Awal - selesai
MEGATHRUST
Beberapa ahli geologi sedang meneliti gunung vulkanik di pulau Krakatau, mereka meneliti seberapa aktif gunung Krakatau. mereka juga meneliti lempeng tektonik dan vulkanik di selatan laut jawa. Peneliti memperkirakan lempeng di selatan jawa akan terus bergerak, kemungkinan akan terjadi tabrakan antar lempeng, di perkirakan akan terjadi gempa besar dan stunami.
Di kampus para mahasiswa jurusan geologi Institut Teknologi Bandung sedang melaksanakan studi. mereka sedang mempelajari tentang pergerakan lempeng tektonik. beberapa jam kemudian mereka mempelajari studi tersebut. dosen bernama Ario memberikan tugas ke sejumlah mahasiswa berupa studi lapangan, dosen tersebut memberikan tugas studi ilmiah kelompok kepada mahasiswa yang bernama Andrian, Dewi dan Doni. Ketiga mahasiswa tersebut di tugaskan untuk studi lapangan di Sukabumi.
Suatu hari di pesisir pantai pulau Siberut kepulauan Mentawai Sumatera Barat. Ada beberapa anak-anak yang sedang bermain sepak bola di tepi pantai, mereka sedang asyik bermain. di sisi lapangan lalu ada seekor anjing yang menggeram ke arah laut seperti sedang ketakutan. anak bernama Mazdan berhenti bermain bola, lalu ia menghampiri anjing itu. "Hei kawan-kawan kenapa dengan anjing ini?" Tanya Mazdan kepada kawan-kawannya. seorang anak bernama Ali terheran-heran "entahlah? Mungkin anjing itu sakit!" Jawab Ali. lalu mereka kembali bermain bola dan menghiraukan anjing itu.
Seketika itu bumi berguncang. lalu anak anak itu terkejut ketakutan dan menghentikan permainannya. "Ada apa ini?" Tanya Ali dengan panik. lalu guncangan itu semakin kuat. Teman Ali bernama Rizwan ia panik dan berteriak "gempa gempa!" Mereka pun panik berlarian dan menjauh dari pantai.
Ada seorang anak yang berlari menjauh dari pantai, naas tiba-tiba ia tertimpa buah kelapa, ia tergeletak pingsan di tempat. orang-orang di desa berhamburan keluar dari rumahnya masing-masing, beberapa orang panik ketakutan. Beberapa detik kemudian gempa itu berhenti. Ada berapa orang yang terluka karena tertimpa bangunan, rumah-rumah warga roboh dan fasilitas warga rusak.
Beberapa saat kemudian di bibir pantai air laut mulai surut pertanda akan datangnya stunami. Seorang nelayan melihat air laut surut ia terkejut dan ia langsung memperingati warga dan berteriak "Stunami! Stunami menjauh dari laut!" Teriak seorang nelayan itu. warga pun panik, mereka berlarian menjauh dari pantai dan berlari menuju daerah yang tinggi.
Beberapa menit kemudian datanglah stunami, lalu stunami itu menerjang desa dan meluluh lantahkan bangunan dan rumah-rumah. Korban berjatuhan, banyak warga yang terluka. Kekuatan gempa di Siberut tercatat 8,6 magnitudo.
Di Sukabumi Andrian, Dewi dan Doni telah tiba di tempat praktik. Tempat praktik mereka berlokasi di pantai Sukabumi. Lalu mereka singgah di asrama praktik. Ketiga mahasiswa itu pun ke kantor tempat mereka praktik untuk melihat-lihat.
Andrian sedang melihat-lihat data statistik gempa di wilayah Sukabumi. "data yang di tunjukan ada 143 kali gempa dan 2 kali Stunami dalam 10 tahun terakhir!" Ujar Andrian. "benarkah?" Tanya Dewi. “itu menurut badan geologi setempat, menurutku ada lebih kejadian gempa yang belum tercatat .mungkin ini karena adanya alat data gempa yang kurang maksimal!" Doni berpendapat. “kita harus memvalidasi data gempa ini atau bagaimana kita membuat alat pendeteksi gempa?" Ujar Andrian kepada rekan-rekannya. “hah yang benar saja?" Tanya Doni. Lalu mereka pun berencana membuat alat pendeteksi gempa. 3 bulan kemudian mereka berhasil membuat alat pendeteksi gempa.
