Chapter 1
▶️ ၊၊||၊|။| Color Me Blue - Akane ♪
______________________________________
Seorang pemuda dengan postur tegak dan bahu yang bidang terbentuk tengah melintas di sebuah pinggir kali yang dipenuhi sampah. Yang kini sedang dibersihkan oleh tiga pria tua di atas sampan, menebar jaring lebar guna menangkap sampah-sampah itu.
Sang pemuda menarik napas dalam. Mencoba menghirup udara segar kendati sadar kalau dirinya tidak bisa berharap apa-apa dari lokasinya saat ini yang tengah berada di tengah kota. Benaknya memainkan rekam memori kejadian yang baru sekali terjadi sekitar satu jam yang lalu. Yang tidak benar-benar menimbulkan suatu bentuk emosi untuknya
"Nak Abimala. Tim kami mendengar laporan kamu lakukan manipulasi catatan keuangan."
Abimala yang mendengar itu tidak memiliki ekspresi tertentu untuk dia miliki.
"Saya tidak dapat memberi bukti tapi saya tidak pernah melakukan perubahan pada yang diberikan pada saya."
Jika orang lain berada di posisinya mereka mungkin akan panik dan mulai memutar otak memikirkan bagaimana cara menyangkal tuduhan yang tertujukan pada mereka. Membawa nama Tuhan bila merasa perlu. Tapi Abimala bahkan tidak mencoba. Dirinya sudah menerima apa saja yang akan terjadi. Menerima kejadian yang hanya merupakan puncak dari segala macam kejadian yang sudah dia alami selama satu tahun setengah bekerja di perusahaan tempatnya berada. Tidak punya cukup uang untuk berkuliah di jurusan terkenal apalagi di universitas yang diincar banyak orang. Dirinya berasal dari kampung yang jauh dari kota dan sudah sejak lama mengalami kekerasan dari pamannya. Diam-diam mendaftarkan diri di sebuah universitas dengan biaya paling terjangkau yang bisa ditutupi dengan uang hasil memenangkan kompetisi beasiswa di kotanya sekarang.
Abimala tidak punya banyak keinginan dalam hidupnya tapi satu di antaranya adalah kabur dari pamannya. Pamannya si preman di kampung tempat ia menghabiskan enam tahun penuh kekerasan semenjak ayahnya meninggal. Pamannya memiliki kekuasaan di lingkungan itu sehingga jika dia ingin kabur maka satu-satunya cara adalah dengan pergi dari lingkungan itu sepenuhnya. Lantas hidup di lingkungan baru tanpa siapa-siapa.
Dia lulus dari universitas itu menerima gelar Sarjana Seni Rupa. Sudah memiliki bayangan tentang usaha apa yang akan dia lakukan setelah lulus, namun bos di resto makan tempatnya bekerja paruh waktu sebagai pramubakti saat itu tiba-tiba memanggilnya.
"Abimala. Saya sudah dengar latar belakang kamu. Kerjamu selama ini bagus. Saya harap saya bisa beri kamu kesempatan untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik. Adik saya punya perusahaan event organizer. Kalau kamu kerja di sana kamu pasti bisa dapat penghasilan yang lebih daripada di tempat saya ini setelah lulus. Apalagi kamu anak seni, 'kan? Harusnya kerjamu bakal bagus di sana."
Meski sempat terpegun, dia bukanlah tipe yang akan menolak peluang yang dia peroleh, jadi dia menerimanya.
Dia bergabung dengan perusahaan itu. Sebulan setelah dia memperoleh kelulusan dan undur diri dari resto, bosnya yang bagai malaikat penyampai berkah itu meninggal karena penyakit jantung.
Bagai tanda bahwa berkah itu tidak lagi berlaku, beberapa kejadian tidak masuk akal terjadi. Kekasih bosnya sekarang—adik dari almarhum mantan bos di resto makannya—menaruh ketertarikan padanya. Kabar bahwa dia menggoda kekasih bosnya sendiri tersebar ke telinga rekan-rekan kerjanya, maka lantas bagai sebuah klise harus berjalan sebagai klise, rekan-rekannya mengucilinya namun tetap mengembankan tugas-tugas rumit padanya. Dia juga dijadikan kambing hitam tiap kali ada klien yang merasa tidak puas. Hasil dari pekerjaan ceroboh rekan-rekannya tapi dia lah yang dijadikan tujuan teguran.
