A&B by ᯓ✮⋆⭒˚.⋆ at Inkitt
Customize readability
Aa

A&B

All Rights Reserved ©

Summary

All copyrights belong to the original author/publisher. If you have any requests for deletion, please contact me via my profile wall. ➖ NONKOMERSIAL

Status
2mo ago
Chapters
37
Rating
n/a
Age Rating
18+

Chapter 1

Penulis :Cinzano 505

Terjemahan dibuat hanya bertujuan untuk memperkenalkan karya kepada pembaca Indonesia dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan versi asli. Seluruh hak cipta, hak penerbitan, karakter, cerita, ilustrasi, serta elemen terkait lainnya sepenuhnya merupakan milik penulis dan pemegang hak cipta.

Apabila pemegang hak cipta keberatan atau meminta penghapusan, seluruh konten terkait akan segera diturunkan.

Mohon dukung penulis dengan membeli dan membaca versi resmi melalui platform yang tersedia.


1. Rumah Nomor 215

Apa yang akan kamu lakukan kalau tahu pacar yang sudah empat bulan kamu kencani ternyata berkali-kali berselingkuh—dan kamu bukan satu-satunya pacarnya?

Kalau kamu bertengkar hebat dengan ayahmu sampai nyaris adu fisik, dan setelah itu dia memperlakukanmu seolah kamu tidak ada?

Apa kamu akan berusaha memperbaikinya?

Atau kabur, seperti yang sedang kulakukan sekarang?

“Bu, Blue nggak mau di sini, aku juga nggak mau pulang, dan aku nggak mau masuk universitas,” gumamku pelan.

“Bu, boleh nggak aku nggak ikut summer school tahun ini? Aku mau tinggal di rumah James aja.”

“Itu keterlaluan, Nak. Kamu nggak bisa begitu saja numpang di rumah James berbulan-bulan tanpa bayar apa-apa. Meskipun dia sahabatmu, kamu tetap harus tahu diri,” ibuku menegur—nada suaranya tidak keras, tapi tegas.

Dia masih terlihat cantik untuk wanita paruh baya; tinggi, ramping, mengenakan setelan celana rapi dan sepatu hak sedang. “Kenapa nggak belajar bahasa saja? Kamu yakin bisa hidup sendirian?”

“Belajar bahasa…?” Aku bahkan belum terpikir soal itu.

“Iya. Amerika, mungkin? Toh kamu memang ingin menjauh dari rumah. Sekalian saja lakukan sesuatu yang berguna—belajar bahasa, belajar hidup mandiri. Kamu bisa dapat pengalaman dan menambah kemampuanmu.”

Dan aku pun langsung luluh. Tapi Ibu juga memberi syarat: kalau aku ingin tidur di luar rumah, alasannya harus untuk belajar bahasa.

***

Beberapa hari kemudian, dia datang membawa tumpukan brosur kursus. Aku sama sekali tidak tahu bedanya, jadi asal tunjuk satu.

“Yang ini bagus, dekat dengan tempat tinggal yang Ibu carikan buat kamu,” katanya sambil menunjukkan foto-foto akomodasi. Semuanya berada di lingkungan yang sama.

Aku merasa bersalah karena dia harus mengeluarkan uang hanya demi keinginanku yang keras kepala—keinginanku untuk menjauh dari Ayah yang sudah berbulan-bulan dingin padaku, dan untuk lari dari P’Phim.

Jadi aku pilih yang paling murah. Tapi bahkan yang termurah pun hampir empat puluh ribu baht sebulan.

Aku sama sekali tidak tahu bagaimana isi dalamnya. Website-nya cuma menampilkan dua foto: tampak luar gedung dan beberapa keterangan singkat—satu kamar tersedia, boleh bawa hewan peliharaan, ada mesin cuci, pengering, perapian, dan dapur bersama. Berbeda dengan tempat-tempat lain yang memajang foto detail dari fasad depan sampai kamar mandi.

Tapi Ibu bilang daerahnya aman, jadi aku tidak khawatir. Lagipula, ide ini datang dari dia sendiri.

Aku meninggalkan Thailand tanpa memberitahu siapa pun kecuali beberapa teman dekat. Bahkan P’Phim pun tidak tahu.

Begitu ujian semester dua selesai, aku langsung naik pesawat ke New York. Aku tidur nyaris sepanjang perjalanan—ratusan putaran waktu di langit—dan setelah mendarat, aku hanya bergerak sejauh yang tubuh lelahku mampu.

Tahu-tahu, gedung dari foto di website itu sudah berdiri di depanku. Aku turun dari taksi dan menatap bangunan tiga lantai berwarna krem pucat itu.

