Blur
ดั่งเดือนค้างฟ้า (Dangg Duean Khang Fa)
Still Holding Up like the Moon
Ditulis oleh: โสมสิริ (Somsiri)
Ketika sebuah keajaiban menuntunmu ke tempat yang terasa asing—namun tubuhmu justru mengenalinya, seakan-akan ruang itu adalah definisi dari cinta abadi yang tak pernah sanggup dilupakan oleh hati.
‘Phakai’, seorang aktor pendukung muda yang bermimpi meraih penghargaan Wiman Dao dan menggenggamnya dalam kedua tangan, secara tak sengaja menonton sebuah film legendaris karena ajakan sahabatnya yang menyimpan niat tersembunyi, ‘Phumek’.
Film berjudul Phan Phop Phuea Phop Choe (Melintasi Kehidupan demi Sebuah Pertemuan) itu dibintangi oleh ‘Duean Dranaphop Donprasopphraeua’—pemilik julukan Duean Khang Fa, bulan yang menggantung di langit industri hiburan Thailand.
Keterikatan Phakai pada sosok bulan itu semula hanya sebatas cahaya di layar. Namun lamunan yang terasa terlalu indah untuk disebut nyata itu harus runtuh ketika ia mengetahui satu kenyataan:
Duean Dranaphop telah memutuskan mengakhiri hidupnya empat puluh tahun silam—di usia dua puluh lima, saat namanya tengah bersinar paling terang.
Ia wafat di puncak ketenaran.
Meski kebenaran itu jelas dan tak terbantahkan, hati Phakai menolak untuk tunduk.
Ada sesuatu yang berputar di tengah dadanya—perasaan yang tak memiliki nama, seakan sebuah kisah yang terpisah oleh waktu sedang mencari jalan untuk saling bertemu kembali.
Dan mungkin…
kisah itu belum benar-benar berakhir.
#ดั่งเดือนค้างฟ้า
Catatan Penerjemah
‘Wiman Dao’ (วิมานดาว) secara harfiah berarti “Istana Bintang” atau “Surga Para Bintang.”
Dalam konteks novel ini, itu adalah penghargaan tertinggi di dunia perfilman/akting—semacam simbol puncak karier seorang aktor.
Genre: Romantis / Drama / Period Thailand / Time Travel / Industri Hiburan
Catatan Penulis
Meski premis, alur, serta perjalanan hidup para tokohnya mungkin akan membawa pembaca pada kesedihan, penulis ingin menegaskan bahwa kisah ini berakhir dengan happy ending yang utuh.
Spoiler
“Kalau kamu benar-benar datang dari masa depan… saat itu aku bagaimana? Masih setampan ini, kan? Dan… apakah masih ada penggemar yang mengingatku?”
“Di masa itu, banyak orang mengenalmu. Kamu sangat terkenal. Tidak peduli berapa tahun berlalu, namamu tetap disebut-sebut. Dan semua orang… menghormatimu karena kamu adalah dirimu sendiri.”
“Menghormati apa? Karena aku sudah setua itu?”
“Aku tidak tahu. Kami belum pernah melihatmu menua.”
“Kalau begitu, kalau bukan berarti aku awet muda… mungkin aku mati sebelum sempat tua, ya?”
Kata Pengantar dari Sang Penulis + Sepatah Kata Sebelum Membaca
Kata Pengantar dari Sang Penulis
“Hasrat untuk menjadi sekelumit kecil dalam ingatan—adalah definisi dari penulis dengan nama pena Somsiri.
Sejak awal memutuskan untuk mencipta karya, penulis selalu bertanya pada diri sendiri: apa sebenarnya tujuan dari setiap cerita yang ditulis?
Hingga waktu berjalan mendekati tahun ketiga, barulah tersadar bahwa yang sesungguhnya diinginkan adalah agar para tokoh dan kisah dalam karya ini dapat menjadi bagian dari ingatan para pembaca.
Dan tampaknya itu bukan perkara mudah.
Jika menoleh pada kehidupan yang telah berlalu—bahkan orang-orang yang dahulu kita temui setiap hari, ketika waktunya berpisah dan menempuh jalan masing-masing… tak lama kemudian mereka pun perlahan memudar dari ingatan.
Jika dibandingkan dengan karya tulis, mungkin menjadi hal yang lebih sulit lagi, sebab para pembaca hanya mengenal dan merasakan kisah para tokoh melalui deretan aksara semata.
Karena itu, penyampaian kisah ดั่งเดือนค้างฟ้า memerlukan ikatan yang kuat—baik antara tokoh utama dengan tokoh-tokoh lain dalam cerita, maupun antara tokoh utama dengan para pembaca.
Dari titik itulah ‘Duean Dranaphop’ dilahirkan—aktor muda pujaan penggemar layar lebar.
Kemudian hadir satu tokoh yang tercipta dari mimpi kecil penulis, yakni ‘Phakai’, yang bermula dari sebuah pertanyaan:
“Jika tokoh yang telah pergi menginginkan ruang kecil dalam ingatan tokoh yang masih hidup, apakah itu lebih mustahil dibanding keinginan seorang penulis yang mendambakan ruang dalam ingatan para pembacanya?”
Ketika seluruh unsur itu disatukan, maka ดั่งเดือนค้างฟ้า pun terlahir.
Salah satu tujuan utama yang ingin disampaikan melalui karya ini adalah seruan tentang keberagaman gender.
Meski pada masa kini penerimaan telah meluas, tetap masih ada batas dan syarat yang membelenggu.
