Customize readability
Aa

Nemesis : The Cursed Blood

All Rights Reserved ©

Summary

Semuanya berawal dari darah dan akan berakhir dengan darah. Kutukan dan dendam lama, semuanya akan diselesaikan oleh mereka yang fana. Tapi, bisakah kau menebak apa yang akan terjadi di masa depan? Mungkin itu adalah kebahagiaan... Mungkin juga kematian. Pilihan merekalah yang menentukannya.

Status
7yrs ago
Chapters
1
Rating
n/a
Age Rating
16+

1. Demigod

Akademi Celestial adalah sebuah sekolah terkenal, yang berlokasi di sebuah pulau buatan tak jauh dari pantai ibukota. Dengan fasilitas lengkap dan terdaftar sebagai salah satu sekolah terbaik di negara ini, Akademi Celestial menjadi salah satu incaran para murid.

0


Tetapi ada sesuatu yang khalayak tidak ketahui.... Ini adalah sekolah bagi para demigod dari berbagai panteon.


{Panteon adalah sekumpulan dewa dalam mitologi atau agama politeistik tertentu.}


Sebut saja Yunani, Romawi, Mesir, Nordik, Keltik, dan lainnya. Mereka semua berkumpul di sini, jauh dari kehidupan para mortal.


Dan lagipula, orang tua dewata mereka tidak pernah memperdulikan anak fana mereka di dunia manusia; lebih memilih tenggelam dengan kehidupan abadi mereka, bersenang-senang menghabiskan waktu. Mereka bisa dibilang hanya orangtua dalam nama saja dan tidak pernah repot-repot mengingat jika mereka memiliki anak-anak.


Maka dari itu, sekolah ini didirikan sejak ratusan tahun yang lalu.


Mungkin.


Tidak ada yang tahu pasti kapan sekolah ini didirikan, maupun siapa pendirinya. Mereka hanya tahu kalau sekolah ini diperuntukkan untuk para demigod.


Hampir seribu demigod berkumpul di sini. Dari berbagai bangsa, agama, bahasa, dan panteon. Tidak membeda-bedakan dan saling membantu untuk bertahan hidup.


Di sekolah ini, para demigod mempelajari hal-hal yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di dunia mitologi ini.


Beladiri, mitologi, bahasa, olahraga, dan lainnya. Termasuk pelajaran umum yang ada di sekolah manusia biasa.


Karena seorang demigod ditakdirkan untuk hidup dalam kehidupan yang selalu dipenuhi bahaya. Kematian selalu mengawasi mereka dari balik bayangan, menunggu waktu yang telah dijanjikan.


Bahaya apa?


Monster-monster yang berkeliaran dan menyamar, menyusup ke kehidupan manusia.


Tetapi, tentu bukan itu saja yang perlu mereka waspadai...


Mereka juga harus waspada dengan teman dan orang tua mereka.


Siapa yang tahu kapan hidup mereka akan berakhir, di tangan orang terdekat mereka.


Tidak ada yang bisa menebak jalan takdir. Manusia... Adalah makhluk yang rumit dan tak terduga.



Lilith Zelda dan Aura Sybil adalah demigod dan teman dekat.


Lilith adalah putri Zeus, Dewa Langit dan Petir, juga Raja Dewa-Dewi Yunani. Dia ahli mengendalikan petir dan angin; memanipulasinya sesuai keinginannya, dan dengan sikap ceria dan pemberaninya, dia banyak disukai oleh teman-temannya. Tentu saja, mengingat Zeus adalah ayahnya, orang-orang akan mencari kesempatan untuk berteman dengannya.


Aura, sebaliknya, adalah putri Pluto, Dewa dari Underworld dan Kekayaan dari mitologi Romawi. Kekuatannya adalah geokinesis dan kegelapan. Dengan kepribadiannya yang tidak suka berbicara dan muram, tidak banyak orang yang ingin berteman dengannya. Tapi, tentu yang lain tidak berani memprovokasinya, karena ayahnya termasuk dewa yang kuat.


Kedua gadis yang bak langit dan bumi itu adalah demigod kuat.


Tapi, sebuah kekuatan datang dengan harga yang mahal. Dunia ini tidak sesederhana apa yang kau lihat dengan matamu.



"Halo, Miss Zelda, Miss Sybil," sapa Allegra dengan senyum ramah.


Allegra adalah darah campuran, setengah Griffin. Dia adalah penjaga asrama juga pengurus misi-misi di gedung Valkyrie, yang sederhananya seperti guild dalam game-game.


{Griffin adalah adalah makhluk mitologis bertubuh singa tetapi bersayap dan berkepala rajawali.}


Di Akademi Celestial, tersedia gedung yang menjadi pusat informasi dan misi-misi. Para demigod biasanya akan melakukan misi untuk berlatih atau memperoleh sedikit uang. Misi-misi ini bisa dari makhluk-makhluk mistis penting atau dari dewa sendiri.