Alat pendeteksi gempa itu dinamakan Tektonic Detector. Mereka pun terjun kelapangan untuk menguji alat itu. Dewi dia di tugaskan di darat untuk melihat data statistik, sementara Andrian dan Doni mereka bertugas ke laut untuk menguji alat pendeteksi gempa itu. Andrian dan Doni memantau lokasi lempeng indoaustralia di selatan laut Jawa, mereka menguji alat pendeteksi itu di sana.
Seorang gadis remaja dari Doltana Amerika bernama Stephanie sedang sekolah. Di jam istirahat Stephanie sengaja bertemu dengan kekasihnya bernama Mathew, dia asyik berbincang-bincang dengan Mathew. Bel berbunyi jam istirahat telah usai, lalu Stephanie meninggalkan Mathew untuk pergi ke kelasnya.
Pembelajaran pun di mulai, beberapa jam kemudian pembelajaran telah usai. Lalu Stephanie meninggalkan kelasnya untuk pergi pulang, lalu Stephanie menaiki bus sekolah dan ia duduk di bus sambil menyalakan ponselnya.
Stephanie melihat-lihat isi pesannya dengan Mathew, tiba-tiba Mathew mengirim pesan kepada Stephanie "hi sayang sedang apa?" Ketik Mathew. Stephanie melihat pesan Mathew sambil tersenyum "aku sedang di bus, aku mau pulang!" Balas Stephanie. "Oh baik sayang, selamat jalan semoga harimu menyenangkan!" Jawab Mathew sambil menambahkan emoticon hati. Stephanie tersenyum dan tersipu malu.
Stephanie melihat-lihat foto Mathew di galeri ponselnya. Perjalanan pulang hampir sampai, beberapa saat kemudian Stephanie telah tiba di rumahnya. Lalu Stephanie membuka pintu rumahnya. Begitu terkejutnya Stephanie, ibu dan ayahnya memberikan kejutan ulang tahun. "Selamat ulang tahun Stephanie!" Ucap kedua orang tuanya. Stephanie pun bahagia sampai sampai matanya berkaca-kaca. “terima kasih ibu ayah!" Ucap Stephanie. Ibu Stephanie bernama Emma berkata kepadanya "oh sama-sama sayang!" Sambil memeluk Stephanie. Lalu ayah Stephanie bernama Wilson berkata kepada Stephanie "selamat ulang tahun, sweet 17 my little bunny!" Ucap Wilson sambil bergurau. "Aaa ayah aku bukan si little bunny lagi!" Ucap Stephanie sambil merajuk. Emma dan Wilson pun tertawa.
"Oh iya hadiah ulang tahunnya mana?" Tanya Stephanie kepada orangtuanya. "kita liburan di pulau tropis!" Jawab Wilson dengan nada gembira. "benarkah, dimana?" Tanya Stephanie. "Di bali di pantai kuta!" Jawab Wilson. "di pantai? Ayolah ayah kenapa harus di pantai?" Ucap Stephanie sambil mengeluh. “sayang ini hadiah untuk merayakan ulang tahunmu dan ini juga sekaligus liburan musim panas!" Bujuk Emma. "tapi kenapa harus ke pantai, sementara rumah kita dekat dengan pantai, aku bosan dengan pantai!" Ucap Stephanie dengan raut muka kesal. “baiklah setau ayah disana ada gunung yang indah! Kamu ke gunung saja sementara ayah dan ibu ke pantai bagaimana?" Ucap Wilson. "Sayang masa anak kita ditinggal sendirian?" Tanya Emma. "Ya tidaklah sayang, kita sewa pemandu wisata saja!" Ucap Wilson.
