Customize readability
Aa

KOPI PAHIT DI ATAS MAKAM

All Rights Reserved ©

Summary

KOPI PAHIT DI ATAS MAKAM (Warung Kopi) . Tagline: "Setiap kali Ipah nyeduh kopi, dia ngeliat masa lalu orang yang minum. Masalahnya, kopinya emang pahit, tapi masa lalu yang dia liat lebih pahit lagi. Apalagi pas tau neneknya sendiri ada di balik semua ini..." . KONSEP DASAR TOKOH UTAMA — IPAH · Gadis kampung umur 25 tahun, janda muda, punya warung kopi kecil di pinggir jalan desa. · Warungnya berdiri di tanah bekas kuburan tua yang udah rata. · Setiap kali nyeduh kopi buat pelanggan, Ipah ngeliat masa lalu orang itu. Nggak semua masa lalu—yang paling gelap. · Kemampuan ini muncul sejak dia kawin muda dan suaminya meninggal misterius. TOKOH UTAMA — ATEP · Anak desa yang merantau ke kota jadi arsitek. Pulang ke kampung buat ngerusak warung Ipah karena tanahnya mau dibangun lapangan desa. · Nggak percaya hal-hal mistis, tapi setiap kali minum kopi Ipah, dia ngimpiin seorang perempuan tua yang nangis di bawah tanah. · Perempuan tua itu ternyata neneknya sendiri yang katanya udah meninggal 30 tahun lalu. KONFLIK UTAMA · Tanah warung Ipah ternyata bukan tanah biasa. Dulu itu adalah makam 40 orang korban longsor 50 tahun lalu yang ditutup-tutupi sama kepala desa dan tokoh masyarakat. · Nenek Ipah dan Nenek Atep adalah pelaku utama penutupan itu—mereka nerima uang dari pengusaha tambang dan diem aja. · Nenek Ipah dan Nenek Atep ternyata masih hidup dan tinggal di kampung

Status
Ongoing
Chapters
50
Rating
n/a
Age Rating
13+

Bab 1 : KOPI PAHIT PERTAMA

Warung kopi di pinggir jalan desa itu sederhana pisan. Atap seng udah mulai bocor di sana-sini. Dinding bilik bambu yang udah reot dimakan usia. Cuma ada tiga meja kayu jati tua sama bangku-bangku panjang yang udah digosok pantat orang dari generasi ke generasi.

Tapi Ipah bangga. Warung ini satu-satunya warisan dari bapaknya. Dulu bapak yang buka, sekarang dia yang nerusin. Satu-satunya penghasilan setelah bapak meninggal karena kecelakaan di sawah, dan suaminya—Almarhum Ujang—meninggal karena sakit misterius setahun setelah kawin.

Usia Ipah baru 25 tahun, udah jadi janda. Hidup sebatang kara, ngurus warung dari subuh nyaris sampai malam. Kadang dia sendiri, kadang ditemenin Ijah—sahabatnya sedari kecil yang suka mampir cuma buat ngobrol ngalor-ngidul.

Tapi ada satu hal yang nggak pernah Ipah ceritain ke siapa pun. Bahkan ke Ijah. Bahkan ke ibunya—Enden—yang sakit-sakitan di rumah.

Setiap kali Ipah nyeduh kopi, dia ngeliat masa lalu orang yang minum.

Bukan masa lalu biasa. Yang paling gelap. Saat-saat paling memalukan, paling menyakitkan, paling penuh dosa. Kayak ada film yang diputer di belakang kepalanya. Cuma dia yang bisa lihat.

Ipah nggak tahu kenapa bisa begitu. Mungkin karena warung ini berdiri di atas tanah bekas kuburan. Dulu bapaknya pernah cerita—tanah ini bekas kuburan umum sebelum diratain sama pemerintah desa. Tapi Ipah nggak pernah berani gali lebih dalam. Takut.

.

SORE ITU.

Mentari mulai merah di ufuk barat. Angin sore berembus pelan, bawa debu jalanan. Ipah lagi nyeduh kopi buat seorang bapak-bapak tua yang baru masuk warung.

Bapak itu pakaiannya lusuh, rambutnya udah putih semua, kulitnya keriput kayak kertas digulung. Matanya sembab, kayak nggak pernah tidur. Tangannya gemetar pas ngeluarin uang receh dari saku celana.

"Neng... kopi hitam ya," katanya pelan. "Nggak usah pake gula. Sepahit-pahitnya."

Ipah mengangguk. "Siap, Pak. Silakan duduk."

Dia berbalik ke meja bar. Tangannya otomatis ngambil cangkir keramik putih yang udah pecah sedikit di pinggirnya. Menuang bubuk kopi lokal yang dia sangrai sendiri ke dalam saringan. Air panas dia tuang pelan-pelan. Aroma pahit mengepul, bikin hidungnya gatal.