"Yo," balas Lilith menyeringai lebat. Aura tidak membalas; hanya berdiri diam di belakang Lilith, membuat Lilith memutar bola matanya bosan.


Banyak orang mengira si hantu ini tidak bisa bicara, saking jarangnya dia berbicara. Sepatah kata pun dia terlalu malas untuk ucapkan, jika menurutnya itu tidak penting. Untung saja mereka teman, kalau tidak, Lilith juga akan mengira kalau dia bisu.


Allegra tidak mempermasalahkan masalah Aura yang tak menyapa, ataupun bersuara sedikitpun. Dia melihat komputernya dan bertanya, "misi kelas A?" Jemarinya mulai bergerak dengan kecepatan yang tak bisa dilihat oleh mata telanjang.


"Yeah," Lilith mengiyakan dengan antusias. "Yang banyak hadiahnya, ya." Dia tersenyum licik layaknya seekor rubah, mengisyaratkan dengan jemarinya.


Aura memutar bola matanya malas, mengambil brosur yang ada di atas meja kopi. Dia membolak-balik halaman brosur dengan setengah hati, menunggu keduanya selesai.


"Bagaimana dengan misi mencari Cerberus? Sepertinya dia kabur dari Underworld." Allegra melirik Lilith, tersenyum kecil. "Tidak terlalu sulit, tapi tetap misi kelas A." dia melihat layar komputer sekali lagi, menunggu Lilith menjawab.


Lilith mengetuk-ngetukan jarinya di meja resepsionis dan mengerutkan dahinya. "Hadiahnya?" Tanyanya, sedikit curiga. Misi semudah ini, mana mungkin hadiahnya besar, pikirnya menghela nafas dalam hati.


Allegra bertopang dagu menatap Lilith, menyebutkan sebuah angka, "3,000 dollar." dia menyipitkan matanya, senyumnya seperti bulan sabit.


Lilith bersiul, menjilat bibirnya dengan mata membara. "Ok, kami ambil misi itu." Allegra mengangguk dan tersenyum, tidak mempermasalahkan ekspresi Lilith. Dia sudah terbiasa melihat ekspresi aneh itu.


"Lokasi terakhirnya di California. Semoga berhasil," kata Allegra malambaikan tangannya.


Lilith mengacungkan jempolnya, menarik temannya, si hantu untuk kembali ke asrama dan menyiapkan senjata mereka. Money, here we come. Dia terkikik dalam hati, uang adalah sesuatu yang bisa membuat gembira.


"Lilith. Kau tidak lupa siapa pemilik Cerberus, kan?" Tanya Aura tiba-tiba, saat mereka tiba di depan pintu asrama mereka, kamar nomor 108.


Lilith bersiul bahagia, membuka pintu asrama mereka. "Hmm, siapa yang peduli?" Katanya acuh tak acuh. Wajahnya berseri-seri dengan mata yang penuh kilau. "Money comes first, honey." Itu adalah mottonya.


Aura menghela nafas, niatnya untuk memberitahu Lilith hilang sudah. Terserahlah.


Dia hanya bisa berdoa agar mereka bisa kembali dengan selamat. Tapi, mengingat identitas mereka sebagai demigod, rasanya itu adalah harapan yang mustahil.


Ia menatap Lilith yang menyiapkan snack dan tasnya, bersenandung kecil. Dia terdengar sangat bahagia. "Kau yakin ingin pergi?" Ia bertanya, sedikit ragu.


Lilith menjentikkan harinya, melirik Aura dengan seringaian.


"3,000 dollar, honey."


Sebenarnya, mereka bisa menghasilkan uang lebih dari itu, jika saja Lilith tidak pilih-pilih misi dan lebih memilih melaksanakan misi, daripada menghajar para junior saat kelas beladiri. Tapi, Aura memilih diam, bisa-bisa dia kena musibah besar jika dia mengatakannya.


"I don't care anymore," dia bergumam pelan, mempersiapkan barang bawaan untuk misi kali ini. Dia hanya bisa menyalahkan Dewa-Dewi jika misi mereka menjadi kacau.



"Hei. " Aura bertopang dagu bosan, menonton bagaimana Lilith menjinakkan (menghajar) Cerberus dengan penuh antusias. "Kau tidak mau hadiahnya dipotong, kan?" Tanyanya menekankan kata hadiah dan dipotong. Si mata duitan ini sensitif sekali dengan topik ini.


Lilith menghentikan aksinya, melirik temannya itu. "Oops, aku kelepasan," katanya meringis, menggaruk kepalanya dengan senyum polos.