"Baiklah aku setuju! Ayah ibu boleh aku mengajak teman?" Ucap Stephanie. "Ide bagus ajak teman kamu!" Ucap Wilson. lalu Stephanie segera menelpon kekasihnya. "hi sayang, kamu mau ikut gak? Aku mau berlibur di pulau tropis!" Ajak Stephanie kepada Mathew. "Wah boleh di pulau tropis di mana sayang?" Tanya Mathew “di bali, kita pergi kesana untuk mendaki gunung boleh kan!" Ucap Stephanie. "wah baiklah aku ikut, tapi kapan?" Tanya Mathew. "besok lusa!" Ucap Stephanie. "Baik aku akan bersiap-siap!" Ucap Mathew. "Jika kamu sudah siap kamu tunggu di bandara ya!" Ucap Stephanie. "Baik sayang!" Ucap Mathew. "Baiklah sudah dulu ya, aku tutup dulu telponnya dah!" Ucap Stephanie.
Keesokan lusanya Stephanie dan kedua orang tuanya sedang bersiap-siap untuk pergi ke bandara, mereka sibuk mengemasi barang-barangnya masing-masing. beberapa saat kemudian Stephanie sudah siap mengemasi barang-barangnya, begitu pula dengan ayahnya. 15 menit kemudian mereka menunggu Emma yang belum selesai mengemasi barang-barangnya. "Sayang kamu sudah siap belum?" Wilson memanggil Emma. "Belum tunggu!" Jawab Emma.
Emma pun tergesa-gesa merapikan barang bawaannya di kamar, tanpa di sengaja Emma menjatuhkan foto Wilson. Foto Wilson rusak dan pecah. "Oh ya ampun!" Ucap Emma. Emma langsung membersihkan serpihan kaca foto yang terjatuh itu, sialnya ia terluka dan berdarah karena serpihan kaca itu.
Lalu Wilson memanggil Emma "sayang ayo cepat!" Ucap Wilson. "baik aku segera datang!" Jawab Emma. Emma pun datang menghampiri mereka, Wilson melihat tangan Emma berdarah. "Sayang kenapa dengan tanganmu?" Tanya Wilson. "Tidak apa-apa, aku tidak sengaja menjatuhkan foto!" Jawab Emma. "Ibu tidak apa-apa?" Tanya Stephanie dengan khawatir, lalu Stephanie mengambil P3K dan memasangkan plester ke tangan ibunya. "Terima kasih sayang!" ucap Emma. "Jika kamu sekarang baik-baik saja, ayo kita segera berangkat!" Ucap Wilson.
Mereka pun pergi ke bandara. Sesampainya di bandara Stephanie mencari Mathew, lalu Stephanie melihat Mathew sedang menunggu, lalu Stephanie menghampiri Mathew ia melambaikan tangan sambil berteriak "sayang!" Teriak Stephanie. "Hah sayang?" Tanya Wilson ke Emma. "Mungkin dia pacarnya!" Jawab Emma Sambil tersenyum.
Mathew pun mendekati Stephanie dan menghampiri kedua orang tua Stephanie. Lalu Stephanie memperkenalkan Mathew kepada orang tuannya. "Ayah ibu ini Mathew!" Ucap Stephanie. Lalu mereka memperkenalkan diri dan berjabat tangan. "Senang bertemu kalian!" Ucap Mathew. "Baiklah ayo bersiap-siaplah sebentar lagi kita berangkat!" Ucap Wilson. setelah itu mereka menaiki pesawat, lalu mereka duduk berpasangan.
Sesampainya di bali mereka telah tiba di bandara bali. Mereka telah sampai di bali lalu mereka turun dari pesawat. Wilson berkata "akhirnya kita sampai juga di bali!" Ucap Wilson. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju kuta. Sesampainya di kuta, lalu Wilson mencari hotel.
Wilson pun menemukan hotel, lalu mereka pun memesan hotel untuk menginap. Sesampainya di hotel Wilson mencari pemandu wisata di internet . Setelah mencari Wilson pun menemukan pemandu wisata. "Oke ayah sudah memesan pemandu wisata untuk kalian, kalian tunggu dan bersiap-siap!" Ucap Wilson kepada Stephanie dan Mathew. “baik ayah!" Saut Stephanie. Lalu mereka menunggu pemandu wisata itu untuk datang.