Dia awalnya bekerja di lapangan, mengatur acara bersama rekan-rekannya serta berperan membuat desain dekorasi yang diperlukan dan diinginkan. Tapi sejak kasus kesalahan kerja dan dirinya yang dijadikan kambing hitam itu tim pengawas pun mulai mengawasinya. Setelah kasus seperti itu sudah terjadi empat kali akhirnya bukannya memecatnya tim pengawas pegawai justru memutuskan untuk membuatnya bekerja di belakang layar. Membuat Abimala mengatur catatan keuangan bersama beberapa rekan barunya dari kemampuan sampingan yang Abimala katakan dia miliki.
Abimala pikir, mungkin inilah yang terbaik. Dengan begitu dirinya tidak akan menjadi sasaran klien yang marah lagi. Dan mulai mencoba bidang pekerjaan baru.
Tapi ternyata bahkan di bidang lain di perusahaan EO itu pun dirinya masih saja dijadikan sasaran sumber kesalahan. Oleh rekan barunya atau siapa Abimala tidak tau. Tokoh yang menjadi dalang dari semua ketidakberuntungan itu selama ini juga Abimala masih tidak tau. Dan tidak terlalu peduli juga, sebenarnya. Dan setelah tibanya laporan dirinya melakukan manipulasi yang tidaklah dirinya lakukan itu, dia pun resmi diberhentikan.
Jika sudah terjadi, maka yasudah. Abimala menarik napas dan membuangnya lalu memutuskan untuk duduk di pinggir jembatan. Jembatan yang menyambungkan sisi kali dengan sisinya yang lain, yang memang terkenal dengan desainnya yang tidak memiliki pagar pengaman namun memiliki jaring keamanan di bawahnya dan juga tempat untuk melabuhkan kaki. Jembatan itu hampir selalu ramai oleh orang-orang kota yang duduk di pinggirannya. Abimala baru sekali melewati jembatan itu saat acara lari pagi perusahaan waktu lalu. Belum pernah sekalipun duduk di sisi jembatan seperti orang-orang lainnya. Ini adalah kali pertamanya.
Dia dengan hati-hati mendudukkan dirinya dan membawa punggungnya sedikit ke belakang. Mendongakkan kepala menontoni sekawanan burung terbang yang membentuk pola segitiga di atas langit, dengan satu burung terbang di paling depan menerima tekanan angin paling kuat.
Abimala merasakan ponselnya bergetar. Abimala sebagai pegawai pria yang bekerja di depan komputer di ruangan ber-AC tidak merasa perlunya membawa apapun kecuali hp, sedikit uang cash, dan kartu yang kesemuanya bisa dimuatkan di dalam saku-saku pakaiannya. Selama dia bekerja di perusahaan event organizer itu dirinya jarang diharuskan memakai seragam. Jadi saat ini pun dia hanya mengenakan celana bahan, dan kemeja putih tanpa dasi. Biasanya akan ada jaketnya tersampir di bahunya. Tapi karena pagi tadi dia memberikan jaketnya itu pada seorang perempuan di bus sekarang dia tidak memiliki jaket itu bersamanya.
Abimala menyalakan hpnya, menemukan notifikasi sebuah update novel situs yang menjadi salah satu hiburan kosong di waktu senggangnya. Sang penulis memang selalu memperbaharui bab ceritanya di hari rabu di jam-jam sore seperti sekarang. Dan kini cerita itu sudah mencapai akhirnya.
Bab kali ini akan menjadi yang terakhir, pikirnya dengan wajah tanpa ekspresi. Mengetahui dirinya mengenali bacaan situs itu juga hanya karena sesosok orang yang kala itu selalu memaksanya untuk membaca.