Aku kaget. Aslinya jauh lebih bagus dari di foto. Di website, fotonya seperti diambil asal-asalan, tapi kenyataannya... tempat itu terlihat nyaman.

“Halo, Bu. Aku udah sampai di tempatnya, tapi belum masuk,” kataku saat telepon dari Ibu masuk.

Aku melangkah ke pinggir trotoar, menurunkan koper-koperku di tanah. Ibu menanyakan kabarku dan berharap aku bisa dapat teman serumah yang baik.

Tipe kamar yang kupilih memang berbagi ruang umum, tapi aku punya kamar dan kamar mandi sendiri.

Kami masih mengobrol beberapa menit. Air mataku nyaris jatuh mendengar suaranya—hangat, lembut, membuatku merasa kecil lagi. Suara itu memberiku kekuatan, tapi juga mengingatkanku kalau sekarang aku benar-benar sendirian di negeri asing.

“Jangan khawatir, Blue. Anak Ibu kuat,” katanya lembut.

Belum sempat dia menutup telepon, suara berdecit nyaring terdengar dari belakangku.

Saat aku menoleh, kulihat seorang pria tinggi dan kurus sedang meluncur dengan skateboard ke arahku. Ekspresinya yang mengantuk berubah sedikit saat matanya bertemu denganku.

Apa aku menghalangi jalannya...? Sadar akan hal itu, aku segera menyingkir. Tapi dia malah berhenti.

Satu kakinya menapak di papan, membuat skateboard itu melenting ke atas sebelum dia menangkapnya dengan tangan.

Mata cokelat terangnya menatapku sebentar, lalu berpindah ke koper-koper besar di sekelilingku.

“Hai, kamu yang bakal tinggal di sini empat bulan itu, kan?” tanyanya cepat dalam bahasa Inggris.

Untung kata-katanya nggak sulit dan logatnya nggak seaneh waktu aku ke Inggris dulu.

“Iya, halo,” jawabku cepat, memasukkan ponsel ke saku.

“Bagus. Aku Jasper.” Dia mengulurkan tangan untuk berjabat sambil mengangguk ke arah gedung, lalu mengambil beberapa tasku.

“Ayo masuk. Yang lain belum pulang, mereka masih di kampus.”

Begitu aku melangkah masuk, aku langsung terpaku. Saking terkejutnya, aku sempat berpikir: jangan-jangan aku salah alamat.

Ini sama sekali tidak seperti bayangan “gedung apartemen dengan banyak sekat” yang kupikirkan. Bukan juga bangunan besar dengan suasana asrama kampus seperti yang biasa kulihat di Thailand.

Lantai pertama terbuka luas, berlantai ubin dengan gaya industrial dari beton mentah. Dindingnya putih bersih, satu sisinya bata ekspos dengan perapian hitam modern di tengahnya. Ada meja persegi besar yang terlihat seperti meja kerja bersama, dan di pojok ada area dapur kecil.

Tempat ini lebih mirip ruang kerja bersama bagi penghuni rumah, bukan tempat tinggal biasa.

Begitu naik ke lantai dua, ruangannya bahkan lebih lega. Dapur di sini jauh lebih lengkap, dan di sampingnya ada ruang tengah bersama—dengan sofa besar, televisi, meja makan, dan deretan kamar yang sepertinya jadi kamar pribadi masing-masing.

“Kita nggak punya penjaga atau pengurus rumah karena ini bukan asrama. Kalau kamu butuh sesuatu atau mau minta bantuan, bilang aja ke siapa pun yang lagi ada di sini, atau tulis catatan dan taruh di meja makan. Kalau mereka lagi nggak males, mungkin ada yang bantu.” Jasper menjelaskan cepat-cepat sambil menunjuk ke berbagai arah.

“Itu area bersama. Kamu boleh pakai atau ambil apa aja di kulkas, asal nggak ada nama pemiliknya. Kamar itu punyanya Anwar, yang itu Hazel. Satunya lagi Ruby, tapi dia jarang nongol karena baru berantem sama seseorang,” lanjutnya santai.

“Oke, ayo. Kamarmu di lantai paling atas.”

Jasper menaruh skateboard-nya di dinding lantai dua, lalu berlari ringan menaiki tangga. “Itu kamarku, dan yang ini kamarmu. Sebenarnya dulunya punya Jordan, tapi dia baru patah hati dan memutuskan kabur ke Afrika Selatan, jadi kamu yang gantiin posisinya.”

Aku memandang sekeliling lantai itu. Ada area cuci bergaya minimalis, satu sofa, gitar yang bersandar di dinding, dan bar besar di sudut ruangan.