20 menit kemudian pemandu wisata itu telah sampai di hotel. Pemandu wisata bernama I Made Iriawan, ia mengetuk pintu hotel. Lalu Wilson membuka pintu hotel. "Apakah anda bernama Wilson yang memesan paket wisata kami?" Tanya I Made. "Ya saya yang memesan paket pemandu wisata untuk pendakian gunung agung, ini saya titipkan anak saya untuk pergi mendaki!" Jawab Wilson. “baik pak!" Ucap I Made. Stephanie dan Mathew pun pergi bersama pemandu wisata itu. “hati-hati ya nak!" Ucap Emma. "Baik bu sampai jumpa!" Saut Stephanie.
Di Sukabumi Andrian, Dewi dan Doni sedang memantau data alat pendeteksi gempa mereka. Dewi melihat peningkatan pergerakan lempeng indoaustralia. "lihat data statistik meningkat, apakah ini tidak berbahaya?" Tanya Dewi kepada rekan-rekannya. “kita harus segera melapor ke badan penanggulangan bencana!" Ucap Andrian.
Lalu mereka melapor ke kantor badan penanggulangan bencana setempat ,Andrian melapor ke petugas bernama Agus. "Pak kami dari mahasiswa geologi ITB, kami menemukan serangkaian peningkatan pergerakan lempeng indoaustralia di alat pendeteksi gempa kami!" Ucap Andrian. “apakah alat itu berfungsi?" Tanya Agus. “tentu pak kami telah mengujinya!" Jawab Doni. "Saya harus mengecek, apakah alat itu benar-benar berfungsi atau tidak!" Ucap agus.
ketiga mahasiswa itu pun memperlihatkan komputer yang sudah di lengkapi pendeteksi gempa itu ke petugas itu. Lalu Agus pun melihat data yang ada di komputer itu, Agus merasa tidak yakin dengan apa yang mereka kerjakan. “apakah benar kalian yang membuat pendeteksi gempa ini?" Tanya Agus. "Iya pak!" Jawab Doni. "Ini membutuhkan pengujian apakah alat ini Valid mendeteksi gempa!" Ucap Agus. “tapi pak, kami telah menguji alat ini! Kita harus memperingati warga, lempeng indoaustralia bergerak pak ini bisa terjadi tabrakan antar lempeng! di khawatirkan akan terjadinya gempa besar dan stunami di pulau jawa dan bali pak!" Tegas Andrian. “saya meragukan alat ini apakah alat ini benar-benar bisa mendeteksi gempa atau tidak!" Ucap Agus. "Setidaknya beri himbauan kepada masyarakat agar mewaspadai akan terjadinya gempa dan stunami di pulau jawa dan bali!" Ucap Dewi." Saya tegaskan semuanya harus mengikuti prosedur, harus ada perizinan! Kalian saja yang menghimbau kepada masyarakat!" Ucap Agus dengan menolak permintaan ketiga mahasiswa itu.
Ketiga mahasiswa itu pun menyerah dan pergi. tidak sampai disitu saja, ketiga mahasiswa itu membuat rencana agar menghimbau warga agar selamat dari bencana gempa bumi dan stunami yang akan menerjang pulau jawa dan bali.
Lalu mereka membuat berita di internet dan di media sosial, mereka mengabarkan akan ada gempa bumi dan stunami di selatan pulau jawa dan bali. Mereka menghimbau kepada masyarakat di pesisir selatan jawa dan bali agar mewaspadai akan datangnya gempa dan stunami.
Keesokan harinya Dewi melihat data statistik alat pendeteksi gempa mereka. Lalu alat pendeteksi gempa itu memperlihatkan peningkatan yang signifikan. "Lihat data statistik terus meningkat!" Ucap dewi kepada Andrian dan Doni. "Bahaya mungkin lempeng indoaustralia bergerak, ini akan terjadi tabrakan, Di seluruh pulau jawa dan bali akan terjadi gempa dan stunami!" Ucap Andrian. "Kita harus mengabarkan berita ini kepada masyarakat!" Ucap Doni.