Walau saat novel ini diterbitkan mungkin hanya menjadi suara kecil dari seorang penulis, namun sebagai manusia, penulis ingin menjadi satu suara pendukung dan satu dorongan kecil—agar terjadi perubahan dan penyempurnaan hukum yang mengakui hubungan berlandaskan keluarga bagi mereka yang memiliki keberagaman gender.
Pada akhirnya, penulis menyimpan harapan kecil di dalam hati—semoga ดั่งเดือนค้างฟ้า bukan sekadar judul sebuah buku, melainkan menjadi sebuah definisi yang kelak diberikan seseorang pada kisah ini.
Terima kasih kepada seluruh pembaca yang telah mendukung selama ini.”
Dengan cinta dari seorang yang hanya mendambakan sekelumit kecil dalam ingatan,
Somsiri
Sepatah Kata Sebelum Membaca
Hal yang akan disampaikan berikut ini hanyalah penjelasan mengenai peringatan isi, agar para pembaca dapat mempertimbangkannya sebelum memutuskan membaca keseluruhan cerita.
Di dalamnya terdapat pembahasan mengenai konten yang belum dipublikasikan. Jika khawatir akan mengandung spoiler, bagian ini boleh dilewati.
1. Meskipun sinopsis, alur cerita, isi, termasuk penggambaran perjalanan hidup para tokohnya dapat menimbulkan perasaan sedih pada pembaca, penulis menegaskan bahwa novel ini berakhir dengan akhir yang bahagia.
2. Novel ini ditulis untuk tujuan hiburan. Seluruh tokoh, perilaku, tempat, dan peristiwa yang disebutkan sepenuhnya merupakan hasil imajinasi penulis.
Walaupun terdapat latar waktu di masa lampau, tidak ada maksud untuk merujuk atau menyinggung organisasi maupun individu nyata mana pun.
Sebagian isi cerita memuat kehilangan sosok terkenal dan orang penting yang memiliki ikatan dengan tokoh utama, yang mungkin dapat memengaruhi emosi pembaca.
Selain itu, terdapat pembahasan mengenai percobaan pembunuhan, bunuh diri, penggambaran adegan kecelakaan, kematian tokoh, ancaman untuk melakukan kesalahan demi keuntungan tertentu, serta pandangan dan sikap masyarakat dalam cerita yang memiliki sudut pandang tentang gender yang berbeda dari masa kini.
Meski demikian, penulis selalu berhati-hati dan menyadari sensitivitas isu ini, karena mendukung penerimaan dan pemahaman terhadap keberagaman gender merupakan salah satu tujuan penulis.
Jika terdapat kekeliruan atau hal yang kurang pantas, para pembaca dipersilakan memberikan teguran dengan bahasa yang sopan dan saling bertukar pandangan.
Penulis hanya memohon agar setiap pembaca menghargai karya ini, menghormati usaha yang telah dicurahkan, dan menggunakan kebijaksanaan dalam membaca—itu sudah lebih dari cukup untuk membuka hati terhadap novel ini.
Peringatan Isi
(Jika ingin menghindari spoiler, silakan dilewati.)
● Penelantaran atau Pengabaian – Mengandung tokoh yang merasa ditinggalkan atau tidak diinginkan.
● Percobaan Bunuh Diri – Mengandung pembahasan tentang upaya bunuh diri.
● Percobaan Pembunuhan – Mengandung pembahasan tentang upaya pembunuhan.
● Pengkhianatan – Mengandung situasi di mana tokoh merasa dikhianati.
● Kematian Tokoh – Terdapat tokoh yang meninggal dunia.
● Pemaksaan (Coercion) – Mengandung penyalahgunaan kekuasaan, ancaman, atau paksaan agar seseorang melakukan sesuatu di luar kehendaknya.
● Dehumanisasi – Mengandung pengurangan atau perendahan nilai kemanusiaan.
● Penggambaran Duka – Mengandung deskripsi kesedihan mendalam.
● Cinta Terlarang – Menggambarkan hubungan cinta dengan hambatan atau larangan.
● Kesedihan atau Kehilangan – Mengandung perasaan duka akibat kehilangan.
● Homofobia – Terdapat tokoh yang menunjukkan kebencian terhadap individu dengan keberagaman gender atau orientasi seksual.
● Diskriminasi terhadap LGBTQIA2S+ – Terdapat perlakuan diskriminatif terhadap individu LGBTQIA2S+.
● Pembunuhan – Mengandung tindakan pembunuhan.
● Bahasa Kasar – Terdapat dialog dan kata-kata yang tidak sopan.
● PTSD (Gangguan Stres Pascatrauma) – Mengandung pembahasan mengenai gangguan emosional setelah peristiwa traumatis.
● Seksisme – Terdapat tokoh yang memiliki prasangka terhadap gender tertentu.
● Menguntit (Stalking) – Terdapat tokoh yang melakukan tindakan menguntit.
● Ide Bunuh Diri – Mengandung tokoh yang memiliki pikiran tentang bunuh diri.
● Penyakit Stadium Akhir – Mengandung penggambaran penyakit pada tahap akhir.
● Transfobia – Mengandung sikap atau tindakan negatif terhadap individu transgender.
● Masa Lalu Traumatis – Mengandung pengalaman masa lalu yang meninggalkan luka batin mendalam.
P.S.
Bagian ini, meskipun dipublikasikan kemudian, akan ditempatkan sebagai bab pertama dalam daftar isi (sebelum prolog), agar pembaca dapat mempertimbangkan kembali kesesuaian isi sebelum memutuskan untuk membaca novel ini.