“Itu apa?” tanyaku, menunjuk ke rak pakaian di pojok. Beberapa baju tergantung di sana, tapi bentuknya aneh—lebih mirip karya seni daripada pakaian biasa. Sulit kujelaskan; aku bukan orang yang paham seni.

“Oh, itu punyanya Anwar, yang di bawah tadi. Dia anak fashion,” jawab Jasper.

Aku mengangguk, akhirnya paham. Dia melepas topi merah cerahnya, menampakkan rambut cokelatnya yang sedikit berantakan.

“Mesin cuci di sini bebas dipakai. Kalau ada yang ninggalin cucian dan nggak diambil-ambil, langsung aja pindahkan ke keranjang itu. Nah, itu kamarmu. Silakan beresin barangmu,” katanya, menunjuk ke pintu kamarku.

Aku mengangguk cepat, berterima kasih, lalu membawa koper masuk.

Tepat seperti yang kuduga—tempat ini bukan asrama. Lebih mirip rumah besar yang dihuni bersama oleh teman-teman. Begitulah kira-kira.

Tapi kalau kamarku dulunya milik Jordan, berarti ini bukan kamar kosong, kan? Bagaimana kalau Jordan tiba-tiba pulang karena rindu rumah? Apa aku bakal diusir dan tidur di jalan?

Awalnya kupikir barang-barangnya masih ada di sini—setidaknya baju atau sesuatu. Tapi waktu kubuka pintu dan mendapati kamar itu benar-benar kosong, aku lega juga. Mungkin sudah dibereskan sebelum aku datang.

Aku baru setengah jalan menata barang saat rasa kantuk menyerang hebat. Aku mengerutkan kening. Niat awal untuk langsung menata semuanya di hari pertama pun bubar. Tubuhku terlalu lelah untuk melawan.

Aku buru-buru mandi, ganti baju, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur. Karena ini tempat asing, aku tidak bisa tidur nyenyak meski sudah menguap sampai mataku berair.

Sampai akhirnya aku terbangun jam dua dini hari. Aku turun ke lantai dua untuk mengambil air, dan saat itu kulihat punggung seseorang.

Tapi orang itu langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu sebelum aku sempat menyapa. Kalau itu kamarnya, berarti dia Anwar, ya?

Lagipula aku juga nggak mungkin berteriak menyapa orang di tengah malam begini, apalagi baru pertama ketemu.

Yah, sudahlah. Aku masih punya empat bulan di sini. Entah hari ini atau besok, cepat atau lambat, kami pasti akan bertemu juga.

Entah kenapa, hanya dari sekilas punggungnya dan hasil karyanya yang sempat kulihat tadi, aku jadi penasaran. Nama itu terus terputar di kepalaku—Anwar.

Anwar...

Cowok yang belajar fashion.

Aku penasaran, sebenarnya dia seperti apa.

Let ᯓ✮⋆⭒˚.⋆ know what you thought about this chapter!
Love this

0

Love this

Funny

0

Funny

Spicy

0

Spicy

Suspenseful

0

Suspenseful

Emotional

0

Emotional

Profound

0

Profound

Heartwarming

0

Heartwarming

Shocking

0

Shocking

Good Writing

0

Good Writing

Compelling Plot

0

Compelling Plot

Great Character

0

Great Character

Strong Dialog

0

Strong Dialog

Further Recommendations

Silver's Second Chance

Beth Willyoung: This is definitely a great site all the rest make you read and pay this one is the most legitimate site.

Read Now
PARIS IN THE DARK

Sasha: Love this kind of romantic stories, very good one.

Read Now
The Orc's Pet

Mary Wilkins: This was an enjoyable short story. Well done! 😄👏🏾👏🏾

Read Now
Fated to My Ex- Best Friend

Kelley: Love the story line! Ryder needs to getvhiavhead out of his ass tho!

Read Now
Crowned in Blood: Fated to the enemy

Happiness Aghogho: I love this.... so thrilling. Looking forward to the end

Read Now
Mystic Wolf

Pav: Well written and enticing, love your style, keep up with good work.

Read Now
The Luna He Threw Away

CrimsonLili: This book was amazing. I loved it and I loved the way Tria didn't choose Delvan over the Alpha who stood by her. This is an amazing story and I loved it.

Read Now
Bear Roberts

MamaJo57: Loved,loved,loved ❤️❤️❤️ this book. The characters were so funny I could listen to their conversations forever. The romance/love was just enough to keep the story flowing . Thank you for sharing looking forward to reading your next 📕book .

Read Now
The zatorian

jo987_123: This is a good story, but it needs a good editor to go through this iteration and fix the mistakes. The pov changes from 1st person to 3rd person, often, and sometimes within one sentence. It needs a liberal sprinkling of punctuation marks throughout, and a decision needs to be made about the char...

Read Now