Dia bawa cangkir itu ke meja bapak tua.

"Silakan, Pak."

Bapak tua itu mengangguk. Tangannya yang gemetar meraih cangkir. Bibirnya nyentuh pinggiran. Seteguk pertama.

Dan Ipah ngeliat.

Bukan pake mata. Tapi pake perasaannya. Kayak ada yang nyentuh pikirannya. Kayak ada tayangan yang diputer cepet di belakang kepala.

Dia ngeliat bapak tua itu—tapi 30 tahun lebih muda. Masih kelihatan gagah. Berdiri di atas bukit. Di bawahnya, tanah bergerak. Longsor.

Ipah ngeliat rumah-rumah kayu ambruk kayak mainan. Orang-orang teriak minta tolong. Ada yang lari, ada yang jatuh, ada yang ketimpa tanah. Suara tangis anak-anak campur teriakan orang dewasa.

Di tengah-tengah longsor, Ipah ngeliat seorang perempuan muda. Wajahnya cantik. Rambutnya hitam panjang. Di tangannya, dia ngendong bayi yang terbungkus kain.

Perempuan itu lari. Tapi tanah lebih cepet. Dia jatuh. Bayinya terlempar ke semak-semak. Perempuan itu berusaha merangkak, tapi tanah nimbun dia. Pelan. Pasti.

Bapak tua itu cuma berdiri di atas bukit. Nonton. Sambil ngitung uang di tangannya.

Ipah ngeliat bayi di semak-semak itu nangis. Bayi itu pake gelang merah.

Gelang yang sama persis kayak yang dipake Ipah di pergelangan tangannya.

Ipah tersentak. Cangkir di tangannya hampir jatuh. Keringat dingin nyembur di punggungnya.

"Neng... Neng sakit?" suara bapak tua itu membuyarkan lamunan.

Ipah geleng-geleng. Mukanya pucet. "Nggak, Pak. Cuma... pusing dikit."

Bapak tua itu senyum pahit. "Kopi Neng enak. Pahit banget. Kayak hidup saya."

Dia naruh uang di meja—dua lembar uang ribuan, lebih dari harga segelas kopi hitam.

"Simpen kembaliannya, Neng. Buat..." dia berhenti, ngeliat ke luar jendela. "...buat yang lain."

Dia bangkit pelan, jalannya terseok-seok ke pintu, lalu pergi. Meninggalkan Ipah yang masih gemetaran.

Ipah ngeruk pergelangan tangannya. Gelang merah peninggalan ibunya masih melingkar. Gelang yang sama dengan yang dipake bayi dalam penglihatan tadi.

"Bayi itu... aku?"

.

MALAMNYA.

Warung udah tutup. Ipah masih di belakang, duduk termenung di kursi bambu. Pikirannya kacau. Bayangan longsor, perempuan muda, bayi, dan gelang merah terus berulang.

Dia bolak-balik di kasur tipisnya. Nggak bisa tidur.

Akhirnya dia bangun. Nyalain lampu minyak tanah. Tangannya meraih kotak kayu tua di bawah kasur.

Kotak peninggalan ibunya. Nggak pernah dia buka sejak ibunya—Enden—sakit dan nggak bisa ngapa-ngapain. Selama 10 tahun kotak itu diem aja di bawah kasur.

Dengan tangan gemetar, Ipah buka kotak itu.

Di dalamnya ada beberapa benda. Surat kuning yang udah rapuh. Gelang merah lain—sama persis kayak yang dia pake. Dan sebuah foto.

Foto perempuan muda lagi ngendong bayi. Perempuan muda itu... wajahnya persis kayak ibu Ipah. Tapi lebih muda. Masih segar. Bayi di gendongannya pake gelang merah.

Ipah balik foto itu. Di belakangnya, ada tulisan dengan tinta yang hampir pudar:

"Ipah dan Ibu, 1980. Semoga kau tumbuh bahagia, Nak. Ibu selalu mencintaimu."

Air mata Ipah ngalir deras. Nggak bisa dia tahan.

"Ibu... Ibu korban longsor itu?"

Dia memeluk foto itu erat-erat. Tangisnya pecah. Nggak ada yang denger. Cuma suara jangkrik di luar dan angin malam yang berbisik pelan.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Tua. Nyaring. Hanya ada satu kontak yang sering nelpon di jam segini.

Ipah angkat. "Ijah? Jam segini?"

Suara Ijah di ujung telepon cempreng. "Neng, aya kabar gede! Aya anak rantauan balik! Mobilnya bagus, bajunya rapi, katanya mau bangun lapangan desa di lahan depan warung Neng!"

Ipah kaget. "Apa?! Lapangan? Di tanah warung saya?!"