Mereka pun gencar mengabarkan berita tentang akan terjadinya gempa dan stunami di jawa dan bali, berita mereka buat pun sudah tersebar. Sehari kemudian berita itu menjadi isu yang hangat. Banyak orang yang khawatir akan hal tersebut. Namun pemerintah memblokir dam menghapus berita mereka. Karena para pejabat dan ahli meragukan rumor tentang alat pendeteksi itu, berita yang mereka buat pun di cap sebagai berita hoax.
Ketiga mahasiswa itu mendesak pemerintah agar mempercayai alat pendeteksi gempa yang mereka buat. Namun ahli geologi bernama Stephanus mengatakan "tidak ada alat yang dapat mendeteksi atau memprediksi gempa!" Ucap Stephanus. Ketiga Mahasiswa itu pun menyerah dan kecewa atas semua yang mereka kerjakan karena alat yang mereka buat tidak di terima.
Tidak berhenti di situ saja keesokan harinya ketiga mahasiswa itu membuat simulasi gempa dan stunami kepada masyarakat Sukabumi. Simulasi itu pun berjalan dengan baik. “syukurlah, setidaknya kita berhasil membuat simulasi ini!" Ucap Dewi kepada rekannya.
Di hotel Emma sedang melihat-lihat berita di ponselnya, Emma melihat berita tentang akan adanya gempa besar di jawa dan bali, Emma pun terkejut melihat berita itu. “sayang lihat, di berita jawa dan bali akan ada gempa besa!" Ucap Emma kepada Wilson. "Masa sih? Hmm mungkin itu berita hoax, ayolah sayang daripada melihat berita hoax mending kita ke pantai saja!" Ujar Wilson. "Baiklah!" Jawab Emma. Mereka pun pergi ke pantai.
Di pos perkemahan Stephanie dan Mathew sedang melihat-lihat pemandangan gunung Agung, mereka berbincang-bincang sambil menunggu keberangkatan pendakian mereka.
Tiba-tiba Mathew memberikan hadiah kepada Stephanie. "Ini sayang hadiah ulang tahunmu, maaf aku baru memberikan hadiah hari ini!" Ucap Mathew sambil memberikan kado kepada Stephanie. Stephanie pun membuka kado itu dan isinya adalah sebuah kalung, Stephanie pun bahagia dan langsung memakai kalung itu. "Oww terimakasih sayang!" Ucap Stephanie kepada Mathew. I Made pun menghampiri Stephanie dan Mathew lalu mengajak mereka. "Apakah kalian sudah siap untuk mendaki?" Ajak I Made kepada Stephanie dan Mathew. "Baik sebentar aku siap-siap dulu!" Ucap Stephanie. Mereka pun bersiap-siap untuk mendaki, setelah mereka siap, lalu mereka pergi mendaki gunung Agung.
Di kuta Emma dan Wilson mereka bersiap-siap pergi ke pantai, setelah mereka siap lalu mereka pergi ke pantai sambil bergandengan tangan. Sesampainya di pantai, Wilson lupa tidak membawa kamera. "Kameraku di mana ya?" Tanya Wilson kepada Emma." Kamu lupa membawanya kan? mungkin kameranya di tinggal di hotel!" Ucap Emma. "Iya mungkin, aku ambil dulu kameranya ya! kamu tunggu di sini!" Ucap Wilson. "Hmm... baiklah!" Saut Emma sambil sedikit kesal. Emma pun menunggu Wilson di pantai.
Emma melihat laut dan melihat-lihat orang yang lalu lalang. Emma berjalan mendekati laut. Ia melihat ada orang aneh yang berpakaian lusuh. Orang aneh itu berbicara sendiri, Emma pun mendekati orang aneh itu. Orang itu tiba-tiba bertingkah aneh dan berbicara kepada Emma dengan raut muka ketakutan. "Sawatek ane lakar sirna, sawatek anake ane lakar anyud (Semuanya akan hancur,semuanya akan tenggelam)" Ucap orang aneh itu dengan bahasa Bali. Lalu orang aneh menangis. "Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Emma kepada orang aneh itu. Tiba-tiba orang aneh itu teriak histeris. Ada seorang pria bernama Zelenski menegur Emma "hei, kau apakan dia?" tegur Zelenski. "Aku tidak apa-apakan dia!" Saut Emma. Orang-orang mengerumuni Emma dan orang aneh itu. Orang aneh itu tiba-tiba lari menjauh dari kerumunan. Di bibir pantai tiba-tiba ikan bermunculan dan berlompatan. Ada orang yang bernama Anne menunjuk ke arah bibir pantai dan melihat ikan-ikan berlompatan. "lihat itu!" Ucap Anne sambil menunjuk ke ikan-ikan itu. Orang-orang pun berkerumun melihat ikan-ikan berlompatan ke bibir Pantai. Ada seekor anjing yang menggonggong ke kearah laut, lalu anjing itu menjauh dari pantai.