Dia menekan notif itu. Suatu cahaya yang sangat terang tiba-tiba saja keluar dari layar. Abimala berjengit dan sontak menutup mata membalikkan ponselnya hingga layarnya berubah mengarah ke kali. Tapi itu tidak membantu mengatasi silau yang dirasakannya. Penasaran apa yang salah dia ingin memeriksa apa yang terjadi di ponsel miliknya tapi merasa dirinya akan menyesal jika dia memaksakan diri melihat. Jadi dia hanya terus menutup matanya, teguh memegang hpnya tidak mau benda itu jatuh ke kali hilang dari genggamannya. Tanpa menyadari, keberadaan tubuhnya yang sesaat melayang, sebelum kembali terduduk.
Cahaya menyakitkan mata itu redup dalam sekejap pada detik berikutnya. Menyadari keberadaan benda padat yang sebelumnya dia genggam di tangan kanannya juga tiba-tiba lenyap Abimala refleks mencoba meraih benda pipih itu dengan mengedepankan tubuhnya.
Seharusnya kakinya tengah memijak beton pijakan untuk dia dapat mempertahankan posisinya selagi dia membuat pergerakan yang tiba-tiba. Tapi anehnya pijakan itu lenyap di bawah kakinya. Tidak hanya itu, dia menyadari pemandangan di depannya berubah sepenuhnya.
Ini bukan di jembatan.
Di mana ini?
Bamm!!!!
Dia terjatuh ke atas susunan datar blok paving. "Hah..." Abimala menghela napasnya. Membenarkan posisi dirinya dari tersungkur ke posisi jongkok dengan satu lutut menyentuh tanah, dia ingin membersihkan kedua telapak tangannya yang kotor oleh butir-butir pasir tipis serta debu setelah dia gunakan untuk menahan dirinya sendiri dari membentur daratan. Lantas dia menyadari ada yang aneh.
Hm? Tangannya yang kasar kini berubah menjadi sedikit lebih halus. Kulitnya yang sedikit matang kini menjadi hampir putih. Bahkan pucat dan kurus kecil.
"Ini..."
Eh?
Suaranya berubah. Dirinya sudah melewati masa pubertas dan sudah menjadi pria dewasa dengan suara yang menjadi sedikit lebih berat.
Tapi suaraku barusan...
Abimala kemudian merasakan sesuatu menyisir tengkuknya. "Hah?" Dia terlompat bangun dan memeriksa apa yang tadi di belakangnya.
Tidak ada apa-apa.
Tapi angin bertiup dan dia merasakan sensasi itu lagi. Abimala merasa bergidik, namun segera mengembalikan ketenangannya. Setelah menahan napasnya, dia perlahan membawa tangannya ke belakang tengkuk.
Apakah itu rambut?
Rambutnya menjadi panjang. Dia mencoba mencabut sebuah helai rambutnya untuk melihat lebih jelas dan memastikan. Dia melihat sebuah rambut panjang di tangannya.
Merah? Rambut itu berwarna merah. Bukan warna rambutnya yang seharusnya. Dia mulai melihat ke sekitarnya. Dia sedang berada di sebuah taman. Dirinya tadi terduduk di sebuah batu besar. Dari dia melihatnya jika mendudukkan dirinya di atas batu itu kakinya tidak akan menyentuh tanah. Ketika dia meraba dan menunduk melihat pakaian yang membalut tubuhnya dia menyadari pakaiannya sudah berganti. Kemeja putihnya berubah. Bagian lengannya menjadi lebih longgar dengan ujung lebih melekat dengan pergelangan tangan yang kurus. Di kerahnya terikat pita hitam kecil dengan batu mengilap berwarna merah. Celana hitamnya terasa lebih sempit namun pas dengan kakinya.
Sepatu sport hitamnya berubah menjadi sebuah sepatu pantofel. Lalu, barang-barang miliknya menghilang. Termasuk ponselnya yang tidak bisa dia temukan di manapun.
"......."
Abimala tiba-tiba merasa dingin. Udaranya lebih dingin daripada seharusnya. Dan Abimala merasa tubuhnya kini menjadi ringkih. Parahnya lagi, terasa lemah.