"Iya, Neng! Katanya udah dapet izin dari kepala desa! Besok mau dateng pengukuran!"

Telepon mati.

Ipah nggak bisa tidur semaleman. Bukan cuma karena kabar lapangan. Tapi karena foto di tangannya. Dan penglihatan sore tadi.

"Ada yang sembunyi. Ada yang sembunyi di balik longsor itu."

---

PAGI HARINYA.

Warung baru buka. Ipah masih linglung. Matanya sembab. Tapi dia tetep nyeduh. Nggak ada pilihan.

Jam delapan, Ijah datang. Cempreng kayak biasa.

"Neng! Aya kabar!"

"Kabar apa?"

Ijah duduk di bangku depan. "Eh, tadi pagi aku liat mobil hitam bagus lewat depan rumah. Katanya si anak rantauan mau dateng ke warung Neng!"

Ipah mendesah. "Ya udah. Biarin aja."

Tapi dua menit kemudian, beneran ada mobil hitam berhenti di depan warung. Mengkilap. Kelihatan mahal. Mobil pertama yang pernah Ipah liat di kampungnya.

Keluar seorang laki-laki muda. Tinggi. Ganteng. Kemeja putih lengan panjang digulung. Celana bahan hitam. Sepatu kulit. Mukanya tegas, kayak orang penting.

Ipah dan Ijah saling pandang.

"Assalamu'alaikum," sapa laki-laki itu. Suaranya berat. "Ini warung kopi?"

Ipah ngangguk. "Iya, Kang. Silakan duduk."

Laki-laki itu nggak duduk. Dia ngeliat ke kiri-kanan. Ke atap bocor. Ke dinding reot.

"Saya Atep," katanya. "Saya dari Dinas. Saya di sini mau... ngerusak warung ini."

Ipah kaget setengah mati. "Apa?! Ngerusak?!"

Ijah langsung berdiri. "Eh, Kang! Hati-hati ngomong! Ini warung orang!"

Atep nyengir sinis. "Maaf. Tanah ini udah dibeli pemerintah. Mau dibangun lapangan desa. Saya cuma ngejalanin tugas."

Ipah mundur selangkah. Dadanya sesak.

"Tapi... ini warung warisan bapak saya, Kang. Saya... saya nggak punya apa-apa selain ini."

Atep diem bentar. Matanya ngeliat Ipah. Ada sesuatu di tatapan itu. Kayak iba.

"Maaf, Neng. Saya nggak bisa bantu."

Ipah ngelus dada. "Kang... tolong, Kang. Paling nggak, minum kopi dulu. Sebelum Kang ngerusak warung saya."

Atep geleng-geleng. Tapi akhirnya dia duduk di bangku depan.

"Ya udah. Satu kopi hitam. Nggak pake gula."

Ipah nyeduh dengan tangan gemetar. Air panas dia tuang ke bubuk kopi. Aroma pahit menyebar. Dia bawa ke meja Atep.

"Ini, Kang."

Atep nyeruput. Seteguk pertama. Seteguk kedua.

Dan Ipah ngeliat lagi.

---

Dia ngeliat Atep—tapi masih bocah. Kira-kira umur 6 tahun. Lagi duduk di samping perempuan tua. Perempuan itu nangis di depan bukit.

"Kenapa nangis, Nek?" tanya Atep kecil.

Perempuan tua itu ngebelai rambut Atep. "Nenek... nenek punya dosa, Nak."

"Dosa apa, Nek?"

Perempuan tua itu diem. Lalu bisik.

"Dulu, nenek diem aja pas ada longsor. Banyak orang meninggal. Nenek nerima uang, Nak."

Atep kecil bingung. "Uang dari siapa, Nek?"

Perempuan tua itu diam lagi. Lebih lama.

"Dari... bapakmu."

Atep kecil terkejut. "Bapak?! Tapi bapak tukang kayu!"

Perempuan tua itu geleng. "Itu cuma kedok, Nak. Bapakmu... dulu pengusaha tambang. Dan dia yang nyuruh kami semua tutup mulut."

Visi itu berhenti.

Ipah menggigit bibir. "Atep... ayahnya pelaku longsor?!"

Atep ngeliat Ipah yang pucat. "Neng... kenapa mukanya pucet?"

Ipah nggak jawab. Dia malah nunjuk ke tanah di bawah warung.

"Kang Atep... di bawah tanah ini... ada mayat. Banyak mayat. Termasuk ibu saya."

Atep kaget. "Apa?!"

Ipah ceritakan semuanya. Tentang kopi yang bikin dia ngeliat masa lalu. Tentang gelang merah. Tentang foto ibunya. Tentang longsor 50 tahun lalu.

Atep diem. Mukanya berubah-ubah. Nggak percaya. Tapi matanya ngeliat gelang di tangan Ipah.