Tiba-tiba ada gempa besar, orang-orang panik ketakutan. Gempa itu berguncang semakin kuat. Beberapa bangunan roboh, banyak orang yang tertimpa bangunan, anak-anak menangis ketakutan. Emma pun merunduk ketakutan. Beberapa detik kemudian gempa besar itu berhenti. Tiba-tiba sirene peringatan stunami berbunyi. Emma terkejut ia langsung lari menjauh dari pantai. Orang-orang berlarian menjauh dari pantai. Emma lari dengan tergesa-gesa sambil mencari suaminya, ia berteriak "Wilson... Wilson dimana kau?" Teriak Emma. Tidak hanya di bali, gempa juga mengguncang pulau Jawa, di Jakarta gedung-gedung pencakar langit runtuh berjatuhan.
Di sisi lain di gunung agung Stephanie, Mathew dan I Made mereka sedang mendaki, di tengah jalan mereka hampir sampai menuju puncak. Tiba-tiba ada gempa besar. Stephanie panik ketakutan I Made menghimbau kepada Stephanie dan Mathew agar menunduk. Tiba-tiba longsor datang,bebatuan menggelinding. Reruntuhan longsor itu pun mendekati mereka. Tiba-tiba I Made terjatuh dan terbawa longsor, lalu Stephanie ingin menolong I Made namun naas ia malah tergelincir jatuh bersama I Made. Mathew berusaha menolong Stephanie, namun usahanya gagal dia tidak bisa berbuat apa-apa, lalu Mathew pergi begitu saja meninggalkan Stephanie dan I Made.
Stephanie berteriak kepada Mathew "tolong aku Mathew!" Teriak Stephanie sambil menangis. Mathew pergi meninggalkan mereka, lalu ia menuruni gunung. Beberapa menit kemudian Stephanie terjebak di reruntuhan bersama I Made "mengapa dia tega meninggalkan aku?" Ucap Stephanie. I Made mencari cara untuk menaiki reruntuhan longsor itu, sedangkan Stephanie pasrah dan berdiam diri. Lalu I Made menemukan jalan keluar. "Hei, Stephanie aku menemukan jalan keluar, ayo!" Ajak I Made. Lalu Stephanie berdiri sambil mengusapkan air matanya.
Beberapa saat kemudian mereka berhasil menaiki reruntuhan longsor itu. Sementara di sisi lain Mathew tergesa-gesa menuruni gunung, tiba-tiba gempa susulan datang. Lalu di atas gunung ada longsor, naas longsor itu menimpa Mathew.
Di kuta Emma berlari sambil mencari Wilson, lalu ia mencari ke hotel tempat mereka menginap. Emma mencari Wilson di hotel namun Emma tidak dapat menemukan Wilson. Lalu Emma keluar hotel, Emma melihat di sekeliling begitu banyak orang yang terluka. Emma pun berteriak memanggil Wilson tetapi Wilson tidak kunjung menyahut. tiba-tiba gempa susulan datang, Emma langsung menjauhi bangunan lalu ia menunduk ketakutan.
Beberapa menit kemudian gempa besar itu berhenti. Lalu sirene peringatan stunami berbunyi kedua kalinya.
Disisi lain Wilson mencari Emma ia berteriak "Emma... Emma!" Teriak Wilson. Dia pergi mendekati pantai untuk mencari Emma. Wilson menghiraukan sirene peringatan stunami. Ada orang yang mengemudi mobil lalu pengemudi mobil itu menegur Wilson."Hei kau menjauhlah dari pantai bahaya ada stunami!" Tegur pengemudi itu. Pengemudi itu tancap gas dan langsung menjauh dari pantai sambil ngebut. Di atas langit burung-burung beterbangan menjauh dari laut, Wilson kagum melihat burung-burung itu.
