Sinopsis
Novel ini merupakan karya asli milik penulis dan penerbit terkait. Saat ini saya belum memperoleh izin resmi untuk menerjemahkan maupun mendistribusikan novel ini.
Seluruh hak cipta, hak penerbitan, karakter, cerita, ilustrasi, serta elemen terkait lainnya sepenuhnya merupakan milik penulis dan pemegang hak cipta.
Apabila pemegang hak cipta keberatan atau meminta penghapusan, seluruh konten terkait akan segera diturunkan.
Mohon dukung penulis dengan membeli dan membaca versi resmi melalui platform yang tersedia.
Judul: Rule No.1: Don't Be Too Emotional (อย่าขอพี่เจน)
Penulis: Hwang Seol (ฮวังซอล)
Genre: BL, Dark Romance, Psychological, Drama Kampus, Misteri
https://www.mebmarket.com/ebook-180209-Set-3-%E0%B9%80%E0%B8%A5%E0%B9%88%E0%B8%A1%E0%B8%88%E0%B8%9A-Rule-no-1-quotDon039t-be-too-emotional-quot-%E0%B8%AD%E0%B8%A2%E0%B9%88%E0%B8%B2%E0%B8%82%E0%B8%AD%E0%B8%9E%E0%B8%B5%E0%B9%88%E0%B9%80%E0%B8%88%E0%B8%99?utm_source=chatgpt.com
Intro — The Beginning
Rule No.1: “D0n’t be too emotion4l.” Aturan nomor satu: jangan kebawa perasaan.
Kami membuat sebuah taruhan.
Sesederhana itu—aku tidak akan jatuh. Tidak akan menaruh hati. Sedangkan dia… dia tipe orang yang terlalu murah hati. Suka menolong siapa saja, tanpa pernah terlihat ragu. Seolah-olah memberi bantuan adalah hal yang paling biasa di dunia ini.
Sampai suatu hari, giliranku tiba.
Dan aku jatuh ke dalam jebakan itu.
Entah bagaimana caranya, dia menolongku.
Sekarang aku berutang padanya.
Utang yang harus dibayar.
Dengan sesuatu sebagai gantinya.
Pria di hadapanku masih mampu tersenyum manis. Wajahnya santai, nyaris tanpa beban. Kontras sekali dengan aku yang jantungnya berdetak kacau, terlalu cepat hingga terasa memekakkan di telinga sendiri.
Senyum di wajah tampannya terlihat seperti senyum orang baik.
Padahal sebenarnya…
Dia iblis.
“Jen, dari awal kamu juga sudah tahu aturannya seperti apa, kan?”
“…”
“Kamu punya hak untuk menolak waktu itu. Tapi kamu sendiri yang memilih setuju.”
“…”
“Sekarang sudah waktunya kamu menepati aturan itu, bukan?”
Aku tetap berdiri kaku di tempat. Tanganku mencengkeram tali tas begitu erat sampai buku-buku jariku terasa nyeri. Di kepalaku, pikiran berputar liar, mencari satu celah saja untuk menyelamatkan diri dari situasi ini.
Sekarang. Saat ini juga.
Namun ke mana pun aku mencari jalan…
Tidak ada.
Tidak ada satu pun cara untuk keluar dari semua ini.
Aku tersentak keras saat tangan besarnya menyentuh bahuku pelan. Kagetnya begitu hebat sampai rasanya kakiku hampir terangkat dari lantai. Ia mendekat, terlalu dekat. Suara beratnya turun pelan di telinga kananku, diselipi tawa tipis yang membuat tengkukku merinding.
“Jen… jangan begitu. Bukan seolah-olah kita belum pernah melakukannya, kan?”
“…hng—”
“Jangan terlalu kebawa perasaan.”








