Chapter 1
Pohon beringin tua di kampus Universitas Gajah Mada menaungi Samuel, 55 tahun, yang duduk di bangku kayu, rambut memutih di pelipis, kulit gelap dari matahari Makassar membekas. Tubuhnya tegap, matanya dalam—lelaki matang dengan gairah tersembunyi. Tiga tahun lalu, dia bercerai, bukan karena tak sayang istrinya, tapi karena hasrat pada laki-laki yang tak bisa lagi dia bohongi demi keluarga dan lingkungan. Kini, di apartemen kecil dekat Sagan, dia hidup sendiri, anak-anaknya kuliah di kota lain. Seminar lingkungan selesai cepat, tapi Samuel tak ingin pulang—sepi itu menggigit.
Seorang pemuda melangkah mendekat, tangannya memegang dua gelas kopi, senyumnya seperti percikan api. Arga, 25 tahun, mahasiswa geografi, ramping tapi penuh energi—jeans ketat membingkai pinggulnya, kaus polos menempel di dadanya. Samuel menoleh, jantungnya tersentak. Senyum Arga bikin matanya menyipit, gerakan lincahnya, lekuk jeans yang menangkap mata Samuel—bukan nafsu mentah, tapi hasrat yang membakar, sesuatu yang dia coba kubur bertahun-tahun.
“Om, boleh duduk di sini?” tanya Arga, suaranya genit ringan. Samuel tersenyum, dadanya panas. “Tentu.” Arga menyodorkan kopi. “Ini buat Om, biar kenalan. Namaku Arga.”
“Samuel,” jawabnya, menjabat tangan Arga, genggamannya kuat bikin darahnya berdesir. “Bukan dosen, cuma alumni. Mampir buat nostalgia.”
Obrolan mereka mengalir cepat, seperti api di kayu kering. Samuel cerita tentang masa kuliahnya, tapi matanya terpaku pada Arga—cara dia ketawa, jari-jarinya memainkan gelas. Arga bilang dia ngerasa kosong meski hidupnya rame. “Jangan panggil Om,” canda Samuel, suaranya dalam. “Panggil Mas aja.”
Arga nyengir, matanya nakal. “Mas Samuel, ya? Mas nggak tua, malah… keren.” Samuel geleng-geleng, dadanya bergetar. Arga punya gairah terbuka, dan itu bikin Samuel ngerasa hidup, meski ketakutan lama mengintai. Saat berpisah, Arga menoleh, suaranya lembut tapi penuh makna. “Kita ngobrol lagi, ya, Mas?” Samuel mengangguk, ada api kecil menyala.