Tiba-tiba air laut mulai surut, beberapa saat kemudian datanglah stunami. Lalu ombak besar menghampiri pantai. Wilson terkejut melihat ombak laut begitu besar. Wilson langsung lari terbirit-birit menjauhi pantai. Ombak laut itu mendekati pantai, ombak itu semakin dekat, naas tiba-tiba Wilson tersapu ombak stunami.
Tiba-tiba Emma menangis mengkhawatirkan Wilson. Lalu ada mobil yang melaju kencang, lalu mobil itu menabrak bangunan. Ada orang yang berteriak "Stunami... stunami!" Emma terkejut mendengar itu ia langsung berlari dan mencari bangunan yang tinggi untuk berlindung dari stunami. Lalu Emma melihat gedung yang tinggi, lalu ia masuk ke dalam gedung itu. Emma langsung mencari tangga darurat, lalu ia menaiki tangga itu menuju lantai tertinggi, ditengah-tengah tangga ia tersandung ia pun kesakitan, lalu ia menoleh ke arah jendela ia melihat ombak stunami mendekati daratan. “oh ya tuhan!" Ucap Emma dengan raut muka ketakutan. Emma langsung melanjutkan menaiki tangga, ia menaiki tangga dengan kaki terpincang-pincang kesakitan.
Emma terus berlari menaiki tangga ,ditengah-tengah jalan ada seorang wanita paruh baya, wanita paruh baya itu terluka parah ia kesulitan menaiki tangga. Lalu Emma membantunya. Air stunami mulai mendekati gedung, lalu Emma membantu wanita paruh baya itu. Tiba-tiba terdengar suara tabrakan, suara tabrakan itu berasal dari stunami itu. "Ayo cepat!" Ucap Emma kepada wanita paruh baya itu. Wanita paruh baya itu pasrah tak berdaya "kamu pergi saja jangan hiraukan aku!" Ucap wanita paruh baya itu. Emma pun pergi meninggalkan wanita itu, tiba-tiba air stunami naik dan menyapu wanita itu. Emma melihat wanita itu tersapu ombak dengan histerisnya Emma menutup mulutnya dengan tangannya. Emma langsung lari menaiki tangga. Beberapa anak tangga telah di lalui akhirnya Emma telah sampai di lantai teratas. Emma melihat begitu menyeramkannya stunami yang menerjang Kuta. Emma pun menunggu air stunami surut.
Di gunung agung Stephanie dan I Made menuruni gunung sambil mencari Mathew, Stephanie berteriak "Mathew Mathew di mana kau?" Teriak Stephanie. I Made bertanya kepada Stephanie "apakah dia pacar mu?" Tanya I Made. "Iya!" Jawab Stephanie. "Maaf aku lancang, kenapa dia meninggalkan mu di saat kamu sedang kesulitan?" Tanya I Made. "Aku tidak tahu" saut Stephanie sambil menangis. "Oh ya ampun maafkan aku!" Ucap I Made. "Tidak apa-apa! kenapa dia tega meninggalkan aku?" Tanya Stephanie. "Mungkin dia panik ketakutan atau mungkin dia orang yang tidak bertanggung jawab seharusnya dia menolong kita disaat kita sedang kesulitan, apalagi dengan pacarnya!" Ucap I Made. "Apakah dia tidak mencintaiku lagi?" Tanya Stephanie. "Entahlah mungkin dia mencintaimu, tetapi cintanya tidak tulus, ya seperti itulah kenyataannya dia memilih pergi meninggalkan mu demi keselamatan dirinya sendiri!" Ucap I Made. "Sial!" Ucap Stephanie sambil mencabut kalung yang di berikan Mathew, lalu ia melemparkan kalung itu ke reruntuhan longsor. Kalung itu jatuh tepat di tangan mayat Mathew. lalu Stephanie dan I Made melanjutkan menuruni gunung "hati-hati mungkin disini rawan longsor!" Ucap I Made kepada Stephanie.