Cerberus, ketiga kepalanya, mengeluarkan suara dengkingan menyedihkan di bawah kaki Lilith, tubuhnya dipenuhi luka.


Lilith berbalik menatap Cerberus, Cerberus mendengking kecil, menurunkan kepalanya menandakan kepasrahannya dengan nasibnya setelah ini.


Lilith tersenyum penuh kemenangan, mengusap dagunya dengan bangga. "Mungkin aku bisa ganti pekerjaan jadi penjinak anjing..." Dia mulai memikirkan kemungkinan ini dengan serius.


Aura melihat ponsel di tangannya. Baru dibalas, he.




[Me] : Kehilangan Cerberus?


[Dad] : ... Kau yang mengajaknya keluar?


[Me] : Tenang saja. Kami sudah menangkapnya.


[Dad] : Kami?


[Me] : Yeah, aku dan dia.


[Dad] : ... Cerberus mati?


[Me] : Belum. Sepertinya.




"Misi selesai, ayo kita antar Cerberus pulang," Aura mengingatkan Lilith yang masih dalam mode kemenangannya.


Lilith mengangguk-angguk. "Ok, memangnya dimana alamat pemilik anjing ini?" Tanyanya agak bingung. Cerberus mendengking, Lilith menendangnya dengan kakinya.


Aura mengusap dahinya, membalas, "kau tahu. Underworld. Cerberus adalah penjaga gerbang Underworld. Jika kau lupa." Dia melirik Lilith yang kelihatannya masih belum mencerna kata-katanya.


"Oh." Lilith tersenyum. Namun, perlahan senyumnya memudar. Dia baru ingat sesuatu yang penting. "Damn it! Paman tua itu akan mengadukannya pada ayahku!" Dia mengutuk, menyumpah-serapah.


Yah... Dia memang agak menyebalkan, terkadang...


Aura tak mengatakannya keras-keras, takut dia akan terkena amarah ayahnya. Orang tua dewata tidak ada yang menyenangkan, mereka semua benar-benar menyebalkan.


Setidaknya punyaku bukan playboy...


"Stupid dog, you b*stard! My money!!!"

Lilith melampiaskan amarahnya pada Cerberus yang malang. Anjing berkepala tiga itu hanya bisa melolong kesakitan di bawah amarah Lilith.


"Tolong jangan bunuh Cerberus. Ayahku masih membutuhkannya," Aura mengingatkan. Bukannya menghentikan Lilith, dia malah membuka D-stagram, aplikasi media sosial khusus para demigod dan merekam adegan kekerasan pada binatang itu. "Setidaknya tidak ada yang berakhir tragis." Dia menghela nafas lega.


Yeah, kecuali Cerberus yang malang.




Are you enjoying my ongoing story? Please let me know what you think by leaving a review! Thanks, La Nemesis

Let La Nemesis know what you thought about this chapter!
Love this

0

Love this

Funny

0

Funny

Spicy

0

Spicy

Suspenseful

0

Suspenseful

Emotional

0

Emotional

Profound

0

Profound

Heartwarming

0

Heartwarming

Shocking

0

Shocking

Good Writing

0

Good Writing

Compelling Plot

0

Compelling Plot

Great Character

0

Great Character

Strong Dialog

0

Strong Dialog

Further Recommendations

Crowned in Blood: Fated to the enemy

Happiness Aghogho: I love this.... so thrilling. Looking forward to the end

Read Now
My Horny Alien

Rianna Reid: This story was amazing! I love the romance between Lily and Zee. It was so cute while being spicy at the same time. The different world was also a nice touch! I only wish that we got more of a showdown on Earth, but besides that, a fantastic midnight read!

Read Now
The Luna Trials

abqgnomeroo: I really like this book. It seems unique in a few pleasing ways, compared to other wolf books. Definitely worth reading.

Read Now
Off limits to fate, My Alpha, my sin

Mia: I'm definitely going to read more books from you, this was 🔥

Read Now
Gwen (Book 1.5 of The Land of the Forgotten Series)

Justine: I like this book. The author knows how to write really good. I hope it gets a little bit more interesting though

Read Now
My Blacksmith Savior

ROB: This was honestly one of the best simple stories I have ever read.There was no repetitiveness, no over the top drama, lots of love and no miscommunication between the leads.Thank you so much for this gem.God bless you! 💜

Read Now
Beyond the Ice Wall

ashbell_02: A woman goes to Antarctica to disprove the ice-wall myth, but discovers a hidden world beyond it. Stranded and mysteriously transforming, she is rescued by a strange man who knows her fate and takes her into his world to save her.

Read Now
Bloodlines

karenfancp: I have noticed a few typos, the story line is good. I can’t put this down.

Read Now
The Luna He Threw Away

Dru Faith: This was an incredibly beautiful positive story. Tavon reminded me very much of my late husband. Thank you❤️

Read Now