Akademi Celestial adalah sebuah sekolah terkenal, yang berlokasi di sebuah pulau buatan tak jauh dari pantai ibukota. Dengan fasilitas lengkap dan terdaftar sebagai salah satu sekolah terbaik di negara ini, Akademi Celestial menjadi salah satu incaran para murid.
Tetapi ada sesuatu yang khalayak tidak ketahui.... Ini adalah sekolah bagi para demigod dari berbagai panteon.
{Panteon adalah sekumpulan dewa dalam mitologi atau agama politeistik tertentu.}
Sebut saja Yunani, Romawi, Mesir, Nordik, Keltik, dan lainnya. Mereka semua berkumpul di sini, jauh dari kehidupan para mortal.
Dan lagipula, orang tua dewata mereka tidak pernah memperdulikan anak fana mereka di dunia manusia; lebih memilih tenggelam dengan kehidupan abadi mereka, bersenang-senang menghabiskan waktu. Mereka bisa dibilang hanya orangtua dalam nama saja dan tidak pernah repot-repot mengingat jika mereka memiliki anak-anak.
Maka dari itu, sekolah ini didirikan sejak ratusan tahun yang lalu.
Mungkin.
Tidak ada yang tahu pasti kapan sekolah ini didirikan, maupun siapa pendirinya. Mereka hanya tahu kalau sekolah ini diperuntukkan untuk para demigod.
Hampir seribu demigod berkumpul di sini. Dari berbagai bangsa, agama, bahasa, dan panteon. Tidak membeda-bedakan dan saling membantu untuk bertahan hidup.
Di sekolah ini, para demigod mempelajari hal-hal yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di dunia mitologi ini.
Beladiri, mitologi, bahasa, olahraga, dan lainnya. Termasuk pelajaran umum yang ada di sekolah manusia biasa.
Karena seorang demigod ditakdirkan untuk hidup dalam kehidupan yang selalu dipenuhi bahaya. Kematian selalu mengawasi mereka dari balik bayangan, menunggu waktu yang telah dijanjikan.
Bahaya apa?
Monster-monster yang berkeliaran dan menyamar, menyusup ke kehidupan manusia.
Tetapi, tentu bukan itu saja yang perlu mereka waspadai...
Mereka juga harus waspada dengan teman dan orang tua mereka.
Siapa yang tahu kapan hidup mereka akan berakhir, di tangan orang terdekat mereka.
Tidak ada yang bisa menebak jalan takdir. Manusia... Adalah makhluk yang rumit dan tak terduga.
Lilith Zelda dan Aura Sybil adalah demigod dan teman dekat.
Lilith adalah putri Zeus, Dewa Langit dan Petir, juga Raja Dewa-Dewi Yunani. Dia ahli mengendalikan petir dan angin; memanipulasinya sesuai keinginannya, dan dengan sikap ceria dan pemberaninya, dia banyak disukai oleh teman-temannya. Tentu saja, mengingat Zeus adalah ayahnya, orang-orang akan mencari kesempatan untuk berteman dengannya.
Aura, sebaliknya, adalah putri Pluto, Dewa dari Underworld dan Kekayaan dari mitologi Romawi. Kekuatannya adalah geokinesis dan kegelapan. Dengan kepribadiannya yang tidak suka berbicara dan muram, tidak banyak orang yang ingin berteman dengannya. Tapi, tentu yang lain tidak berani memprovokasinya, karena ayahnya termasuk dewa yang kuat.
Kedua gadis yang bak langit dan bumi itu adalah demigod kuat.
Tapi, sebuah kekuatan datang dengan harga yang mahal. Dunia ini tidak sesederhana apa yang kau lihat dengan matamu.
"Halo, Miss Zelda, Miss Sybil," sapa Allegra dengan senyum ramah.
Allegra adalah darah campuran, setengah Griffin. Dia adalah penjaga asrama juga pengurus misi-misi di gedung Valkyrie, yang sederhananya seperti guild dalam game-game.
