Never was Always is

Summary

karena rasa tidak akan pernah bisa disandingkan dengan logika, dan ketika ego berbicara yang nyata akan terlihat tiada ini kisah tentang Beam Baramee dan Forth Jaturapom, mungkin bukan kisah indah tapi ini pasti kisah cinta

Status
Ongoing
Chapters
2
Rating
n/a
Age Rating
16+

Awal dari akhir

Mataku membuka tapi badan seperti masih tertidur.

Otakku mengirimkan ribuan sinyal untuk anggota tubuhku untuk bergerak tapi ngga ada yang sampai

Shit! Apa aku lumpuh?!!

Dan saat itu juga ribuan jarum seperti menusuk sekujur badanku.

Nyeri, ngilu, pegal semua jadi satu.

Kurasakan gerakan disebelahku dan tanpa mikir mataku kembali terpejam

“Beam, kamu udah bangun?”

What the fuuuuckkkk, itu suara cowok?!

Otakku bekerja seperti kilat mencoba merekap apa yang terjadi semalam, semua saling berkelabat dalam mode rewind.

Dan berhenti.

Fuck. itu Forth.

Fuck. Forth Jaturapom

Fuck.

FUCK.

kubuka mata, “Jam berapa sekarang?”

Yang kulihat pertama kali adalah seraut wajah yang sudah sangat familiar untukku 3bulan belakangan ini

rambutnya berantakan dan wajah itu bertengger diatas badan tanpa sehelai benangpun

“Jam 8 kurang 10. Kamu mau sarapan? Aku tau tempat sarapan yang enak”

Suaranya terlalu kencang untuk kepalaku yang seperti diinjek injek gajah

“Ngga usah, gue numpang mandi aja”

kucoba untuk bangun dan berdiri walau rasanya seperti ada jutaan jarum menusuk seluruh tubuh bagian bawahku

“Kamu ngga papa?” Forth refleks berdiri dan memegang bahuku

Kutepis tangannya,” apaan sih loe? Gue bukan perempuan” kulangkahkan kaki walau rasanya seperti jalan diatas hamburan beling

“Aku cuma khawatir karena semalam kamu bersikeras tidak memakai pe ...”

“Gue tau apa yang gue minta semalam! Dan tolong bisa ngga loe ngga ngomong? Kepala gue sakit denger suara loe” kupotong ucapannya sebelum rasa malu menguasai raut wajahku

Forth menarik napas dan meraih kaos dan boxernya dilantai

“Aku keluar beli sarapan, handuk ditempat biasa”

Setelah memakai jeansnya Forth meraih kunci motor dan keluar apartemen.

Begitu kudengar bunyi klik pintu tertutup, terpincang pincang aku jalan ke kamar mandi.

Kunyalakan air panas dibathtub berbarengan dengan air dingin, setelah mendapatkan suhu yang kuinginkan kurendam seluruh bagian bawah tubuhku didalam bathtub

Rasa panas seperti membakar tapi pada saat yang bersamaan menghilangkan rasa nyeri yang kurasakan

Perlahan lahan kurasakan rasa nyaman diseluruh bagian bawah tubuhku, kupejamkan mataku seiring dengan air hangat yang merendam badanku

Entah berapa lama aku tertidur tapi aku terbangun oleh rasa dingin ditengkukku, kubasuh wajahku dengan air yang sudah dingin dan keluar dari bathtub untuk mandi.

Keluar dari kamar mandi berbalut handuk kudapati kamar masih sepi, sepertinya dia belum kembali.

Sambil berpakaian kulihat jam menunjukkan pukul 9, pantas saja tadi airnya sudah dingin

Kukeringkan rambutku dengan hairdryer sambil mengingat kejadian semalam.

Dan malam sebelum itu.

Dan malam sebelumnya

Dan malam malam lain sebelumnya.

Kuletakkan hairdryer, kulihat wajah yang menatapku dari cermin

Loe bangsat, loe tau kan? Loe suka sama dia dan loe pake sex mabok cuma untuk deket sama dia.

LOE

ITU

BANGSAT.

Lamunanku terputus oleh bunyi kunci dipintu, tak berapa lama Forth muncul dengan kantongan plastik dan bau rokok

“Udah mandi? Sarapan dulu ya? Semalam kamu ngga makan apa apa. Aku tadi beliin bubur dan sop bening, supaya perut kamu ngga kaget” Forth mengeluarkan piring dan mangkok dari lemari

“Thanks, gue udah telat” kuambil arloji dari meja

“Beam, please makan dulu. Semalam kamu ngga makan apa-apa. Setelah itu kamu mau kemana terserah. Tapi makan dulu. Ya?”

Forth menatapku lekat, sorot matanya seperti memohon

Kupakai sepatuku dan duduk dibangku meja makan, tanpa mengacuhkan Forth yang tersenyum dan kembali menata makanan ke piring

Kami makan dalam diam.

Selesai makan kubawa piringku ke tempat cuci piring

“Taro aja, kamu khan buru buru” Forth berdiri dan mengambil piring dari tanganku

“Bukan berarti gue ngga bisa cuci piring gue sendiri kan?” Kuambil kembali piring tersebut dan mencucinya dengan cepat

Forth menghela napas dan berdiri disampingku melipat tangannya

Forth menarik napas sekali lagi sebelum menoleh ke arahku

“Beam... aku rasa cukup sampai disini saja”

Ucapan Forth sangat perlahan tapi dikupingku seperti ledakan bom

Kulap tanganku pada kain yan tergantung

“Ok”

Tangan Forth terulur diwajahku

“Apaan lagi?” Aku berujar gusar

“Handphone kamu. Aku perlu menghapus semua data aku”

Entah darimana datangnya tapi rasanya aku ingin merusak sesuatu, atau paling tidak melukai tangan yang terulur didepanku

“Nih!” Kulempar hpku ketangannya

Forth membuka hp ku tanpa bertanya passwordnya dan tak berapa lama mengembalikannya ketanganku

“Terimakasih untuk waktu kamu”

Sungguh mati aku ingin merobek senyum diwajahnya.

“Ok.” Kuraih jaket dan kunci mobil

sebelum tanganku membuka pintu tangan Forth terlebih dahulu menarik badanku dan merengkuhnya

“Please 1 menit saja” Forth berbisik dibelakang telingaku

Indra penciumanku dipenuhi bau rokok yang bercampur dengan kayu manis, bau khas Forth

Badanku diliputi rasa hangat yang sangat familier, kehangatan tubuh Forth

Dan sebelum otakku bisa memproses rasa nyaman dan familier yang kurasakan, semua itu lenyap.

Forth melepas rengkuhannya dan berdiri menjauh

“Hati hati dijalan” Forth tersenyum

dan untuk pertama kalinya aku menyadari, ini kali terakhir aku akan melihat senyumnya.

Sebelum rasa hangat dipelupuk mataku berganti cairan, kubalikkan badan dan keluar dari apartemen.

Seharusnya bukan begini rasa yang sekarang menekan dadaku, karena aku tau ini yang akan terjadi

langkahku terhenti diparkiran karena pandanganku mengabur oleh airmata yang dengan bodohnya tetap mengalir

Aku ngga mengerti rasa sesak yang ada didadaku

kenapa?

buat apa?

Kunyalakan mobil dan melaju cepat.

Jalanan Bangkok masih seperti kemarin, matahari masih menyengat seperti kemarin bahkan pakaianku masih seperti kemarin tapi pagi ini semua berbeda.

Tidak akan pernah sama lagi.