Prolog
Daun-daun dari pohon London plane berayun pelan, gemerisik halus terdengar saat diterpa desiran angin pagi, rantingnya merentang lebar, menaungi sebuah mobil sedan hitam yang sedang parkir di tepi jalan.
Di dalamnya, pria berjas hitam duduk di bangku kemudi, diam, matanya lekat ke seberang kaca mobil.
"Remaja itu sesuai dengan ciri-ciri yang tertera" ucapnya datar, sekilas melirik lembaran dokumen di tangannya,
"Dia tinggal di lantai 2 kamar nomer 8"
Hening, Cewek yang duduk di kursi penumpang hanya diam menghela napas panjang, aroma dari gel pengharum tercium samar. Tangannya mulai menyangga dagu, sekilas meniup helai rambutnya yang jatuh menghalangi pandangan.
Di seberang sana, seorang remaja tengah berjalan santai di tepi trotoar, berbaur dengan keramaian, rambut abu-abu peraknya mengkilat di bawah cahaya matahari pagi.
"Akhirnya......kita bertemu kembali, Ezel" gumam cewek itu samar, senyum tipis terukir di wajah sendunya. Dia terus menatap ke arah seberang.
Namun, apa yang terjadi di trotoar sana melunturkan senyuman itu.
langkah si remaja mendadak berhenti.
"Hem?!......"
Ezel menahan gerakan, dia merasakan ada tatapan yang sedang mengawasinya entah dari mana.
"Menjengkelkan"
Ezel menarik tudung hoodienya lebih rendah, bola matanya menyapu area sekitar. pejalan kaki berlalu-lalang tidak ada yang memperhatikan. Kendaraan melintas dan, beberapa mobil terparkir di bawah naungan pohon.
Napas Ezel meluruh pelan. Semuanya tampak normal, lantas kembali menuju kamar apartemennya.
Beberapa detik lengang. Si remaja sudah hilang dari pandangan. Kini, di sedan hitam cewek itu menghembuskan hapas kasar.
"Heh?"
Si cewek mengangkat sebelah alis, cukup terkejut. Tidak menyangka cowok itu bisa menyadari tatapannya barusan. Sebuah senyum tipis terukir, lebih melengkung dari sebelumnya.
"Menarik!.."