{Griffin adalah adalah makhluk mitologis bertubuh singa tetapi bersayap dan berkepala rajawali.}
Di Akademi Celestial, tersedia gedung yang menjadi pusat informasi dan misi-misi. Para demigod biasanya akan melakukan misi untuk berlatih atau memperoleh sedikit uang. Misi-misi ini bisa dari makhluk-makhluk mistis penting atau dari dewa sendiri.
"Yo," balas Lilith menyeringai lebat. Aura tidak membalas; hanya berdiri diam di belakang Lilith, membuat Lilith memutar bola matanya bosan.
Banyak orang mengira si hantu ini tidak bisa bicara, saking jarangnya dia berbicara. Sepatah kata pun dia terlalu malas untuk ucapkan, jika menurutnya itu tidak penting. Untung saja mereka teman, kalau tidak, Lilith juga akan mengira kalau dia bisu.
Allegra tidak mempermasalahkan masalah Aura yang tak menyapa, ataupun bersuara sedikitpun. Dia melihat komputernya dan bertanya, "misi kelas A?" Jemarinya mulai bergerak dengan kecepatan yang tak bisa dilihat oleh mata telanjang.
"Yeah," Lilith mengiyakan dengan antusias. "Yang banyak hadiahnya, ya." Dia tersenyum licik layaknya seekor rubah, mengisyaratkan dengan jemarinya.
Aura memutar bola matanya malas, mengambil brosur yang ada di atas meja kopi. Dia membolak-balik halaman brosur dengan setengah hati, menunggu keduanya selesai.
"Bagaimana dengan misi mencari Cerberus? Sepertinya dia kabur dari Underworld." Allegra melirik Lilith, tersenyum kecil. "Tidak terlalu sulit, tapi tetap misi kelas A." dia melihat layar komputer sekali lagi, menunggu Lilith menjawab.
Lilith mengetuk-ngetukan jarinya di meja resepsionis dan mengerutkan dahinya. "Hadiahnya?" Tanyanya, sedikit curiga. Misi semudah ini, mana mungkin hadiahnya besar, pikirnya menghela nafas dalam hati.
Allegra bertopang dagu menatap Lilith, menyebutkan sebuah angka, "3,000 dollar." dia menyipitkan matanya, senyumnya seperti bulan sabit.
Lilith bersiul, menjilat bibirnya dengan mata membara. "Ok, kami ambil misi itu." Allegra mengangguk dan tersenyum, tidak mempermasalahkan ekspresi Lilith. Dia sudah terbiasa melihat ekspresi aneh itu.
"Lokasi terakhirnya di California. Semoga berhasil," kata Allegra malambaikan tangannya.
Lilith mengacungkan jempolnya, menarik temannya, si hantu untuk kembali ke asrama dan menyiapkan senjata mereka. Money, here we come. Dia terkikik dalam hati, uang adalah sesuatu yang bisa membuat gembira.
"Lilith. Kau tidak lupa siapa pemilik Cerberus, kan?" Tanya Aura tiba-tiba, saat mereka tiba di depan pintu asrama mereka, kamar nomor 108.
Lilith bersiul bahagia, membuka pintu asrama mereka. "Hmm, siapa yang peduli?" Katanya acuh tak acuh. Wajahnya berseri-seri dengan mata yang penuh kilau. "Money comes first, honey." Itu adalah mottonya.
Aura menghela nafas, niatnya untuk memberitahu Lilith hilang sudah. Terserahlah.
Dia hanya bisa berdoa agar mereka bisa kembali dengan selamat. Tapi, mengingat identitas mereka sebagai demigod, rasanya itu adalah harapan yang mustahil.
Ia menatap Lilith yang menyiapkan snack dan tasnya, bersenandung kecil. Dia terdengar sangat bahagia. "Kau yakin ingin pergi?" Ia bertanya, sedikit ragu.
