1. Awal Segalanya
Dunia mengenal Theodore David Dekker sebagai wajah perubahan. Namun, hanya Theodore yang tahu bahwa otak di balik revolusi itu tengah berdiri tepat di hadapannya, merapikan simpul dasinya dengan ketenangan seorang jenderal.
"Sembilan puluh sembilan juta suara memilihmu, Ted. Jangan buat mereka menunggu lebih lama lagi," ucap Tatiana setengah berbisik. Suaranya stabil tanpa celah, mencerminkan ketegasan seorang pengacara yang baru saja memenangkan kasus terbesar dalam hidupnya.
Theodore menatap istrinya melalui pantulan cermin. Tatiana Aalten Dekker tampak luar biasa dalam balutan kebaya encim biru tua dari sutra premium. Bordiran rumit motif bunga sedap malam berwarna putih gading merambat indah dari kerah hingga ke keliman bawah, memancarkan aura wanita peranakan Belanda yang berkelas dan berwibawa.
Rambut cokelat gelapnya ditata dalam gaya finger wave updo yang glamor. Gelombang rambut yang tercetak tegas di dahi dan pelipis itu ditarik ke belakang membentuk sanggul modern, menonjolkan struktur tulang pipinya yang tinggi. Di sela tatanan tersebut, terselip tiga kuntum mawar putih segar yang masih berembun—sentuhan kemurnian yang kontras dengan ketajaman mata dan pulasan lipstik merah darah di bibir.
Daya pikat utama yang membuat penampilan Tatiana benar-benar mengintimidasi justru terletak pada set perhiasan high jewelry dari Cartier yang dikenakannya. Kalung berlian bermodel choker dihiasi deretan royal blue sapphire besar melingkar pas, membingkai leher jenjangnya dengan kilau dingin yang seolah menyerap seluruh cahaya ruangan.
Di telinganya, sepasang anting gantung bertatahkan safir menjuntai anggun, memantulkan kilau tajam setiap kali dia bergerak. Sementara itu, cincin safir besar yang dikelilingi deretan berlian kecil di jari manisnya berkedip statis—simbol otoritas yang tak terbantahkan.
"Aku tidak akan berada di posisi ini tanpamu, Sayangku," bisik Theodore. Suaranya berat oleh kepuasan saat dia menggenggam jemari istrinya. "Kemenangan ini milikmu, sebesar menjadi milikku."
Tatiana melempar senyum profesional. "Kemenangan ini milik rakyat, Mr. President-elect. Tugasku adalah memastikan kau tetap berada di sana untuk mereka."
Theodore sama sekali tidak menyukai jawaban kaku itu. Baginya, di dalam kamar ini, dia bukanlah seorang Presiden. Dia hanyalah seorang suami yang mendamba istrinya. Dengan satu sentakan kuat, Theodore merengkuh pinggang Tatiana, memangkas jarak hingga aroma mawar putih yang merebak dari rambut istrinya memenuhi indra.
Sebelum Tatiana sempat melayangkan protes, Theodore telah menangkup wajahnya dan mendaratkan ciuman yang dalam. Ciuman itu adalah tuntutan yang posesif, seolah ingin melumat habis jarak yang diciptakan oleh dinding-dinding kaku protokol kepresidenan.
Tatiana terkesiap. Telapak tangannya tertahan di dada bidang Theodore, merasakan detak jantung pria itu yang berpacu cepat. Selama beberapa detik, dia membiarkan akal sehatnya hanyut dalam dominasi sang suami, hingga akhirnya logika menariknya kembali ke realitas.
"Ted, cukup!"
Tatiana menarik diri dengan napas yang memburu. Jemarinya segera meraba sudut bibir dengan cemas.
"Kau akan merusak riasanku. Butuh waktu lama untuk memoles ini hingga sempurna, sementara kita harus berangkat dua menit lagi!"
Bukannya merasa bersalah, Theodore justru terkekeh rendah. Suara baritonnya bergetar penuh kemenangan mendapati istrinya yang biasa tampil tak tersentuh, kini tampak sedikit limbung. Dia mengusap ibu jarinya ke sudut bibir Tatiana, menghapus noda merah darah yang meluber ke kulit putih pucat itu.
"Biarkan saja," gumam Theodore. Tatapannya berkilat nakal, tetapi sarat akan obsesi. "Biarkan dunia tahu bahwa sebelum kau menjadi Ibu Negara termuda dalam sejarah Indonesia, kau adalah milikku sepenuhnya."
Tatiana mendelik, menyambar tisu dari meja rias dengan gerakan tangkas. "Sama sekali tidak lucu, Theodore! Semua orang sudah menunggu. Aku tidak ingin keluar dengan wajah seperti baru saja terlibat perkelahian di lorong."
Meski bibirnya mengomel, Tatiana tidak mampu menyembunyikan rona panas yang merambat di pipinya. Dengan cekatan, dia memulas kembali lipstik velvet matte-nya. Dia memastikan penampilannya kembali tajam dan tanpa cela, tepat sebelum pintu ganda terbuka dan menuntut mereka kembali menjadi pasangan paling berkuasa di Indonesia.
Begitu pintu ganda ruang utama mansion pribadi mereka terbuka, atmosfer seketika berubah kaku. Barisan ajudan dan anggota Paspampres Grup A—pasukan perisai hidup yang mulai pagi ini resmi mengambil alih pengamanan melekat—berdiri tegak membentuk lorong manusia yang militeristik.
