Chapter 1
All copyright
s belong to the original author/publisher. If you have any requests for deletion, please contact me via my profile wall. ➖ NONKOMERSIAL.
___________
SINOPSIS
Ketika cinta berdiri berlawanan dengan apa yang dianggap benar… haruskah seseorang memilih kebenaran, atau justru cinta?
Seorang pemuda bernama Tanrak telah menyerahkan dirinya pada jalan Tuhan, melangkah masuk ke seminari untuk mempersiapkan hidup yang terikat pada janji-janji suci. Namun, saat semester terakhir di tahun terakhirnya tiba, ‘Barth’ hadir dalam hidupnya—perlahan, tanpa disadari, mulai menggoyahkan imannya dan meruntuhkan segala hal yang selama ini ia yakini sebagai makna hidupnya.
Kebenaran adalah jalan yang pada akhirnya akan menuntun manusia kembali kepada Tuhan. Tetapi di sepanjang perjalanan itu, ada sesuatu yang bersembunyi dalam diri—sebuah dorongan gelap yang terus menggoda jiwa yang rapuh, menjauhkannya dari gerbang surga.
Dan ketika masa penentuan itu semakin mendekati akhir, Tanrak tak punya pilihan selain menatap ke dalam hatinya sendiri, mencari jawaban yang tak pernah benar-benar sederhana— apa yang sesungguhnya paling berarti? Iman… harapan… atau cinta?
PERINGATAN
Karya ini dibuat tanpa tujuan memperoleh keuntungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan hanya ditujukan untuk penggunaan pribadi serta bersifat tertutup. Apabila ada pihak lain yang mencoba mengambil keuntungan dari karya ini, kami tidak bertanggung jawab atas segala bentuk pelanggaran hukum yang mungkin timbul dari penyalahgunaan tersebut.
Kami juga selalu mendorong pembaca untuk mendukung karya ini melalui jalur resmi, baik dalam bentuk cetak maupun digital, jika tersedia.
DILARANG KERAS menyebarluaskan, membagikan, atau mempublikasikan materi ini dalam bentuk apa pun, baik secara keseluruhan maupun sebagian, termasuk kutipan, tangkapan layar, adaptasi, atau bentuk reproduksi lainnya.
Larangan ini mencakup seluruh platform tanpa pengecualian, termasuk media sosial seperti TikTok, Instagram, Kwai, serta platform publik maupun privat lainnya, termasuk forum, situs web, penyimpanan daring terbuka, dan grup eksternal.
Karya ini hanya untuk penggunaan pribadi, bersifat privat dan rahasia, dan tidak boleh, dalam keadaan apa pun, disebarluaskan kepada pihak lain—baik kepada penulis, penerbit, maupun publik secara umum.
Pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat mengakibatkan penghentian aktivitas grup secara langsung, serta tindakan lanjutan yang dianggap perlu.
PERHATIAN
Buku ini ditujukan untuk pembaca dewasa (18+) dan mungkin mengandung konten sensitif, seperti:
adegan seksual eksplisit
bahasa kasar
kekerasan fisik maupun verbal
pelecehan seksual
serta tekanan atau penderitaan psikologis
Harap membaca dengan bijak.
KATA PENGANTAR PENULIS
Tak pernah sebelumnya, sepanjang hidupku, aku merasa segelisah ini saat menulis sebuah buku seperti ketika menulis Ticket to Heaven: Anak yang Tak Pernah Sampai ke Surga. Mungkin karena aku benar-benar percaya pada inti dari cerita ini—jika tidak, aku tidak akan pernah menuliskannya. Namun, ada satu hal lain yang tak kalah penting: novel ini berjalan di atas garis yang begitu tipis, di antara berbagai keyakinan yang mungkin saja menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian orang.
Berkali-kali aku mempertanyakan diriku sendiri—apakah aku benar-benar harus menulis kisah ini, dan ke mana ia akan membawaku. Sampai pada suatu hari, aku bertemu dengan seseorang yang kehidupannya… terasa begitu mirip dengan Thanrak, dalam segala hal. Tatapan penuh luka itu, iman yang mulai goyah, dan jalan hidup yang ia tempuh—semuanya seakan berteriak tepat di hadapanku, mengingatkanku bahwa kenyataan tetap ada, entah aku memilih untuk membicarakannya atau tidak.
Dan karena itulah… aku memilih untuk menuliskannya.
Aku menulis, membaca kembali, lalu menulis ulang dan membacanya lagi—berulang kali. Aku menulis kisah ini dengan rasa hormat dan ketulusan terhadap setiap keyakinan yang ada di dunia ini… namun pada saat yang sama, juga dengan penghormatan yang sama terhadap setiap bentuk cinta yang tumbuh di dalamnya.
Aku hanya berharap, ketika sampai di halaman terakhir nanti, setiap pembaca dapat memahami—dari lubuk hati mereka yang paling dalam—mengapa… mengapa aku harus menulis cerita ini.
Kittisak Khongkha