Lilith menjentikkan harinya, melirik Aura dengan seringaian.
"3,000 dollar, honey."
Sebenarnya, mereka bisa menghasilkan uang lebih dari itu, jika saja Lilith tidak pilih-pilih misi dan lebih memilih melaksanakan misi, daripada menghajar para junior saat kelas beladiri. Tapi, Aura memilih diam, bisa-bisa dia kena musibah besar jika dia mengatakannya.
"I don't care anymore," dia bergumam pelan, mempersiapkan barang bawaan untuk misi kali ini. Dia hanya bisa menyalahkan Dewa-Dewi jika misi mereka menjadi kacau.
"Hei. " Aura bertopang dagu bosan, menonton bagaimana Lilith menjinakkan (menghajar) Cerberus dengan penuh antusias. "Kau tidak mau hadiahnya dipotong, kan?" Tanyanya menekankan kata hadiah dan dipotong. Si mata duitan ini sensitif sekali dengan topik ini.
Lilith menghentikan aksinya, melirik temannya itu. "Oops, aku kelepasan," katanya meringis, menggaruk kepalanya dengan senyum polos.
Cerberus, ketiga kepalanya, mengeluarkan suara dengkingan menyedihkan di bawah kaki Lilith, tubuhnya dipenuhi luka.
Lilith berbalik menatap Cerberus, Cerberus mendengking kecil, menurunkan kepalanya menandakan kepasrahannya dengan nasibnya setelah ini.
Lilith tersenyum penuh kemenangan, mengusap dagunya dengan bangga. "Mungkin aku bisa ganti pekerjaan jadi penjinak anjing..." Dia mulai memikirkan kemungkinan ini dengan serius.
Aura melihat ponsel di tangannya. Baru dibalas, he.
[Me] : Kehilangan Cerberus?
[Dad] : ... Kau yang mengajaknya keluar?
[Me] : Tenang saja. Kami sudah menangkapnya.
[Dad] : Kami?
[Me] : Yeah, aku dan dia.
[Dad] : ... Cerberus mati?
[Me] : Belum. Sepertinya.
"Misi selesai, ayo kita antar Cerberus pulang," Aura mengingatkan Lilith yang masih dalam mode kemenangannya.
Lilith mengangguk-angguk. "Ok, memangnya dimana alamat pemilik anjing ini?" Tanyanya agak bingung. Cerberus mendengking, Lilith menendangnya dengan kakinya.
Aura mengusap dahinya, membalas, "kau tahu. Underworld. Cerberus adalah penjaga gerbang Underworld. Jika kau lupa." Dia melirik Lilith yang kelihatannya masih belum mencerna kata-katanya.
"Oh." Lilith tersenyum. Namun, perlahan senyumnya memudar. Dia baru ingat sesuatu yang penting. "Damn it! Paman tua itu akan mengadukannya pada ayahku!" Dia mengutuk, menyumpah-serapah.
Yah... Dia memang agak menyebalkan, terkadang...
Aura tak mengatakannya keras-keras, takut dia akan terkena amarah ayahnya. Orang tua dewata tidak ada yang menyenangkan, mereka semua benar-benar menyebalkan.
Setidaknya punyaku bukan playboy...
"Stupid dog, you b*stard! My money!!!"
Lilith melampiaskan amarahnya pada Cerberus yang malang. Anjing berkepala tiga itu hanya bisa melolong kesakitan di bawah amarah Lilith.
"Tolong jangan bunuh Cerberus. Ayahku masih membutuhkannya," Aura mengingatkan. Bukannya menghentikan Lilith, dia malah membuka D-stagram, aplikasi media sosial khusus para demigod dan merekam adegan kekerasan pada binatang itu. "Setidaknya tidak ada yang berakhir tragis." Dia menghela nafas lega.
Yeah, kecuali Cerberus yang malang.