Stunami mulai surut. Emma menuruni tangga dengan hati-hati. Beberapa menit kemudian Emma telah sampai di lantai dasar, ia melihat di sekeliling begitu berserakannya puing-puing banguna,mayat-mayat bergeletakan, perahu terdampar di atas bangunan. Emma berjalan menuju tempat lapang sambil mencari Wilson ia melihat di sekeliling begitu banyak korban yang terluka. Lalu polisi dan tim sar berpatroli dan mengumumkan kepada korban agar segera berkumpul di lapangan yang telah di sediakan untuk merawat korban luka-luka. Emma pun menuruti perintah polisi ia pergi menuju klinik darurat untuk memeriksakan dirinya. Setelah selesai pemeriksaannya Emma melihat di sekelilingnya begitu banyak orang yang terluka. Ia pun melanjutkan mencari Wilson. Beberapa jam kemudian ia mencari Wilson tetapi tidak kunjung menemukannya.
Stephanie dan I Made telah sampai di bawah kaki gunung. "Syukurlah kita sudah sampai!" Ucap Stephanie. Mereka pun menaiki mobil dan pergi menuju kuta, di perjalanan Stephanie melihat bangunan warga yang roboh, fasilitas dan tempat ibadah roboh. Setelah di perbatasan kuta mereka melihat begitu banyak mobil polisi dan ambulans.
Lalu mereka melewati kerumunan dan kemacetan. "Ada apa ini?" Tanya Stephanie kepada I Made. "Entahlah!" Saut I Made. Lalu mereka menuju pantai kawasan pantai kuta. Stephanie melihat kawasan yang tergenang air. "Kenapa disini basah?" Tanya Stephanie. "Mungkin ini bekas stunami, mungkin ini disebabkan gampa besar tadi!" Saut I Made. "Oh ya ampun!" Ucap Stephanie sambil mengkhawatirkan kedua orangtuanya.mereka berhenti di lapangan darurat.
Lalu Stephanie turun dari mobil dan langsung mencari ibu dan ayahnya. Beberapa saat kemudian Stephanie tidak kunjung menemukan ibu dan ayahnya, ia terus menerus mencari kedua orang tuanya. Stephanie melihat orang dengan berpakaian seperti ibunya, ia pun memanggilnya. "Ibu!" Panggil Stephanie. Tetapi ketika orang itu menoleh ternyata bukan ibunya.
Stephanie melanjutkan pencarian ibu dan ayahnya. Setelah lama mencari akhirnya Stephanie bertemu dengan ibunya. "Ibu!" Teriak Stephanie. Stephanie menghampiri ibunya lalu memeluknya. "Oh sayang syukurlah kau selamat!" Ucap Emma. "Ayah mana?" Tanya Stephanie. "Ibu pun tak tahu nak, ibu sudah mencarinya tetapi tidak kunjung menemukannya!" Ucap Emma sambil menangis. "Mana Mathew?" Tanya Emma kepada Stephanie. "Aku tidak tahu, sejak aku terjebak di reruntuhan tiba-tiba dia pergi meninggalkan aku begitu saja!" Ucap Stephanie. "Oh ya ampun!" Ucap Emma.
Di sisi lain tiga mahasiswa berhasil mewujudkan upaya penyelamatan warga Sukabumi dengan simulasi dan berhasil meminimalisir korban gempa dan stunami. Meski ada penolakan dari pemerintah dan ahli tentang alat pendeteksi gempa mereka, mereka tidak menyurutkan niat untuk menyelamatkan warga. Mereka di cap sebagai 3 pahlawan. Di sisi lain pemerintah meminta maaf kepada masyarakat karena telah lalai dan tidak mempercayai usaha ketiga mahasiswa itu. Gempa dahsyat ini tercatat sebagai gempa terbesar di era modern, gempa tercatat 9,6 magnitudo dan 9,9 magnitudo. Pemerintah Indonesia berupaya untuk menanggulangi bencana gempa dan stunami di jawa dan bali.
Kejadian ini telah di sorot di berita dan media internasional sebagai bencana gempa bumi Megathrust .