Apa ini yang dirasakan oleh orang-orang dengan fisik seperti ini? Ini buruk. Tubuhnya menjadi jauh lebih ringan. Tapi tidak bertenaga.
Abimala mencoba mendudukkan dirinya lagi di batu itu tapi tidak terjadi apa-apa.
......Baiklah.
Abimala si berkepribadian simpel dan tidak banyak berpikir. Jika pun dia sebenarnya tidak sengaja terjatuh hingga ke kali itu entah bagaimana caranya dan sedang tidak sadarkan diri, lalu kini dia sedang bermimpi—atau dia sebenarnya sudah mati tenggelam dan sedang di alam lain—Abimala memutuskan untuk melanjutkan mengikuti alur yang ada di depan matanya.
Hanya ada dia seorang di area itu, dan ketika dia memutuskan memasuki bangunan yang mengelilingi taman itu pun dia hanya bisa mendengar suara tapak sepatunya yang memijak lantai.
Dindingnya berwarna putih dan berlangit-langit tinggi. Rumah? Sekolah? Atau bangunan wisata? Keberadaan taman dan bentuk bangunan di visinya mengingatkannya pada gambar-gambar bangunan bersejarah di luar negeri.
"Tuan Muda?"
Abimala sontak menoleh ke belakang ke arah suara itu berasal. Mendapati kehadiran seorang kakek dengan rambut hitam bercampur putih yang mengenakan pakaian klise pelayan berdiri enam meter di belakangnya.
Jadi ada seseorang. Dia memutuskan untuk bersikap netral.
Menetapkan wajah tanpa ekspresi dan mengangguk kecil.
"Iya."
Pria tua itu melipat kedua tangannya di belakang punggung dan tersenyum. Hm? Beliau memang tersenyum, tapi senyumnya terasa aneh dan bahkan menjurus ke menyeramkan. Abimala jadi merasa tidak nyaman. Aku tidak sedang berada di tempat yang berbahaya, kan?
"Apakah Tuan Muda tidak ingin makan malam bersama Tuan dan Nyonya?" orang tua itu bertanya. Suara ramahnya masih membawa kengerian pada yang sedang berbalik melihatnya. Dia juga menyadari gaya bicara orang tua itu yang agak aneh. Tapi dia lebih terfokus pada fakta bahwa sang kakek memiliki raut muka yang memancing kecurigaan.
Abimala berpikir.
Siapapun sosok yang sedang dia lihat itu, asalkan dia tidak menyakitinya seharusnya tidak apa-apa, kan?
Abimala mengingat dirinya yang belum makan siang. Ingatan rencana memanaskan makanan yang sudah ia masak di pagi hari untuk makan malam pun membuat dirinya lapar. Mungkin tubuh yang sedang dia diami itu juga belum makan. "Hm. Aku akan makan."
Pelayan itu sedikit mengernyit tapi senyumnya tidak sedikitpun berubah. Namun kini matanya menyipit. Kemudian senyumnya sedikit melebar.
"Tentu. Mari saya antar, Tuan Muda." Pelayan itu mengayunkan satu tangannya sambil sedikit membungkuk ke arah koridor tempatnya tadi berasal. Baru ketika Abimala berjalan ke arahnya pelayan itu menegakkan punggung dan berjalan ringan di depannya.
Abimala menyadari yang tidak benar. Dia tidak mengeluarkan suara tapak kaki.
Dia dibuat kebingungan tapi kembali tidak memikirkannya. Keduanya bersama menyusuri koridor. Melewati belokan, Abimala bisa melihat sebuah ruangan besar dengan furnitur-furnitur yang apik. Ruangan itu terang dan memberi aura yang menenangkan. Damai dan hangat membuat suhu dingin yang sejak tadi dirinya rasakan menghilang sejak dia tiba di ruangan. Sang pelayan kemudian mengetuk sebuah pintu yang tingginya setinggi satu setengah tubuhnya.
"Tuan, Nyonya, ini Alister. Tuan Muda Valias memutuskan untuk bergabung."
18 Agustus 2021
17/8/2021 23.15 2061/2023/1972
7/5/2025 19:20 1844