"Aku... juga punya mimpi aneh," kata Atep pelan. "Setiap kali abis minum kopi di sini, aku mimpiin perempuan tua nangis di bawah tanah. Dan dia selalu bilang: 'Jangan rusak warung ini... aku masih di sini...'"

Ipah merinding. "Perempuan tua itu... siapa?"

Atep geleng. "Nggak tahu. Tapi mukanya mirip sama nenekku yang udah mati 30 tahun lalu."

Ipah ngerasain bulu kuduknya meremang. "Nenek Kang Atep?"

Atep ngangguk. "Ning Siti namanya. Katanya meninggal pas aku masih kecil."

Mereka berdua diem. Ngalem. Saling pandang.

Ijah yang dari tadi ngeliatin, akhirnya buka suara. "Eh, kalian berdua kayak lagi main drama. Udah, udah. Yang jelas, warung ini nggak boleh dibongkar! Aku sama Ipah udah kayak saudara. Siapa yang berani ngerusak warung ini, aku lawan!"

Atep nyengir. "Neng Ijah, ya?"

"Kenal aja!" Ijah ngeceng.

"Nggak nyangka Neng Ipah punya sahabat kayak Neng Ijah. Keras banget."

"Iya, dong! Makanya jangan macam-macam!"

Ipah akhirnya ketawa kecil. Suasana sedikit cair.

Atep ngeliat Ipah. Matanya agak berubah. Nggak kaku kayak tadi.

"Neng Ipah... saya minta maaf kalau tadi kasar. Saya cuma ngejalanin tugas. Tapi setelah denger cerita Neng... saya jadi mikir ulang."

Ipah ngangkat alis. "Mikir ulang?"

Atep ngangguk. "Saya mau bantu Neng menyelidiki. Tentang longsor. Tentang ibu Neng. Tentang nenek saya."

Ipah kaget. "Kang Atep... serius?"

Atep senyum. "Saya suka misteri. Dan kopi Neng enak. Pahit banget. Tapi bikin saya penasaran."

Ijah langsung nyela. "Ah, katanya mau ngerusak, eh malah jadi penasaran. Kayak sinetron aja!"

Ipah tersenyum. Hangat. "Makasih, Kang. Saya... saya nggak tahu harus ngomong apa."

"Nggak usah ngomong apa-apa," kata Atep. "Cuma satu."

"Apa?"

Atep nunjuk ke cangkir kosong di depannya.

"Kopi lagi. Yang lebih pahit."

.

BERSAMBUNG KE BAB 2: "Ning Siti dan Rahasia 50 Tahun"

.

JAWAB PERTANYAAN :

"Menurut kalian, siapa sebenarnya pelaku utama di balik longsor 50 tahun lalu? Apakah itu benar-benar ayah Atep, atau ada orang lain yang lebih berkuasa di balik semua ini?

Tulis jawaban kalian di kolom komentar!"

Chapters
1. Bab 1 : KOPI PAHIT PERTAMA
Let Aceng Thoyyib An-Nawawy know what you thought about this chapter!
Love this

1

Love this

Funny

0

Funny

Spicy

0

Spicy

Suspenseful

0

Suspenseful

Emotional

0

Emotional

Profound

0

Profound

Heartwarming

0

Heartwarming

Shocking

0

Shocking

Good Writing

0

Good Writing

Compelling Plot

0

Compelling Plot

Great Character

0

Great Character

Strong Dialog

1

Strong Dialog

author

Kakenya ipah

a month

Further Recommendations

Beyond the Ice Wall

Alex: Fabulous story and the world was built around you beautifully. I could really imagine it, it felt immersive and like you were sucked into the story. Great characters. I need book 2! What happened to the wolf pup?!?

Read Now
PARIS IN THE DARK

Chiflaru: Interesting read and plot, a bird caged and clipped wings for too long...

Read Now
An Irish Match

Elisa_sims: I really appreciate the creativity in your story. I'd love to discuss it with you sometime

Read Now
Buried Alive

Ku_Rolet: I enjoyed it. It was such a short and sweet story, but it still managed to be enjoyable and satisfying. I honestly have no complains. Definitely worth the read! 😍📖❤️

Read Now
Ruthless Lord

Bethel Stephanie: This was a beautiful story I can't believe I finished book 1, I cant wait for book 2, it's beautiful. The story abd characters are beautiful 💕💕💕

Read Now
Bear Shifter Secrets

Pam: Great Book is there going to be a sequel. I hope so i enjoyed the book immensely. Solid story line i just want more.

Read Now
THE WOMAN HE BOUGHT

Shannon Hollinshead: Very easy to read and excellent plot twist! This is the first book I’ve read on the app and I’m hooked!

Read Now
The Neighbor's Son

Becky Reid: Absolutely love this one!!! I hope there’s a part two so I can see where life takes them

Read Now