"Presiden terpilih dan Ibu Negara akan berangkat!" seru seorang perwira. Suaranya yang lantang memecah kesunyian, menggetarkan langit-langit ruangan.
Tatiana melangkah di samping Theodore. Ketukan hak sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar ritmis, seolah sedang menghitung mundur menuju takdir. Namun, tepat saat mereka mencapai ambang pintu menuju deretan unit pengawalan yang mesinnya telah menderu di halaman, langkah Tatiana mendadak goyah.
Di sana, berdiri tegak di samping pintu limusin hitam antipeluru yang terbuka lebar, adalah pria itu.
Dunia Tatiana seolah berhenti berputar. Pria itu berdiri sangat tegap dalam balutan setelan jas hitam formal yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Tanpa baret di kepala, potongan rambut high-and-tight khas pasukan khusus terlihat sangat rapi. Di telinga kanannya, sebuah earpiece spiral bening melingkar samar, sementara di kerah jasnya, pin emas perisai Paspampres berkilat tertimpa matahari pagi Jakarta.
Aiden Anthony Moretti.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun Tatiana membangun benteng di sekeliling hatinya. Sepuluh tahun ia mengubur nama itu di bawah tumpukan berkas hukum dan ambisi politik. Sekarang, pria itu berdiri di sana sebagai Komandan Tim pengawal pribadinya.
Mata mereka bertemu untuk sepersekian detik. Tatiana menangkap kilat keterkejutan di mata cokelat gelap Aiden sebelum pria itu dengan cepat mengenakan kembali topeng militernya yang tanpa ekspresi. Aiden memberikan hormat tegak dengan tangan yang dibalut sarung tangan putih kaku. Pandangannya lurus ke depan, seolah-olah wanita di hadapannya hanyalah objek protokol yang harus dia lindungi, bukan wanita yang pernah dia hancurkan hatinya.
Rasa mual yang hebat mendadak menghantam perut Tatiana. Pria yang pernah mengoyak dunianya kini akan menjadi bayangannya.
Theodore merasakan jemari istrinya mendingin. Sebagai pria yang peka, dia langsung menangkap perubahan tersebut. Dia melirik Aiden, lalu kembali menatap istrinya. Theodore tidak bodoh. Sebelum hari pelantikan ini, dia telah meninjau semua profil pengawal pribadinya dan pengawal istrinya. Dia tahu nama Aiden Anthony Moretti. Dia tahu latar belakang militer Aiden yang gemilang. Sebagai pria yang mencintai Tatiana lebih dari nyawanya sendiri, Theodore telah menggali cukup dalam untuk menyadari ada satu celah di masa lalu Tatiana yang bernama Aiden.
Alih-alih menunjukkan kecemburuan, Theodore justru melakukan sesuatu yang jauh lebih kuat. Dia merapatkan tubuhnya, melingkarkan lengan di pinggang Tatiana dengan gerakan yang protektif sekaligus penuh wibawa.
"Jalan terus, Sayang," bisik Theodore. Suaranya rendah, penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Fokus pada hari ini. Fokus padaku."
Tatiana menoleh, mencari kekuatan pada suaminya. Theodore menatapnya dengan pengertian yang begitu dalam, seolah ingin bicara tanpa suara: "Aku tahu siapa pria itu dan aku memahamimu sebelum kau sempat memintanya."
"Aku di sini," bisik Theodore lagi, mengukuhkan keberadaannya.
Tatiana mengangguk kecil, mencoba menarik kembali jiwanya yang sempat tercerai-berai. Saat mereka mencapai pintu kendaraan, Aiden melangkah maju satu langkah. Dengan gerakan sigap yang terlatih, Aiden menjaga bagian atas pintu agar kepala sang Ibu Negara tidak terbentur saat masuk-sebuah gerak protokol yang menuntut jarak yang sangat dekat.
"Silakan, Ibu Negara," ucap Aiden parau. Suara yang dulu pernah tertawa bersamanya itu kini hanya melafalkan prosedur formal yang dingin.
Begitu pintu tertutup dan mesin mulai menderu halus, iring-iringan konvoi mulai membelah jalanan. Di dalam kabin yang kedap suara, Tatiana menyandarkan punggungnya. Melalui kaca spion samping, matanya menangkap sosok di dalam mobil pengawal yang mengikuti tepat di belakang. Dia tahu, di sana Aiden tengah mengawasinya. Aiden siap menjadi perisai bagi nyawa yang pernah dia hancurkan sendiri satu dekade silam.
"Kau baik-baik saja?" tanya Theodore lembut, menggenggam tangan Tatiana yang masih terasa kaku.
Tatiana menoleh, memaksakan senyum tipis di balik kilau safir Cartier yang melingkar di lehernya. "Hanya sedikit gugup untuk pelantikan ini, Ted."
Theodore mengecup punggung tangan istrinya, sebuah gestur untuk menenangkan. "Jangan khawatir. Kita sudah berhasil mencapai puncak."
Tatiana menatap ke depan, ke arah jalanan Jakarta yang dipenuhi masyarakat yang bersorak-sorai. Dia adalah Ibu Negara. Dia mengenakan permata paling berharga dan bersanding dengan pria paling berkuasa. Namun, saat sirene mulai meraung, Tatiana sadar bahwa mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah semudah yang dibayangkannya.