seperti pergi.

Lebih seperti… meninggalkan sesuatu yang belum selesai.

Dan Kael berdiri di sana sedikit lebih lama dari biasanya.

Seperti pertama kalinya dalam hidupnya—

ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan ilmu apa pun.

Sesuatu yang tidak masuk logika medis.

Sesuatu yang tidak bisa dijahit.

Atau diperbaiki.


Tolong dukungan nya ya